Rindu ini mengular panjang tak tampak lagi ujung pangkalnya. Setiap langkah kaki ini begitu pilu, bersendirian. Yang lebih menyakitkan adalah beban rasa. Tanpa kepastian. Bukankah ketulusan tak pernah mengharapkan balasan ? Apakah artinya rasa ini tidak tulus adanya ? Aku lah yang egois ternyata. Siksaan ini adalah upah dari segala upaya yang kukira atas dasar cinta. Aku hanya mencari pengisi ruang hampa dalam dada. Bukankah Rindu butuh ruang untuk bertumbuh ? Agar akar-akarnya kuat, ia tak akan hidup pada wadah yang menghimpit. Baiknya, aku memberi jarak. Setidaknya rasa ini akan selamat. Tak lagi ia pelan-pelan sekarat menunggu hilang terkikis kecewa karena pengharapannya yang tak kunjung tiba dalam genggaman. Ia kuat karena mampu berjalan sejauh ini. Tapi tidak cukup bijak untuk menyadari bahwa ia mengejar hati yang tidak sejalan.
Sedikit tumpahan jiwa dalam bentuk kata-kata yang mengungkap sejengkal sejarah hidup dan isi hati penulis selama ajal belum (sempat) menjemput.
Jumat, 20 September 2024
Kamis, 12 September 2024
Carousel
Jika setiap manusia terlahir berpasang-pasangan, maka... seharusnya aku pun tak perlu takut akan selamanya sendirian. Bukankah Semesta telah menyiapkan pasanganku bahkan sebelum aku terlahir ke dunia ? Atau mungkin... Ada juga manusia-manusia yang memang dilahirkan untuk bersendirian ? Semacam lelucon Semesta. Tidak ada yang tahu pastinya seperti apa...
Seberapa sering kita mendapatkan pengalaman di luar nalar ketika bertemu orang asing dan kita merasa telah mengenalnya begitu lama. Sebuah pertemuan yang entah bagaimana---tanpa seijin kita---masuk begitu saja lewat pintu hati dan menetap di sana. Celakanya, kita sama sekali tidak ada keinginan untuk menepis perasaan aneh ini. Kita justru terlena, berharap semua ini adalah pertanda baik bahwa Semesta telah mempertemukan kita dengan belahan jiwa, yang sekali lagi, digadang-gadang sebagai sebuah janji manis Semesta untuk setiap insan di dunia. Bahwa setiap kita terlahir dengan belahan jiwa yang kelak akan bertemu dan menjadi pasangan hidup kita hingga akhir hayat. Tapi buatku, yang saat ini sudah mendekati usia senja kepala empat, Janji itu semakin ragu di telinga. Selama tiga puluh delapan tahun, aku merasakan empat kali sensasi ini. Apakah ini berarti hatiku telah salah menangkap sinyal ? Tapi sialnya, aku begitu yakin dengan perasaanku. Dari empat kali itu, ketiganya kandas seiring berjalannya waktu. Yang terakhir ini... amatlah menyedihkan. Aku jatuh cinta pada orang yang rupanya tidak punya rasa yang sama.
Andai aku memperhatikan red flag yang berkibar-kibar di hadapanku, tentu rasanya tidak akan sesakit ini. Saat pertama kita bertemu dan kamu menyampaikan bahwa aku ini hanyalah satu dari sekian banyak orang yang memilihmu lewat aplikasi, dan pertemuan ini hanyalah bentuk respon bersahabat tanpa ada niatan lebih, harusnya aku cukup sadar diri dan tidak membiarkan perasaanku terjun bebas mengarah padamu. Tapi, melihat matamu, senyummu, dan mendengar suaramu... Segala pertahananku runtuh bahkan tanpa aku sadari. Pembicaraan kita tentang beberapa topik konyol, tawa dan canda ringan yang monoton, semua itu tak ada artinya dibanding sensasi hangat yang muncul di dadaku setiap mata ini melirik padamu. Bukan, ini bukan pandangan mesum yang berharap malam ini berlanjut di ranjang. Bukan tidak mau juga, tapi ini lebih dari itu. Lebih dalam... lebih hangat... ini mungkin, cinta pada pandangan pertama. Datangnya terlalu cepat, tapi hati ini tetap menyambutnya tanpa perlu mempertanyakan ijinku.
Pernah dengar istilah "Tahi kucing rasa coklat" ?
Itulah yang terjadi selanjutnya. Segala-galanya tentangmu adalah hal terindah yang hadir di hidupku. Sapaanmu, balasan chat mu, teleponmu, ajakan makan malam, ajakan nonton, semua terasa seperti menang undian berhadiah menggiurkan. Aku terlupa bahwa ini hanyalah ajakan persahabatan tanpa niatan lebih. Mungkin bonusnya adalah penjajakan, tapi tanpa tujuan yang jelas. Buatku, ini adalah pintu menuju imajinasi liar. Ribuan harapan tercipta dalam hitungan detik. Terlalu cepat. Andai logika yang biasa kuandalkan bisa berfungsi dengan benar ketika cinta datang mengusik. Andai aku lebih sadar bahwa cinta tidak ada artinya jika datangnya hanya satu arah. Akan ada yang merasakan kecewa, dan untungnya, itu adalah aku. Untungnya ? ya, aku tidak tahu bagaimana kalau yang merasakan ini adalah kamu. Aku tidak sanggup membayangkan kamu terluka karena aku. Sebegitu besar rasa sayang ini. Seperti tersapu derasnya bendungan runtuh. Logika ini sudah hanyut terbawa arus.
Bukan salah niat baikmu, bukan salahku juga yang memilih untuk menerjemahkan semua tanda-tanda itu sesuai dengan bahasaku. Hanya waktu saja yang tidak tepat, dan rasa, yang salah alamat. Bukankah orang yang sedang jatuh cinta pasti berharap akan balasan yang sama ? wajar... dan ketika balasan itu ternyata tidak sesuai harapan. Tapi percayalah, tidak ada yang sia-sia dari sebuah pertemuan yang telah ditentukan Semesta. Selalu ada pembelajaran di sana. Sama seperti pertemuan denganmu. Aku telah belajar banyak. Belajar mengenal diriku dan perasaanku, belajar mengenal perasaanmu dan mengenalmu. Pengalaman ini membuka mataku tentang rasa. Bukankah Semesta selalu punya cara di luar logika ? Mungkin ini salah satunya. Sakit, kecewa, tapi juga penuh makna dan perlu dirasa. Orang bilang, rasa sakit akan membuat kita belajar menjadi lebih kuat. Pertumbuhan gigi pertama pun membuat bayi menangis karena sakit dan tidak nyaman. Bukankah segala sesuatu ada harganya untuk dibayarkan ? dan, yakinlah segala sakit dan kecewa ini, adalah untuk bayaran setimpal yang telah direncanakan oleh Semesta sesuai dengan skenario-Nya, yang bahkan sudah ada sebelum tubuhmu dirancang di dunia.
Suatu hari nanti di kemudian hari, aku akan duduk termenung di sebuah kafe dekat pantai, menikmati senja, memikirkan hari ini, dan bersyukur bahwa hari ini telah membawaku pada hari itu. Bahwa hari ini telah mempersiapkan aku untuk kebahagiaan yang kemudian datang pada hari itu. Perubahan yang membuat levelku telah setara dengan pasanganku yang sesungguhnya, yang telah disiapkan untukku oleh Semesta. Bahwa, kami memang tidak dipertemukan sebelum masing-masing telah benar-benar matang lahir-batin, dan Semesta mengamini pasangan ini untuk berbagi kebahagiaan bersama hingga akhir hayat. Hari itu yang menjadi penguatku untuk melewati segala pembelajaran yang makin lama makin berat dan menyakitkan. Setidaknya, aku bertumbuh dan semakin dekat dengan kebahagiaanku.
Jadi, sampai mana kita akan bertumbuh bersama ? kurasa, aku sudah siap setelah kecewa dan air mata yang kusembunyikan darimu. Bahwa, sesungguhnya, tidak ada yang perlu disembunyikan. Darimu, aku belajar menjadi jujur dan apa adanya. Bahwa, diterima atau tidak... tidak ada yang sia-sia. Karena itu juga, aku tidak akan pernah menyesal, padamu aku pernah jatuh cinta.
Rabu, 27 Mei 2020
Luka Abadi
Dulu, kau menanamkan pedih dalam hatiku.
Sakitnya lagi, kau taburi luka menyayat itu
dengan kalimat
“Akan ada orang yang lebih baik untukmu nanti, bukan aku.”
Lalu kau beranjak, tanpa perduli.
Bertahun-tahun kemudian, rasa sakit itu tak
kunjung hilang.
Bukan karena aku terpaku dalam kenangan masa
lalu.
Kalimat sakti darimu saat itu, menjadi
kutukan abadi yang tak bisa kuhapus dari ingatan.
Lebih mengerikan dari bayangan masa itu
ketika langkahmu kian menjauh.
Kurasa, kau pun tak pernah memikirkan bagaimana
hidupku berjalan tanpamu.
Aku pun tak lagi pernah mendengar kabar
tentangmu.
Hanya luka ini yang tetap sama
Menjadi pengingat
Bahwa yang telah pergi, memang lebih baik
tak pernah kembali.
- Ony -
090520
Minggu, 26 Januari 2020
Yang Aku Tahu, Aku Memang Tahu
Jemari
lentiknya lincah menari, seolah tengah meraba senar-senar takdir yang tak kasat
mata. Bibir tipisnya bergumam tak jelas. Tak ada juga yang akan perduli setiap
kata yang akan tumpah dari sana. Perempuan itu menghabiskan hari-harinya dalam
ruang kecil tanpa celah. Pasrah menunggu hari ketika namanya akan dipanggil.
Untuk diakhiri hidupnya.
Namanya
Nila. Janda karena pilihan. Ia perempuan sakti yang telah berhasil membunuh
suaminya-yang berpostur tiga kali lipat darinya-dengan sebilah pisau dapur.
Suaminya adalah preman buronan polisi yang telah lama dalam pelarian. Entah
memang jawara atau akal-akalan petugas saja yang enggan menangkap penjahat
kelas kakap yang kerap menghabisi aparat tanpa kenal ampun. Setelah pembunuhan
itu, nama Nila menjadi bahan pembicaraan sampai ke pelosok negeri. Kau tahu
kenapa ? karena yang dia bunuh adalah orang paling keji yang kerap membunuh
tanpa pandang bulu. Lalu bagaimana mungkin seorang Nila bias membunuh bajingan
itu, jika tidak memiliki kesaktian ?
Pemberitaan
atas dirinya, lengkap dengan pujian-pujian di media massa yang datangnya dari
keluarga korban kekejian suaminya, tidak sama sekali meringankan hukuman atas dirinya.
Setiap pembelaan atas nama Nila seperti surat kepada Tuhan yang tidak pernah
diketahui alamatnya. Hukum membutuhkan kambing hitam. Walau kambing itu adalah
seorang Nila, perempuan yang menikah pun karena terpaksa. Ia adalah korban
penculikan hanya karena parasnya yang cantik. Setelah dinikahi pun ia tak
pernah merasakan Bahagia. Mulai dari perkosaan di malam pertama, kekerasan
secara mental dan fisik yang datangnya setiap hari. Semua ia telan demi
kelangsungan hidup kedua orang tuanya. Suaminya selalu mengancam akan membakar
hidup-hidup kedua orang tua Nila di depan matanya bila ia berani mencoba kabur.
Tak ada yang berani menolong seorang Nila yang teraniaya. Tak ada yang berani
bahkan untuk sekedar mengobati luka di punggungnya, bekas cambukan suaminya.
Melirik saja harus diam-diam karena tabiat suaminya yang sangat posesif. Hidupnya
terpenjara melebihi burung dalam sangkar. Air matanya mengering perlahan dalam
penderitaan berlarut-larut. Ia berhenti berdoa karena Tuhan seolah tidak
melihat penderitaannya. Ia mengutuk kecantikan yang Tuhan titipkan padanya.
Dulu ia kebanggaan kedua orang tuanya karena dikira kelak akan mendapat suami
rupawan kaya raya anak bangsawan. Nyatanya, ia justru diculik dan diperlakukan layaknya
budak nafsu belaka. Seperti bunga yang dipetik hanya untuk disia-sia.
Ruang
sempit tanpa celah ini tak menjadi tempat yang aman untuk tubuh kecilnya. Tak
jarang petugas hidung belang menghampirinya ketika malam tiba. Nila tak perduli
juga dengan apa yang mereka perbuat pada tubuhnya yang memang telah penuh luka
dari siksa suaminya. Nila menganggap kerelaannya sebagai bentuk amal sebelum
ajalnya datang menjemput. Setidaknya ia bisa berguna untuk orang lain. Untuk
serigala-serigala kelaparan yang kalap melahap sisa-sisa kecantikannya. Dalam
hati, Nila hanya berharap semoga saja serigala-serigala itu tidak menyesali
perbuatannya kelak ketika mereka tahu bahwa kembang yang mereka lahap ini
adalah muara dari segala penyakit kelamin yang dititip secara paksa oleh
suaminya. Andai mereka tahu, mereka tak akan mungkin sanggup menyentuhnya.
Melihat saja pasti jijik dan muntah. Begitulah manusia, pikirnya. Selalu melihat
dari tampilan luar saja. Mereka tak melihat bahwa di dalamnya, perempuan mungil
ini hanyalah bangkai abadi. Tak lagi hidup. Bukan lagi manusia seutuhnya.
Penantian
adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Apalagi kalau kita tidak tahu kapan
berakhirnya. Sesekali Nila berdendang tak jelas, ala kadarnya. Satu-satunya
penghiburan yang dia punya. Lagu nya pun terbatas, yang bisa dia ingat saja. Beberapa
lagu daerah dan tembang jawa yang kerap dinyanyikan sebagai pengantar tidurnya.
Apakah kedua orang tuanya tahu keadaan Nila sekarang ? kenapa mereka tidak
pernah datang menjenguk ? apakah mereka tidak tahu bahwa anak perempuan mereka
telah menjadi pahlawan yang telah berhasil membunuh monster legendaris ? apakah
pemberitaan besar-besaran itu tidak pernah sampai pada mereka ??? atau mereka
memilih untuk menjadi Tuhan yang tak lagi memiliki alamat di bumi ini sehingga berita-berita
itu tak lagi menemukan jalan ke sana ? ah, peduli apa, lebih baik mereka tak
tahu saja. Tak perlu menambah penderitaan mereka untuk mengetahui bahwa anak
perempuan yang pernah mereka banggakan ini sebentar lagi akan meregang nyawa
atas nama keadilan yang timpang sebelah. Keadilan memang hanya nama di negeri
ini. Semua orang juga tahu itu. Maka dari itu mereka terus bersuara walau tak pernah
didengar. Setidaknya mereka tidak diam. Tidak merelakan kebenaran disepelekan. Bukankah
kebenaran selalu menang pada akhirnya ? apabila satu nyawa Nila bisa menjadi
bahan bakar untuk menghidupkan bara perjuangan atas nama kebenaran, ia sangat
rela. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Selama masih bisa bermanfaat, ia
rela.
Penantian
panjang seperti tak berujung, dengan amal perbuatan hampir setiap malam,
akhirnya tiba waktunya nama Nila disebut. Tanggal kepastian dibacakan. Tiga hari
dari sekarang. Nila akan diperlakukan istimewa. Ia boleh makan apa pun yang dia
mau. Menuliskan surat terakhir untuk nantinya dikirim ketika ia telah tiada. Beberapa
lembar kertas tanpa amplop dan sebatang kecil pensil. Hanya itu yang diberikan.
Tangannya sempat hampir menuliskan segalanya di atas kertas-kertas itu. Tapi diurungkan.
Ia tak ingin penderitaanya tumpah dan menulari siapa saja nanti yang
membacanya. Tak ada pembelaan dari bibirnya hingga akhir. Tak ada juga
kata-kata memelas untuk sedikit pengampunan. ia tahu bahwa apa yang telah dilakukannya
tak lebih biadab dari kelakuan suaminya. Semua orang pun tahu itu, tapi mereka
memilih diam. Lalu untuk apa seorang Nila harus membela diri kalau semua yang
ingin dikatakan sebenarnya telah diketahui semua orang ? tak ada gunanya. Ia memilih
bungkam menunggu hingga akhir. Ia hanya berharap untuk kali terakhirnya, Tuhan
sendiri yang akan datang menjemputnya, agar ia bisa mempertanyakan ketidakadilan
yang telah ia terima. Tapi harapan itu tak berani ia pupuk lebih jauh. Doa saja
tidak didengar, apalagi berharap untuk dijemput pulang ? terlalu lancang,
pikirnya. Siapalah Nila. Hanya perempuan tanah seberang yang ternoda dan jatuh
dalam kubangan dosa.
Hari
yang ditentukan telah tiba. Nila hanya meminta sayur asem dengan sambal terasi
dan tongkol balado, juga sepotong gaun ungu tua sebagai permintaan terakhirnya.
Tanpa riasan wajah ataupun alas kaki. Santapan terakhir itu hanya disentuh satu
suapan saja. Rasanya begitu nikmat. Mirip racikan ibunya. Satu suapan terakhir
yang tak akan mungkin terlupakan. Lebih dari cukup. Gaun ungu dikenakan, dengan
rambut diikat ala kadarnya, Nila siap menghadap ajal. Dikawal oleh dua serigala
yang sering meminta jatah amal, Nila hanya menatap lurus ke depan. Tak perduli
dengan apa pun di sekitarnya. Matanya kosong seperti biasa. Bibirnya bungkam. Ia
dikawal hingga ke mimbar untuk menyampaikan setidaknya satu kali penyesalan
atas perbuatannya. Ditonton oleh banyak orang dan media yang siap mengabadikan.
Saat ia telah tiba di depan mimbar, semua mata tertuju padanya. Tak sedikit
yang sesengukan menangisi nasib perempuan malang itu. Sebagian lagi menatap
haru penuh rasa terima kasih atas keberaniannya membalaskan perbuatan keji suaminya
terhadap keluarga mereka. Tapi semuanya tak berkata-kata. Mereka menunggu bibir
Nila menyampaikan kata-kata terakhir.
“Hari
ini, takdir menggiring seorang Nila ke hadapan kalian, dengan atau tanpa persetujuanku.
Sama seperti takdir menyeret seorang Nila dalam kegelapan tanpa ampun. Hari ini,
aku, Nila, berdiri di sini, sebagai simbol perjuangan wanita. Bahwa hidup kita tidak
harus tunduk di bawah kaki pria. Bahwa aku, Nila yang kecil dan terlihat rapuh,
telah menghabisi suamiku karena apa yang kalian semua tahu telah ia perbuat. Yang
aku tahu, aku memang tahu. Bahwa apa yang aku lakukan tidak dapat dibenarkan
secara hukum. Tapi hukum siapa yang membiarkan seorang Nila mengalami semua ini
? Keadilan yang menempatkan seorang Nila menjadi tersangka. Keadilan yang pada
akhirnya akan membungkam mulut seorang Nila. Keadilan yang itu… tak akan menghentikan
Nila-Nila lain di luar sana untuk berbuat yang sama seperti Nila yang berdiri
di depan kalian. Jangan biarkan Nila-Nila di luar sana harus mengalami apa yang
aku alami. Membiarkan, lebih keji dari perbuatan-perbuatan suamiku.”
Air mata
terakhir Nila menitik. Ia turun dari mimbar. Langkah kakinya diiringi sorak riuh usai keheningan panjang yang menyelimuti seluruh saksi
yang hadir. Tak lama setelahnya, takdir menuntaskan kerjanya. Tiga tembakan diletuskan, salah satunya mengakhiri hidup Nila. Tapi, kata-kata terakhirnya
menjadi gelombang raksasa yang membangunkan Nila-Nila lain di luar sana.
“Karena
membiarkan, sama saja dengan membenarkan.”
Rabu, 10 April 2019
In My Dreams ~Papillon
Pertama kali bertemu dengannya, gadis itu tengah berjalan dalam kegelapan yang mengelilingi antara aku dengan dirinya. Hanya sebuah lentera mungil dalam tangannya yang menjadi penerang. Dia adalah manusia pertama yang aku temui setelah kegelapan yang panjang. Aku tak mengerti tempat apa ini, begitu gelap dan dingin. Begitu sunyi hingga detak jantungku pun tak terdengar. Aku sempat berpikir apakah aku ini masih hidup ? atau mungkin aku secara tak sadar telah mati ? Semua pertanyaan-pertanyaan itu dan berbagai pertanyaan tak penting terus aku putar dalam kepalaku, menghalau rasa takutku. Tentu saja aku takut karena sekelilingku begitu gelap hingga ujung kaki pun aku tak bisa melihatnya. Yang jelas, aku masih bernapas. Aku merasakan hembusannya di wajahku setiap kali aku melangkah maju. Aku berteriak memanggil dan menyapa berharap akan ada yang mendengar. Nihil... Entah berapa lama, hingga muncul secercah cahaya temaram dari kejauhan. Ya, cahaya dari lentera di tangan gadis itu. Gadis aneh yang mengenakan topeng binatang dengan lentera seperti akar tanaman dengan kupu-kupu bercahaya sebagai sumber penerangan. Gadis itu mengaku bernama Naisha. Kulitnya putih pucat, dengan rambut keperakan jika dilihat dari temaram lampu. Aku tak bisa memastikannya. Matanya terlihat berwarna biru kehijauan ketika ia mengangkat lenteranya untuk melihat wajahku lebih jelas. Naisha bertanya bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini. Aku pun bingung. Tadi aku sedang rebah di ranjang, tubuhku terasa panas dan aku ingat sepertinya berkeringat banyak sekali. Tak lama kemudian aku tertidur. ketika aku membuka mata, ternyata aku telah berdiri dalam kegelapan. Aku ketakutan dan berteriak tapi tidak ada yang mendengar. Setelah itu aku berlari entah berapa lamanya, hingga akhirnya aku menyerah dan melanjutkan dengan berjalan karena aku bahkan tidak tahu melangkah kemana.
Gadis itu tersenyum padaku, ia berkata tenang saja karena belum waktunya aku berada di sini. Ia berjanji akan mengantar aku pulang. Entah kenapa saat itu aku percaya begitu saja. Naisha bertanya banyak hal tentang duniaku. Aku bingung, apa maksudnya. Tapi aku menceritakan keseharianku, dan dia terlihat sangat senang. Sesekali ia berbalik dengan mata berkaca-kaca seolah apa yang aku ceritakan adalah sesuatu yang mengagumkan padahal aku hanya menceritakan tentang perjalanan wisata ke kebun binatang. Naisha sepertinya begitu asing dengan dunia. Setiap kali aku bertanya tentang dirinya, Naisha selalu mengelak. Dia menuntut aku menceritakan lebih banyak lagi tentang diriku, sambil kami terus berjalan. Aku merasa jalur kami semakin lama semakin sulit. Tadi aku tidak merasakan ada kerikil yang menghalangi. Sekarang, aku sadar di sekeliling kami dipenuhi rumput dan semakin ke depan seperti memasuki hutan. Hingga paling parahnya, kami menyeberangi sungai yang tidak terdengar suara airnya padahal aku merasakan ada arus setinggi pahaku. Aku begitu takut kalau ternyata kami akan jatuh terperosok semakin dalam dan lenyap ditelan aliran sungai. Tapi Naisha meyakinkanku bahwa ia tahu betul daerah ini. Aku pun berusaha tidak menghiraukan rasa takutku karena gengsi pada keberanian gadis pemberani di hadapanku.
Setibanya di seberang sungai, aku melihat ada pendar cahaya lain dari kejauhan. Asalnya dari belakang kami, dari seberang sungai. Semakin lama semakin mendekat. Naisha menarik tanganku dan menyuruh aku untuk berlari. Ia terlihat begitu panik. Naisha bilang, itu adalah kupu-kupu kematian. Jika sampai tersentuh, aku tak akan pernah bisa kembali. Aku mulai panik dan berlari lebih kencang lagi.
Aku tidak tahu berapa lama kami berlari, yang pasti sangat lama. Aku kelelahan dan berhenti untuk menarik napas. Naisha bilang, kami sedang berada di alam bawah sadar. Dunia antara mimpi dan kenyataan. Bisa jadi lebih dalam daripada mimpi, hingga jarak yang tidak bisa ditentukan. Aku harus segera kembali ke dunia nyata sebelum 'penangkap mimpi' berwujud kupu-kupu hitam yang tadi disebut Naisha sebagai kupu-kupu kematian itu menyentuhku. Aku mulai bertanya-tanya siapa sebenarnya Naisha. Kenapa dia bisa tahu begitu banyak tentang dunia ini. Apakah dia adalah malaikat pelindungku ? dia hanya tersenyum. Kami melanjutkan perjalanan tak lama kemudian. Naisha bertanya apakah aku membawa sesuatu ke dunia ini ketika aku tidur ? aku tidak mengerti apa maksudnya. Kalau yang dia maksud adalah benda terakhir yang aku pegang ketika tidur, tentu saja selimut kesayanganku. Ia kemudian bertanya di mana kira-kira benda itu sekarang. Aku bingung. Naisha kemudian mengajarkanku bagaimana cara menemukannya. Bayangkan benda itu sambil tutup mata. Saat aku menutup mata dan membayangkannya dalam keadaan mata tertutup aku melihat bintang jatuh. Ya, di situ tempat keberadaan jalan pulang, kata Naisha. Kami pun bergegas ke arah yang terlihat olehku dalam keadaan mata tertutup. Naisha yang memandu langkahku. Saat tiba di sana, aku senang sekali. Akhirnya aku bisa keluar dari dunia ini, walau aku sedih karena Naisha tak bisa ikut. Sebagai hadiah perpisahan, ia memberiku lenteranya. Tak hanya itu, ia juga memberiku topengnya. Aku sempat terkagum sejenak melihat wajah dibalik topeng itu, ternyata Naisha gadis yang cantik dan senyumnya sangat manis. Setelah itu, Naisha kemudian mengambil selimutku dan menunjukkan bagaimana cara menggunakannya untuk pulang. Tunggu dulu... Naisha... Kenapa Naisha tiba-tiba menghilang ?
Aku ketakutan dan terus memanggil-manggil namanya. Tidak, tak mungkin... Apakah Naisha telah menipuku ? Apakah aku terjebak di dunia ini menggantikannya ? Jangan-jangan Naisha adalah pemimpi yang terjebak di sini. Tidak, aku tak mau selamanya berada di tempat ini. Bagaimana aku bisa bertahan sendirian dari kejaran kupu-kupu kematian ? Lalu bagaimana dengan diriku di dunia nyata ? Aku menangis sejadi-jadinya... tapi tidak ada yang mendengarku. Tunggu dulu, sepertinya aku mendengar suara. Ada manusia lain... Mungkinkah ?
Kamis, 04 April 2019
Senin, 28 Januari 2019
Peron
Denting gelas beradu manja
Sekian detik kemesraan yang ingin dipertahankan lebih lama
Agar sekiranya peristiwa ini boleh dikenang dalam durasi panjang
Percakapan kita melaju terlalu cepat
Perpisahan, datangnya selalu terlampau awal
Sesak...
Dua bibir yang mengatup rapat
Menolak ucapkan kata pisah
Kita adalah sepasang manusia yang berharap waktu berhenti melangkah
Dua pasang mata yang membendung asa
Dua hati yang ingin tetap bersama
Hingga panggilan itu memaksa pisahkan mereka
Karena kereta tak berhenti lama
Sekian detik kemesraan yang ingin dipertahankan lebih lama
Agar sekiranya peristiwa ini boleh dikenang dalam durasi panjang
Percakapan kita melaju terlalu cepat
Perpisahan, datangnya selalu terlampau awal
Sesak...
Dua bibir yang mengatup rapat
Menolak ucapkan kata pisah
Kita adalah sepasang manusia yang berharap waktu berhenti melangkah
Dua pasang mata yang membendung asa
Dua hati yang ingin tetap bersama
Hingga panggilan itu memaksa pisahkan mereka
Karena kereta tak berhenti lama
Langganan:
Postingan (Atom)

