Senin, 27 Oktober 2008

Wandering Star

Jika aku adalah bintang
berkelana di angkasa
jutaan bintang lainnya dimana ?
satu langkah seribu cahaya
setiap jejak kutelusuri tanpa makna

Jika aku bintang pengelana
apa yang membuatku melangkah
sepi di dada
atau hampa di jiwa ?
aku mencari temanku berkelana
aku mencari cintaku di sana
aku bintang
yang sedang berkelana

Kamis, 04 September 2008

Hijau Yang Matang

Malam ini Tuhan datang padaku.
Aku pun mulai bercerita.

Tuhan... dalam perjalanan hidupku ini,begitu banyak macam manusia sudah

kutemui, begitu banyak cerita derita dan asmara dan bahagia kulalui dalam

usiaku yang tak seberapa. Tapi, setiap kali pulang pada mama, aku ini masih

hijau. Tak pernah mereka anggap aku ini sanggup berpijak pada kaki-ku

sendiri. Masih seperti bayi 22 tahun lalu yang hanya boleh keluar rumah

dalam naungan tangan orang tua. Betapa aku terkekang terpenjara dan

teraniaya dalam sangkar emas diawasi 24 jam.

Aku bosan, aku mau bebas. Sampai kapan sayap ini terhalang jeruji keras ?

Aku muak, Tuhan... muak dengan semua nasehat yang aku dengar 22 tahun

lamanya, berulang-ulang tanpa henti seperti mantra yang mengutuk dalam

nadi-ku. Betapa aku ingin sendiri dalam ruang-ku seperti yang aku lakukan

sejak 10 tahun silam Tuhan, mengurung diri dalam kamarku dengan musik

keras dan coretan di atas kertas, aku tuang semua hitam dalam batinku

pada sebentuk objek imajinasiku Tuhan, semua itu tetap tak mampu

membuatku lega. Aku butuh sebuah pengakuan...

Betapa mereka telah buta oleh norma kolot yang mengikat mereka dalam

dunia sempit yang terisolasi dari pengakuan zaman. Betapa mereka lupa

bahwa anaknya telah tumbuh dewasa. Tapi aku tak menyerah Tuhan, hingga

detik ini aku mencoba menjadi orang yang lebih bijak dalam bertindak,

walau sering aku jatuh dalam lubang cobaan yang Kau beri, aku tetap tegar

berdiri kembali. Semua ini aku simpan sendiri Tuhan... 22 tahun lamanya

aku menjadi kotak pandora bagi hidupku, menyimpan suka dan duka yang

baik dan yang buruk. Aku tak lagi percaya pada mereka yang melahirkan

dan mengasuhku, aku berdosa Tuhan... aku berdosa...

Malam ini aku berlutut Tuhan... seumur hidupku ini pertamaku berlutut atas

kehendakku sendiri. Tuhan... bukakan mata mereka, bahwa apa yang

mereka anggap benar belum tentu benar. Beri mereka kebijakan... bahwa

apa yang anak mereka lakukan belum tentu salah. Bahwa kami anak-anak

mereka telah menjadi dewasa... dan kami bukan lagi sehijau yang mereka

kira, bukan lagi bayi mereka tapi telah menjadi anak dewasa mereka.

Bahwa hijau dalam diri kami telah matang, Tuhan. Warna kami adalah hijau

yang matang.

Amien...

Jumat, 15 Agustus 2008

Stray Cat

Sinis sorot mata mengerling
langkah anggun bagai melayang
liuk tubuh menebar pesona
senyum licik melengkapinya

Kucing liar
penuh dendam

Terbuang dari kehidupan
bertualang di jalanan
berteman dengan maut
mencari jati diri

Menjadi dosa yang tak diingini
hanya bisa menyalahi diri
membalas angkuh dunia dengan kejamnya
tak henti mencari cinta yang entah dimana

Kucing liar
penuh dendam

Terlahir tanpa merasakan cinta
selalu sepi dan sendiri
tak percaya pada manusia
mencoba bertahan hidup dari kejamnya dunia

Burung Gereja

Di reruntuhan ini aku berpijak
dengan kaki lemahku yang hampir lumpuh oleh cedera
dan sayapku yang basah oleh hujan

dingin subuh seakan membenarkan kekejaman dunia
walau aku dalam hatiku terus mengulang
bahwa dunia tak lebih kejam dari penghuninya

mataku terpejam penuh sesal
tangisku tak lagi didengar
gempita suka cita ditelan pahitnya kebisuan

kicauku enggan terdengar
aku dan sekelilingku seakan beku membatu
dan jiwaku terkurung didalam

walau tak lama hangat surya menyusul
percuma
ku tahu bumi tak lagi hidup

hanya waktu menunggu kapan tiba
hari dimana jiwa ini bebas
terbang sebagai ganti ku

mengitari langit diatas sana
mengicaukan bahagiaku yang tak terkira
terbang tinggi sebagai burung gereja

Bumi

Ketika kau melihat pada langit
seperti apa warnanya

apakah biru seperti beku
apakah putih selembut kapas
apakah ia merah sepekat darah

Ketika kau menatap lautan
apa yang kau rasakan

apakah tenang dan damai
apakah takut seakan tenggelam
apakah bersatu dengan alam

Jasad ini terus mendamba
suatu waktu nanti
kembali bersatu dengan alam

merasakan hebatnya deburan ombak
kuatnya hembusan angin
dan gunung perkasa tak tergoyahkan

kita manusia begitu angkuh
lupa tempat kita bepijak
mungkin lupa juga darimana ia hidup

Ketika kau menghirup udara
apa yang kau pikirkan

Apakah hutan yang menghilang
Apakah ozon yang menipis
Apakah akhir dunia

Bumi ini menjerit
tak mampu lagi melindungimu
tak mampu lagi bertahan karena ulahmu

Ego

Di atas putih si hitam menggores
Satu aliran selayak sungai berkilau
Mengisahkan kesedihan empunya diri
Hatinya busuk mengharap kematian

Empunya berhati tak kalah hitam
Pekat dan dalam tersembunyi diam
Bunyinya teredam bumi nan gersang
Tak ada nyawa di sana

Sesungguhnya putih adalah jasadnya
Bersih tak bernoda, berkilau bak mutiara
Hitam adalah jiwanya
Menuliskan sejarah empunya

Penat

Ada bisikan di otak ketika kutatap bulan menjulang tinggi di sana
"Apa yang kau lihat ? sendiri dan beku terdiam di atap."
Dingin di sini aku sendiri,
bersama asap rokok dan segelas teh hangat mengepul
menyulam memori yang lampau menjadi satu helaian panjang
yang aku sendiri tak tahu untuk apa itu nantinya.
Perjalanan panjang yang belum terlihat ujungnya
masih membentang di depan tak terlihat kasat mata.
Apalah artinya aku disini.... tak kuhirau bisikan di otak itu.
Teringat aku betapa mudah nyawa ini hilang ketika melihat ke bawah.
Andai aku loncat sekarang... perjalanan ini akan berakhir,
akan seperti apa jalan di depanku itu.
Akankah seperti kudirikan tenda untuk rehat,
ataukah akan berakhir seperti rusa mati di jalan raya.
Lelah, jujur aku ingin berhenti di sini...
Aku tak tahu siapa diri ini... Tak tahu apa mau ku...
Signal yang hilang di rimba, mungkin itulah aku.
Terperangkap di jasad ini walau sesungguhnya jiwaku
terbang bebas di angkasa sana, menunggu kapan jasad ini
menyusul ke atas.
Apa ku sanggup ?
Hati ini tak tahan memikul sepi tanpa jiwa.
Jasad ini lemah tanpa jiwa.

Kuhabiskan sisa rokok dan teh di cangkirku.
Sesak dan perih mataku melihat ke bawah.
Setitik air mata jatuh membayangkan kematian di depan mata.
Ketika tiba waktuku, kumau tak seorangpun menangis untukku.
Aku pergi menyusul jiwaku...
Tinggi, bebas di angkasa.
Jiwaku
menunggu keberanianku...
Kebebasanku...