Dimana mimpiku bermain
Dekat aliran sungai cinta
Arusnya terlalu bahaya
Hatiku bisa celaka
Bagaimana aku harus melangkah
Menghindari maut di muka
Pikiranku kacau tak tentu arah
Jasadku terseret bersamanya
Kemana aku hendak berlari
Tanpa satu tujuan pasti
Tapi bukan menuju siapa
Bukan sebentuk wajah untuk bersua
Hatiku tak lagi mengikut logika
Pikiranku sibuk dengan dunianya
Kakiku menuntun tanpa nahkoda
Diriku sebatang kara di Sahara
Sedikit tumpahan jiwa dalam bentuk kata-kata yang mengungkap sejengkal sejarah hidup dan isi hati penulis selama ajal belum (sempat) menjemput.
Jumat, 26 Juni 2009
Rabu, 24 Juni 2009
Ajari Aku
Aku bangga belajar padamu
Mengenal hampir semua yang kau tahu
Tentang manusia dan sesamanya
Tentang binatang dan sebangsanya
Tentang tumbuhan dan sejenisnya
Tentang dunia dan teknologinya
Sungguh menarik belajar itu semua
Tapi kau tak sempat mengajariku
Bagaimana mengerti dirimu dan perasaanmu
Hingga saat kau pergi dan aku kehilanganmu
Hatiku perih sesak, jantungku berdegup resah
Air mataku berjatuhan tak tahu kenapa
Mengenal hampir semua yang kau tahu
Tentang manusia dan sesamanya
Tentang binatang dan sebangsanya
Tentang tumbuhan dan sejenisnya
Tentang dunia dan teknologinya
Sungguh menarik belajar itu semua
Tapi kau tak sempat mengajariku
Bagaimana mengerti dirimu dan perasaanmu
Hingga saat kau pergi dan aku kehilanganmu
Hatiku perih sesak, jantungku berdegup resah
Air mataku berjatuhan tak tahu kenapa
Ku Tanya
Kalau kutanya padamu sekarang
Apakah cinta masih kau rasa
Setelah pengkhianatan yang kau beri
Cintaku yang telah kau bagi
Apakah kau masih menyisakan untukku cinta itu
Atau sudah habis terbagi-bagi
Kalau kutanya padamu sekarang
Apa kamu teringat padaku saat mencumbunya
Ingat saat kita di kamar berdua
Saling meraba dan bertukar cinta
Kalau kutanya padamu sekarang
Apa masih kau inginkan aku
Sebelum kuakhiri kisah kita
Sebelum kubungkam mulutmu dalam tanah
Tak perlu kau jawab juga tak apa
Bawa saja bersamamu ke neraka
Aku tahu kau akan jawab apa
"Aku bukan Tuhan yang pantas mengukur karma atas perbuatanmu, tapi aku manusia yang punya rasa. Dan aku menginginkan keadilan bagi rasa yang telah kau renggut dariku. Aku menguburmu , seperti kau mengubur cintaku, tanpa belas kasihan."
Apakah cinta masih kau rasa
Setelah pengkhianatan yang kau beri
Cintaku yang telah kau bagi
Apakah kau masih menyisakan untukku cinta itu
Atau sudah habis terbagi-bagi
Kalau kutanya padamu sekarang
Apa kamu teringat padaku saat mencumbunya
Ingat saat kita di kamar berdua
Saling meraba dan bertukar cinta
Kalau kutanya padamu sekarang
Apa masih kau inginkan aku
Sebelum kuakhiri kisah kita
Sebelum kubungkam mulutmu dalam tanah
Tak perlu kau jawab juga tak apa
Bawa saja bersamamu ke neraka
Aku tahu kau akan jawab apa
"Aku bukan Tuhan yang pantas mengukur karma atas perbuatanmu, tapi aku manusia yang punya rasa. Dan aku menginginkan keadilan bagi rasa yang telah kau renggut dariku. Aku menguburmu , seperti kau mengubur cintaku, tanpa belas kasihan."
Senin, 22 Juni 2009
Hati
Jauh di seberang sana aku yakin kau melihat semuanya. Tapi kau memilih diam seribu bahasa. Dari balik istana tempat ragamu bersinggah, entah nuranimu masih ada ataukah sudah tak ada. Apa suara kami tak terdengar sampai kesana. Letusan gunung pun kalah, gelegar petir tersaingi. Apa benar kau tak mendengar. Mungkin kau mencoba tuli hingga kau tak perlu tahu apa yang kami jeritkan. Kami bagian darimu. Bagianmu yang kau buang jauh dari istana megah tempatmu bersinggah. Kami suara-suara dari hatimu yang terus kau redam dengan seribu cara. Kami segumpal awan kelam yang kau tiupkan hilang. Tapi kami tetap pekat dan semakin hitam. Suara kami tak akan hilang. Pekat kami siap berperang. Kami prajurit yang maju untuk mati. Walau tak akan menang tapi kami rela. Demi satu suara yang jujur kami perdengarkan. Bukan menjadi pengecut yang mencari senang di istana tenang. Kami membela hati yang terbuang.
Hatimu begitu dingin tak ada tanda kehidupan. Matamu kosong tanpa arti. Itu yang selalu kau sebut bahagia. Kami sebut itu kemunafikan. Mengkhianati nurani demi kehormatan. Sementara kau tak tahu arti kehormatan itu sendiri. Berpikir bahwa pengorbanan adalah jalan menuju bahagia, dan kau hancurkan kebahagiaan orang lain demi membuka jalan kesana. Sungguh naif dirimu, bahagia tanpa pernah tersenyum ramah. Kaulah manusia paling sesat yang pernah ada. Kaulah iman sesat di rumah Allah. Penyesalanmu kami anggap sampah.
Saat pagi tiba kami pun musnah. Sinarmu membunuh kami semua. Dan kami rela. Semua demi cinta.
"Bila kau bahagia diatas sana, hati ini kurelakan mati tanpa daya. Seberapa berat aku harus relakannya. Tapi maaf... aku tetap mengutuk pengkhianatan yang kau lakukan. Kebahagiaanmu tak akan abadi pun tak lama."
Hatimu begitu dingin tak ada tanda kehidupan. Matamu kosong tanpa arti. Itu yang selalu kau sebut bahagia. Kami sebut itu kemunafikan. Mengkhianati nurani demi kehormatan. Sementara kau tak tahu arti kehormatan itu sendiri. Berpikir bahwa pengorbanan adalah jalan menuju bahagia, dan kau hancurkan kebahagiaan orang lain demi membuka jalan kesana. Sungguh naif dirimu, bahagia tanpa pernah tersenyum ramah. Kaulah manusia paling sesat yang pernah ada. Kaulah iman sesat di rumah Allah. Penyesalanmu kami anggap sampah.
Saat pagi tiba kami pun musnah. Sinarmu membunuh kami semua. Dan kami rela. Semua demi cinta.
"Bila kau bahagia diatas sana, hati ini kurelakan mati tanpa daya. Seberapa berat aku harus relakannya. Tapi maaf... aku tetap mengutuk pengkhianatan yang kau lakukan. Kebahagiaanmu tak akan abadi pun tak lama."
Karena Aku Ada
Saat kudengar lagi ucapmu begitu
Kupatahkan lidahmu hingga ucapmu rancu
Saat kulihat lagi kau melihat sesinis itu
Kucongkel kedua bola matamu
Kau boleh bicara asal bukan tentangku
Kupantang dihina oleh sesama manusia
Kau boleh memandangku biasa
Kupantang dipandang rendah
Karena kau juga manusia
Kau pun juga hina
Karena kau tak lebih dari yang ku ada
Kau tak pantas berbangga
Saat kau ulang hal yang sama
Kau patut bersiaga
Saat kau lagi berbuat yang sama
Karena aku ada
"Karena kau juga manusia, kau tak pantas menghina. Karena kita sama-sama hina."
Kupatahkan lidahmu hingga ucapmu rancu
Saat kulihat lagi kau melihat sesinis itu
Kucongkel kedua bola matamu
Kau boleh bicara asal bukan tentangku
Kupantang dihina oleh sesama manusia
Kau boleh memandangku biasa
Kupantang dipandang rendah
Karena kau juga manusia
Kau pun juga hina
Karena kau tak lebih dari yang ku ada
Kau tak pantas berbangga
Saat kau ulang hal yang sama
Kau patut bersiaga
Saat kau lagi berbuat yang sama
Karena aku ada
"Karena kau juga manusia, kau tak pantas menghina. Karena kita sama-sama hina."
Kamis, 28 Mei 2009
A Boy Who Can't Smile
Adalah dia seorang bocah yang selalu merasa kesepian bahkan ditengah keramaian sekalipun. Yang sepi bukan fisik tapi batinnya. Selalu menunggu dan menunggu hingga suatu hari nanti akan datang orang yang meramaikan suasana hatinya. Diantara teman-teman, dia bisa tersenyum lebar bahkan terbahak-bahak. Yang menyedihkan adalah ketika ia sedang sendiri. Hanya ada segaris tipis senyum dipaksa waktu berpose sendiri. Bukan karena ia tak suka foto. Tapi hatinya yang tak bahagia.
Suatu malam, bocah itu melihat seluruh koleksi foto-fotonya. semua fotonya yang seorang diri selalu tanpa senyum. Ia baru sadar sekarang, setelah sekian tahun dikumpulkannya foto-foto itu dalam folder rapih dalam pc. Menyedihkan. Tapi masih bersyukur sekarang sadar. Diambilnya kamera ponsel dan dipaksakan sebuah senyuman manis untuk masuk dalam koleksinya. Beberapa detik menahan senyum itu, terdengar bunyi klik. Kini senyum itu abadi dalam bentuk pixel di layar ponsel. Segera ia pindahkan dalam pc. Diamatinya foto itu sangat lama. Hingga tak disadarinya, sebutir air mata mengalir diikuti tetesan berikutnya... dan berikutnya. Senyum itu indah... Senyum terindah yang pernah dilihatnya. Senyum yang hilang darinya hanya karena masa lalu yang suram. Berkah yang dirampas darinya atas nama hati yang patah. Cinta memberi banyak pengaruh pada bocah ini. Cinta keluarganya yang memberi kesempatan buatnya tumbuh menjadi insan yang matang secara mental. Cinta kekasih pertama yang membuatnya hancur, terlahir kembali. Cinta kekasih keduanya dan ketiganya... dan seterusnya... hingga ia hilang kepercayaan. Cinta hanyalah soal pertemuan dan perpisahan baginya. Yang datang pasti akan pergi. Tak perlu dimengerti akan lama ataukah singkat, semua pasti terjadi. Sejak hatinya menerima kesepakatan itu, maka ia menutup diri. Disegel dengan senyumnya sendiri. Bahwa senyum tak memberi arti. Perpisahan tak memandang senyuman sebagai arti. Karena perpisahan menuntut kesedihan. Air mata. Yang sekarang tak lagi ia beri untuk cinta. Melainkan amarah. Ya... dia menangis karena marah.
Hatinya yang lemah semakin tak berdaya. Semalaman ia menangisi foto biasa. Atau lebih tepat lagi menangisi kebodohannya. Mengubur berkahnya hanya karena putus cinta. Sementara yang lain berusaha mendapatkannya. Keegoisan yang membawa derita.
Pagi pun tiba, ia meratap dibawah semburan air dingin. Meringkuk seperti perawan yang ditelanjangi paksa. Matanya merah sembab sisa tangis semalam. Sinar matanya padam dan tatapannya kosong. Tangan kirinya kini memegang sebilah cutter baru yang tajam. Tangan kanannya tergerai mengucurkan darah. Ia tak merasa... seperti boneka. Sungguh indah... Mati tanpa suara. Dan semua derita mengalir keluar bersama darah menuju lubang air menuju ke tanah. Penderitaannya habis diserap bumi.
Suatu malam, bocah itu melihat seluruh koleksi foto-fotonya. semua fotonya yang seorang diri selalu tanpa senyum. Ia baru sadar sekarang, setelah sekian tahun dikumpulkannya foto-foto itu dalam folder rapih dalam pc. Menyedihkan. Tapi masih bersyukur sekarang sadar. Diambilnya kamera ponsel dan dipaksakan sebuah senyuman manis untuk masuk dalam koleksinya. Beberapa detik menahan senyum itu, terdengar bunyi klik. Kini senyum itu abadi dalam bentuk pixel di layar ponsel. Segera ia pindahkan dalam pc. Diamatinya foto itu sangat lama. Hingga tak disadarinya, sebutir air mata mengalir diikuti tetesan berikutnya... dan berikutnya. Senyum itu indah... Senyum terindah yang pernah dilihatnya. Senyum yang hilang darinya hanya karena masa lalu yang suram. Berkah yang dirampas darinya atas nama hati yang patah. Cinta memberi banyak pengaruh pada bocah ini. Cinta keluarganya yang memberi kesempatan buatnya tumbuh menjadi insan yang matang secara mental. Cinta kekasih pertama yang membuatnya hancur, terlahir kembali. Cinta kekasih keduanya dan ketiganya... dan seterusnya... hingga ia hilang kepercayaan. Cinta hanyalah soal pertemuan dan perpisahan baginya. Yang datang pasti akan pergi. Tak perlu dimengerti akan lama ataukah singkat, semua pasti terjadi. Sejak hatinya menerima kesepakatan itu, maka ia menutup diri. Disegel dengan senyumnya sendiri. Bahwa senyum tak memberi arti. Perpisahan tak memandang senyuman sebagai arti. Karena perpisahan menuntut kesedihan. Air mata. Yang sekarang tak lagi ia beri untuk cinta. Melainkan amarah. Ya... dia menangis karena marah.
Hatinya yang lemah semakin tak berdaya. Semalaman ia menangisi foto biasa. Atau lebih tepat lagi menangisi kebodohannya. Mengubur berkahnya hanya karena putus cinta. Sementara yang lain berusaha mendapatkannya. Keegoisan yang membawa derita.
Pagi pun tiba, ia meratap dibawah semburan air dingin. Meringkuk seperti perawan yang ditelanjangi paksa. Matanya merah sembab sisa tangis semalam. Sinar matanya padam dan tatapannya kosong. Tangan kirinya kini memegang sebilah cutter baru yang tajam. Tangan kanannya tergerai mengucurkan darah. Ia tak merasa... seperti boneka. Sungguh indah... Mati tanpa suara. Dan semua derita mengalir keluar bersama darah menuju lubang air menuju ke tanah. Penderitaannya habis diserap bumi.
Pakar Cinta
Ada begitu banyak macam manusia-manusia pencari cinta di dunia. Dari sekian banyaknya, ada beberapa yang pernah kujumpa. Diantaranya adalah sebagai berikut.
Pertama-tama, dari yang paling hina. Manusia-manusia yang berbagi nafsu mengatasnamakan cinta. "Sex is Love". Tak akan ada cinta tanpa test-drive. Yang seperti ini sih, sama saja pengen cari pelacur tapi gak punya modal. Jadi, ya cari yang gratisan saja. Bisa satu, dua, seratus, atau bahkan ribuan pasangan buat gonta ganti.
Kedua, ada orang yang benar-benar cinta, tapi gak bisa menahan nafsu juga. Satu gak cukup, butuh yang lain lagi. Mungkin posisi nya kali ya... belom baca KamaSutra. Lagi-lagi soal SEX. manusia hina. Atau mungkin sex memang suatu keharusan sebelum benar2 cinta ?
ketiga... ada manusia yang sudah mapan bercinta. Sex bukan segalanya. Tapi tetap saja jajan sana-sini. Masih butuh sex tapi lagaknya setia. Tetep sayang pasangan dengan kata-kata gombalnya. Yang penting sama-sama suka, jadi rasanya gak berdosa.
Keempat... ada orang-orang setia yang selalu disiksa. Korban yang saking lugu-nya gak tau sedang dipermainkan cinta. Yang pada akhirnya cm bisa gigit jari liat pasangannya kabur sambil cengar-cengir, habis manis sepah di buang. Nah... orang ini nih sepahnya, yang tinggal tahi-tahi-nya saja.
Kelima... orang yang benar-benar setia, tapi sayang sudah lanjut usia. Saking asik-nya menyibukkan diri dengan kerjaan, gak sadar umur dah kepala empat. Mau cari cinta juga udah susah. Alhasil promo sana sini gak da hasil. Yang ini namanya "cinta kabur di usia senja".
Keenam... Orang yang ga ngerti cinta. Gak ngerti dan gak perlu ngerti apa itu cinta. Yang penting senang-senang saja. Mo sendiri kek.... dapet pasangan kek... yang penting hepi....
Ketujuh... Orang yang kecanduan cinta.... gak bisa hidup tanpa cinta... cinta adalah segala-galanya.... masuk RSJ juga karena cinta.
Pertama-tama, dari yang paling hina. Manusia-manusia yang berbagi nafsu mengatasnamakan cinta. "Sex is Love". Tak akan ada cinta tanpa test-drive. Yang seperti ini sih, sama saja pengen cari pelacur tapi gak punya modal. Jadi, ya cari yang gratisan saja. Bisa satu, dua, seratus, atau bahkan ribuan pasangan buat gonta ganti.
Kedua, ada orang yang benar-benar cinta, tapi gak bisa menahan nafsu juga. Satu gak cukup, butuh yang lain lagi. Mungkin posisi nya kali ya... belom baca KamaSutra. Lagi-lagi soal SEX. manusia hina. Atau mungkin sex memang suatu keharusan sebelum benar2 cinta ?
ketiga... ada manusia yang sudah mapan bercinta. Sex bukan segalanya. Tapi tetap saja jajan sana-sini. Masih butuh sex tapi lagaknya setia. Tetep sayang pasangan dengan kata-kata gombalnya. Yang penting sama-sama suka, jadi rasanya gak berdosa.
Keempat... ada orang-orang setia yang selalu disiksa. Korban yang saking lugu-nya gak tau sedang dipermainkan cinta. Yang pada akhirnya cm bisa gigit jari liat pasangannya kabur sambil cengar-cengir, habis manis sepah di buang. Nah... orang ini nih sepahnya, yang tinggal tahi-tahi-nya saja.
Kelima... orang yang benar-benar setia, tapi sayang sudah lanjut usia. Saking asik-nya menyibukkan diri dengan kerjaan, gak sadar umur dah kepala empat. Mau cari cinta juga udah susah. Alhasil promo sana sini gak da hasil. Yang ini namanya "cinta kabur di usia senja".
Keenam... Orang yang ga ngerti cinta. Gak ngerti dan gak perlu ngerti apa itu cinta. Yang penting senang-senang saja. Mo sendiri kek.... dapet pasangan kek... yang penting hepi....
Ketujuh... Orang yang kecanduan cinta.... gak bisa hidup tanpa cinta... cinta adalah segala-galanya.... masuk RSJ juga karena cinta.
Langganan:
Postingan (Atom)