Selasa, 01 Februari 2011

Happy Chinese New Year 2011




All images in this account belong to Jony Kho. Comercial usage without my permition will charged US$3000,- each.

Karena Aku Merasakan

Untuk Mama yang terus menganggap aku sebagai anak kecil dalam gendongannya. Sampai kapan pun.

Bukan sekali dua kali, tak terhitung lagi berapa kali aku membuka mulut dengan nada kesal di hadapan Mama, dibarengi muka yang ditekuk-tekuk dan bibir manyun cemberut. Kadang ditambah mata menyala merah penuh amarah. Parahnya, setiap kali aku begitu, Mama terlihat tak berdaya seolah sengaja. Aku jadi seperti orang jahat yang tega menganiaya perempuan tua tak berdaya. Sedih, tapi terlanjur basah. Biasanya aku tak akan berhenti sampai amarahku mereda. Sungguh anak kurang ajar tak tahu di untung. Begitu kira-kira aku memaki diriku sendiri di dalam hati. Mama tak perlu tahu itu, walau mungkin di dalam hati ia memaki aku dengan kata-kata yang lebih pedas.

Sudah lama aku kehilangan sosok Mama yang dulu aku sayang. Bukan berarti sekarang aku tak sayang. Hanya dia satu orang yang kupanggil Mama di dunia dengan sepenuh hatiku meng-amin-i, meng-iya-kan, atau dengan kata lain, menyetujui dengan pasrah.

Aku sayang Mama ketika dia tak membuka mulutnya untuk menelurkan ribuan topik pecundang yang kalau kuhitung-hitung dengan lebih teliti pasti sudah melebihi jumlah episode sinetron murahan di televisi. Topik yang sama bisa diulang tanpa rasa bosan. Mungkin bukan maksudnya begitu, bisa saja Mama hampir mati kebosanan dan ingin mencari topik untuk dibicarakan. Topik yang salah yang membuatku makin diam.

Mungkin dalam hati, mama akan lebih memilih kakakku yang jauh lebih sabar mendengar. Tak kuragukan rasa sayang kakakku padanya tak kalah dari rasa sayangku pada Mama. Kadang aku iri dengan kesabaran yang dimiliki kakakku yang membuatnya bisa dekat dengan Mama walau dihajar dengan ribuan topik membosankan. Seperti keajaiban dan kakakku bisa mengalir dalam pembicaraan. Sedangkan aku, selalu membatu seperti kerikil yang tidur di bawah arus sungai.

Mama Bukan pribadi yang seperti ini sepuluh tahun yang lalu. Dan aku merasa diriku sekarang seperti ini juga adalah karena Mama. Aku anak keempat dari empat bersaudara, dan aku menghabiskan waktu dengan Mama jauh lebih banyak dari kakak-kakakku lainnya. Aku mempelajari berbagai sifat mama, dan diam-diam menirukan dengan gayaku sendiri. Salah satunya adalah sifat mama yang keras dan sulit dibantah. Hasil pembelajaran itu adalah sifatku menjadi musuh bebuyutan Mama. Kami sering kali saling ngotot untuk hal-hal kecil seperti bagaimana memperlakukan sampah yang benar, kadang Mama suka teledor membiarkan minuman manis yang tumpah di lantai yang akhirnya menjadi kubangan bagi semut-semut nakal. Aku paling tak bisa menerima kejorokan seperti itu. Jujur, aku bukan orang yang gila kebersihan, tapi aku juga bukan orang yang bisa hidup dalam ‘kejorokan berlebih’ seperti kasus semut dalam kubangan. Tapi yang membuatku makin kesal adalah sifat kekanak-kanakan Mama yang selalu menyangkal (walau terlihat dalam ekspresi wajahnya bahwa dia sedang berbohong) dan tak mau kalah. Biasanya kalau sudah begitu, aku akan diam dan masuk kamar.

Talenta yang kumiliki juga turunan dari Mama yang berotak briliant. Selalu ada saja ide untuk membuat alat-alat praktis dari benda sederhana. Sialnya, Mama bukan orang yang suka bekerja sama dalam satu tim. Seringnya, kami bersaing membuat satu alat yang nantinya harus ditandingkan seperti dalam lomba. Kalau aku kalah, Mama selalu bilang “Tuh kan, otak Mama gak kalah pintar dari otak kamu.” Dan biasanya aku menimpali “Yeah… pasti lah, otakku kan lahir dari Mama juga.” Sambil tersenyum kecut macam pecundang lalu pergi. Kesal, tapi juga bangga.

Tak selamanya Mama itu mengesalkan. Kadang tanpa Mama rasanya sepi sekali. Tak melihat aksi kocak dan candanya yang kekanak-kanakan membuatku kesepian. Sumpah, aku tak pernah berhenti berharap andai Mama bisa membaca pikiran anak-anaknya. Andai aku bisa berubah menjadi seperti kakakku. Rasanya aku tahu betul seberapa sulit mengubah sifatku, walaupun imbalannya adalah kasih sayang Mama yang hampir aku lupa rasanya karena sebagian besar waktu kami bersama habis untuk berdebat saja. Sekarang aku lebih banyak menghindar. Bahkan teriakan dari satu lantai di bawah kamarku lebih sering aku abaikan dengan pura-pura tidur. Beberapa saat kemudian setelah aku berpikir mungkin mama memanggilku untuk sesuatu yang penting, baru aku turun ke bawah. Seringnya aku dipanggil untuk topik tak penting itu, atau hal-hal tak perlu. Itu yang membuatku makin malas menanggapi panggilannya. Tapi aku selalu kembali memikirkan kondisi Mama yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bisa saja panggilan itu menjadi panggilan darurat yang tak bisa diabaikan. Akhirnya, aku menanggapi setiap panggilan Mama walau harus kembali menahan kesal.

Kadang Mama berterus terang tentang sifatku yang dingin, menasehati bahwa setiap ocehannya adalah karena sayang. Bahwa umurnya tak lagi panjang (aku paling benci ketika Mama mulai membicarakan umurnya yang tak lagi panjang). Apa mungkin Mama tak pernah sadar kalau aku menyayanginya dengan sisi lainku ? bahwa setiap kali aku diam adalah karena aku sayang dan tak mau menyakitinya dengan kata-kata kasar. Seharusnya Mama tahu kenapa aku tumbuh menjadi pribadi yang dingin dan tak terlalu dekat dengan keluarga. Karena sejak dulu Mama pun begitu. Sejak aku kecil, Mama bisa saja marah dengan kelakuanku hingga mengoles mataku dengan cabai giling. Setelah ekspresi marah yang menakutkan itu, Mama bisa tersenyum ramah pada tetangga beberapa menit kemudian. Itu yang aku pelajari dari kecil. Bahwa kita bisa saja jahat pada keluarga, tapi kita tak boleh menampakkannya pada orang lain. Aku menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain, tapi mengesalkan bagi keluarga. Cukup masuk akal kan ?

Tak hanya dengan Mama, dengan kakak-kakakku pun begitu. Aku jauh lebih ramah saat dengan teman-temanku atau pun orang yang baru kenal daripada dengan keluarga kandungku.

Tak mudah mengubah sifat yang tertanam sejak kecil. Tak ada gunanya juga menyalahkan Mama sekarang ini. Dalam hatiku, Mama sudah menerima karma buruknya karena sifatku yang begini. Bukannya aku sengaja, tapi aku sulit mengubah. Aku tak pernah bisa meminta maaf langsung pada Mama, mungkin belum saatnya. Mungkin saja nanti, suatu hari. Atau tak akan pernah. Aku sendiri belum punya keberanian untuk menentukan kapan saatnya. Aku takut ego-ku lebih besar dari penyesalan yang kupendam.


seems like it was yesterday when I saw your face

You told me how proud you were, but I walked away

If only I knew what I know today

Ooh, ooh

I would hold you in my arms

I would take the pain away

Thank you for all you've done

Forgive all your mistakes

There's nothing I wouldn't do

To hear your voice again

Sometimes I wanna call you

But I know you won't be there

Ohh I'm sorry for blaming you

For everything I just couldn't do

And I've hurt myself by hurting you

Some days I feel broke inside but I won't admit

Sometimes I just wanna hide 'cause it's you I miss

And it's so hard to say goodbye

When it comes to this, oooh

Would you tell me I was wrong?

Would you help me understand?

Are you looking down upon me?

Are you proud of who I am?

There's nothing I wouldn't do

To have just one more chance

To look into your eyes

And see you looking back

Ohh I'm sorry for blaming you

For everything I just couldn't do

And I've hurt myself, ohh

If I had just one more day

I would tell you how much that I've missed you

Since you've been away

Ooh, it's dangerous

It's so out of line

To try and turn back day

I'm sorry for blaming you

For everything I just couldn't do

And I've hurt myself by hurting you

Christina Aguilera - Hurt

Minggu, 23 Januari 2011

Perjuangkan Selagi Bisa

Tentang hati, tak ada siapa berani menyangkal bahwa ia mendengar. Tapi tak banyak yang mampu menerjemahkan dengan benar.

Firasatku berkata, kekasihku sendiri tengah bingung menerjemahkan isi hatinya. Terlihat jelas otaknya seperti sedang dipilih oleh dua kubu berlawanan, sampai hampir putus. Tapi dia kira bisa menyembunyikan itu dariku. Terlihat bibirnya melengkungkan senyuman. Tapi matanya kosong menatap gelas berisi anggur merah murahan.

"Rin, lagi mikirin apa ?" aku berusaha membuka celah di hatimu yang tertutup rapat karena takut emosi aslimu terlihat.

Aku melihatmu tersentak, tapi berusaha menutupi kekagetanmu dengan berlagak bodoh.

"Sorry, kamu bilang apa barusan ?"

"Aku tanya, kamu lagi mikirin apa ?"

"Oh, gak ada kok. Cuma menikmati anggur ini aja. Hehehe..." Bahkan tertawamu yang dibuat-buat itu sama sekali tak tersamarkan.

"Rin, aku pulang ya."

"Loh, kenapa Rud ?"

Aku menarik jaket yang tergeletak di lantai, lalu berdiri dan bersiap pergi. Aku bosan dengan akting murahan yang kau pertontonkan sejak awal. Begitu kira-kira yang ingin kusampaikan padamu, tapi aku bukan laki-laki yang tega berkata kasar pada wanita. Apalagi padamu, Rina. Kekasih yang mendapatkan hatiku tiga tahun silam. Sayang, hubungan ini semakin suram karena tak ada perkembangan. Saat aku berjalan mendekati pintu, Rina tetap pada posisinya, tanpa suara.

Aku yakin Rina menangis sejadi-jadinya di dalam sana. Entah apa yang mengikat kami berdua selain cinta yang sudah tak karuan bentuknya. Mungkin kami sama-sama bosan, atau sudah tak menemukan alasan untuk mencinta. Walau sebenarnya cinta tak butuh alasan. Hanya orang tolol yang menganggap cinta itu bersyarat. Mungkin kami berdua masuk dalam kelompok orang tolol yang menganggap ini sebagai cinta. Tapi kami juga tak berani mengambil keputusan untuk menyatakan bahwa rasa yang ada selama tiga tahun ini bukanlah cinta. Sejujurnya, aku pun menangis malam itu, di balik pintumu.

* * *

Perjalanan pulang selalu terasa jauh. Bahkan jarak rumah kita yang dekat ini terasa seperti jarak dua kota yang berbeda. Mungkin karena aku ingin segera sampai di rumah, segera mandi dan melupakan pertemuan kita tadi. Mungkin tak seharusnya aku datang ke tempatmu. Kedatanganku tadi dengan membawa harapan agar kita berdua menemukan jalan keluar untuk menghangatkan hubungan kita yang semakin dingin. Sepanjang perjalanan aku risau menentukan lanjut atau sudahi saja hubungan ini. Ada rasa ingin memiliki, tapi setengahnya lagi terisi benci.

Sampai di rumah, aku segera mandi. Mendinginkan kepalaku sejenak di bawah pancuran air. Usainya, aku menggeletakkan tubuh ke atas ranjang. Berpikir lagi, menentukan keputusan mana yang akan kuambil. Senyuman Rina saat pertama kami bertemu. Itu yang membuatku sekarang tersenyum di atas tempat tidur. Keputusanku sudah bulat, besok malam aku harus ke sana dan mengajaknya untuk memulai dari awal. itu keputusanku. Karena apa yang kurasa selama ini adalah cinta. Sudah sepantasnya aku mempertahankan Rina.

* * *

Alarm handphone seharusnya membangunkanku pukul tujuh pagi. Tapi semalam aku lupa mengisi baterai. Kemungkinan baterainya habis. Aku terbangun pukul sepuluh. Aku sudah terlambat ke kantor. Tapi ada baiknya juga, setidaknya aku datang ke kantor dalam keadaan segar. Semalam aku terlelap pukul tiga dini hari. Mataku sulit terpejam karena tak sabar menyusun rencana untuk meyakinkan Rina bahwa aku masih mencintainya.

Rencana awal adalah seikat bunga mawar merah. Segera kunyalakan TV untuk melihat berita lalu lintas kota siang ini. Sambil tangan kiri-ku sibuk mencari channel di TV, tangan kananku memegang segelas kopi. Tiba-tiba aku melihat berita kebakaran. di dekat rumah Rina. Harap-harap cemas, aku menunggu iklan lewat. Hampir tak percaya, tapi kenyataannya alamat dan video di TV menampilkan rumah Rina. Reporter menyatakan bahwa korban bernama Rina, tewas terbakar karena saat kebakaran terjadi, pintu terkunci dari luar.

Aku segera berlari, mencari celana yang kukenakan semalam. Ternyata di dalam saku celana itu terdapat dua kunci rumah Rina. Satu milikku, dan satu lagi tentu saja, milik Rina.



Jumat, 24 Desember 2010

Happy New Year 2011


All images in this account belong to Jony Kho. Comercial usage without my permition will charged US$3000,- each.

Senin, 08 November 2010

Bukan

"Bukan."
"Bukan karena itu, dan tak akan pernah aku kembali padamu dengan alasan seperti itu."

Selang waktu yang cukup panjang menyela di antara delapan tahun kebersamaan kita. Perpisahan yang sebentar itu menghancurkan delapan tahun di belakangnya. Dan kita, pelaku dalam cerita ini, masih juga saling menjaga kesombongan diri. Yang satu takut disakiti, dan menyangkal kejujuran bahwa dirinya telah ada yang lain. yang lain tak berani mengambil keputusan yang cukup berani untuk mengakhiri percintaan lainnya. Kita terjebak dalam dilema yang tak ketahuan kemana ujungnya. Walau dalam hati kita berharap delapan tahun kebersamaan itu akan menjadi kunci untuk menyatukan kita. Tapi berharap saja tak akan pernah cukup tanpa pernah berbuat.

"jadi, alasan apa lagi selain itu ?" Aku bertanya dengan hati yang getir, menahan hasratku untuk mendekapmu erat dan menghisap habis cinta itu dari bibirmu.

"Kau tahu apa alasan yang sebenarnya. Kau tahu kenapa tak akan ada yang bisa menggantikanmu di hatiku."

"Mungkin aku tahu, tapi aku ingin mendengar langsung darimu."

"Kau egois, dan itu tak pernah berubah." suaramu terdengar lebih mirip berbisik.

Dan kita kembali diam, sambil kau menunduk dan bersiap menumpahkan air mata. Aku pun diam, sedikit bangga karena pada akhirnya kau menyerah juga. 




......

Senin, 11 Oktober 2010

Tentang Laut

Mimpi adalah bagian dari hidup.
Walau ia bukan bagian dari kenyataan
Tapi ia berpeluang ke sana
Menyeberang,
dan menjadi nyata


Laut menyimpan kekuatan terbesar dari alam. Ia mampu menenggelamkan daratan dalam sekali hantam. Tapi ia memilih proses yang pelan, perlahan mengikis daratan dengan ombak kecilnya yang menghanyutkanku dalam lamunan panjang. Pantai.

***
"La-ut"
"La-ut.. la...ut."
Ia terus mengulang kata yang sama dengan jedah yang sama. Stroke yang menyerangnya tiga tahun lalu telah membuat kekasihku lumpuh dan sulit bicara. Tapi itu tak menghentikan kegemarannya bermain di tepi laut, tempat kami bertemu lima tahun silam. Aku mencintainya melebihi siapa pun yang pernah mencoba bercinta denganku. Ikatan di antara aku dan dia adalah ikatan batin. Karenanya, aku terus bertahan dalam kondisi ini, berharap suatu hari nanti ia akan sembuh dari kelumpuhannya dan memelukku erat seolah tak akan pernah ia lepas. Seperti pelukan hangat yang kuberi setiap pagi, setiap malam.

Sejak kelumpuhannya, emosiku menjadi labil. Perlahan teman-teman terdekatku semakin berkurang. Mereka tak tahan melihatku menderita karena mempertahankan dia. Tapi mereka tak pernah mau tahu bahwa tanpa dia aku merasa hampa. Tanpa dia aku tak akan mampu bertahan di dunia nyata. Karena itu aku memilih dia, dan melepas teman-teman terbaikku satu demi satu. Hidup selalu memaksaku untuk memilih. Tak pernah aku diberi lebih.

Dia adalah curahan hatiku, pelipur lara-ku. Demi dia, kuhabiskan segalanya. Bahkan air mata dan seisi hatiku.

Setiap pagi aku mengantarnya ke pantai untuk melihat laut. Pagi, bahkan sebelum manusia-manusia pagi terbangun dari mimpinya. Dia mengulang-ulang kata 'laut' diucapkan 'la-ut' olehnya. Siapa juga yang tak akan terbangun kalau kekasihnya terus mengulang kata yang sama, tepat di samping tempatnya tidur. Kadang aku berpikir, apa mungkin dia tak tidur hanya untuk membangunkanku tepat waktu ?

kesibukanku setiap hari adalah menemani dia ke pantai, melihat matahari terbit. Lalu pulang ke rumah kami yang tak jauh dari sana. Sejak kekasihku lumpuh, kami pindah ke rumah dekat pantai, untuk memudahkanku mengantarnya ke sana setiap pagi. Saat aku kerja, ia ditemani seorang perawat sampai malam. Kadang aku menemaninya melihat matahari terbenam bila aku bisa pulang cepat. Jarang, tapi sangat menyenangkan. Saat aku bersandar di kedua lututnya, mencium lembut kedua lututnya, sambil menatap matahari terbenam. Hidupku terasa jauh lebih bermakna saat bersamanya. Semua kekesalanku seperti hilang seketika ketika tanganku bersentuhan dengan tangannya. Kadang aku bahkan menangis bahagia di sela jemarinya.

"Berapa lama kamu akan diam ? Cepatlah bangun, agar aku bisa lagi bermanja padamu."

Kalimat terakhir yang kuucap padanya di pantai. Keesokan harinya, aku menemukan kursi roda itu kosong di dekat pantai. Aku tak tahu bagaimana caranya ia sampai ke sana. Awalnya aku berharap bahagia, mungkinkah ia lepas dari kelumpuhannya dan berjalan meninggalkan kursi roda. Tapi kenyataannya berbeda. Tubuhnya kutemukan beberapa ratus meter dari kursi roda. Kekasihku menenggelamkan diri ke laut tanpa mengajakku ikut.




...................................