Sabtu, 10 Desember 2016

Babad Lintang : Bintang Jatuh

  Jalan setapak menanjak dengan batuan kerikil menghias langkah kecil dua pemuda dalam remang cahaya bulan. Keduanya tengah dalam perjalanan menuju pucuk bukit untuk menikmati pengalaman cukup langka dalam sejarah manusia. Mengamati komet Halley.

  Moja, yang berada di depan, berusaha memudahkan perjalanan mereka dengan cahaya dari lentera. Dipta, pemuda satunya berusaha mengikuti dengan nafas yang memburu. Rute menanjak menghabiskan lebih banyak tenaga. Moja dan Dipta adalah sahabat dekat. Keduanya bertemu di sekolah menengah, tepatnya dua tahun lalu. Moja adalah murid pindahan dari kota kecil di luar pulau. Moja dan Dipta cepat akrab karena mereka sama-sama suka mengamati bintang. Keduanya pun termasuk anak pendiam di kelas dan agak dikucilkan. Mereka tidak sepopuler anak remaja pada umumnya. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di kelas untuk corat-coret buku atau sekedar membaca buku di perpustakaan. Perkenalan mereka pun berlangsung di perpustakaan. Ketika itu, Dipta tengah membaca buku tentang komet Halley. Moja seperti menemukan belahan jiwanya. Perkenalan singkat membawa mereka ke hari-hari yang dipenuhi bahasan tentang benda angkasa. Dari sana lah sebuah janji kemudian mengikat keduanya. Janji untuk melihat komet Halley bersama. Komet Halley adalah komet yang hanya terlihat sekitar 75-76 tahun sekali dari bumi. Pengalaman menakjubkan yang tidak boleh dilewatkan oleh keduanya yang memiliki hobi serupa.

"Ja, masih jauh ?" Dipta mulai merengek.
"Di depan sana. Tanah lapang. Cocok untuk melihat bintang." Jawab Moja. Dipta pun tak melanjutkan protesnya.

Langkah mereka tiba di tanah lapang yang dikelilingi pepohonan rindang. Moja segera menggelar tikar yang telah disiapkan. Tak lupa rantang berisi camilan ringan disusun di atasnya. Dipta hanya berjongkok di dekat sahabatnya sambil menunggu semuanya dipersiapkan. Bukan karena tak ingin membantu, tapi karena dia tahu Moja tidak suka diganggu.

Tak selang berapa lama, mereka pun siap. Mereka telentang menghadap hamparan langit malam berbintang, menunggu kemunculan komet yang fenomenal. Dalam dingin malam dan semilir angin, sulit rasanya menjaga agar mata mereka tidak tergoda untuk meluncur ke dalam lelap. Sebagai penangkalnya, Moja mengalihkan kantuk yang mengintai dengan mulai bercerita.

"Dip, pernah dengar cerita tentang reinkarnasi ?"

Dipta yang mendengar topik aneh dari temannya tak lantas merasa aneh. Karena otak mereka, entah kenapa, tercipta serupa walaupun tak sama. Topik ini bukan hal aneh untuk dibicarakan.

"Pernah, Ja. Aku bahkan sering mencari bahasannya di perpustakaan. Tak banyak juga informasinya. Mungkin takut dianggap syirik sama lingkungan beragama di sekolah kita." Jawab Dipta.

"Kamu percaya, Dip ?"

"Percaya reinkarnasi ? Percaya gak percaya sih, belum ada buktinya kan ?"

"Kalau reinkarnasi itu terjadi di depan kamu gimana Dip ?"

Dipta terdiam, seperti berpikir sejenak.

"Maksudnya, Ja ? bukti di depan mataku gitu ? Mungkin aku bisa percaya."

Moja tersenyum tipis mendengar jawaban sahabatnya itu, sementara mata mereka terus menerawang angkasa mencari tanda-tanda kemunculan komet Halley.

"Dip, pernah dengar kalau Roh nenek moyang manusia bisa berpindah lewat pergerakan bintang di angkasa ?"

"Maksudnya, Ja ? belum tuh. Coba ceritakan."

"Jadi begini, Dip. Dahulu kala, selain manusia, ada bangsa lain yang berwujud seperti kita, tapi hidup jauh sebelum manusia ada. Roh nenek moyang. Mereka berpindah dari planet ke planet mengendarai bintang." Moja melihat reaksi Dipta dari sudut matanya. Memastikan sahabatnya masih menyimak, bukannya terlelap.

"Terus ?"

"Perpindahan mereka bukan dalam wujud fisik, Dip. Hanya Roh mereka yang berpindah."

"Bisa gitu, Ja ? keren."

"Ya. Roh itu membawa ingatan dan pengetahuan dari masa ke masa, dari planet ke planet."

"Tujuannya apa ya ?"

"Dari sekian banyak Roh yang berpetualang, tak semuanya kembali ke sumber mereka. Ada yang tersesat di planet-planet karena berbagai hal. Ada yang tidak mau meninggalkan planet yang mereka kunjungi karena terikat perasaan. Ada juga yang terjebak. Dari sana lah muncul yang namanya hantu, arwah penasaran, dan lain sebagainya. Itu kalau menurut ceritanya." Moja menjelaskan.

"Duh, Ja. Malam-malam jangan bahas gituan, ah. Merinding nih." Dipta protes.

"Dip, kalau aku bilang aku bagian dari mereka, kamu bisa percaya ?" Moja memalingkan muka ke arah sahabatnya dengan tatapan serius.

"Maksud kamu, Ja ? aku gak ngerti." Dipta menatap wajah serius sahabatnya itu. Keringat dingin muncul di kening Dipta.

"Dipta, malam ini saatnya. Roh ku pulang bersama komet Halley."

"Hah, jangan aneh-aneh kamu, Ja. Aku takut nih." Dipta terduduk kaget.

"Dip, setelah aku pergi, akan ada penggantiku yang masuk ke dalam tubuh ini, melanjutkan misi bangsa kami. Sampai waktunya nanti dia akan pulang juga, sama sepertiku sekarang." Air mata menitik dari sudut mata Moja. Matanya masih menerawang ke angkasa, melihat sekilas jejak komet yang mulai terlihat.

"Ja, aku gak ngerti. Apa maksudmu ? Kalau kamu masih aneh seperti ini, mending kita pulang deh." Dipta bersiap untuk bangun dari duduknya.

Moja terduduk perlahan, mengusap air matanya. Bibirnya membisikkan perpisahan lirih untuk Dipta. Hampir tak terdengar, tapi Dipta terdiam, pertanda pesan itu tersampaikan cukup jelas untuk dimengerti olehnya. Tangan Moja menggenggam ringan dalam posisi seperti tengah berdoa. Tepat ketika komet melintas di atas mereka, genggaman tangan Moja terlepas dan terjuntai lemas. Moja terduduk lemas seperti raga kosong, bersamaan dengan hembusan nafas panjang yang keluar darinya. Hembusan nafas Moja seolah ikut menarik seluruh udara dalam tubuh Dipta. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi - dan dia seolah tahu bahwa Moja tidak sedang bercanda - wajah Dipta berubah pucat. Tangannya bergetar. 

"Ja... ?" Dipta memastikan dengan memanggil temannya. Tiga kali ia mengulang dengan nada yang sama.

"Ja, kalau kamu bercanda terus, aku pulang nih !" Kali ini nada suara Dipta meninggi.

Tetap, Moja terdiam tak bergerak. Dipta coba berdiri untuk mendekati tubuh Moja. Ia seperti melihat bibir Moja bergerak tanpa suara. Baru saja Dipta menjulurkan tangan, tiba-tiba sesuatu mendorongnya menjauh. Sesuatu dari dalam tanah. Menusuk tepat di ulu hati tembus hingga belakang tubuhnya, lalu melilit tubuh dan tangan Dipta dengan sengitnya. Dipta menjerit kesakitan. Moja mengangkat kepalanya melihat ke arah Dipta. Matanya sayu, tapi tidak bersahabat.

"Sudah seharusnya." Moja berucap lirih.

Dipta yang kesakitan terus meronta. Terlihat wajahnya kini dilanda ketakutan yang sangat parah. Dipta sadar, yang di hadapannya sekarang bukan lagi Moja yang ia kenal. Matanya membelalak hingga air mata menitik dari pelupuk matanya. Tak bisa dijelaskan apakah itu air mata kesakitan atau karena rasa takutnya yang begitu besar.

"Si..Siapa kamu ?" Dipta bertanya sambil gemetar.

"Siapa aku ? kamu sudah tahu kan ?" Moja bertanya balik.

"Kamu... seharusnya kali ini bukan kamu yang datang." Dipta berubah garang. Kini suaranya seperti menantang dengan penuh marah. Ia berusaha melepaskan diri dari jeratan yang ternyata semacam akar pohon yang mencuat begitu saja dari dalam tanah.

"Ya, seharusnya Roh lain yang datang. Tapi aku punya urusan penting untuk diselesaikan. Aku harus datang duluan." Moja menjelaskan dengan santai.

"Lintang ?" Dipta bertanya kembali.

"Ya, Dipta... atau harus aku panggil kamu Sang-Pengawal ?" Roh dalam tubuh Moja mengiyakan.

Dipta, Sang-Pengawal semakin gemetar. Mulutnya terkunci rapat. Tak ada lagi keberanian untuk berkoar di depan Lintang.

"Nadi Bumi, Aku, Roh PendahuluMu, Ingin Meminjam KekuatanMu.
 Ikat Sang-Pengawal Dengan Jalinan AkarMu. 
 Segel Jiwa Yang Sesat Hingga Tiba Harinya Perang Usai.
 Redam Amarahnya Dalam Lelap Yang Panjang."

Lintang menyelesaikan mantra pengikatnya. Akar pohon yang tadi menyerang tubuh Dipta terlihat bergulung semakin tebal menutupi tubuh mangsanya.

"Kenapa kau mengikatku ?" Sang-Pengawal menggeram.

"Sama seperti aku yang mempertanyakan, kenapa kalian selalu menghalangi kedatangan kami ?"

Mata nanar Sang-Pengawal menutup perlahan dalam lelap. Gulungan akar yang mengikatnya kini membentuk pohon besar yang menenggelamkan tubuh Sang-Pengawal. Lintang menyentuh lembut permukaan pohon itu, mengecupnya, lalu beranjak.

"Tidurlah dengan damai." Lintang membisikkan.


  Dalam remang cahaya bulan, tubuh Lintang bergerak meninggalkan tempat itu. Tak sekali pun ia berbalik. Hanya sisa-sisa cerita dua pemuda - Moja dan Dipta yang bertualang melihat Komet Halley - dan butiran air mata Lintang yang jatuh ke tanah tanpa bersuara. Walaupun Roh di tubuhnya telah berganti, tapi tubuh itu tetap menyimpan kenangan dari Roh sebelumnya. Tak mudah tentunya bagi tubuh ini untuk menerima kenyataan yang menyedihkan. Malam ini, tak hanya kehilangan seorang 'teman', Lintang juga harus meninggalkan kehidupan lamanya, untuk segera menyelesaikan misi yang ia bawa bersama kedatangannya.
 
         
           
    

Selasa, 26 Januari 2016

Eigengrau

Terkadang, cahaya yang kamu lihat dalam gelap, hanyalah ilusi belaka.


Angin sore di penghubung semesta dengan cakrawala, meniup poni-ku ke kiri lalu kemudian ke kanan. Angin sejuk. Hampir seperti tiupan dengan niatan untuk membekukan hati yang terdiam membisu sejak dua jam yang lalu. Diam seperti tubuhku yang hampir tidak bergerak di tepian jembatan kayu tempatku berpijak sambil menatap matahari terbenam meninggalkan aku dan kesendirian ini. Aku menunggu Bayu. Kebetulan namanya punya arti yang sama dengan angin. Tapi Bayu jauh lebih dingin. Dia bahkan telah membekukan cinta kami dalam prasasti gunung es. Bayu selingkuh dengan sahabat dekat kami, Linda.

Tempat ini akan menjadi tempat bersejarah dalam hidupku. Tempat aku akan menyelesaikan sebagian isi jurnal hidupku. Aku dan Bayu sepakat mengakhiri hubungan kami di sini. Tempat takdir pernah mempertemukan kami dalam jalinan cinta, dan memisahkan kami oleh bilur-bilur cinta. Mungkin memang takdir tak pernah menyatukan dua manusia berkelamin sama dalam satu peraduan yang lama. Mungkin kelamin memang menjadi patokan halal dan haram-nya masalah percintaan. Dulu aku tak percaya. Sekarang tetap tak mau percaya.

Dua jam lebih, entah berapa lama tepatnya, wajah itu menghampiriku dengan ratapan sayu seolah minta kupeluk. Lalu, mungkin keajaiban akan sekali lagi datang menghampiri dan menyeret kami kembali ke waktu itu. Waktu ketika aku dan Bayu baru pertama bertemu. Waktu kami belum menghadapi dilema cinta segitiga dengan Linda.

"Maaf, sudah lama ?" Bayu bertanya dengan suara serak seperti habis menangis semalaman.

"Bukannya dari awal memang aku yang selalu menunggu ?" jawabku ketus.

"Ndre, aku sengaja terlambat hari ini." Bayu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Aku nggak yakin dengan keputusan ini, Ndre. Aku gak mau."

"Bay, kamu yakin dengan ucapanmu barusan ? Kemana saja keyakinanmu itu pergi, waktu kamu selingkuh dengan Linda ?" Aku menatapnya dengan marah.

"Ndre... Bisa kita lupakan saja Linda ?" Bayu berkata pelan, hampir berbisik. Setengah memohon.

"Gak bisa Bay. Aku gak bisa." Jawabku dengan mata yang berkaca-kaca entah karena perih oleh angin laut atau memang menahan rasa.

"Please, Ndre... jangan buang aku." Bayu masih berusaha.

"Bay, mulai sekarang, kita gak usah ketemu lagi." Aku menitikkan air mata terakhirku untuk Bayu, lalu melangkah pergi darinya. Meninggalkan Bayu di sana.

Aku berusaha menahan diri untuk tidak membalikkan badan melihat ke arah Bayu. Aku tak mau hati ini memberontak dan menyerah pada pesona laki-laki di belakangku. Aku memaksa kaki ini terus bergerak menuju mobil yang aku parkir di bawah pohon. Segera masuk dan duduk di belakang setir kemudian menangis meraung-raung sepuasnya.

Aku tak ingat berapa lama aku menangis. Ponselku bergetar. Di layar ponselku ada wajah perempuan itu. Perempuan yang menorehkan bilur-bilur menyakitkan dalam percintaanku dengan Bayu. Antara segan, benci, juga penasaran. Aku mengangkat panggilan dari Linda.

"Ndre, sudah ketemu dengan Bayu ? Kalian gak kenapa-kenapa kan Ndre ?" Linda menyambar tanpa permisi.

"Lin, sudah. Aku sudah selesai dengan Bayu." Jawabku setengah menahan isak tangis yang tersisa.

"Baguslah, Ndre. Lalu ?"

"Lalu ? Lalu kenapa, Lin ?" Tanyaku

"Lalu... kita..."


***
Linda adalah sahabatku sejak SMA. Dia selalu merasa bahwa aku adalah belahan jiwanya. Walaupun aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan, Linda tidak mempermasalahkan itu. Mungkin karena keyakinannya juga, aku menjadi penasaran dengan perempuan bernama Linda ini. Sejak kecil aku tidak dekat dengan Ibu-ku yang seorang penjudi dan rajin menelantarkan anak-anaknya ke rumah nenek. Tak jarang, setelah kalah judi, kami menjadi pelampiasan amarahnya. Semua yang kami lakukan menjadi kesalahan fatal di matanya. Tamparan, bahkan rotan menjadi akrab di kulitku. Linda perlahan menyembuhkan rasa benciku pada perempuan. Tapi tak mengubah kenyataan bahwa aku tak pernah sedikit pun membayangkan berhubungan dengan perempuan. Lalu aku bertemu dengan Bayu. Pertemuan tak disengaja di jembatan dekat pantai. Senyumnya seperti jawaban dari semua doa. Begitu sempurna. Begitu mempesona. Aku menceritakan tentang hubunganku dengan Bayu pada Linda. Awalnya Linda marah, walaupun akhirnya kami bertiga menjadi dekat. Kemana-mana selalu bertiga. Linda juga yang menjadi penengah ketika aku dan Bayu bertengkar hebat di awal-awal hubungan kami. Linda adalah satu-satunya perempuan yang bisa melewati dinding yang telah aku bangun untuk menolak kehadiran makhluk bernama perempuan. Bayu dan Linda kemudian lepas kendali. Mereka berhubungan lebih dari sekedar sahabat di belakangku. Lebih tepatnya, Linda telah merencanakan semua itu. Lebih gilanya, rencana ini atas persetujuanku.


***
"Kita kenapa, Lin?" tanyaku

"Kita... sekarang bebas ?" tanya Linda dengan hati-hati.

Aku terdiam tak bisa menjawabnya. Ada rasa bersalah yang mendalam. Aku telah melukai Bayu. Aku yang telah menghancurkan hubungan kami bertiga.

Dua bulan yang lalu, hubunganku dengan Bayu semakin kacau. Aku menceritakan semuanya pada Linda. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Bayu, tapi selalu gagal. Aku butuh satu alasan kuat untuk bisa menolak kehadirannya di dekatku. Mungkin dengan membuatnya melakukan satu kesalahan fatal seperti berselingkuh dengan Linda. Rencana gila ini disambut oleh Linda. Dengan perjanjian, jika aku berhasil berpisah dari Bayu, aku harus menerima Linda. Setidaknya aku harus mencoba jalan dengan Linda lebih tepatnya. Aku dengan bodohnya menyetujui rencana gila itu. 

Tak butuh waktu yang lama, dengan memanfaatkan kedekatan kami, Linda berhasil mengajak Bayu untuk bertemu di sebuah kafe. Alasannya, tentu saja ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Bayu. Singkat cerita, Bayu mabuk. Linda membawanya ke apartemen, dan terjadilah sesuai rencana Linda. Bayu mengira semua adalah salahnya. Linda pun berhasil menjalankan rencananya dengan sempurna. 

"Beri aku waktu, Lin." Jawabku, lalu menutup panggilan dari Linda. Aku kembali terisak, menyesali kebodohanku. 

Belum puas aku terisak, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan singkat dari Linda. Ketika aku membuka pesan singkat itu, tiba-tiba pintu mobilku dibuka. Aku terkejut. Bayu menerjang masuk ke dalam mobil, memelukku erat.


***
Beberapa jam kemudian, di apartemen Linda terjadi kehebohan. Seorang pria telah menerjang masuk ke dalam apartemen Linda dan menikamnya berulang kali. Pelakunya terlihat begitu tenang, tanpa ekspresi bersalah. Saat polisi datang dan menanyakan alasannya, dia hanya menunjukkan pesan singkat dalam sebuah ponsel.

"Ndre, kamu masih di sana ? Cepat lari, Bayu sudah tahu semuanya. Dia sangat marah. Cepat kamu pergi dari sana !" pengirimnya adalah Linda.





Nb: Eigengrau : Warna abu-abu yang terlihat pada saat kita tiba-tiba masuk dalam ruangan gelap gulita. 













Selasa, 21 Juli 2015

Nada-Nada Cin...ta

Tak ada kata terlambat untuk cinta. Tak ada kata terlambat baginya, walau harus menunggu hingga ku tak mampu. Tak ada kata terlambat. Hanya kapan... dan di mana.

Siang begitu terik. Segelas jeruk dingin pun tak meluruhkan dahaga yang mencekik tenggorokan ini. Mungkin karena cuaca, mungkin juga karena gelisah tak tersalurkan menunggu kabar darinya. Harusnya dia datang satu jam yang lalu. Harusnya dia datang tepat waktu. Segelas jeruk dingin menyisakan buih di dasar gelas. Sibuk tanganku mengaduk-aduk buih itu dengan sedotan plastik. Seolah mengaduk perasaanku yang berbuih akibat terlalu lama berputar-putar dalam gundah gelisah. Dia tahu aku paling benci menunggu. Dia tahu.

Buih di dasar gelas pun enggan lebih lama lagi diaduk. Seolah bisa mendengar protes dari buih-buih di dasar gelas, aku pun beranjak dari kursi tempatku duduk, menuju kasir dan membayar tagihan biaya satu gelas jeruk dingin dan sepotong kue bolu yang telah habis sedari tadi. Tak berlama-lama, dan aku pun meninggalkan tempat itu. Pulang. Menyeret kesal yang memuncak. Sudah cukup. Aku tak ingin lagi meneruskan hubungan ini. Sambil berjalan ke arah pulang, aku matikan ponsel, dan mengusap butiran air di pelupuk mata. 

***

Namaku Randi. Laki-laki yang jatuh cinta setengah mati. Berusaha membuktikan bahwa cintaku bukan picisan yang hanya indah di awal tanpa akhir yang pasti. Aku ingin membahagiakan Ratna, wanita yang menjadi kekasihku saat ini. Belakangan, aku sadar hubungan kami semakin renggang. Bukan karena rasa ini berubah padanya. Kuharap bukan juga sebaliknya. Kami semakin sering bertengkar karena masalah sepele (buatku, entah apakah sepele juga bagi dia). Mungkin aku yang kurang peka. Tapi yakinlah, rasa ini tak pernah berubah padanya sejak awal berjumpa. Aku tengah menuliskan sebuah lagu untuk kekasihku Ratna, sebagai hadiah hari jadi kami yang ke-lima. Aku ingin besok menjadi hari yang istimewa. Menjadi jembatan untuk mempertemukan rasa. Menghapuskan dilema yang menerpa hubungan kami tanpa diminta. Aku ingin menjadi laki-laki yang sama yang membuatnya tersenyum bahagia saat aku memintanya menjadi kekasihku lima tahun yang lalu. Laki-laki yang telah berhasil masuk dalam hatinya.

***

Satu minggu sudah aku mengabaikan pesan singkat dari Randi. Tak aku baca. Melihat pesan panggilan tak terjawab pun aku jengah. Ada yang salah dengan rasa ini. Mungkin keputusanku untuk mengakhiri hubungan kami adalah pilihan terbaik. Aku merasa semuanya berubah sejak dua bulan yang lalu. Semakin jarang dia mengabariku, semakin jarang dia mencari tahu. Mungkin dia pun merasakan yang sama, bahwa hubungan kami telah tiba pada titik akhir cerita. Tak akan indah bila dilanjutkan lebih lama. Bisa-bisa malah menghancurkan semua kisah indah di awal cerita. Sama seperti serial TV. Memukau di awal cerita, tapi semakin tak masuk akal bila ceritanya  dipaksakan berlanjut terlalu lama. Semua yang berawal pasti akan ada akhirnya. Hanya masalah waktu saja. Aku berjanji tak akan membencinya. Aku memang tak membencinya. Aku hanya butuh waktu. Aku sendiri tak tahu berapa banyak waktu yang aku butuhkan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk bisa membuka diri bagi Randi sekali lagi. Sebagai teman.

***

Salahku, terlalu memaksa untuk membuat kejutan ini. Aku sadar, demi kejutan ini telah kukorbankan waktu terlalu banyak mengabaikan Ratna. Wajar kalau dia marah. Aku hanya tak menyangka semua ini malah menjadi bumerang pada hubungan kami. Aku berhasil menyelesaikan lagu untuknya, tapi aku terlambat dua jam di hari jadi kami. Saat aku tiba di sana, dia sudah tak ada. Ponselnya mati hingga keesokan harinya. Semua panggilan dan pesan singkatku tak dibalas. Setiap aku main ke rumahnya, selalu dibilang Ratna tak ada di rumah. Aku tahu dia mengintip dari balik jendela kamarnya di lantai dua. Tapi aku yang salah, dan tak pantas buatku memaksa. Mungkin dia butuh waktu. Aku harus terima.

***

Enam bulan sudah berlalu. Aku mengabaikan Randi. Pagi tadi, datang satu paket darinya. Isinya, Ipod-ku yang dulu tertinggal di apartemennya, juga beberapa barang lainnya. Tak ada yang penting sebenarnya. Mungkin dia mengerti arti diamku selama ini. Mungkin dia akhirnya pun menyerah pada keputusanku ini. Aku egois, tapi aku memang sudah tak mau lagi. Tak ada gunanya terus mengalah kalau aku hanya menipu perasaanku, dan rasa bahagianya. Dia ber-hak untuk bahagia yang sesungguhnya. Begitu juga aku.

***

Enam bulan, aku tak berhasil juga mencairkan es di hati Ratna. Tak ada satu hari pun terlewati tanpa pesan singkat dan permintaan maaf dariku. Enam bulan, cukup rasanya. Tak selamanya aku bisa mengalah pada hatiku yang kesepian dan butuh dihangatkan oleh senyum dari seorang wanita. Aku memutuskan untuk menyerah. Ratna bukan lah wanita satu-satunya di dunia. Sungguh, aku tak membencinya.

***

Tepat satu tahun setelahnya, Randi mengirimkan sebuah undangan. Entah apa maksudnya. Mungkin sebagai balasan rasa sakit hatinya karena telah kutinggalkan tanpa memberinya kesempatan. Tapi sungguh, aku tak merasakan sakit sedikit pun. Tidak, aku bohong. Entah kenapa rasanya sesak sesaat. Tapi aku tak menggubris. Hidupku sudah tenang sekarang, tanpa dirinya. Mungkin aku akan datang dan memberinya ucapan selamat. Sebagai tanda bahwa di antara kami resmi telah usai. Tak akan ada lagi rasa cinta atau kecewa. Hanya sebagai teman.

Sambil melipat undangan, aku teringat dengan paket yang telah kuabaikan. Ada di bawah ranjang. Paket berisi barang-barangku yang terasa begitu asing bagiku. Padahal sebelumnya, aku selalu akrab dengan musik ipod-ku. Bahkan kadang terlalu asyik dengan musik hingga aku lupa bahwa Randi ada di depanku tengah memperhatikanku. Tunggu dulu, kenapa baru sekarang aku memikirkan itu ? di saat undangan sudah tercetak dengan nama lain bersanding di samping Randi. Sudah terlalu naif untuk memikirkannya. Aku tak ingin terjerembab lebih dalam lagi dengan nostalgia gila barusan. Aku menarik ipod dari dalam kardus, lalu mengisi baterainya yang terabaikan terlalu lama di dalam sana. Sambil aku bersiap mandi. Sebentar lagi aku ingin pergi ke mal untuk belanja bulanan.

***

Ratna, aku sungguh terpaksa untuk memilih wanita lain sebagai pendampingku. Aku sungguh tak menemukan celah untuk menggapaimu. Maaf kalau aku menyerah terlalu cepat. Aku berharap tak akan ada penyesalan di kemudian hari. Aku tak ingin kau terluka. Aku juga tak ingin berlama-lama menyimpan rasa ini sendirian. Aku telah bertemu dengan wanita lain yang mampu membuatku jatuh kembali. Aku bingung, bagaimana memberitahukan padamu. Mungkin kau bahkan tak akan perduli lagi. Pada akhirnya, aku tetap nekad mengirim undangan ini untuk memberitahukan padamu, bahwa di antara kita sudah tak mungkin ada lagi rasa seperti yang dulu. Bahwa aku telah memilih dia untuk mengisi sisa hidupku. Bukan aku tak pernah memilihmu, tapi aku telah gagal membuatmu memilih aku. 

***

Usai mandi dan menyegarkan pikiranku dalam guyuran air di kamar mandi, aku bergegas mengenakan pakaian dan bersiap untuk jalan. Pakaian santai, dan tentu saja ipod yang baterainya baru terisi kurang dari setengah. Aku bahkan hampir lupa lagu-lagu yang tersimpan di dalam sana. Mungkin nanti aku akan mengatur ulang seluruh lagu di dalamnya. Terlalu banyak kenangan yang bisa berakibat fatal bila bangkit dari kuburnya. Aku tak ingin menjadi kalap dan histeris sendiri tersiksa oleh rasa yang telah kubuang sekian lama. Aku tak boleh lemah. Aku Ratna yang bahagia.

Setelah pamit dengan orang rumah, aku berjalan menelusuri gang kecil perumahan menuju jalan raya untuk menghadang taksi. Musik berkumandang di telinga, mengiringi langkah cepatku yang seolah menari. Musik memang bagian hidupku yang tak pernah layu dimakan waktu. Musik mungkin bisa disamakan dengan makanan sehari-hari yang membuatku terus hidup. Di saat senang, sedih, gelisah, semua memiliki musik yang setia menemani dan mengerti aku dengan begitu tepatnya melebihi manusia mana pun. Bahkan kadang melebihi diriku sendiri. Musik adalah belahan jiwaku yang sesungguhnya.

***

Entah, apakah undanganku diterima oleh Ratna atau tidak. Aku sama sekali tak mendapat kabar darinya. Tapi bagaimana pun juga, aku harus melanjutkan rencana hidupku bersama Nadya. Tak ada langkah mundur. Tak boleh ada yang menghentikan waktu yang terus berlalu menuju hari bahagia kami. Bersama undangan itu, telah kukirimkan puing-puing rasa yang pernah ada bersama Ratna. Tak bersisa lagi di hatiku selain Nadya. Karena tak mungkin hatiku mampu menampung dua rasa itu dalam ruang yang sama. Tak mungkin bisa.

***

Cukup lama aku berdiri menunggu taksi di pinggir jalan raya. Musik terus mengalun meneduhkan hatiku dari panasnya cuaca. Musik memang formula istimewa yang mampu mempermainkan rasa. Menunggu taksi di cuaca sepanas ini pun tak mengapa selama ada musik memanjakan telinga. Paling, hanya tanganku saja yang tak henti menepis keringat bercucuran melewati dahi.

Tiba-tiba, sebuah musik bernuansa aneh mengalun. Musik asing yang aku yakin tak pernah dengar di mana pun. Suara gitarnya terdengar direkam secara murahan, tapi juga lumayan. Hatiku sibuk menebak siapa gerangan musisi penciptanya, hingga suara yang kukenal samar perlahan membuyarkan semua tebakan. Ya, suara Randi. Aku hampir tertawa mendengar suara sumbangnya bernyanyi, tapi aku tahan demi mendengarkan setiap kata-katanya. Cukup romantis. Patut diperhitungkan untuk musisi dadakan. 

Terlalu fokus dengan lagu Randi, beberapa taksi telah berlalu di depanku. Untungnya aku segera sadar dan menghentikan salah satunya yang memberi kode lampu dari kejauhan. Aku melanjutkan musik dari Randi di dalam taksi setelah memberitahukan lokasi tujuanku ke supir taksi. Mungkin supir taksi itu mengira aku gila, karena dalam taksi aku tak mampu lagi menahan tawa menggelegar setelah mendengar kata-kata dalam lagu Randi. Rasanya tak mungkin laki-laki sepertinya menuliskan kata-kata romantis seperti ini. Sungguh bukan dia. Supir taksi itu terus melihatku dari kaca spion, tapi kuabaikan. 

Musik berdurasi empat menit itu pun berakhir di tiga puluh detik terakhir. Mungkin dia masih amatir, pikirku. Setelah jedah beberapa detik dari dentingan terakhir suara gitar, suara Randi terdengar lagi. Kata-kata terakhirnya hampir menghentikan jantungku. Air mata pun mencair dari hatiku yang beku sejak hari jadi kami yang kelima.

***

Ratna, kuharap kau tak menertawakan musik yang kutulis untukmu. Sungguh, aku bukan musisi handal seperti mereka-mereka yang musiknya mengisi ipod-mu dan menemani hari-harimu. Tapi musikku ini dari hati. Sungguh, aku tak mengisi musik ini dengan rayuan gombal belaka walau terdengar seperti itu pada akhirnya. Aku ingin segera mengakhiri rasa canggung di antara kita. Aku ingin kita bisa seperti pertama bertemu dulu. Aku ingin kau menjadi pasanganku hingga akhir waktu. Ratna, aku berharap kau akan mendengarkan musik ini hingga akhir, karena di hari jadi kita yang kelima ini, aku menghadiahi kita sebuah lamaran untuk menyatukan kita selamanya.


Minggu, 28 Juni 2015

Gelapnya Terang

Duduk, dengan ujung mata membendung gumpalan air mata. Tanpa alasan jelas. Tanyakan saja pada hatiku yang juga pasti tak tahu dari mana muasal sesak yang menghimpit jantungku erat. Hanya lembaran kertas dan pensil kesayangan di tangan yang mampu mengurangi penderitaanku, menerjemahkan rasa ini dalam bentuk goresan-seolah tak berarti. Tapi sesungguhnya memiliki arti tersendiri, dalam dunia dan bahasanya yang asing untuk makhluk di luar batas lembaran kertas. Aku lah pencipta dunia tanpa penghuni, yang tak gila puja dan puji. Aku hanya ingin mengisi duniaku dengan harta karun satu-satunya yang kupunya. Seluruh rasa.

Segelas kopi panas mengepulkan aromanya mengitari lingkar kepala setinggi lubang hidungku. Tak ada celah untuk tak menghirup aroma wanginya yang menggugah selera. Kopi hitam yang diseduh dengan kekentalan setara hitungan matematika. Selalu pas. Khas dari warung tempat jiwa tua-ku yang lelah ini memanjakan diri dari penatnya dunia nyata. Tentu saja seperti biasa juga, dengan bekal secarik kertas kosong dan pensil kesayangan. Tanganku mulai asyik menari tanpa menunggu ijin turun dari otakku. Sudah terlalu biasa, hingga tak perlu sungkan lagi katanya. Lancang memang tanganku ini, terlalu dimanja. Tak apa lah, sudah lelah ia bekerja menerjemahkan isi otakku setiap harinya. Anggap saja ini tamasya baginya. 

Saat aku mulai menggambar, sekelilingku perlahan hilang. Aku masuk semakin dalam dan semakin dalam ke dalam duniaku sendiri. Ruang dan waktu yang begitu sempurna bagiku. Bahkan kalau ada artis terkenal duduk di sampingku pun rasanya tak akan mengubah sesuatu apa pun. Saat seperti ini, adalah saat di mana duniaku adalah segala-galanya.

Cerita ini tak akan mungkin ada seandainya saja dia tak datang sore ini, yang entah dengan ilmu apa telah berhasil menerobos masuk ke dalam duniaku. Membuyarkan semuanya.

"Lagi asyik gambar ?" dia bertanya dengan senyum mendengus. Pertanda bendera perang. Aku bahkan tak kenal siapa dia.

"Hmm..." aku 'menjawab' sambil memicingkan mata.

"Ingat gue ? kita pernah sekelas dulu." Dia melemparkan serangan fatal tanpa permisi.

"Harus ya ?" Jawabku ketus.

"Hehe... Kerja apa loe sekarang ? masih sempat coret-coret gitu."

Aku menjawab dengan diam. Sebuah jawaban khas yang menjadi senjata andalan untuk mengusir lalat pengganggu jenis ini. Tapi ternyata salah.

"Emangnya coretan gini bisa jadi uang ?" dia masih memancing.

Tak lama, dia menarik kursi dan duduk berhadapan denganku. Tanpa undangan, tentunya.

"Daripada coret-coret gak jelas, kenapa gak pakai waktu buat bikin sesuatu aja sih ?" celetuknya.

Kali ini aku terpancing. Menatapnya langsung ke mata. Tampaknya dia sadar kata-katanya berhasil membangunkan gajah bunting.

"Sorry ?" tanyaku dengan nada kasar.

"Gak perlu marah kali, cuma tanya." Dia membela diri.

"Ok, gini deh... wahai orang yang aku lupa siapa nama-mu dan dari mana asal-mu barusan. Maaf kalau kesannya kasar, tapi kayaknya dirimu perlu mengerti sedikit batasan teritori yang baru saja dirimu langgar. Ada waktu sebentar buat dengerin ?"

"Ermm... ok...ok..." wajahnya memerah. Entah menahan marah, atau malu.

Aku membalikkan kertas ku, merelakan sebagian area kosong di duniaku untuk menjelaskan pada orang asing ini.

"Begini... (kugambar sebuah tembok) Kamu di sisi sana... aku di sisi ini. Oke ?"

"Oke... terus ?" 

"Nah... (kugambar matahari di sisinya, lalu mengarsir bagianku dengan warna hitam)."

"Terus... apa maksudnya ?" dia penasaran.

"Begini, Anggaplah sisi mu adalah bagian terang, dan sisiku adalah bagian gelap ini. Nah, dalam keadaan seperti ini, kamu... (aku menggambar sebuah peti harta karun beserta isinya, di sisiku) gak akan bisa melihat apa yang berharga dari sisiku, karena kamu terbiasa dengan terang. Matamu hanya melihat sisi gelap ini sebagai sesuatu yang kosong. Padahal... di dalam area yang kamu anggap kosong ini, ada sesuatu yang berharga bagiku. Sesuatu yang mungkin hanya aku sendiri yang tahu. Sesuatu yang bagi orang lain mungkin tak penting."

"Hmm..." Dia menyimak.

"Sebaliknya, dari sisiku, duniamu itu terlalu menyilaukan. Aku tak bisa melihat apa yang ada di sana. Baik atau buruk, penting atau tidak penting. Kita sama-sama hidup di dunia kita sendiri. Apa yang barusan kamu sebut corat-coret ini penting buatku. Jadi jangan sekali-kali kamu menggurui apa yang aku kerjakan sekarang. Duniaku... milikku. Sama seperti aku tidak berusaha memasuki duniamu karena aku tahu di sana aku tidak akan merasa nyaman."

"hmm..." Dia mengerti, meminta maaf, lalu pergi.

Dan aku, kehilangan duniaku, kehilangan rasa nikmat kopi, kehilangan teman lama. Tapi aku merasa lega. Setiap orang memiliki batas teritori yang pantang untuk dilanggar. Saat ada orang lain yang dengan seenaknya melanggar, sudah seharusnya kita mendorong mereka keluar.







Selasa, 31 Maret 2015

Terjun

Oh... hamparan mimpi yang mengurung aku dalam lelap cakrawala di luar logika
Oh... senja palsu yang menenangkan jiwaku hingga enggan melawan getaran waktu
Oh... wajah itu... yang membuatku enggan terbangun dari tidurku


Jam terus berdetak. Begitu pelan dan sopan. Tetap saja, telingaku menangkap langkah-langkah kakinya yang seolah melayang. Begitu sunyi kamar ini hingga nafasku sendiri seperti tiupan angin pertanda akan datang badai pertama di pergantian kemarau. Mataku terpejam, tapi tak kunjung mengantarkan aku pada lelap. Begitu banyak kata dan gambar melintas tanpa bisa kutahan. Begitu banyak tanya dan jawab saling beradu tanpa aku tahu ke mana arahnya. Aku hanya berusaha tidur. Aku hanya ingin lepas dari lelah dan penat berlebih ini.

Apa yang kupikirkan, aku sendiri bingung menerka-nerka. Apa yang membuatku begitu gelisah ? Tak ada penyebab pasti. Lebih tepatnya, aku bingung sendiri. Mungkin alasan-alasan di balik kegelisahan ini begitu absurd membaur dengan logika yang kupercaya. Aku sendiri hilang kendali. Ranjang ini makin panas saja rasanya. Padahal pendingin ruangan sudah menyala. Peluh pun bergulir dari dahi hingga jatuh ke bantal. Aku lelah dan butuh tidur segera. Detik-detik berganti menit dan jam pun berlomba-lomba menuju pagi buta. Yang kurasakan tetap sama.

"Aku ingin tidur... Aku lelah..." Aku mengulang kata-kata itu dalam batin.

Ya, dan akhirnya, mulai lagi. Dinding kamarku bergetar, gempa. Tapi aku tetap terpejam dan tenang. Sudah biasa.

Suara gempa semakin kencang, lalu ranjang di bawahku seperti menelan tubuhku hidup-hidup. Lalu, aku merasa seperti ditarik masuk ke dalam kolam air. Dingin, dan begitu tenang. Nafasku masih normal. Aku merasa sekelilingku semakin gelap dan semakin gelap. Tak ada lagi suara detak jam dinding. Tak ada lagi getaran gempa di dinding. Sekelilingku adalah air yang begitu tenang. Tak lama, air di sekelilingku mulai berputar. Aku terbawa dalam arusnya yang semakin kencang. Semakin kencang dan kemudian buyar. Aku merasa seperti dilempar keluar dari dalam kolam kemudian melayang ke udara. Entah semakin tinggi, atau semakin rendah. Aku tak merasakan gravitasi bumi. Tak ada rasa takut, tak ada lagi gelisah. Aku melayang di udara, entah menuju ke mana.

Ada yang bergerak di sekitarku. Aku tak tahu apa, tapi sepertinya makhluk sejenis ular berukuran besar. Aku bisa merasakan tubuhnya mengitariku. Aku bisa merasakan angin di sela-sela jemariku, di setiap celah tubuhku.

Oh... kesadaranku yang begitu rapuh hendak lepas dari raga
Oh... kehilangan ini kurasakan begitu nyaman hingga tak ada air mata
Oh... kulepas bebas semua ke alam bawah sadar

Ya, sudah waktunya. Gravitasi kembali menarikku ke bumi. Aku jatuh. Kali ini aku tahu arah jatuhku. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku akan terbangun ketika menyentuh tubuhku. 

Hal pertama yang kusadari adalah aku menarik nafas dengan rakusnya. Tubuhku basah kuyup oleh keringat. Berikutnya, barulah aku membuka mata perlahan. Kamarku masih gelap. Masih begitu sunyi. Aku duduk terpaku sambil mengatur nafas. Saat sudah tenang, kupalingkan wajah melihat jam dinding yang ternyata baru melangkah ke pukul tiga dini hari.

Oh... malam begitu panjang untuk pejuang hidup yang ingin sekedar tidur dalam lelap
Oh... malam panjang letakkan aku dalam pangkuanmu dan timang aku hingga hari berganti esok
Oh... malam panjang biarkan aku terjun dalam mimpi yang kau buat begitu nyaman



Selasa, 24 Februari 2015

Ada Hati

Ada hati yang terus bersedih
Ada hati yang menangis tanpa henti
Ada hati yang sendiri dalam sepi
Ada hati yang memutus nadi untuk mati
Ada hati yang seperti itu dalam diriku
 

Rabu, 24 Desember 2014

Jealousy

Apa yang mereka sebut cinta... Apa yang mereka pamerkan dan sebut dengan indahnya hidup sebagai manusia... Semua ada waktunya.

Pagi bukannya tak indah, hanya terik mentari kadang terlalu menyengat sampai ingin kupadamkan saja (andai ada remote-nya). Yang berlebih tak pernah lebih menyenangkan selain kelebihan uang. Begitu juga pagi ini. Duduk sendirian di kursi taman sambil menyerap energi dari matahari dan sekeliling agar kulitku tidak terlampau pucat seperti mayat. Duduk di kursi taman berwarna coklat dengan latar taman mawar berwarna merah darah membuat warna kulitku terlihat sedikit mencolok. Tak heran, orang-orang yang sedang lari pagi memasang ekspresi aneh ketika melihatku. Seperti melihat penampakan yang munculnya salah waktu. Tak masalah buatku, sudah terbiasa dengan pandangan semacam itu.

Pagi ini bekalku sebuah buku, sekotak sandwich tuna pedas, dan termos kecil berisi teh hangat campur madu. Aku lupa dengan penyelamat jiwaku, pemutar musik dan earphone kesayangan. Terlalu malas juga untuk berbalik ke rumah mengambilnya. Toh, beberapa jam tanpa musik tak membuatku tenggelam dalam dunia sesat yang super berisik ini. Suara mesin kendaraan, suara orang berbicara dengan aneka nada suara, suara binatang, bahkan suara-suara tak penting seperti decit kayu tua dan suara sepatu. Ketika aku menutup telinga, aku masih harus mendengar suara denyut nadiku sendiri. Dunia ini dikuasai oleh suara. Tak ada celah tempat bersembunyi dari suara, kecuali kau tuli atau telah mati.

Selain suara, tentu saja pemandangan yang tak diharapkan pun ada di mana-mana. Anak kecil berlarian di tengah jalan (semoga terlindas mobil lewat), pasangan tua-muda yang asik bermesraan di taman seolah tak ada tempat lain untuk sekedar berciuman mesra. Dikiranya aku ingin melihat adegan-adegan itu. Mata ini tak bisa menyaring apa yang boleh dan apa yang tidak boleh terlihat. Aku ingin melewatkan adegan-adegan tak penting, tapi aku takut kehilangan pemandangan yang sulit didapat di kesempatan lain. Seperti adegan anak kecil itu terjatuh dan menangis karena lututnya terluka mungkin ?

Intinya, hidup ini adil sekaligus tak adil. Indah diselingi sesuatu yang menjijikkan. Sama seperti mawar indah yang menutupi bangkai di bawahnya. Sama seperti sandwich tuna di tanganku yang kini terlihat menggiurkan setelah kutabur dengan bubuk cabai super pedas kesukaanku. 

Sambil menggigit sandwich aku melihat sekelilingku melihat andainya ada pemandangan menarik lainnya. Ternyata tak ada. Hanya ada sepasang tua tengah bermesraan duduk tak jauh di seberang kursi tempatku duduk. Mereka terlihat bahagia berdekapan seperti sedang bercanda sambil tertawa kecil. Sungguh, pasangan yang terlihat bahagia.

Aku mengalihkan pandangan dari mereka, menyibukkan mataku dengan halaman-halaman buku yang sejak tadi kujadikan tatakan kotak sandwich. Memulai lanjutan cerita ketika pagi hari sebenarnya cukup berat. Apalagi dengan banyaknya godaan suara dan pemandangan. Tak ada musik untuk menenangkan telingaku. Aku masih saja mendengar pasangan tua itu bercanda seolah mereka masih pertama kali jatuh cinta. Seumur-umur, aku belum pernah merasakan cinta seperti yang kubayangkan tengah mereka nikmati bersama. Aku bertanya-tanya kenapa ada orang yang bahagia dan ada juga orang yang kesepian ? Kenapa cinta begitu pemilih? Kenapa bukan aku yang dipilih ?

Setengah jam kira-kira aku membalik lembaran-lembaran dalam buku di tanganku, tanpa banyak isinya yang masuk dalam kepalaku. Pikiranku tengah melayang-layang ke berbagai tempat. Aku tak cukup fokus untuk melanjutkan buku ini. Telingaku masih mendengar bisikan-bisikan mesra dari arah pasangan tua itu. Kebahagiaan mereka seolah kekal. Tak berubah dari awal hingga sekarang. Entah berapa lama lagi mereka akan bahagia seperti itu. Mungkin selamanya, kalau dewa cinta belum berencana mengkhianati pasangan manusia bahagia itu. 

Kesepian ini sungguh menarik utuk didalami. Kadang aku bahagia dengan kesendirianku, mengingat kekasih-kekasihku dulu tidaklah sempurna seperti bayanganku. Sendiri itu kadang lebih nyaman karena aku tak lagi perlu mengatur waktu untuk bisa bersama dengan kekasihku. Tapi kadang kesepian itu menyiksaku sewaktu-waktu aku ingin memiliki pelukan hangat kekasihku. Tak ada manusia sempurna yang bisa menempatkan waktu sedemikian tepatnya hingga tak ada ketidakcocokan dengan jadwal hidupku. Kalau cinta butuh pengorbanan, maka perasaan adalah tumbalnya. Aku sudah korbankan begitu besar perasaanku untuk menutup lubang perbedaan di antara aku dan kekasih-kekasihku dulu. Tapi lubang itu bukannya menutup, malah semakin besar. Seolah tak ada habisnya aku harus memberi tumbal. Perlahan aku semakin kesepian, semakin rapuh dan tak lagi merasa hidup. Itulah kenapa aku memilih untuk sendiri.

Aku penasaran dengan pasangan tua itu. Mungkinkah mereka berhasil melalui lubang-lubang jebakan dan mencapai garis akhir, sebuah nirwana cinta mungkin ? Atau mereka masih terlena dengan candu yang kita sebut itu cinta hingga suatu ketika nanti mereka akan terbangun dalam kondisi koma dan tak berdaya ketika habis candunya.

Cinta itu tak berawal dan tak berakhir, karena cinta itu ilusi karangan manusia. Cinta adalah sebutan untuk momen yang dianggap indah. Ketika momen itu lewat, cinta pun dipersalahkan. Bodohnya manusia yang menyalahkan momen indah setelah mereka melewatinya dengan bahagia.

Matahari kian terik di atas sana, seolah mengusir manusia kesepian ini dari hadapannya. Padahal, kemana pun aku pergi, ia tetap akan ada di atasku. Baiknya ia naikkan suhu untuk membakarku jadi arang agar tak perlu lagi melihat aku di bumi ini. Aku pun enggan tersengat teriknya lebih lama. Aku bergegas beranjak dari kursiku, mencabut sekuntum mawar merah yang paling cantik di antara kerumunannya. Yang terbaik selalu terpilih, sama seperti cinta memilih manusia mana yang berhak mendapatkannya. Bukan aku pastinya. Kubersihkan duri-duri mawar itu lalu kucium harumnya. Mawar terbaik di taman ini mungkin. Aku melihat pasangan tua yang masih kasmaran itu.

"Setangkai mawar terindah untuk wanita cantik yang berbahagia." Aku menyodorkan mawar itu untuk wanita tua yang setengah terkejut lalu tersenyum semanis mungkin dengan kerutan-kerutan di bibirnya. Pasangannya pun tersenyum ramah dan berterima kasih. Aku pun bergegas pergi meninggalkan pasangan bahagia itu. Mereka terlihat kebingungan karena kami sama sekali tak saling kenal.

Dari kejauhan aku mendengar wanita itu berteriak panik, disambut teriakan panik dari pasangannya, lalu sumpah serapah yang ditujukan padaku.

Tanpa perlu membalikkan wajah, aku bisa membayangkan ekspresi mereka. Wanitanya tentu tengah terisak kesakitan karena baru saja menghirup cabai bubuk super pedas yang kutaburkan dalam mawar cantik tadi, dan pasangan pria nya panik karena momen indah mereka pagi ini harus selesai lebih awal berkat hadiah tak terduga dariku.