Kamis, 14 September 2017

Elegi Hati yang Terbelah




Pergilah, katamu.
Aku terdiam. Senyap di antara kita seolah membekukan waktu sesaat untuk selamanya. Kusangka aku salah dengar, atau lidahmu terpeleset hingga kata itu datang darimu yang selama ini mengikatku kuat takut aku pergi dan tak kembali. Kiranya sebuah akhir dari semua cerita kita telah muncul dari balik tirai tempatnya merajuk memohon dan meniadakan kata pisah yang memang seharusnya sejak lama kita ikrarkan bersama. Lebih mencekat lagi, kata itu kau ucapkan tanpa aura yang hidup. Begitu redup. Begitu mati. Seolah tak ada rasa tersisa dalam dirimu untuk sekedar menahanku dengan hiburan nada sedih yang sendu. Mungkinkah kini kau pun telah jenuh menghadapi usahaku untuk selalu lepas darimu ?

Aku dan kamu bertemu di waktu yang begitu tepat di tempat yang teramat keramat. Tak ada momen yang begitu pas seperti ketika kita bertemu saat itu. Pandanganmu bertemu tatapku. Dua hati seketika menjalin dalam hitungan sepersekian-detik. Kita seperti tahu bahwa kita tercipta memang untuk momen itu. Tanpa perlu kata-kata rayuan untuk sekedar mengesahkan satu hubungan. Jemari kita memilin erat satu sama lain. Lebih erat dari janji-janji manis yang pernah ditulis tangan mana pun. Karena aku tahu, kamu tahu. Kita tercipta untuk bersatu.

Seperti rumput hijau di sepanjang jalan yang kita lewati setiap hari. Tak selamanya hijau itu bertahan. Tak selamanya juga ia kering kecoklatan. Pahit-manis hubungan yang saling merajut bertaut indah membentuk satu kesatuan, dan itu-lah kita. Dua insan yang tengah jatuh cinta. Kita lewati semua itu hingga perlahan semua menjadi begitu biasa. Tak ada lagi tantangan. Tak ada lagi rintangan yang terasa berarti karena kita pernah melewatinya bersama. Semua menjadi begitu datar dan hambar. Salah kah ?

Kadang saat memikirkannya, hatiku menyadari bahwa ia merindukan percikan-percikan seperti yang dulu. Adrenalin dari pertikaian konyol antara kita. Bukankah itu adalah bumbu dalam percintaan ?

Semakin hari, hati ini mulai menjeritkan kebosanan. Ia butuh suntikan nafas kehidupan. Hubungan kita tak layak dikatakan hidup. Ia seperti mesin yang bergerak tanpa diminta. Semua begitu rapi tak bercela. Kemana hilangnya kepingan puzzle yang dulu kucari setengah mati demi memuaskan rasa penasaran dan ternyata kepingan itu ada dalam dirimu. Kini puzzle itu terlihat sempurna dan membosankan karena tak lagi ada celah tersisa untuk kita isi bersama.

Diam-diam aku mulai melangkah. Menjauh perlahan darimu. Berharap kau tak menyadarinya, hingga aku telah melangkah terlalu jauh dan langkahmu tak lagi menjangkau aku. Tapi setiap usaha itu terhenti karena aku tahu bahwa aku masih cinta. Tapi apakah ini benar cinta yang sama yang pernah menyatukan kita, ataukah ini ilusi yang kucipta dari rasa takut bersendirian ?

Walau aku tahu setiap langkahku mencari jawaban itu akan menyakitimu. Menarik putus urat-urat cinta kita perlahan dan menyakitkan. Aku yakin kau diam menelan sakit itu demi melihatku bahagia. Dalam diam itu, aku masih merasakan sentuhan lembut doa-doamu agar aku sanggup bertahan melangkah di atas jejak berdarah demi menemukan apa yang kita berdua sebut dan yakini itu sebagai bahagia. Yakinlah aku pun ingin kau bahagia.

Cinta kita tak hidup dengan media hambar dan tandus seperti kita berdua. Cinta ini sudah mati sejak lama. Kita hanya tak berani mengakuinya.


Sabtu, 04 Maret 2017

Babad Lintang : Meretus

Pagi yang cerah disempurnakan dengan bentangan pelangi indah di angkasa. Perempuan itu menebar selembar kain putih untuk dijemur di halaman rumahnya yang sederhana. Sentuhan jemarinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ibu rumah tangga yang telaten. Sambil bersenandung tembang lawas yang terdengar merdu walau hanya senandung sederhana-ia melengkungkan senyuman hangat walau tak ada siapa pun di dekatnya saat itu. Risa namanya. Erisa. Tanpa nama belakang. Wanita keturunan dengan paras cantik, janda beranak satu. Semua warga sekitar memanggilnya Risa, kadang “Lisa” karena sulit mengucapkan huruf “R”. Risa sehari-harinya bekerja sebagai dukun-kalau tak mau disebut dokter-yang menyembuhkan pasien dengan jamu-jamuan. Warga sekitar sangat menyukai Risa karena sifatnya yang ramah dan murah senyum. Tak jarang warga mengutang biaya berobat hingga berbulan-bulan tanpa pernah ditagih oleh Risa. Perempuan ini bukannya rugi, malah mendapat berbagai macam hadiah berupa hasil sawah dan kebun dari warga yang pernah ditolongnya. Janda cantik ini tak pernah kekurangan makanan. Keramahan warga sekitar membuatnya betah tinggal di kampung terpencil di kaki gunung ini. Nala, anak perempuannya, agak pendiam sejak tragedi mengerikan merenggut ayahnya. Ayahnya adalah pribumi yang tewas saat kampungnya diserang oleh segerombolan perampok. Beruntung ketika itu Risa dan Nala tengah mencari tanaman obat di hutan sehingga mereka selamat dari kekejaman para perampok. Nala adalah gadis berumur sembilan tahun. Gadis periang yang berubah menjadi dingin sejak kematian ayahnya. Nala hanya tersenyum untuk ibunya seorang.


“Nala, boleh bantu ibu ambil air di sumur ?” Risa memanggil anak gadisnya yang sedari tadi memandangi ibunya dari teras rumah.


“Baik, Bu. Berapa ember ?” Nala menyanggupi.


“Dua ember saja, sayang. Terima kasih, ya.” Risa menjawab dengan senyum khas-nya. 


Gadis itu bergegas melangkah ke sumur yang letaknya tak jauh dari halaman rumah. Tatapannya kosong seperti biasanya. Seperti tak ada kehidupan di sana. Karena memang hanya Risa-lah satu-satunya alasan ia hidup. Nala mengambil ember yang terbuat dari kayu tua, dengan tali tambang yang juga tak kalah tua. Sumur itu cukup dalam, tapi airnya terlihat bening berkilauan di dalam sana. Nala segera melempar ember ke dalam sumur dan menarik keluar satu ember penuh berisi air bersih dari perut bumi. Mereka bersyukur memiliki sumur ini, karena kualitas airnya bahkan lebih bersih dari air sungai yang terletak di dekat hutan. Nala menyeret ember itu menuju tempat ibunya berdiri. Tanpa sengaja, sudut matanya menangkap sosok pria tengah berdiri di luar pagar rumah mereka, memandanginya. Gadis itu terkejut, memekik kecil lalu menjatuhkan embernya dan berlari ke balik tubuh ibunya. Risa pun dengan sigap melindungi anak gadisnya, sambil memastikan siapa orang tiba-tiba muncul di depan pagar rumah mereka.



“Kamu…” Risa memicingkan mata.

“Nala, kamu masuk dulu, sayang.” Risa meminta Nala untuk kembali ke dalam rumah. Setelah itu, barulah ia menghampiri sosok misterius yang baru saja datang.



“Risa…” Sosok itu memanggil namanya.


“Ya, sudah waktunya ?” Risa menjawabnya dengan sedikit enggan.


“Ya, di waktu yang tepat. Sesuai perjanjian kita.” Sosok itu menjawab.


Risa terdiam. Tangannya menggenggam erat gaun putihnya, sedikit gemetar.

“Ikut denganku…” Risa mengajaknya menjauh dari halaman rumah. “…Lintang.”



***



Erisa, perempuan keturunan eropa berusia dua puluh dua tahun dengan paras cantik. Pada suatu petang ia datang ke sebuah kampung nan jauh di pedalaman, di kaki gunung yang dikelilingi hutan perawan. Risa datang bersama beberapa ajudan dan kuli panggul. Ia membeli sepetak tanah lengkap dengan bangunan rumah tua yang telah disulap menjadi rumah sederhana. Rumah yang tidak terlalu megah tapi terlihat nyaman untuk ditinggali. Risa datang sebagai tukang obat tradisional. Profesi yang masih asing bagi warga sekitar. Parasnya yang cantik membuat profesinya tidak dipermasalahkan. Apalagi tak lama setelah tinggal di sana, ia telah berhasil mengobati banyak warga sekitar dengan pengetahuannya tentang obat-obatan herbal yang banyak tumbuh di hutan sekitar kampung. Tak butuh waktu lama bagi Risa menarik perhatian pemuda desa untuk meminangnya. Termasuk diantara pemuda-pemuda itu adalah Suliman. Pemuda sederhana tapi rupawan dan sopan. Risa yang sebatang kara kemudian menerima pinangan Suliman dan hidup bahagia di tempat tinggal barunya. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Unala. Warga sekitar memanggilnya Nala. Gadis periang yang mencerahkan sekelilingnya seperti matahari pagi. Tak ada yang lebih sempurna dari keluarga kecil yang walaupun hidup sederhana tapi begitu bahagia. Seperti halnya tak ada kesempurnaan yang lolos dari mata dengki manusia-manusia berhati kotor yang tak suka melihat kebahagiaan orang lain dan selalu dibuat iri dengannya. Salah satunya adalah Ratih, kembang desa yang kini kalah pamor sejak kedatangan Risa. Ratih dulunya pernah dipinang oleh Suliman tapi berkali-kali pula Ratih menolak karena Suliman dianggap kurang mapan. Tapi sekarang, setelah Suliman menikah dengan Risa, entah kenapa Ratih merasa tak rela. Walaupun keluarga kecil itu tak berlebihan harta juga. Bahkan masih banyak pemuda mapan yang meminang Ratih. Tetap saja hatinya tak tenang.



Malam tak berbintang, saat kampung terlelap dalam bisu, Ratih yang hatinya gelap menyewa beberapa penjahat kawan ayahnya untuk menghabisi keluarga Risa. Rumah mereka yang letaknya agak jauh dari rumah warga sekitar membuat teriakan mereka tak terdengar dan hilang ditelan malam. Suliman ditikam dengan golok hingga kepalanya terpenggal. Sementara Risa, jauh lebih tragis. Setelah dipaksa menyaksikan anak kesayangannya digilir hingga mati oleh penjahat yang sama sekali tak ia kenal, Risa ditikam dan dibiarkan mati kehabisan darah. Jasad mereka sekeluarga dibuang ke dasar jurang, hilang tak berbekas. Ratih yang mendapati kabar sukses dari suruhannya, tertawa puas. Walaupun ia tak mendapat apa-apa dari perbuatannya. Tidak, selain dendam dan jeritan balas dendam dari wanita yang telah ia bunuh dengan sadisnya.



Risa telah mati. Tapi Roh-nya tak pernah pergi dengan tenang. Risa kembali sebagai sosok hantu bergaun merah yang menghantui kampung dan menyebar tulah. Ratih dan keluarganya menjadi korban pertama. Ratih dicabik hingga isi perutnya terburai dan wajahnya sulit dikenali. Keluarganya satu per satu mati dengan cara yang sama. Sementara, para penjahat yang disewa oleh Ratih tewas dengan tubuh terpisah-pisah. Celakanya, Risa bukan lagi manusia yang punya nalar. Ia hanya Roh yang dipenuhi amarah. Kemarahannya kini telah menghancurkan setengah isi kampung. Sisa warga yang masih hidup kemudian pindah keluar kampung demi menghindari tulah. Sejak itu, Roh Risa berkeliling kampung mencari anak dan suaminya. Setiap malam terdengar rintihan, tangisan, jeritan pilu dari Risa. Tak ada yang bisa menolongnya. Tak ada yang berani mendekati kampungnya.



***



Risa mengajak Lintang berjalan ke arah hutan, menjauh dari kampung. Keduanya tak saling bicara hingga tiba di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Sinar matahari tak menembus rimbunnya pepohonan di sekitar.


“Risa, tak apa meninggalkan anakmu sendirian di rumah ?” Lintang memulai pembicaraan.


“Tenang saja, 70 tahun cukup untuk aku mempelajari lebih dari sekedar trik murahan. Pagar gaib melindungi anakku dari orang-orang yang berniat jahat.” Risa tersenyum manis.


Keduanya saling menatap dalam diam.


“Jadi, harus hari ini kah ?” Risa memecah keheningan.


“Satu siklus, Risa. Tak kurang dan tak lebih.” Lintang menjawab datar.


“Beri aku waktu. Tiga hari lagi. Boleh ?” Risa menjawab dengan senyum ramah.


“Risa…” Lintang menghela nafas.


“Aku janji. Tiga hari. Tak lebih dan tak kurang.” Risa menegaskan.


“Tiga hari untuk kamu menyiapkan hati, atau tiga hari untuk kamu menyiapkan strategi ?” Lintang menjawab dengan nada tetap datar.


“Kita lihat, tiga hari lagi. Di sini.” Risa memalingkan matanya. Nada suaranya semakin pelan.


Lintang menatapnya sejenak, lalu berbalik meninggalkan Risa di tengah hutan sendirian dalam bimbang.



***



Roh penuh kemarahan tak akan pernah meninggalkan dunianya. Terikat oleh emosi. Mengulang kemarahan itu terus menerus seperti sebuah rekaman yang diputar berulang-ulang tanpa ujung. Risa menjadi bagian dari siklus menyedihkan. Perempuan yang seharusnya hidup bahagia, menjadi korban kebiadaban manusia lainnya tanpa sebab yang pasti hingga harus berakhir tragis. Tak ada yang tahu seperti apa garis hidup tiap-tiap makhluk di dunia. Dari mana garis itu dimulai, kemana garis itu berakhir. Untuk Risa, Garis hidupnya telah berakhir, tapi kisahnya tak berakhir di sana. Ia bertemu dengan Lintang. Bukan sebuah kebetulan. Lintang datang pada Risa dengan satu tujuan. Menitipkan “kepingan” dirinya sebelum pergi.



“Wahai Roh yang dipenuhi amarah, aku Roh Pendahulumu, ingin berbicara.

Aku perintahkan kamu untuk menghadapi aku tanpa emosi.”



“Siapa kau, makhluk lancang yang berani mengaku leluhurku ?” Risa mengamuk dan menerjang ke arah Lintang.



Lintang mengangkat tangan kirinya dan muncul perisai tak kasat mata yang menghalangi Risa. Cakar tajam Risa menyentuh perisai itu dan muncul percikan api ke segala arah. Risa melompat mundur seperti seekor singa. Risa menggeram penuh amarah. Matanya tak henti mencari celah untuk menyerang makhluk di depannya. Tapi ia tahu, makhluk di depannya berbeda dengan manusia lain yang telah ia tebas dengan mudahnya.



“Risa, aku datang untuk membuat perjanjian. Kalau kau menolak, aku akan mencari Roh lainnya. Tak perlu memakai kekerasan.” Lintang mengajak Risa berdialog.


“Siapa kamu, dari mana kau tahu nama ketika aku masih hidup ? ada perlu apa ?” Risa menggeram.


“Risa, aku Roh Pendahulumu. Aku perlu kau untuk menjaga sebagian diriku selagi aku tak di sini. Setidaknya sampai aku kembali nanti.” Lintang menjelaskan dengan singkat.


“Kenapa aku harus membantumu ?” Risa memekik kesal.


“Membantuku, sama saja membantu dirimu, untuk menemukan jalan pulang.” Lintang menjelaskan.


“Pulang ?” Risa mendesis.


“Pulang, lepas dari ikatan emosimu sekarang.” Lintang tersenyum.



Lintang menarik keluar sebuah cahaya kecil dari arah jantungnya. Seperti kunang-kunang. Kecil berkilauan. Ia mengarahkannya pada Risa.



“Jaga ini. Sampai aku datang untuk mengambilnya kembali.” Lintang menyerahkannya pada Risa tanpa meminta persetujuan.



Risa menerima cahaya itu, mendekapnya, ada perasaan aneh merasukinya. Sesuatu yang hangat dan telah lama ia lupakan. Sesuatu yang menarik kembali kenangan terindah tentang kehidupannya yang lalu. Risa mengerti tanpa harus diberi tahu. Ia sadar sesuatu yang telah lama hilang itu telah ia temukan, dan untuk pertama kali setelah kebangkitannya, ia menangis.




***



Malam ini, Risa tak bisa memejamkan mata, memikirkan tiga hari waktunya yang tersisa. Bagaimana mungkin ia akan melepas apa yang diperjuangkannya selama 70 tahun belakangan. Tiba-tiba Nala mendekap ibunya yang tengah duduk di bangku teras. Wajahnya terbenam di punggung ibunya seolah mengerti gundah yang terpendam di sana. 


“Bu, belum tidur ?” Nala bertanya pelan.


“Nala, kok kamu masih bangun ? Ibu sebentar lagi tidur kok. Nala kembali ke kamar sekarang ya.” Risa mengusap lembut rambut anak kesayangannya, kemudian mengecup keningnya. Air mata Risa menitik tanpa suara.


“Ibu… menangis ?” Nala mendekap ibunya makin erat.


“Ibu gak apa-apa Nala, Ibu cuma kangen Ayah.” Risa mendekap anaknya erat.


“Yuk kita tidur, nak.” Keduanya bergegas masuk ke rumah. Meninggalkan gundah di balik pintu rumah bersama dinginnya malam, berharap gundah itu terbawa bersama angin malam.



Setelah menerima titipan dari Lintang, Risa perlahan mendapatkan kembali wujud manusianya. Risa menggunakan kesempatan itu untuk mendalami pengobatan dan sihir kuno ke berbagai daerah. Ia bahkan berhasil mengubah “benda” titipan Lintang itu menjadi wujud anak gadisnya yang ia rindukan. Walaupun tak sempurna. Risa memasukkan kenangan palsu ke dalam tubuh anaknya. Nala tak pernah tumbuh menjadi lebih dewasa, dan beberapa kali telah berpindah tempat tinggal untuk menghindari kecurigaan warga. Sementara itu, cerita bahwa Risa adalah janda korban perampokan menjadi senjata andalan mereka untuk menarik simpati warga kampung yang mereka datangi. Dengan sifat ramah dan kemampuan pengobatannya, Risa dengan mudah diterima di mana pun ia berada. Hanya satu kekhawatirannya, kapan Lintang akan datang mengambil kembali “benda” titipannya. Risa sesungguhnya tak pernah tenang. Tapi ia bahagia, setidaknya bisa hidup sekali lagi bersama Nala.



Tiga hari, ternyata jauh lebih singkat dari yang diharapkan. Risa belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap. Tapi ia harus menghadapi janjinya. Atau mungkin, menghadapi Lintang.



Tepat tiga hari, Risa kembali ke hutan. Tatapannya kosong. Ia mengenakan gaun putih terbaik yang ia punya. Rambutnya disanggul rapi seolah bersiap menghadiri acara penting. Memang sekarang adalah saat-saat terpenting dalam hidupnya. Langkahnya pasti, tak menyisakan ruang untuk keraguan yang sesungguhnya telah melahap hamper seluruh semangat hidupnya tiga hari belakangan. Ia harus menentukan apa yang akan ia lakukan, suka atau tidak suka. Sekarang. Lintang telah menunggu di tengah-tengah tanah lapang seperti yang telah dijanjikan. Pemuda berperawakan tegap kisaran delapan belas tahun itu berdiri dengan wajah datar. Keduanya kini berhadapan dan saling diam.


“Jadi, mana kepinganku ?” Lintang memulai.


“Lintang, kau tahu apa arti kepingan itu untukku sekarang ?” Risa melempar pertanyaan. Berharap untuk dimengerti.


“Kepingan itu… adalah “rasa” milikku. Tanpa itu aku tak hidup, Risa.” Lintang menjawab.


“Maksudmu ?” Risa terkejut.


“Sebelum aku pergi, aku harus menitipkan “rasa” itu agar tidak hilang. Aku butuh itu untuk menyelesaikan misiku sekarang. Ini bukan sekedar tentang milikku, atau untukmu. Ini tentang dunia, Risa. Aku tak bisa melibatkan perasaan karena aku tak memilikinya saat ini. Perasaanku… ada di dalam kepingan itu.” Lintang menjelaskan.


“Jangan bercanda. Bagaimana mungkin kamu menitipkan hal sepenting itu padaku ?” 


“Aku tak sedang bercanda. Seperti yang kukatakan padamu saat itu. Kalau kau menolak, aku akan mencari Roh lain yang kuanggap kuat dan mampu menjaganya.” Lintang menjelaskan.


“Kuat ? kau memanfaatkan aku ?” Risa terlihat marah.


“Aku meminta bantuanmu, dan sekaligus menawarkan bantuan. Kamu bisa menggunakan kepingan itu untuk lepas dari emosi yang mengikatmu. Kalau kamu menggunakannya dengan benar.” Lintang menjawab datar.


“Intinya, tak mungkin kau menyerahkan kepingan ini untukku ?” Risa berbisik.


“Tidak.” Lintang menjawab.


Keduanya terdiam cukup lama tanpa suara. Kemudian, Risa mengarahkan tangannya ke atas kepala, seperti mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menarik keluar benda itu dengan suara mengerikan seperti menarik paku yang menyangkut di tengkoraknya. Benda itu ditarik keluar dengan perlahan. Bersamaan dengan itu, darah segar menetes dari kepala, mata, dan telinga Risa, semakin deras hingga seluruh gaun putihnya berubah menjadi merah. Benda itu lebih panjang dari paku, sebuah tongkat kira-kira sepanjang telapak tangan orang dewasa, berwarna merah mengkilap seperti batu rubi. Lebih tepatnya, seperti darah yang dipadatkan. Risa yang kini berubah wujud menjadi Risa yang mengerikan, dengan wajah marah, pucat, dan tak hidup, mengacungkan tongkatnya kearah Lintang. Ia merapal mantra. Sebuah kilatan berwarna merah menyambar tubuh Lintang hingga terlempar jauh, menabrak pohon besar di belakangnya.



“Tak ada pilihan lain.” Risa memekik.



Lintang bangun dengan bibir berdarah. Tak ada kemarahan dalam tatapannya. Ia benar-benar seperti tubuh tanpa emosi. Yang ia tahu, tubuhnya tak boleh terus menerima serangan. Walaupun tubuh ini akan sembuh dalam waktu singkat, misinya harus segera diselesaikan. Tak ada waktu untuk bermain terlalu lama. Lintang bersiap melancarkan serangan ketika Risa menancapkan tangannya menembus ulu hati Lintang dari belakang.



“Maaf, aku tak bisa kehilangan hidupku untuk kedua kalinya” bisik Risa.



Tangan Lintang menggenggam tangan Risa, menahannya agar tidak kabur.



“Wahai Roh yang terikat emosi dunia, aku Roh Pendahulumu, dengan ini memutus kontrakmu dengan tanah dan elemen dunia. Aku perintahkan, lepaskan !”



Tangan Risa seolah terbakar dan membara. Tangannya yang menembus tubuh Lintang kini perlahan hilang menjadi abu yang hancur terbawa angin. Risa menjerit keras kesakitan.



Risa melompat mundur dan terus menjerit kesakitan, seolah ada api yang tak henti-hentinya perlahan memakan tubuhnya dari tangan yang terpotong hingga ke pergelangan. Ia kesakitan hingga jatuh terguling ke tanah.



Lintang berjalan mendekat hingga beberapa langkah dari tubuh Risa. Tiba-tiba, sebongkah batu melesat hampir mengenai kepalanya. Ia mencari arah sumber lemparan. Dari balik semak-semak dekat pohon besar, terlihat sosok Nala menangis ketakutan dengan tangan yang menggenggam batu. Setelah melempar batu sekali lagi, ia segera berlari kearah Risa, mendekapnya erat.



“Jangan sakiti Ibuku.” Teriak Nala.



Risa terkejut melihat sosok Nala. Seharusnya Nala saat ini sedang berada di rumah mencuci piring seperti yang ia pesan tadi. Ia tak ingin Nala melihat wujudnya sekarang. Ia tak ingin Nala tahu masa lalunya yang menyedihkan.



“Nala, anakku, maafkan Ibu, Nak.” Risa menangis, tapi yang mengalir adalah darah dari kedua matanya.



“Ibu, jangan tinggalkan Nala, Bu.” Nala menangis memeluk ibunya erat.



Lintang berdiri menatap dengan wajah datar. Ia tak memiliki kemampuan untuk merasakan. Tidak selama kepingan itu belum kembali padanya.



“Sudah waktunya.” Lintang berucap.



“Aku memanggil kembali kepingan rasa yang melengkapi Roh-ku.

Kembali ke wujud sejatimu, kembali padaku.”



“Bu, jangan lupakan Nala. Nala sayang Ibu” Nala menitikkan air mata terakhirnya, ketika tubuhnya pecah menjadi jutaan kunang-kunang hingga tersisa satu kepingan kecil yang bercahaya, melayang kembali kearah pemilik sejatinya.



“NALAAA… ANAKKU NALA…….” Risa menjerit keras hingga tersungkur. Tangisannya lebih menyakitkan daripada luka di tangannya.



Lintang mendekatkan kepingan itu kearah jantungnya. Seketika kepingan itu masuk ke dalam jantungnya, luka yang tadi menganga kini bercahaya dan menutup sembuh seperti sedia kala. Yang tersisa adalah rasa sakit luar biasa di bagian dada. Di jantungnya. Rasa sakit yang tak pernah ia sangka akan menjadi hadiah paling pedih dari apa yang ia lakukan 70 tahun yang lalu. Rasa sakit yang sebenarnya tak pernah ia rencanakan. Kembalinya rasa. Kenangan Nala yang dipaksa berpisah dari Ibunya.  Air mata Lintang menitik deras. Kali ini kesedihan miliknya. Seolah dia adalah Nala. Karena sejatinya Nala adalah bagian dari dirinya. Segera, ia berlari mendekap Risa. Tapi terlambat. Sebagian besar tubuh risa telah menjadi abu. Hancur dalam genggamannya. Berulang kali Lintang meminta maaf, tapi ia sadar, kesalahannya terlalu fatal. Begitu mengerikan tindakan yang bisa dilakukan oleh Roh yang kehilangan “rasa”. Lintang menangis sejadi-jadinya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.



Malam menghampiri hutan yang tenang, membekukan kesedihan dengan angin malam. Tak ada lagi isak tangis terdengar. Hanya Lintang yang berlutut di dekat jejak tubuh Risa. Tubuhnya tertunduk lemas, seolah semangat hidupnya terkuras habis bersama air mata yang mengucur seharian. Apakah misi yang penting itu lebih berharga dari “rasa” yang ia renggut dari Risa ? Apakah layak ia menghabiskan waktu untuk mengenang kebahagiaan palsu Nala yang dulu ia titipkan ? Apakah luka oleh “rasa” bisa hilang ?



Malam tak bersuara, angin pun berlalu dengan acuh, meninggalkan penyesalan yang mungkin tak lekang oleh waktu.

Jumat, 24 Februari 2017

31st

   Malam mengiring kepergian bilangan 30 yang seringkali dianggap keramat. Bilangan yang menunjukkan kedewasaan seseorang. Bilangan yang menuntut perubahan. Butuh waktu lama untuk mengerti perubahan yang harus terjadi dalam diriku. Kedewasaan yang datangnya terlambat satu angka. Sekian lama aku habiskan untuk memendam kemarahan, emosi yang secara tidak sengaja aku serap di masa kecilku dulu. Belajar bertahun-tahun untuk memaafkan, hingga detik ini tiba-tiba terbersit satu keberanian untuk mengampuni. Dilema antara rasa bersalah karena melepas ikatan antara daging dengan emosi masa lalu. Kekhawatiran apakah salah, atau justru memang harus seperti ini jalannya untuk mencapai kedamaian. Sesungguhnya, langkahku tak mungkin mengangkut beban berlapis-lapis ini hingga akhir hayat. Tak ada gunanya juga, ketika harinya tiba nanti, aku tak ingin terikat dalam dendam tak bermakna ini. Apa yang telah berlalu, tak mungkin juga aku mengubahnya, walaupun hatiku tentu sangat ingin mengubahnya meski harus berkorban sisa umurku. Tak perlu menceritakan pada siapa tentang apa yang kurasakan, semua terlihat jelas dari semangat hidupku yang kian terkikis. Aku ingin terlahir baru, menjadi jiwa yang bebas dari beban terpendam. Aku… malam ini terlahir baru.