Halo Diary kecil
Hari ini aku datang padamu
Memang aku bukan teman baik bagimu
Aku datang bila perlu
Tapi kau harus mengerti
Padat waktuku lebih penting dari goresan tanganku
Maklum saja bila kita jarang bersentuhan
Walau kusayang, kau bukan nomor satu di hidupku
Dan kau pun tahu
Kau hanyalah Diary kecilku
Wajib bagimu untuk pasrah setiap ku meraba
Menyentuh setiap halaman tubuhmu
Menggoresnya dengan pena
Berbagi rasa sakit denganmu
Walau kau belum tentu mau
Diary kecilku
Aku tak sempat menulis banyak sekali ini
Waktu memburuku tanpa perduli
Hatiku tergilas hampir mati
Tapi sebelum aku hangus menjadi abu
Kusempatkan mengajakmu
Diary kecilku
Jadilah pendampingku
Saat aku jatuh dalam kubangan api
Terbakarlah disampingku
Ceritakan kembali semua kisahku
Di akhirat nanti
"Diary kecil terbakar dalam pelukku, hangatnya melindungiku dari panas api di sekelilingku.
Diary terbakar bersamaku."
Sedikit tumpahan jiwa dalam bentuk kata-kata yang mengungkap sejengkal sejarah hidup dan isi hati penulis selama ajal belum (sempat) menjemput.
Minggu, 04 Oktober 2009
Rabu, 23 September 2009
Dendam
Rabu, 16 September 2009
Hug
Pagi ini terbangun bersimbah keringat. Puanas tenan... baru kemarin dengar di radio tentang matahari yang tengah mendekati khatulistiwa. Jadi kita yang di Indonesia udah pasti kena imbasnya. AC di kamar serasa gak berfungsi (atau emang udah saatnya dibersihin). Bangun jam 3 dan gak bisa tidur lagi sampai sekarang, pukul 06.06 sedang asyik menulis beberapa kalimat penghalau penat. Siapa tau cape ketik2 masih sempat tidur satu jam sebelum mata dipaksa melek, siap-siap mau ke kantor buat kerja praktek.
Keseharian memang membosankan. Tak ada alasan untuk tidak mengulang. Berapa kali aku katakan juga tetap percuma. Lagi dan lagi semua terus berlari mengejar dan menerjang waktu mencari entah apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bedanya, aku bukan orang yang akan terus berlari walau nafas tersengal. Aku lebih menikmati hidupku dengan cara sendiri. Memandang lalat seharian pun kujabani, selama pemandangan itu kuanggap pantas dimengerti. Seperti orang gila karena aku beda dengan mereka yang menatap. Tapi aku bangga karena bisa menikmati hidup. Bukan seperti mereka yang terus berlari mengejar waktu.
Jeleknya adalah aku terus diingatkan bahwa waktu adalah uang dan uang adalah tiket untuk bertahan hidup. Waktu untuk menikmati hidup pun disunat sampai tinggal sejengkal. Apa ini masih bisa disebut hidup ?
Andai aku lahir di zaman purba saat manusia hanya perlu mengisi perut dengan buah, tinggal petik saja. Lalu menikmati hidup dengan mempelajari alam. Memandangi apel jatuh ala Newton, Tapi zaman sudah berubah. Manusia semakin susah cari makan. Harus relakan sebagian besar waktu untuk mencari uang. Tentu... tanpa itu manusia gak bisa hidup senang. Mau jadi manusia purba sama dengan menjadi gembel jalanan. Menjadi seniman gak harus gembel. Tapi manusia yang mau hidup di dunia maya, mungkin harus merelakan kehidupan di dunia nyata.
Tulisan tak penting ini dibuat bukan untuk alasan apa. Tertulis jelas di depan sana, Blog ini berisi suara hati empunya. Kadang nyaring terdengar, kadang juga gemerisik seperti radio rusak. Paham atau tidak tergantung bagaimana kalian menyusunnya. Puzzle kata-kata yang sebenarnya cukup mudah dimengerti, asal kalian tidak berpikir dengan logika matematis. Apalagi kalau diterjemahkan dengan bahasa program. Jelas berbeda... :)
Aku butuh pelukan. Pelukan hangat untuk hati yang muram. Aku bosan di pinggir jalan, memandang ke depan hanya manusia berjalan tanpa tujuan. Mukanya juga suram-muram. Aku tak mendengar detak jantung mereka. Semua seperti mesin pembunuh yang berburu uang.
Keseharian memang membosankan. Tak ada alasan untuk tidak mengulang. Berapa kali aku katakan juga tetap percuma. Lagi dan lagi semua terus berlari mengejar dan menerjang waktu mencari entah apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bedanya, aku bukan orang yang akan terus berlari walau nafas tersengal. Aku lebih menikmati hidupku dengan cara sendiri. Memandang lalat seharian pun kujabani, selama pemandangan itu kuanggap pantas dimengerti. Seperti orang gila karena aku beda dengan mereka yang menatap. Tapi aku bangga karena bisa menikmati hidup. Bukan seperti mereka yang terus berlari mengejar waktu.
Jeleknya adalah aku terus diingatkan bahwa waktu adalah uang dan uang adalah tiket untuk bertahan hidup. Waktu untuk menikmati hidup pun disunat sampai tinggal sejengkal. Apa ini masih bisa disebut hidup ?
Andai aku lahir di zaman purba saat manusia hanya perlu mengisi perut dengan buah, tinggal petik saja. Lalu menikmati hidup dengan mempelajari alam. Memandangi apel jatuh ala Newton, Tapi zaman sudah berubah. Manusia semakin susah cari makan. Harus relakan sebagian besar waktu untuk mencari uang. Tentu... tanpa itu manusia gak bisa hidup senang. Mau jadi manusia purba sama dengan menjadi gembel jalanan. Menjadi seniman gak harus gembel. Tapi manusia yang mau hidup di dunia maya, mungkin harus merelakan kehidupan di dunia nyata.
Tulisan tak penting ini dibuat bukan untuk alasan apa. Tertulis jelas di depan sana, Blog ini berisi suara hati empunya. Kadang nyaring terdengar, kadang juga gemerisik seperti radio rusak. Paham atau tidak tergantung bagaimana kalian menyusunnya. Puzzle kata-kata yang sebenarnya cukup mudah dimengerti, asal kalian tidak berpikir dengan logika matematis. Apalagi kalau diterjemahkan dengan bahasa program. Jelas berbeda... :)
Aku butuh pelukan. Pelukan hangat untuk hati yang muram. Aku bosan di pinggir jalan, memandang ke depan hanya manusia berjalan tanpa tujuan. Mukanya juga suram-muram. Aku tak mendengar detak jantung mereka. Semua seperti mesin pembunuh yang berburu uang.
Kamis, 10 September 2009
Tembang Para Wanita
Sebulat tekad hati ingin memiliki
Satu cinta yang benar-benar nyata
Tak lagi dipermainkan oleh nasib
Terlahir sebagai wanita
Selalu teraniaya
Disakiti aku tak mampu melawan
Dikhianati aku pun tak berdaya
Nasib terlahir sebagai wanita
Terlalu mudah diperdaya
Tapi ku terima
Bilangan kalender usang dekat jendela
Terus berganti seiring hari
Lewati masa sedihku sendiri
Berdendang melodi sepi gambaran diri
Tembang para wanita yang disakiti
Dan hati ini kadang terlalu pedih
Tak lagi takut hidup diakhiri
Tegar aku berdiri sendiri
Di ujung karang melawan badai emosi
Yakin menunggu datangnya pelangi
Walau ku tak tahu kapan yang pasti
Bilangan kalender usang dekat jendela
Terus berganti seiring hari
Lewati masa sedihku sendiri
Berdendang melodi sepi ciptaan sendiri
Tembang para wanita yang disakiti
Bilangan kalender usang dekat jendela
Masih berganti tanpa permisi
Melintasi orbit mimpi yang sunyi
Diiringi melodi sepi gambaran diri
Tentang wanita yang disakiti
Berdendang melodi sepi ciptaan sendiri
Tembang para wanita yang tersakiti
Satu cinta yang benar-benar nyata
Tak lagi dipermainkan oleh nasib
Terlahir sebagai wanita
Selalu teraniaya
Disakiti aku tak mampu melawan
Dikhianati aku pun tak berdaya
Nasib terlahir sebagai wanita
Terlalu mudah diperdaya
Tapi ku terima
Bilangan kalender usang dekat jendela
Terus berganti seiring hari
Lewati masa sedihku sendiri
Berdendang melodi sepi gambaran diri
Tembang para wanita yang disakiti
Dan hati ini kadang terlalu pedih
Tak lagi takut hidup diakhiri
Tegar aku berdiri sendiri
Di ujung karang melawan badai emosi
Yakin menunggu datangnya pelangi
Walau ku tak tahu kapan yang pasti
Bilangan kalender usang dekat jendela
Terus berganti seiring hari
Lewati masa sedihku sendiri
Berdendang melodi sepi ciptaan sendiri
Tembang para wanita yang disakiti
Bilangan kalender usang dekat jendela
Masih berganti tanpa permisi
Melintasi orbit mimpi yang sunyi
Diiringi melodi sepi gambaran diri
Tentang wanita yang disakiti
Berdendang melodi sepi ciptaan sendiri
Tembang para wanita yang tersakiti
Kamis, 16 Juli 2009
Jalang
Sebelah mataku buram
Memandangmu tak lagi sejelas dahulu
Bercak di leher kukira bekas jerawat
Jejak lipstik pun terlewat dari awasku
Ku diam kau boleh senang
Pergi pun aku tak melarang
Ku biar kau bersenang-senang
Dengan pelacur sepanjang jalan
Tapi tunggu sampai kau puas
Baru ku sampaikan
Bahwa kita tak lagi berdua
Kau sudah bukan yang kucinta
Kau diam aku pun tenang
Kemasi barang dan siap pulang
Kau kesal aku tetap jalan
Dengan cerita baru yang lapang
Tanpamu kekasihku yang jalang
Tanpa koleksi pelacurmu yang garang
Karena aku tak butuh cerita bohongmu
Kau bilang cinta pun percuma
Ku diam kau boleh senang
Pergi pun aku tak melarang
Ku biar kau bersenang-senang
Dengan pelacur sepanjang jalan
Tapi tunggu sampai kau puas
Baru ku sampaikan
Bahwa kita tak lagi berdua
Kau sudah bukan yang kucinta
Kembali saja kau bersama yang jalang
Kembali kemana kau mestinya berkawan
Memandangmu tak lagi sejelas dahulu
Bercak di leher kukira bekas jerawat
Jejak lipstik pun terlewat dari awasku
Ku diam kau boleh senang
Pergi pun aku tak melarang
Ku biar kau bersenang-senang
Dengan pelacur sepanjang jalan
Tapi tunggu sampai kau puas
Baru ku sampaikan
Bahwa kita tak lagi berdua
Kau sudah bukan yang kucinta
Kau diam aku pun tenang
Kemasi barang dan siap pulang
Kau kesal aku tetap jalan
Dengan cerita baru yang lapang
Tanpamu kekasihku yang jalang
Tanpa koleksi pelacurmu yang garang
Karena aku tak butuh cerita bohongmu
Kau bilang cinta pun percuma
Ku diam kau boleh senang
Pergi pun aku tak melarang
Ku biar kau bersenang-senang
Dengan pelacur sepanjang jalan
Tapi tunggu sampai kau puas
Baru ku sampaikan
Bahwa kita tak lagi berdua
Kau sudah bukan yang kucinta
Kembali saja kau bersama yang jalang
Kembali kemana kau mestinya berkawan
Senin, 13 Juli 2009
Listen to me now
Kita bersama cukup lama
Walau kutahu kau sudah lupa
Tepatnya kapan kita jumpa
Kau kekasihku dan aku suka
Kuterima apa yang kau minta
Dan kita pun terus bersama
Hingga kau berbagi cinta
Dear listen to me now
I'm ready to say it now
I'm no more your little bitch
Not a slave in your cheap motel
I'm ready to kick your ass
Dan kini kau bersamanya
Berbagi malam telanjang berdua
Tapi tak mengapa
Hatiku tak lagi luka
Kini kutemukan dirinya
Yang jauh lebih baik dan berharga
Dear... kau dengar aku sekarang
Ku bukan pelacurmu lagi
Bukan pelacurmu lagi dear
Karena kini ku bahagia
Dear listen to me now
I'm ready to say it now
I'm no more your little bitch
Not a slave in your cheap bed
I'm ready to kick your ass
Malam ini kami pergi berpesta
Pulangnya ke hotel mewah
Tak seperti kau bajingan hina
Bercinta di motel murah
Dear kau dengar aku sekarang
Kaulah pelacur hina
Yang pernah kuajak bercinta
Dear kau pelacur hina
Yang tak lagi kucinta. . .
Walau kutahu kau sudah lupa
Tepatnya kapan kita jumpa
Kau kekasihku dan aku suka
Kuterima apa yang kau minta
Dan kita pun terus bersama
Hingga kau berbagi cinta
Dear listen to me now
I'm ready to say it now
I'm no more your little bitch
Not a slave in your cheap motel
I'm ready to kick your ass
Dan kini kau bersamanya
Berbagi malam telanjang berdua
Tapi tak mengapa
Hatiku tak lagi luka
Kini kutemukan dirinya
Yang jauh lebih baik dan berharga
Dear... kau dengar aku sekarang
Ku bukan pelacurmu lagi
Bukan pelacurmu lagi dear
Karena kini ku bahagia
Dear listen to me now
I'm ready to say it now
I'm no more your little bitch
Not a slave in your cheap bed
I'm ready to kick your ass
Malam ini kami pergi berpesta
Pulangnya ke hotel mewah
Tak seperti kau bajingan hina
Bercinta di motel murah
Dear kau dengar aku sekarang
Kaulah pelacur hina
Yang pernah kuajak bercinta
Dear kau pelacur hina
Yang tak lagi kucinta. . .
Sabtu, 11 Juli 2009
Hati dan Pasangannya
Apa yang dilakukan hati tanpa belahannya
hanya bisa menunggu kapan berjumpa
berpura-pura gembira dalam kesepian
kadang tertawa walau sesungguhnya ia gundah
Apa yang dilakukan belahan hatinya
mungkin sedang mencari cara pulang
atau terjebak rayuan sepanjang jalan
mungkin juga sudah milik hati lainnya
Apa yang dilakukan hati yang bersama
mensyukuri perjumpaan mereka
menikmati waktu bersama-sama
saling melengkapi kekurangannya
hanya bisa menunggu kapan berjumpa
berpura-pura gembira dalam kesepian
kadang tertawa walau sesungguhnya ia gundah
Apa yang dilakukan belahan hatinya
mungkin sedang mencari cara pulang
atau terjebak rayuan sepanjang jalan
mungkin juga sudah milik hati lainnya
Apa yang dilakukan hati yang bersama
mensyukuri perjumpaan mereka
menikmati waktu bersama-sama
saling melengkapi kekurangannya
Langganan:
Postingan (Atom)
