Selasa, 26 Januari 2016

Eigengrau

Terkadang, cahaya yang kamu lihat dalam gelap, hanyalah ilusi belaka.


Angin sore di penghubung semesta dengan cakrawala, meniup poni-ku ke kiri lalu kemudian ke kanan. Angin sejuk. Hampir seperti tiupan dengan niatan untuk membekukan hati yang terdiam membisu sejak dua jam yang lalu. Diam seperti tubuhku yang hampir tidak bergerak di tepian jembatan kayu tempatku berpijak sambil menatap matahari terbenam meninggalkan aku dan kesendirian ini. Aku menunggu Bayu. Kebetulan namanya punya arti yang sama dengan angin. Tapi Bayu jauh lebih dingin. Dia bahkan telah membekukan cinta kami dalam prasasti gunung es. Bayu selingkuh dengan sahabat dekat kami, Linda.

Tempat ini akan menjadi tempat bersejarah dalam hidupku. Tempat aku akan menyelesaikan sebagian isi jurnal hidupku. Aku dan Bayu sepakat mengakhiri hubungan kami di sini. Tempat takdir pernah mempertemukan kami dalam jalinan cinta, dan memisahkan kami oleh bilur-bilur cinta. Mungkin memang takdir tak pernah menyatukan dua manusia berkelamin sama dalam satu peraduan yang lama. Mungkin kelamin memang menjadi patokan halal dan haram-nya masalah percintaan. Dulu aku tak percaya. Sekarang tetap tak mau percaya.

Dua jam lebih, entah berapa lama tepatnya, wajah itu menghampiriku dengan ratapan sayu seolah minta kupeluk. Lalu, mungkin keajaiban akan sekali lagi datang menghampiri dan menyeret kami kembali ke waktu itu. Waktu ketika aku dan Bayu baru pertama bertemu. Waktu kami belum menghadapi dilema cinta segitiga dengan Linda.

"Maaf, sudah lama ?" Bayu bertanya dengan suara serak seperti habis menangis semalaman.

"Bukannya dari awal memang aku yang selalu menunggu ?" jawabku ketus.

"Ndre, aku sengaja terlambat hari ini." Bayu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Aku nggak yakin dengan keputusan ini, Ndre. Aku gak mau."

"Bay, kamu yakin dengan ucapanmu barusan ? Kemana saja keyakinanmu itu pergi, waktu kamu selingkuh dengan Linda ?" Aku menatapnya dengan marah.

"Ndre... Bisa kita lupakan saja Linda ?" Bayu berkata pelan, hampir berbisik. Setengah memohon.

"Gak bisa Bay. Aku gak bisa." Jawabku dengan mata yang berkaca-kaca entah karena perih oleh angin laut atau memang menahan rasa.

"Please, Ndre... jangan buang aku." Bayu masih berusaha.

"Bay, mulai sekarang, kita gak usah ketemu lagi." Aku menitikkan air mata terakhirku untuk Bayu, lalu melangkah pergi darinya. Meninggalkan Bayu di sana.

Aku berusaha menahan diri untuk tidak membalikkan badan melihat ke arah Bayu. Aku tak mau hati ini memberontak dan menyerah pada pesona laki-laki di belakangku. Aku memaksa kaki ini terus bergerak menuju mobil yang aku parkir di bawah pohon. Segera masuk dan duduk di belakang setir kemudian menangis meraung-raung sepuasnya.

Aku tak ingat berapa lama aku menangis. Ponselku bergetar. Di layar ponselku ada wajah perempuan itu. Perempuan yang menorehkan bilur-bilur menyakitkan dalam percintaanku dengan Bayu. Antara segan, benci, juga penasaran. Aku mengangkat panggilan dari Linda.

"Ndre, sudah ketemu dengan Bayu ? Kalian gak kenapa-kenapa kan Ndre ?" Linda menyambar tanpa permisi.

"Lin, sudah. Aku sudah selesai dengan Bayu." Jawabku setengah menahan isak tangis yang tersisa.

"Baguslah, Ndre. Lalu ?"

"Lalu ? Lalu kenapa, Lin ?" Tanyaku

"Lalu... kita..."


***
Linda adalah sahabatku sejak SMA. Dia selalu merasa bahwa aku adalah belahan jiwanya. Walaupun aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan, Linda tidak mempermasalahkan itu. Mungkin karena keyakinannya juga, aku menjadi penasaran dengan perempuan bernama Linda ini. Sejak kecil aku tidak dekat dengan Ibu-ku yang seorang penjudi dan rajin menelantarkan anak-anaknya ke rumah nenek. Tak jarang, setelah kalah judi, kami menjadi pelampiasan amarahnya. Semua yang kami lakukan menjadi kesalahan fatal di matanya. Tamparan, bahkan rotan menjadi akrab di kulitku. Linda perlahan menyembuhkan rasa benciku pada perempuan. Tapi tak mengubah kenyataan bahwa aku tak pernah sedikit pun membayangkan berhubungan dengan perempuan. Lalu aku bertemu dengan Bayu. Pertemuan tak disengaja di jembatan dekat pantai. Senyumnya seperti jawaban dari semua doa. Begitu sempurna. Begitu mempesona. Aku menceritakan tentang hubunganku dengan Bayu pada Linda. Awalnya Linda marah, walaupun akhirnya kami bertiga menjadi dekat. Kemana-mana selalu bertiga. Linda juga yang menjadi penengah ketika aku dan Bayu bertengkar hebat di awal-awal hubungan kami. Linda adalah satu-satunya perempuan yang bisa melewati dinding yang telah aku bangun untuk menolak kehadiran makhluk bernama perempuan. Bayu dan Linda kemudian lepas kendali. Mereka berhubungan lebih dari sekedar sahabat di belakangku. Lebih tepatnya, Linda telah merencanakan semua itu. Lebih gilanya, rencana ini atas persetujuanku.


***
"Kita kenapa, Lin?" tanyaku

"Kita... sekarang bebas ?" tanya Linda dengan hati-hati.

Aku terdiam tak bisa menjawabnya. Ada rasa bersalah yang mendalam. Aku telah melukai Bayu. Aku yang telah menghancurkan hubungan kami bertiga.

Dua bulan yang lalu, hubunganku dengan Bayu semakin kacau. Aku menceritakan semuanya pada Linda. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Bayu, tapi selalu gagal. Aku butuh satu alasan kuat untuk bisa menolak kehadirannya di dekatku. Mungkin dengan membuatnya melakukan satu kesalahan fatal seperti berselingkuh dengan Linda. Rencana gila ini disambut oleh Linda. Dengan perjanjian, jika aku berhasil berpisah dari Bayu, aku harus menerima Linda. Setidaknya aku harus mencoba jalan dengan Linda lebih tepatnya. Aku dengan bodohnya menyetujui rencana gila itu. 

Tak butuh waktu yang lama, dengan memanfaatkan kedekatan kami, Linda berhasil mengajak Bayu untuk bertemu di sebuah kafe. Alasannya, tentu saja ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Bayu. Singkat cerita, Bayu mabuk. Linda membawanya ke apartemen, dan terjadilah sesuai rencana Linda. Bayu mengira semua adalah salahnya. Linda pun berhasil menjalankan rencananya dengan sempurna. 

"Beri aku waktu, Lin." Jawabku, lalu menutup panggilan dari Linda. Aku kembali terisak, menyesali kebodohanku. 

Belum puas aku terisak, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan singkat dari Linda. Ketika aku membuka pesan singkat itu, tiba-tiba pintu mobilku dibuka. Aku terkejut. Bayu menerjang masuk ke dalam mobil, memelukku erat.


***
Beberapa jam kemudian, di apartemen Linda terjadi kehebohan. Seorang pria telah menerjang masuk ke dalam apartemen Linda dan menikamnya berulang kali. Pelakunya terlihat begitu tenang, tanpa ekspresi bersalah. Saat polisi datang dan menanyakan alasannya, dia hanya menunjukkan pesan singkat dalam sebuah ponsel.

"Ndre, kamu masih di sana ? Cepat lari, Bayu sudah tahu semuanya. Dia sangat marah. Cepat kamu pergi dari sana !" pengirimnya adalah Linda.





Nb: Eigengrau : Warna abu-abu yang terlihat pada saat kita tiba-tiba masuk dalam ruangan gelap gulita. 













Selasa, 21 Juli 2015

Nada-Nada Cin...ta

Tak ada kata terlambat untuk cinta. Tak ada kata terlambat baginya, walau harus menunggu hingga ku tak mampu. Tak ada kata terlambat. Hanya kapan... dan di mana.

Siang begitu terik. Segelas jeruk dingin pun tak meluruhkan dahaga yang mencekik tenggorokan ini. Mungkin karena cuaca, mungkin juga karena gelisah tak tersalurkan menunggu kabar darinya. Harusnya dia datang satu jam yang lalu. Harusnya dia datang tepat waktu. Segelas jeruk dingin menyisakan buih di dasar gelas. Sibuk tanganku mengaduk-aduk buih itu dengan sedotan plastik. Seolah mengaduk perasaanku yang berbuih akibat terlalu lama berputar-putar dalam gundah gelisah. Dia tahu aku paling benci menunggu. Dia tahu.

Buih di dasar gelas pun enggan lebih lama lagi diaduk. Seolah bisa mendengar protes dari buih-buih di dasar gelas, aku pun beranjak dari kursi tempatku duduk, menuju kasir dan membayar tagihan biaya satu gelas jeruk dingin dan sepotong kue bolu yang telah habis sedari tadi. Tak berlama-lama, dan aku pun meninggalkan tempat itu. Pulang. Menyeret kesal yang memuncak. Sudah cukup. Aku tak ingin lagi meneruskan hubungan ini. Sambil berjalan ke arah pulang, aku matikan ponsel, dan mengusap butiran air di pelupuk mata. 

***

Namaku Randi. Laki-laki yang jatuh cinta setengah mati. Berusaha membuktikan bahwa cintaku bukan picisan yang hanya indah di awal tanpa akhir yang pasti. Aku ingin membahagiakan Ratna, wanita yang menjadi kekasihku saat ini. Belakangan, aku sadar hubungan kami semakin renggang. Bukan karena rasa ini berubah padanya. Kuharap bukan juga sebaliknya. Kami semakin sering bertengkar karena masalah sepele (buatku, entah apakah sepele juga bagi dia). Mungkin aku yang kurang peka. Tapi yakinlah, rasa ini tak pernah berubah padanya sejak awal berjumpa. Aku tengah menuliskan sebuah lagu untuk kekasihku Ratna, sebagai hadiah hari jadi kami yang ke-lima. Aku ingin besok menjadi hari yang istimewa. Menjadi jembatan untuk mempertemukan rasa. Menghapuskan dilema yang menerpa hubungan kami tanpa diminta. Aku ingin menjadi laki-laki yang sama yang membuatnya tersenyum bahagia saat aku memintanya menjadi kekasihku lima tahun yang lalu. Laki-laki yang telah berhasil masuk dalam hatinya.

***

Satu minggu sudah aku mengabaikan pesan singkat dari Randi. Tak aku baca. Melihat pesan panggilan tak terjawab pun aku jengah. Ada yang salah dengan rasa ini. Mungkin keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami adalah pilihan terbaik. Aku merasa semuanya berubah sejak dua bulan yang lalu. Semakin jarang dia mengabariku, semakin jarang dia mencari tahu. Mungkin dia pun merasakan yang sama, bahwa hubungan kami telah tiba pada titik akhir cerita. Tak akan indah bila dilanjutkan lebih lama. Bisa-bisa malah menghancurkan semua kisah indah di awal cerita. Sama seperti serial TV. Memukau di awal cerita, tapi semakin tak masuk akal bila ceritanya  dipaksakan berlanjut terlalu lama. Semua yang berawal pasti akan ada akhirnya. Hanya masalah waktu saja. Aku berjanji tak akan membencinya. Aku memang tak membencinya. Aku hanya butuh waktu. Aku sendiri tak tahu berapa banyak waktu yang aku butuhkan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bisa membuka diri bagi Randi sekali lagi. Sebagai teman.

***

Salahku, terlalu memaksa untuk membuat kejutan ini. Aku sadar, demi kejutan ini telah kukorbankan waktu terlalu banyak mengabaikan Ratna. Wajar kalau dia marah. Aku hanya tak menyangka semua ini malah menjadi bumerang pada hubungan kami. Aku berhasil menyelesaikan lagu untuknya, tapi aku terlambat dua jam di hari jadi kami. Saat aku tiba di sana, dia sudah tak ada. Ponselnya mati hingga keesokan harinya. Semua panggilan dan pesan singkatku tak dibalas. Setiap aku main ke rumahnya, selalu dibilang Ratna tak ada di rumah. Aku tahu dia mengintip dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Tapi aku yang salah, dan tak pantas buatku memaksa. Mungkin dia butuh waktu. Aku harus terima.

***

Enam bulan sudah berlalu. Aku mengabaikan Randi. Pagi tadi, datang satu paket darinya. Isinya, Ipod-ku yang dulu tertinggal di apartemennya, juga beberapa barang lainnya. Tak ada yang penting sebenarnya. Mungkin dia mengerti arti diamku selama ini. Mungkin dia akhirnya pun menyerah pada keputusanku ini. Aku egois, tapi aku memang sudah tak mau lagi. Tak ada gunanya terus mengalah kalau aku hanya menipu perasaanku, dan rasa bahagianya. Dia ber-hak untuk bahagia yang sesungguhnya. Begitu juga aku.

***

Enam bulan, aku tak berhasil juga mencairkan es di hati Ratna. Tak ada satu hari pun terlewati tanpa pesan singkat dan permintaan maaf dariku. Enam bulan, cukup rasanya. Tak selamanya aku bisa mengalah pada hatiku yang kesepian dan butuh dihangatkan oleh senyum dari seorang wanita. Aku memutuskan untuk menyerah. Ratna bukan lah wanita satu-satunya di dunia. Sungguh, aku tak membencinya.

***

Tepat satu tahun setelahnya, Randi mengirimkan sebuah undangan. Entah apa maksudnya. Mungkin sebagai balasan rasa sakit hatinya karena telah kutinggalkan tanpa memberinya kesempatan. Tapi sungguh, aku tak merasakan sakit sedikit pun. Tidak, aku bohong. Entah kenapa rasanya sesak sesaat. Tapi aku tak menggubris. Hidupku sudah tenang sekarang, tanpa dirinya. Mungkin aku akan datang dan memberinya ucapan selamat. Sebagai tanda bahwa di antara kami resmi telah usai. Tak akan ada lagi rasa cinta atau kecewa. Hanya sebagai teman.

Sambil melipat undangan, aku teringat dengan paket yang telah kuabaikan. Ada di bawah ranjang. Paket berisi barang-barangku yang terasa begitu asing bagiku. Padahal sebelumnya, aku selalu akrab dengan musik ipod-ku. Bahkan kadang terlalu asyik dengan musik hingga aku lupa bahwa Randi ada di depanku tengah memperhatikanku. Tunggu dulu, kenapa baru sekarang aku memikirkan itu ? di saat undangan sudah tercetak dengan nama lain bersanding di samping Randi. Sudah terlalu naif untuk memikirkannya. Aku tak ingin terjerembab lebih dalam lagi dengan nostalgia gila barusan. Aku menarik ipod dari dalam kardus, lalu mengisi baterainya yang terabaikan terlalu lama di dalam sana. Sambil aku bersiap mandi. Sebentar lagi aku ingin pergi ke mal untuk belanja bulanan.

***

Ratna, aku sungguh terpaksa untuk memilih wanita lain sebagai pendampingku. Aku sungguh tak menemukan celah untuk menggapaimu. Maaf kalau aku menyerah terlalu cepat. Aku berharap tak akan ada penyesalan di kemudian hari. Aku tak ingin kau terluka. Aku juga tak ingin berlama-lama menyimpan rasa ini sendirian. Aku telah bertemu dengan wanita lain yang mampu membuatku jatuh kembali. Aku bingung, bagaimana memberitahukan padamu. Mungkin kau bahkan tak akan perduli lagi. Pada akhirnya, aku tetap nekad mengirim undangan ini untuk memberitahukan padamu, bahwa di antara kita sudah tak mungkin ada lagi rasa seperti yang dulu. Bahwa aku telah memilih dia untuk mengisi sisa hidupku. Bukan aku tak pernah memilihmu, tapi aku telah gagal membuatmu memilih aku. 

***

Usai mandi dan menyegarkan pikiranku dalam guyuran air di kamar mandi, aku bergegas mengenakan pakaian dan bersiap untuk jalan. Pakaian santai, dan tentu saja ipod yang baterainya baru terisi kurang dari setengah. Aku bahkan hampir lupa lagu-lagu yang tersimpan di dalam sana. Mungkin nanti aku akan mengatur ulang seluruh lagu di dalamnya. Terlalu banyak kenangan yang bisa berakibat fatal bila bangkit dari kuburnya. Aku tak ingin menjadi kalap dan histeris sendiri tersiksa oleh rasa yang telah kubuang sekian lama. Aku tak boleh lemah. Aku Ratna yang bahagia.

Setelah pamit dengan orang rumah, aku berjalan menelusuri gang kecil perumahan menuju jalan raya untuk menghadang taksi. Musik berkumandang di telinga, mengiringi langkah cepatku yang seolah menari. Musik memang bagian hidupku yang tak pernah layu dimakan waktu. Musik mungkin bisa disamakan dengan makanan sehari-hari yang membuatku terus hidup. Di saat senang, sedih, gelisah, semua memiliki musik yang setia menemani dan mengerti aku dengan begitu tepatnya melebihi manusia mana pun. Bahkan kadang melebihi diriku sendiri. Musik adalah belahan jiwaku yang sesungguhnya.

***

Entah, apakah undanganku diterima oleh Ratna atau tidak. Aku sama sekali tak mendapat kabar darinya. Tapi bagaimana pun juga, aku harus melanjutkan rencana hidupku bersama Nadya. Tak ada langkah mundur. Tak boleh ada yang menghentikan waktu yang terus berlalu menuju hari bahagia kami. Bersama undangan itu, telah kukirimkan puing-puing rasa yang pernah ada bersama Ratna. Tak bersisa lagi di hatiku selain Nadya. Karena tak mungkin hatiku mampu menampung dua rasa itu dalam ruang yang sama. Tak mungkin bisa.

***

Cukup lama aku berdiri menunggu taksi di pinggir jalan raya. Musik terus mengalun meneduhkan hatiku dari panasnya cuaca. Musik memang formula istimewa yang mampu mempermainkan rasa. Menunggu taksi di cuaca sepanas ini pun tak mengapa selama ada musik memanjakan telinga. Paling, hanya tanganku saja yang tak henti menepis keringat bercucuran melewati dahi.

Tiba-tiba, sebuah musik bernuansa aneh mengalun. Musik asing yang aku yakin tak pernah dengar di mana pun. Suara gitarnya terdengar direkam secara murahan, tapi juga lumayan. Hatiku sibuk menebak siapa gerangan musisi penciptanya, hingga suara yang kukenal samar perlahan membuyarkan semua tebakan. Ya, suara Randi. Aku hampir tertawa mendengar suara sumbangnya bernyanyi, tapi aku tahan demi mendengarkan setiap kata-katanya. Cukup romantis. Patut diperhitungkan untuk musisi dadakan. 

Terlalu fokus dengan lagu Randi, beberapa taksi telah berlalu di depanku. Untungnya aku segera sadar dan menghentikan salah satunya yang memberi kode lampu dari kejauhan. Aku melanjutkan musik dari Randi di dalam taksi setelah memberitahukan lokasi tujuanku ke supir taksi. Mungkin supir taksi itu mengira aku gila, karena dalam taksi aku tak mampu lagi menahan tawa menggelegar setelah mendengar kata-kata dalam lagu Randi. Rasanya tak mungkin laki-laki sepertinya menuliskan kata-kata romantis seperti ini. Sungguh bukan dia. Supir taksi itu terus melihatku dari kaca spion, tapi kuabaikan. 

Musik berdurasi empat menit itu pun berakhir di tiga puluh detik terakhir. Mungkin dia masih amatir, pikirku. Setelah jedah beberapa detik dari dentingan terakhir suara gitar, suara Randi terdengar lagi. Kata-kata terakhirnya hampir menghentikan jantungku. Air mata pun mencair dari hatiku yang beku sejak hari jadi kami yang kelima.

***

Ratna, kuharap kau tak menertawakan musik yang kutulis untukmu. Sungguh, aku bukan musisi handal seperti mereka-mereka yang musiknya mengisi ipod-mu dan menemani hari-harimu. Tapi musikku ini dari hati. Sungguh, aku tak mengisi musik ini dengan rayuan gombal belaka walau terdengar seperti itu pada akhirnya. Aku ingin segera mengakhiri rasa canggung di antara kita. Aku ingin kita bisa seperti pertama bertemu dulu. Aku ingin kau menjadi pasanganku hingga akhir waktu. Ratna, aku berharap kau akan mendengarkan musik ini hingga akhir, karena di hari jadi kita yang kelima ini, aku menghadiahi kita sebuah lamaran untuk menyatukan kita selamanya.


Minggu, 28 Juni 2015

Gelapnya Terang

Duduk, dengan ujung mata membendung gumpalan air mata. Tanpa alasan jelas. Tanyakan saja pada hatiku yang juga pasti tak tahu dari mana muasal sesak yang menghimpit jantungku erat. Hanya lembaran kertas dan pensil kesayangan di tangan yang mampu mengurangi penderitaanku, menerjemahkan rasa ini dalam bentuk goresan-seolah tak berarti. Tapi sesungguhnya memiliki arti tersendiri, dalam dunia dan bahasanya yang asing untuk makhluk di luar batas lembaran kertas. Aku lah pencipta dunia tanpa penghuni, yang tak gila puja dan puji. Aku hanya ingin mengisi duniaku dengan harta karun satu-satunya yang kupunya. Seluruh rasa.

Segelas kopi panas mengepulkan aromanya mengitari lingkar kepala setinggi lubang hidungku. Tak ada celah untuk tak menghirup aroma wanginya yang menggugah selera. Kopi hitam yang diseduh dengan kekentalan setara hitungan matematika. Selalu pas. Khas dari warung tempat jiwa tua-ku yang lelah ini memanjakan diri dari penatnya dunia nyata. Tentu saja seperti biasa juga, dengan bekal secarik kertas kosong dan pensil kesayangan. Tanganku mulai asyik menari tanpa menunggu ijin turun dari otakku. Sudah terlalu biasa, hingga tak perlu sungkan lagi katanya. Lancang memang tanganku ini, terlalu dimanja. Tak apa lah, sudah lelah ia bekerja menerjemahkan isi otakku setiap harinya. Anggap saja ini tamasya baginya. 

Saat aku mulai menggambar, sekelilingku perlahan hilang. Aku masuk semakin dalam dan semakin dalam ke dalam duniaku sendiri. Ruang dan waktu yang begitu sempurna bagiku. Bahkan kalau ada artis terkenal duduk di sampingku pun rasanya tak akan mengubah sesuatu apa pun. Saat seperti ini, adalah saat di mana duniaku adalah segala-galanya.

Cerita ini tak akan mungkin ada seandainya saja dia tak datang sore ini, yang entah dengan ilmu apa telah berhasil menerobos masuk ke dalam duniaku. Membuyarkan semuanya.

"Lagi asyik gambar ?" dia bertanya dengan senyum mendengus. Pertanda bendera perang. Aku bahkan tak kenal siapa dia.

"Hmm..." aku 'menjawab' sambil memicingkan mata.

"Ingat gue ? kita pernah sekelas dulu." Dia melemparkan serangan fatal tanpa permisi.

"Harus ya ?" Jawabku ketus.

"Hehe... Kerja apa loe sekarang ? masih sempat coret-coret gitu."

Aku menjawab dengan diam. Sebuah jawaban khas yang menjadi senjata andalan untuk mengusir lalat pengganggu jenis ini. Tapi ternyata salah.

"Emangnya coretan gini bisa jadi uang ?" dia masih memancing.

Tak lama, dia menarik kursi dan duduk berhadapan denganku. Tanpa undangan, tentunya.

"Daripada coret-coret gak jelas, kenapa gak pakai waktu buat bikin sesuatu aja sih ?" celetuknya.

Kali ini aku terpancing. Menatapnya langsung ke mata. Tampaknya dia sadar kata-katanya berhasil membangunkan gajah bunting.

"Sorry ?" tanyaku dengan nada kasar.

"Gak perlu marah kali, cuma tanya." Dia membela diri.

"Ok, gini deh... wahai orang yang aku lupa siapa nama-mu dan dari mana asal-mu barusan. Maaf kalau kesannya kasar, tapi kayaknya dirimu perlu mengerti sedikit batasan teritori yang baru saja dirimu langgar. Ada waktu sebentar buat dengerin ?"

"Ermm... ok...ok..." wajahnya memerah. Entah menahan marah, atau malu.

Aku membalikkan kertas ku, merelakan sebagian area kosong di duniaku untuk menjelaskan pada orang asing ini.

"Begini... (kugambar sebuah tembok) Kamu di sisi sana... aku di sisi ini. Oke ?"

"Oke... terus ?" 

"Nah... (kugambar matahari di sisinya, lalu mengarsir bagianku dengan warna hitam)."

"Terus... apa maksudnya ?" dia penasaran.

"Begini, Anggaplah sisi mu adalah bagian terang, dan sisiku adalah bagian gelap ini. Nah, dalam keadaan seperti ini, kamu... (aku menggambar sebuah peti harta karun beserta isinya, di sisiku) gak akan bisa melihat apa yang berharga dari sisiku, karena kamu terbiasa dengan terang. Matamu hanya melihat sisi gelap ini sebagai sesuatu yang kosong. Padahal... di dalam area yang kamu anggap kosong ini, ada sesuatu yang berharga bagiku. Sesuatu yang mungkin hanya aku sendiri yang tahu. Sesuatu yang bagi orang lain mungkin tak penting."

"Hmm..." Dia menyimak.

"Sebaliknya, dari sisiku, duniamu itu terlalu menyilaukan. Aku tak bisa melihat apa yang ada di sana. Baik atau buruk, penting atau tidak penting. Kita sama-sama hidup di dunia kita sendiri. Apa yang barusan kamu sebut corat-coret ini penting buatku. Jadi jangan sekali-kali kamu menggurui apa yang aku kerjakan sekarang. Duniaku... milikku. Sama seperti aku tidak berusaha memasuki duniamu karena aku tahu di sana aku tidak akan merasa nyaman."

"hmm..." Dia mengerti, meminta maaf, lalu pergi.

Dan aku, kehilangan duniaku, kehilangan rasa nikmat kopi, kehilangan teman lama. Tapi aku merasa lega. Setiap orang memiliki batas teritori yang pantang untuk dilanggar. Saat ada orang lain yang dengan seenaknya melanggar, sudah seharusnya kita mendorong mereka keluar.







Selasa, 31 Maret 2015

Terjun

Oh... hamparan mimpi yang mengurung aku dalam lelap cakrawala di luar logika
Oh... senja palsu yang menenangkan jiwaku hingga enggan melawan getaran waktu
Oh... wajah itu... yang membuatku enggan terbangun dari tidurku


Jam terus berdetak. Begitu pelan dan sopan. Tetap saja, telingaku menangkap langkah-langkah kakinya yang seolah melayang. Begitu sunyi kamar ini hingga nafasku sendiri seperti tiupan angin pertanda akan datang badai pertama di pergantian kemarau. Mataku terpejam, tapi tak kunjung mengantarkan aku pada lelap. Begitu banyak kata dan gambar melintas tanpa bisa kutahan. Begitu banyak tanya dan jawab saling beradu tanpa aku tahu ke mana arahnya. Aku hanya berusaha tidur. Aku hanya ingin lepas dari lelah dan penat berlebih ini.

Apa yang kupikirkan, aku sendiri bingung menerka-nerka. Apa yang membuatku begitu gelisah ? Tak ada penyebab pasti. Lebih tepatnya, aku bingung sendiri. Mungkin alasan-alasan di balik kegelisahan ini begitu absurd membaur dengan logika yang kupercaya. Aku sendiri hilang kendali. Ranjang ini makin panas saja rasanya. Padahal pendingin ruangan sudah menyala. Peluh pun bergulir dari dahi hingga jatuh ke bantal. Aku lelah dan butuh tidur segera. Detik-detik berganti menit dan jam pun berlomba-lomba menuju pagi buta. Yang kurasakan tetap sama.

"Aku ingin tidur... Aku lelah..." Aku mengulang kata-kata itu dalam batin.

Ya, dan akhirnya, mulai lagi. Dinding kamarku bergetar, gempa. Tapi aku tetap terpejam dan tenang. Sudah biasa.

Suara gempa semakin kencang, lalu ranjang di bawahku seperti menelan tubuhku hidup-hidup. Lalu, aku merasa seperti ditarik masuk ke dalam kolam air. Dingin, dan begitu tenang. Nafasku masih normal. Aku merasa sekelilingku semakin gelap dan semakin gelap. Tak ada lagi suara detak jam dinding. Tak ada lagi getaran gempa di dinding. Sekelilingku adalah air yang begitu tenang. Tak lama, air di sekelilingku mulai berputar. Aku terbawa dalam arusnya yang semakin kencang. Semakin kencang dan kemudian buyar. Aku merasa seperti dilempar keluar dari dalam kolam kemudian melayang ke udara. Entah semakin tinggi, atau semakin rendah. Aku tak merasakan gravitasi bumi. Tak ada rasa takut, tak ada lagi gelisah. Aku melayang di udara, entah menuju ke mana.

Ada yang bergerak di sekitarku. Aku tak tahu apa, tapi sepertinya makhluk sejenis ular berukuran besar. Aku bisa merasakan tubuhnya mengitariku. Aku bisa merasakan angin di sela-sela jemariku, di setiap celah tubuhku.

Oh... kesadaranku yang begitu rapuh hendak lepas dari raga
Oh... kehilangan ini kurasakan begitu nyaman hingga tak ada air mata
Oh... kulepas bebas semua ke alam bawah sadar

Ya, sudah waktunya. Gravitasi kembali menarikku ke bumi. Aku jatuh. Kali ini aku tahu arah jatuhku. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku akan terbangun ketika menyentuh tubuhku. 

Hal pertama yang kusadari adalah aku menarik nafas dengan rakusnya. Tubuhku basah kuyup oleh keringat. Berikutnya, barulah aku membuka mata perlahan. Kamarku masih gelap. Masih begitu sunyi. Aku duduk terpaku sambil mengatur nafas. Saat sudah tenang, kupalingkan wajah melihat jam dinding yang ternyata baru melangkah ke pukul tiga dini hari.

Oh... malam begitu panjang untuk pejuang hidup yang ingin sekedar tidur dalam lelap
Oh... malam panjang letakkan aku dalam pangkuanmu dan timang aku hingga hari berganti esok
Oh... malam panjang biarkan aku terjun dalam mimpi yang kau buat begitu nyaman



Selasa, 24 Februari 2015

Ada Hati

Ada hati yang terus bersedih
Ada hati yang menangis tanpa henti
Ada hati yang sendiri dalam sepi
Ada hati yang memutus nadi untuk mati
Ada hati yang seperti itu dalam diriku
 

Rabu, 24 Desember 2014

Jealousy

Apa yang mereka sebut cinta... Apa yang mereka pamerkan dan sebut dengan indahnya hidup sebagai manusia... Semua ada waktunya.

Pagi bukannya tak indah, hanya terik mentari kadang terlalu menyengat sampai ingin kupadamkan saja (andai ada remote-nya). Yang berlebih tak pernah lebih menyenangkan selain kelebihan uang. Begitu juga pagi ini. Duduk sendirian di kursi taman sambil menyerap energi dari matahari dan sekeliling agar kulitku tidak terlampau pucat seperti mayat. Duduk di kursi taman berwarna coklat dengan latar taman mawar berwarna merah darah membuat warna kulitku terlihat sedikit mencolok. Tak heran, orang-orang yang sedang lari pagi memasang ekspresi aneh ketika melihatku. Seperti melihat penampakan yang munculnya salah waktu. Tak masalah buatku, sudah terbiasa dengan pandangan semacam itu.

Pagi ini bekalku sebuah buku, sekotak sandwich tuna pedas, dan termos kecil berisi teh hangat campur madu. Aku lupa dengan penyelamat jiwaku, pemutar musik dan earphone kesayangan. Terlalu malas juga untuk berbalik ke rumah mengambilnya. Toh, beberapa jam tanpa musik tak membuatku tenggelam dalam dunia sesat yang super berisik ini. Suara mesin kendaraan, suara orang berbicara dengan aneka nada suara, suara binatang, bahkan suara-suara tak penting seperti decit kayu tua dan suara sepatu. Ketika aku menutup telinga, aku masih harus mendengar suara denyut nadiku sendiri. Dunia ini dikuasai oleh suara. Tak ada celah tempat bersembunyi dari suara, kecuali kau tuli atau telah mati.

Selain suara, tentu saja pemandangan yang tak diharapkan pun ada di mana-mana. Anak kecil berlarian di tengah jalan (semoga terlindas mobil lewat), pasangan tua-muda yang asik bermesraan di taman seolah tak ada tempat lain untuk sekedar berciuman mesra. Dikiranya aku ingin melihat adegan-adegan itu. Mata ini tak bisa menyaring apa yang boleh dan apa yang tidak boleh terlihat. Aku ingin melewatkan adegan-adegan tak penting, tapi aku takut kehilangan pemandangan yang sulit didapat di kesempatan lain. Seperti adegan anak kecil itu terjatuh dan menangis karena lututnya terluka mungkin ?

Intinya, hidup ini adil sekaligus tak adil. Indah diselingi sesuatu yang menjijikkan. Sama seperti mawar indah yang menutupi bangkai di bawahnya. Sama seperti sandwich tuna di tanganku yang kini terlihat menggiurkan setelah kutabur dengan bubuk cabai super pedas kesukaanku. 

Sambil menggigit sandwich aku melihat sekelilingku melihat andainya ada pemandangan menarik lainnya. Ternyata tak ada. Hanya ada sepasang tua tengah bermesraan duduk tak jauh di seberang kursi tempatku duduk. Mereka terlihat bahagia berdekapan seperti sedang bercanda sambil tertawa kecil. Sungguh, pasangan yang terlihat bahagia.

Aku mengalihkan pandangan dari mereka, menyibukkan mataku dengan halaman-halaman buku yang sejak tadi kujadikan tatakan kotak sandwich. Memulai lanjutan cerita ketika pagi hari sebenarnya cukup berat. Apalagi dengan banyaknya godaan suara dan pemandangan. Tak ada musik untuk menenangkan telingaku. Aku masih saja mendengar pasangan tua itu bercanda seolah mereka masih pertama kali jatuh cinta. Seumur-umur, aku belum pernah merasakan cinta seperti yang kubayangkan tengah mereka nikmati bersama. Aku bertanya-tanya kenapa ada orang yang bahagia dan ada juga orang yang kesepian ? Kenapa cinta begitu pemilih? Kenapa bukan aku yang dipilih ?

Setengah jam kira-kira aku membalik lembaran-lembaran dalam buku di tanganku, tanpa banyak isinya yang masuk dalam kepalaku. Pikiranku tengah melayang-layang ke berbagai tempat. Aku tak cukup fokus untuk melanjutkan buku ini. Telingaku masih mendengar bisikan-bisikan mesra dari arah pasangan tua itu. Kebahagiaan mereka seolah kekal. Tak berubah dari awal hingga sekarang. Entah berapa lama lagi mereka akan bahagia seperti itu. Mungkin selamanya, kalau dewa cinta belum berencana mengkhianati pasangan manusia bahagia itu. 

Kesepian ini sungguh menarik utuk didalami. Kadang aku bahagia dengan kesendirianku, mengingat kekasih-kekasihku dulu tidaklah sempurna seperti bayanganku. Sendiri itu kadang lebih nyaman karena aku tak lagi perlu mengatur waktu untuk bisa bersama dengan kekasihku. Tapi kadang kesepian itu menyiksaku sewaktu-waktu aku ingin memiliki pelukan hangat kekasihku. Tak ada manusia sempurna yang bisa menempatkan waktu sedemikian tepatnya hingga tak ada ketidakcocokan dengan jadwal hidupku. Kalau cinta butuh pengorbanan, maka perasaan adalah tumbalnya. Aku sudah korbankan begitu besar perasaanku untuk menutup lubang perbedaan di antara aku dan kekasih-kekasihku dulu. Tapi lubang itu bukannya menutup, malah semakin besar. Seolah tak ada habisnya aku harus memberi tumbal. Perlahan aku semakin kesepian, semakin rapuh dan tak lagi merasa hidup. Itulah kenapa aku memilih untuk sendiri.

Aku penasaran dengan pasangan tua itu. Mungkinkah mereka berhasil melalui lubang-lubang jebakan dan mencapai garis akhir, sebuah nirwana cinta mungkin ? Atau mereka masih terlena dengan candu yang kita sebut itu cinta hingga suatu ketika nanti mereka akan terbangun dalam kondisi koma dan tak berdaya ketika habis candunya.

Cinta itu tak berawal dan tak berakhir, karena cinta itu ilusi karangan manusia. Cinta adalah sebutan untuk momen yang dianggap indah. Ketika momen itu lewat, cinta pun dipersalahkan. Bodohnya manusia yang menyalahkan momen indah setelah mereka melewatinya dengan bahagia.

Matahari kian terik di atas sana, seolah mengusir manusia kesepian ini dari hadapannya. Padahal, kemana pun aku pergi, ia tetap akan ada di atasku. Baiknya ia naikkan suhu untuk membakarku jadi arang agar tak perlu lagi melihat aku di bumi ini. Aku pun enggan tersengat teriknya lebih lama. Aku bergegas beranjak dari kursiku, mencabut sekuntum mawar merah yang paling cantik di antara kerumunannya. Yang terbaik selalu terpilih, sama seperti cinta memilih manusia mana yang berhak mendapatkannya. Bukan aku pastinya. Kubersihkan duri-duri mawar itu lalu kucium harumnya. Mawar terbaik di taman ini mungkin. Aku melihat pasangan tua yang masih kasmaran itu.

"Setangkai mawar terindah untuk wanita cantik yang berbahagia." Aku menyodorkan mawar itu untuk wanita tua yang setengah terkejut lalu tersenyum semanis mungkin dengan kerutan-kerutan di bibirnya. Pasangannya pun tersenyum ramah dan berterima kasih. Aku pun bergegas pergi meninggalkan pasangan bahagia itu. Mereka terlihat kebingungan karena kami sama sekali tak saling kenal.

Dari kejauhan aku mendengar wanita itu berteriak panik, disambut teriakan panik dari pasangannya, lalu sumpah serapah yang ditujukan padaku.

Tanpa perlu membalikkan wajah, aku bisa membayangkan ekspresi mereka. Wanitanya tentu tengah terisak kesakitan karena baru saja menghirup cabai bubuk super pedas yang kutaburkan dalam mawar cantik tadi, dan pasangan pria nya panik karena momen indah mereka pagi ini harus selesai lebih awal berkat hadiah tak terduga dariku.

 

Selasa, 07 Januari 2014

Peri Kecilku

Kepada peri kecilku yang mungil dan cantik. Kepadamu yang sedari dulu tersimpan rapat di kotak pandora yang tenggelam ke dasar hatiku bersamaan dengan berlalunya waktu. Kepadamu yang sempat terlupa beberapa waktu bersama lamunan panjang dan jiwaku yang separuh beku. Malam ini aku membuka kembali petimu. Membuka kembali rasa yang seharusnya kusentuh agar hidup dan bernafas baru. Aku harus melihatmu, walau perih dan lebammu akan merasuki aku.

Malam purnama berselimut kabut tipis bernuansa dingin tapi lembut menghanyutkan. Lirih terdengar suara nyanyian makhluk-makhluk malam yang membuat bulu kuduk berdiri bagi orang-orang awam. Tidak buatku yang sesama makhluk malam. Aku manusia malam yang benci terang. Terlalu banyak perih yang kurasa di saat terang, hingga aku kabur dan bersembunyi bersama gelapnya malam, menikmati hidup bersendirian. Sekian lama, kenapa baru sekarang aku sadar betapa aku merasa kesepian. Seperti hidupku selama ini telah dicuri dariku. Tapi oleh siapa, tak lain tak bukan adalah diriku sendiri yang menjadi malingnya. Aku hidup tapi tak sepenuhnya hidup. Seperti sambaran petir di siang yang cerah, aku teringat dengan peri kecil yang telah aku kubur. Butuh perjalanan panjang untuk mencapai dasar hatiku. Tapi aku perlu ke sana untuk menghidupkan kembali jiwaku. Banyak orang yang telah memperingatkan aku bahwa penemuan jati diri akan melalui kenangan-kenangan pahit yang mungkin telah kita coba untuk lupakan, atau bahkan kita tutupi dengan kebahagiaan palsu dan kita buatkan taman bunga agar tak tercium busuknya. Tapi penyembuhan selalu membuka kembali luka lama. Dan malam ini... aku berjalan ke sana.

Awalnya aku menembus tirai pertama. Tirai sutera berwarna perak agak tembus pandang. Begitu lembut, hampir tak tersentuh oleh kulitku. Dibaliknya adalah hutan yang rindang. Hijaunya masih terlihat berkat cahaya bulan. Semakin jauh ke dalam semakin gelap dan hitam pekat. Aku takut, tak tahu apa yang ada di dalam sana. Tapi aku harus melewatinya untuk mencapai dasar hatiku. Aku menutup mata dan berjalan lurus ke depan. Terdengar isak tangis di depanku. Aku abaikan. Terdengar lagi semakin keras dan semakin dekat. Aku masih abaikan. Suara itu kini berada di sampingku, di sisi kanan. Aku tak berani melihat. Tanganku gemetar dan dingin. Kakiku tak mampu bergerak maju. Ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk bertatap muka dengan sesuatu yang berada di sisi kanan tubuhku. Sesuatu yang aku benci tapi harus aku hadapi. Entah apa itu. 

Entah berapa lama berselang tanpa aku berani memicingkan mata melihat apa itu yang ada di kanan. Dan sesuatu itu pun tak berusaha memaksa aku untuk melihat wujudnya. Aku tahu tak mungkin bisa melewati hutan ini tanpa melihat sesuatu itu. Aku memaksakan mata kananku untuk membuka. Hitam... berbulu. Tatapannya tajam mengarah tepat ke mataku. Matanya hijau seperti jamrud. Seekor serigala hitam. Aku menatapnya. Lebih tepatnya kami saling bertatapan. Seolah ia tengah mengirimkan pesan lewat tatapan matanya. Tapi aku tak mengerti isi pesan itu. Aku hanya diam berdiri dan menatapnya. Serigala itu tiba-tiba berbicara. Dengan bahasa manusia tentunya.

"Aku adalah lambang kekuatan. Penjaga rasa takutmu agar tidak keluar dari hutan ini. Aku juga menjaga agar kau tidak mencarinya ke dalam hutan itu. Aku adalah pedang bermata dua yang kau taruh di pintu masuk menuju hatimu. Lewati aku kalau memang kau berani." Serigala itu menyeringai memamerkan giginya yang tajam dan seputih mutiara.

Aku ketakutan dan diam. Sejak kapan aku menaruh makhluk ini untuk menjaga hatiku. Aku bahkan tak mengenalnya sama sekali. Atau mungkin aku pun melupakan bahwa aku telah meletakkan makhluk ini di sini. Aku harus melewati pengawalku sendiri untuk menuju hatiku. Sungguh ironis. 

"Bagaimana caranya agar aku bisa melewati kamu dan melanjutkan perjalanan ini ?" aku bertanya dengan suara gemetar.

"Tidak ada cara. Aku hanya menerima keberanian sebagai harga untuk membiarkanmu lewat tanpa cedera." Serigala itu membalas, lalu melangkah tepat ke depanku.

"Tanpa keberanian, lebih baik kamu berbalik dan pergi." Kali ini nadanya mengancam.

Aku hanya diam, dan bertahan di tempatku berdiri. Sambil memikirkan bagaimana caranya kabur dari makhluk yang terus menatapku di dengan tajam. Aku harus melewati ini untuk bisa masuk ke dalam hatiku. Aku kembali memejamkan mata, mencari keberanianku. Aku mencari sesuatu dalam diriku yang masih mau berjuang, mengumpulkannya. Aku membayangkan sesuatu yang kusebut keberanian itu keluar dari diriku. Aku mewujudkannya dalam bentuk sepasang serigala berbulu merah menyala. Keduanya perlahan mengelilingiku, seolah menunggu perintah dariku.

"Ijinkan aku lewat, setidaknya aku telah menampakkan keberanianku di hadapanmu. Aku tak ingin melukaimu." Aku berusaha mencari ijin dari serigala hitam yang masih terlihat garang.

"Lewati aku... dengan keberanianmu." Serigala hitam itu menerjang maju, menerkam kedua serigala merah yang merupakan perwujudan keberanianku.

Aku terkejut dan terlempar ke belakang, untung kedua serigala merah itu menghadang taring serigala hitam. Tak terbayang kondisiku bila terkoyak taring-taring tajam si serigala hitam. Aku melihat ketiganya bertempur garang. Serigala hitam itu begitu kuat, hingga imbang melawan sepasang keberanianku. Aku berharap-harap cemas dan setiap kali aku merasa dilanda takut, kedua serigala merah makin lemah. Aku pun belajar dari kesalahan itu, dan memberanikan diri. Menguatkan kedua keberanianku yang saat ini bertarung untukku. Aku harus kuat, untuk bisa menguatkan mereka. Dalam keadaan terdesak, keberanian memancar lebih dari yang kita tahu. Itulah rahasia yang membuat induk hewan rela mati untuk melindungi anak-anaknya. Keberanian semacam itu yang kini muncul dan akhirnya memenangkan pertarungan.

Serigala hitam itu terkoyak di lehernya, tersungkur dan bernafas terengah-engah. Aku melihat mata hijaunya yang indah kini berkaca-kaca. Aku bingung, kenapa ia terlihat bahagia. Tiba-tiba angin berhembus dari arah hutan, menerjang tubuhku. Ada sesuatu dalam angin itu. Ada satu ingatan yang merasuki aku bersamaan dengan angin itu. Aku berlari memeluk tubuh serigala hitam yang terbaring kaku dengan nafasnya yang memburu. Arion. ya... Arion namanya. Dialah "Tekad" yang kuletakkan di pintu masuk ini, tekad yang melarangku masuk kembali ke dalam hatiku. Sahabat terbaikku yang selalu ada setiap aku terjatuh. Aku telah menyakiti tekadku sendiri. Tapi tanpa melaluinya aku tak akan bisa masuk ke dalam hatiku. Aku memeluknya begitu erat dan menangis. Arion yang terluka parah malah tersenyum padaku. Ketika air mataku jatuh mengenai wajahnya, seketika itu setitik cahaya putih keluar dari bulu hitam Arion, lalu meluas seperti merontokkan bulu-bulu hitamnya. Luka di lehernya pun tertutup sempurna. Kini Arion berwujud serigala putih bermata hijau jamrud. Kini tekadku telah memihak padaku. Keberanianku berhasil mengubahnya. Aku senang berhasil melewati satu tirai dan menemukan kembali ingatan tentang sahabatku ini, tapi Arion memperingatkan aku bahwa di depan sana masih banyak bahaya yang merintang. Aku harus tetap waspada. Kami pun bersatu dan melanjutkan perjalanan.

Setiap penjaga memegang satu ingatan, dan Arion hanya mengingat bahwa aku tak boleh melewati hutan bila aku tak punya cukup keberanian. Dengan tekad dan keberanian, aku akan melewati ujian berikutnya. Aku menelusuri hutan yang tadi terlihat menakutkan, tapi bersama Arion, aku melangkah dengan pasti. Tirai berikutnya berwarna hitam, lebih kasar, seperti kain usang. Dibaliknya ada batuan karang hitam dengan pendar kristal-kristal tajam yang mencuat tak beraturan. Ada begitu banyak pendaran-pendaran berwarna putih seperti kunang-kunang. Tapi aku tak yakin apa itu. Aku juga mendengar suara seperti sesuatu yang bergesekan dengan tanah. Sesuatu yang berat, dan mengerikan.

"Siapa di sana ?" aku bertanya, hampir gemetar.

Tak ada jawaban, hanya gesekan-gesekan yang membuat bulu kuduk merinding. Gerakan yang terdengar semakin dekat dan terus mendekat. Aku berusaha melihat dalam kegelapan. Seketika, berhembus angin kencang. Seperti disengaja. Atau memang disengaja oleh makhluk di depanku. Arion berusaha menghalau terpaan angin, tapi ia terangkat dan terlempar jauh ke belakang. Begitu juga kedua serigala merah. Mereka seperti diikat di sana, dan aku kini sendirian. Lalu sosok itu menampak padaku. Seorang gadis kecil. Pucat, putih sekali. Bola matanya berwarna biru pudar, hampir serupa mayat. Rambutnya hitam sebahu, tanpa sehelai pun pakaian. Bukan, bukan gadis kecil. makhluk ini tidak memiliki pusar ataupun segala sesuatu yang seharusnya ada di tempatnya. Makhluk ini lebih mirip gadis bertubuh alien. Seperti tubuh yang terbuat dari silikon tanpa celah. Tangannya menggenggam sesuatu, kecil dan berdenyut. Astaga, gadis itu memegang jantung. Dari dalam jantung itu mencuat kristal-kristal tajam yang berpendar keperakan. Ia menatap tajam ke arahku, dengan ekspresi seperti marah, tapi juga sedih. 

"Cukup sampai di sini, jangan berharap untuk lewat." Bibir mungil makhluk itu bergerak, tapi suaranya merupakan paduan dari beberapa suara. Wanita, pria, dewasa dan anak-anak. Gadis itu mengancam dengan raut muka yang sama. Seperti marah, tapi juga sedih.

"Siapa kamu ?" aku melanjutkan bertanya. Walau aku tak yakin akan mendapat jawaban yang kumau.

"Siapa ? Aku ? kamu ?" makhluk itu menjawab dengan cara yang sama.
"Siapa kita ?" lalu ia tersenyum sinis dan melangkah mendekat.

Aku gemetar tapi berusaha tegar. Bukankah makhluk di depanku ini ternyata hanya setengah dari tinggi badanku, tapi kenapa rasanya dia jauh lebih kuat dariku ?

"Kau bertanya siapa aku... akulah rasa takutmu." Dan kemudian ia melangkah mundur dariku. 

"Rasa...takut..ku ?" aku merasa makhluk itu bukan sedang mundur, tapi bersiap menyerang ketika aku lengah.

"Bukankah sebagian besar hidupmu terisi dengan rasa takut ? takut akan dunia di luar sana yang terlalu menyakitkan untuk manusia lemah sepertimu. Takut akan pengalaman pahit yang melukai perasaanmu terlalu dalam. Takut akan mencintai kemudian lagi-lagi dan lagi, disakiti hingga kau memilih untuk membungkam hatimu, menutup mata hatimu, dan mematikan rasa, memadamkan satu-satunya penerang, sumber cahaya di dunia dasar hatimu ini. Tempat kau menyembunyikan... aku." Makhluk itu kini meringis mengerikan.

"Ijinkan aku melewatimu. Aku harus masuk lebih dalam." Aku memelas. Karena aku tak tahu harus bagaimana melewatinya.

"Kalau kau berani menggenggam jantung ini, dan bertahan, kau boleh melewati aku."

"Jantung ? jantung siapa itu ?"

Pertanyaan terakhir dariku tak mendapat jawaban. Ia hanya tersenyum sinis dan mendekat sambil mendorong jantung itu mendekati wajahku.

"Ambil..."

Aku mendekatkan tanganku pada jantung itu. menyentuhnya pelan. Dingin, dan berdenyut. Dengan kristal-kristal tajam yang ternyata jauh lebih hangat dari jantung itu sendiri. Rasanya begitu lembut, seolah akan lebur kalau aku menekannya lebih kuat. Aku hampir menikmatinya ketika kristal-kristal dari dalam jantung itu tiba-tiba berpendar dan seolah tumbuh, menusuk tangan-tanganku. Aku berteriak kesakitan. Sakitnya luar biasa. Rasa sakitnya menjalar dari tangan naik ke lengan, seolah menjalar. Dan lebih parahnya, aku tak bisa lepas darinya. Tunggu, ini bukan rasa sakit karena tertusuk kristal. Rasa sakit ini, kenapa aku mengenalinya lain dari rasa sakit seperti tertusuk jarum atau teriris pisau ? rasa sakit ini sangat kukenal. Rasa sakit ini...

"Cukup," kataku. Dan air mata menitik pelan, karena aku mengerti.

Makhluk itu tersenyum, lebih ramah. Tapi tak bertambah hidup sedikitpun. Lalu dari arah pusarnya (posisi di mana pusar manusia berada) terlihat ada cahaya. Cahaya itu seolah membelahnya dari dalam. Ajaib, yang keluar dari dalam tubuhnya. Seorang gadis kecil, rambutnya begitu putih, kulitnya seputih merpati, bola matanya merah keunguan. Sisanya begitu putih. Albino. 

"Akulah Nina, kelemahan terbesarmu, rasa takutmu, yang sesungguhnya hanya membutuhkan kamu untuk menerima aku. Jangan pernah sembunyi dariku. Jangan sembunyikan aku. Aku adalah kamu." Gadis itu berpendar, pecah menjadi jutaan cahaya serupa kunang-kunang, menyalakan kristal-kristal di ruang ini. 

Kini semua tampak benderang dan jauh dari kelam. Karang hitam berubah menjadi karang penuh warna dengan tanaman-tanaman dan air yang seolah mengalir keluar dari segala arah. Begitu hidup.

Rasa sakit yang tadi kurasakan, adalah rasa takut untuk kalah, rasa takut untuk mencoba, rasa takut untuk hidup menjadi diriku apa adanya. Dari pengalaman-pengalaman buruk, aku semakin takut untuk hidup. Bukankah rasa takut adalah semacam firasat untuk melindungi diri kita dari keterlukaan ? Bukankah rasa takut itu seharusnya ada dalam diri kita ? Tanpa rasa takut kita tak akan tahu batasan mana yang tidak boleh kita langgar. Tapi terlalu banyak rasa takut akan membuat kita terkurung dalam satu ruangan sempit. membuat kita mati juga. Jadi, rasa takut itu aku wujudkan dalam bentuk makhluk berkepribadian ganda. Ketika dibutuhkan, ia akan cukup kuat untuk menghentikan aku. Aku bersyukur menemukan kembali ingatan ini.

Di depan sana, ada satu pintu lagi. Tak terlalu besar, sebuah pintu kayu. Putih, dengan engsel kuningan berukir bunga lili. 

Aku segera mendekat dan menjulurkan tangan menyentuh engsel itu. Hangat. Lalu berubah panas. Kemudian membara. Aku pun menarik tanganku menjauh. Memang tak mungkin mudah karena semakin aku mendekati tujuanku. Aku tahu tantanganku akan semakin berat. Ada angin berhembus menyentuh wajahku, lalu berputar mengitari telinga hingga ke telinga lainnya. Dalam sentuhannya aku mendengar angin berbisik samar. 

"Ini lah hatimu, minta apa pun yang kau mau. Dia akan berikan apa pun itu, selama datangnya dari dirimu." Lalu angin itu melesat pergi.

"Apa pun itu ?"

"Pintu, ijinkan aku masuk !" aku diam dan melihat apa yang terjadi. Tak ada perubahan, tak ada suara, tak terjadi apa-apa. Tentu saja tak akan semudah itu, pikirku.

"Datang dari diriku ?"

"Hatiku... ya, hatiku. Aku ingin masuk."

Hening belasan detik, tapi terasa lama sekali hingga akhirnya terjadi reaksi. Engsel pintu itu seperti tumbuh menjalar, melilit pintu putih dan meremukkannya ke dalam hingga membentuk sebuah lubang besar. Cukup besar untuk aku merangkak ke dalam. Aku pun merangkak tanpa tahu apa yang ada di dalam sana.

Lubang itu ternyata cukup dalam. Aku merangkak hingga lututku perih. Mungkin kulit lututku telah mengelupas atau setidaknya melepuh. Cahaya di ujung sana semakin dekat. Ujung dari lubang pintu ini. Terang, putih menyilaukan. Saat aku tiba di ujung sana, ternyata lubang ini membawaku ke sebuah ruangan serba putih. Di tengah sana terdapat sebuah kotak putih dengan ukiran bunga lili berwarna keemasan. Inikah kotak pandora yang kucari ?

Aku berjalan pelan mendekat ke kotak berukuran tak lebih dari kotak tissue yang ada di rumah. Kusentuh setiap detailnya. Saat kusentuh, seolah ada pendaran dari kotak itu yang menyilaukan mataku. Seolah meminta aku untuk segera membukanya. 

"Klik..." Bunyi ketika aku membuka penutup kotak. Dan aku membukanya sangat perlahan hingga cahaya putih di dalamnya seolah tumpah ke luar.

Seketika aku telah berada di suatu tempat. Semuanya serba putih. Terang, dan tenang. Tidak dingin, juga tidak hangat. Tak ada angin berhembus dan tak ada gravitasi. Aku butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa aku melayang. Tak tahu mana atas, bawah, depan, belakang. Aku tak tahu berada di mana.

Dari kejauhan, ada yang mendekat ke arahku. Bayangan putih. Semula kupikir itu adalah Nina. Ternyata bukan. Sosok ini putih seperti Nina. Tapi tak jelas jenis kelaminnya. Wajahnya sehalus pualam, tapi rambutnya pendek seperti anak laki-laki. Alisnya maskulin, tapi ia tak berkelamin. Matanya biru muda hampir transparan. Mata yang indah, yang menenggelamkan setiap orang yang melihatnya. Ia berhenti tepat di hadapanku. Menyentuh wajahku, dan menatapku dengan tatapan orang yang sangat merindu.

"Apa kabar... bayanganku," ia bersuara, sama persis suaraku.

Aku kaget dan berusaha menjauh, tapi tangan-tangan kecilnya jauh lebih kuat dari yang kukira. 

"Apa maksudmu ? Aku bukan bayanganmu !" aku berusaha meronta.

"Bukan ? Lalu menurutmu aku ini apa ?" ia membalas bertanya.

"Kamu..." Dan aku bingung.

Kami berdua saling bertatapan cukup lama. Tanpa kata-kata. Tapi ia seperti menyuntikkan sebuah ingatan ke dalam otakku. Sesuatu yang aku sembunyikan dalam ruangan ini, bersamanya.

"Kamu... aku... kita... aku..." Aku meracau.



"Sekarang kamu mengerti ?" makhluk itu bertanya.

Air mataku berlinang. Aku mengerti semuanya. Alasan kenapa aku tak pernah bisa membawa makhluk ini keluar dari kotak pandora. 

Dia adalah aku. Aku juga adalah dia. Kami adalah satu yang terbagi menjadi dua. Seperti siang dan malam yang tak mungkin menyatu, tapi kami saling merindu dan melengkapi satu sama lain. Kadang dia ada menggantikan aku, dan kadang aku menggantikannya. Saat dia ada, aku harus menghilang. Tapi aku terlalu lama mencuranginya. Aku mengubur dan menutup jalan pulang karena aku tak ingin digantikan. Tanpa aku sadari, kebodohanku telah merusak keseimbangan yang seharusnya ada. Aku menjadi lepas kontrol, seperti kehilangan sesuatu tapi aku tak ingat lagi apa itu. Sesuatu yang fatal, sesuatu yang sangat vital. Celakanya, aku telah lupa bagaimana mengembalikan keseimbangan itu. Dia adalah hatiku. Peri kecilku. Kebahagiaanku. 

Bagaimana mungkin aku bisa bahagia kalau aku menyembunyikan rasa bahagia itu jauh di dalam hatiku. Mengubur dan melupakan bahwa ia ada di dalam sana, sementara aku sendiri sibuk mencari kebahagiaan di luar. Pada akhirnya, aku harus menyerah. Kebahagiaanku yang sejati terletak jauh di dalam diriku sendiri. Dan hari ini, aku bersyukur telah menemukannya kembali. Aku telah melepaskan diriku dari belenggu yang kuciptakan karena ego-ku. 

Aku memeluk erat makhluk itu, dan ia bersinar, terang sekali. Sekilas aku mendengar ia berbisik...

"Aku... Gray... Akulah kebahagiaanmu." bisiknya. Kemudian aku tertidur, dan Gray menggantikan aku untuk mengendalikan tubuhku.

***

Aku dan Gray bergiliran mengisi waktu sesuai dengan kondisi. Saat butuh menyendiri, aku muncul. Saat bergembira, Gray mengambil alih. Saat ini, tubuhku seimbang dengan seluruh karakter yang aku miliki dan telah aku temukan kembali. Peri kecilku ternyata tidak cantik seperti tinkerbel. Ia tampan walau tak berkelamin, dan aku bahagia bersamanya.