Sabtu, 27 Maret 2010

Orbit

Asik memperhatikan bintang, tiba-tiba aku terhisap ke dalam imajinasi tak ku kenal. Aku adalah pecahan bintang yang tengah beredar. Mencari lintasan yang tepat untukku bersandar. Dalam perjalanan aku bertemu benda langit lainnya. Aku bertemu pesawat ruang angkasa dan teman-teman alien aneka rupa. Sempat juga aku bicara dengan mereka. Ternyata ruang hampa ini begitu sarat benda-benda tak punya nyawa tapi ingin bicara. Buktinya aku lama bicara dengan mereka satu per satu. Ada pecahan bintang lainnya yang bercerita bagaimana ia tercecer dari supernova, induk yang melahirkannya ke dunia. Kasihan temanku ini, yang begitu kesepian hingga lupa berapa lama ia bertualang di angkasa sendirian. Tapi pelan-pelan ia mulai terbiasa. Aku berharap tak akan melayang terlalu lama sampai aku menemukan lintasanku. Lalu ada mayat astronot yang terlempar dari kapalnya. Cuma berbentuk tengkorak kering dalam baju tugasnya. Ceritanya menyedihkan sekali, dia adalah pilot dari Amerika. Setiap saat ia merindukan kekasihnya di bumi, tempat tinggalnya yang sekarang seperti surga. Jauh dari jangkauannya. Pasti sedih sekali sendirian di ruang angkasa. Bahkan jiwanya pun meninggalkannya di sini. Aku masih bersyukur jasadku tertinggal di bumi, bisa kupakai kembali setelah petualangan ini selesai. Setelah mayat astronot itu, aku bertemu alien dari planet antahberantah. Temanku si alien ini sedang mencari hunian baru. Planetnya sekarang dan hampir menjadi supernova. Tak mungkin lagi ditinggali dengan alasan apapun. Jadi ingat zaman penjajahan dulu, saat manusia saling berebut tempat tinggal dengan kekerasan. Bedanya, Alien ini diusir oleh planetnya sendiri. Aku melihat ada istri dan anak-anaknya di dalam kapal. Ternyata alien lebih bersahabat dari yang kita kira selama ini. Sayangnya aku lupa memberitahunya bahwa masih ada planet bernama bumi yang mau menerima makhluk sebaik mereka. Tak tahu juga, jangan-jangan mereka malah celaka dijahili manusia. Lebih baik mereka pergi kemana nasib membawanya. Dan aku masih terus melesat tak jelas arahnya. Di sini semua serba gelap dengan bintik-bintik terang yang kita sebut bintang. Tak ada sumber cahaya apapun selain itu di sekitarku. Seluruh sudut terlihat seperti langit malam, dan aku melayang tepat di tengah-tengahnya, terus melesat kedepan. Aku jadi memikirkan kecoak-kecoak di kamarku. Kawanan yang lama menjadi temanku bermain. Saat mereka muncul aku akan berusaha menangkap lalu melempar mereka keluar. Kejam memang, tapi aku tahu mereka menikmatinya. Buktinya, mereka tak pernah berhenti bermain denganku.

Di depan sana ada bongkahan bulat yang semakin mendekat. Lebih tepatnya akulah yang mendekat. Kukira planet ini adalah lintasan tempatku beredar. Ternyata bukan. Aku hanya diijinkan lewat menyapa makhluk-makhluk di dalamnya. Aku melihat ada laut indah seperti di bumi, lengkap dengan makhluk seperti ikan di planet kita. Warnanya lebih cerah, tapi bentuknya kurang indah. Mungkin mataku saja yang terbiasa dengan makhluk di sekitar kita. Bisa jadi makhluk-makhluk di planet itu ngeri saat berkunjung ke bumi. Kita lah yang dianggap aneh oleh mereka. Saat kita mempelajari lebih dekat, baru kita sadar bahwa ada cara berpikir lain diluar kebiasaan kita. Apa yang kita anggap aneh mungkin saja berpikiran sama dengan kita. Dengan keadaanku sekarang aku bahkan bisa mendengar kicauan makhluk cantik di dalam hutan planet itu. Alangkah indahnya. Aku suka berada dalam imajinasi ini. Aku merasa dekat sekali dengan alam. Sesuatu yang tak mungkin kudapat dari jasad manusiaku.

Sedih juga saat aku melesat semakin jauh dari planet itu. Planet bisu yang enggan bicara denganku. Setelah planet itu tak nampak lagi, aku mulai mendengar gemerincing indah dari kejauhan. Suara kerlap bintang yang dari tadi tak kudengar jelas. Mirip dengan bunyi giring-giring yang kugantung bersama kunci kamar. Tapi suara bintang jauh lebih indah. Seperti dentingan kaca. Aku hampir terlelap dibuatnya. Tiba-tiba ada sebutir kerikil entah dari mana menabrak dan mengubah arahku. Kerikil sialan, tapi aku tak bisa marah, kerikil itu tak punya mata. Atau mungkin dia sama denganku yang sedang menumpang imajinasi seseorang tanpa diundang. Entah, Alam punya terlalu banyak rahasia untuk dipelajari semua. Atau mungkin sebagian lebih baik dibiarkan tetap rahasia.

Semakin jauh aku melesat dan aku semakin dekat dengan planet yang kukenal. Aku segera pulang, pikirku. Awalnya aku senang, tapi perlahan ketakutan. Aku memasuki tubuh bumi dan aku sendiri menyala dalam api. Sakit sekali rasanya sampai aku menjerit. Seperti waktu aku kecil, jatuh di jalanan beraspal dan kulitku sobek terkelupas. Tapi bedanya, rasa sakitku sekarang bagai terseret terus-terusan di atas jalanan aspal itu, tanpa henti. Perih tapi tak bisa kuhentikan. Mataku hampir terpejam dibuatnya, lalu aku semakin dekat ke daratan. Ya Tuhan, aku akan menabrak jasadku yang sedang duduk termenung di depan meja dekat jendela. Aku berteriak menyadarkan jasadku tapi tak didengar, sampai akhirnya semua terlambat. Jasadku melihat padaku dengan dengan mata sembab seperti habis menangis. Lalu aku terbangun dari imajinasi ini dengan air mata menetes bercampur keringat. Sadar dari imajinasiku, aku segera melihat keluar jendela. Ternyata tak ada pecahan bintang yang akan menabrakku. Aku segera masuk ke dalam kamar dan meringkuk ketakutan, hingga akhirnya aku tak sadar dalam lelap.

Belum lama rasanya aku tidur dengan tenang, seluruh penghuni rumah terbangun dan berisik teriak histeris. Aku pun terpaksa bangun melihat keluar. Baru beberapa langkah dari pintu kamar sudah tercium bau hangus. Kukira kebakaran. ternyata tidak. Ada asteroid jatuh menembus jendela dan menembus meja tempatku tadi duduk, tembus sampai ke lantai bawah. Alih-alih takut aku justru mengintip ke bawah. Asteroid itu masih berbentuk. Mirip dengan asteroid dalam imajinasiku. Tapi badannya sudah tinggal setengah besarnya semula. Pasti ia sangat menderita oleh gesekan atmosfir bumi. Kasihan sekali dia harus merasakannya. Aku tadi menjadi dia, dan sekarang aku tahu apa yang dirasakannya. Saat semua orang sibuk telepon sana-sini, aku bergegas turun dan menyelamatkan pecahan asteroid yang malang itu. Dengan selimut yang kuambil dari kamar, kubalut batu angkasa itu dan membawanya kabur dengan sepeda motorku. Semakin jauh dari orang rumah yang pastinya mengira aku gila. Tapi aku terus melaju cepat membawa kawanku ini. Sampai akhirnya aku tiba di dekat pantai. Batu itu kuletakkan dekat tempatku bersandar duduk. Aku bicara padanya, menjelaskan imajinasiku tadi sebelum kedatangannya. Aku tahu ia mendengar. Setelah selesai bercerita, aku membawanya berjalan di jembatan yang ujungnya berada agak jauh ke tengah laut. Aku mengucapkan selamat tinggal dan melemparnya ke dalam laut. Kawanku akan lebih aman di sana, daripada menjadi korban kebiadaban manusia yang ingin tahu segalanya.

Pulang dari pantai, orang rumah terus bertanya kemana asteroid itu kubawa. Kujual, kataku berbohong. Mereka pun protes minta bagi jatah. Begitulah manusia, tak ada yang mau mengerti perasaan sekitarnya. Kalau saja mereka tahu bahwa benda mati pun ingin dimengerti. Kalau saja manusia lebih perhatian pada sekelilingnya. Asteroid yang kesepian itu, semoga saja bisa berkawan dengan alam barunya.

Melanjutkan tidur dan aku bertemu kawanku di dasar laut. Ia tak lagi kesepian. Sekarang ia berkawan dengan batu karang dan ikan-ikan. Aku ikut senang untuknya. Kami bercerita cukup lama sebelum akhirnya berpisah. Mungkin kami tak akan bertemu lagi, tapi aku memberi alamat mimpiku untuknya berkunjung kapanpun ia mau. Asteroid itu tak berhasil menemukan lintasan barunya, tapi ia berhasil lepas dari kesepian. Setidaknya ia tak harus sendirian seperti di angkasa luar.

Kamis, 25 Maret 2010

Terang yang Kupegang

Mia adalah gadis cantik terpelajar
Anak keluarga kaya dan terhormat
Mia cantik seperti malaikat
Berkilau tanpa cacat
Bintang fajar yang menjelma
Turun ke dunia
Mia temanku
Terang untukku

Terlalu banyak cerita menyedihkan yang muncul dari ketikan tanganku. Tak jarang pembaca protes minta ganti cerita. Tapi maaf saja, aku tak pandai menulis tentang bahagia. Mungkin cerita ini boleh beda. Tapi aku tak berani yakin juga.

Mia adalah gadis cantik anak pedagang kaya di kotaku. Anaknya sopan dan terpelajar. Kata-katanya santun bersahaja. Orang tua mana juga mendambakan mantu seperti dia. Mia memang gadis sempurna. Ayah Ibunya pasti bangga. Anaknya tak pernah membantah atau memerintah. Semua tugas dilakoninya. Guru-guru juga sayang padanya. Sudah SMA tapi tak bertingkah. Senior wanita hanya bisa menggunjing tanpa berani menyentuhnya. Tentu saja, mana ada yang berani melukai anak kesayangan guru. Bukan berarti Mia menjadi-jadi. Buktinya dia mau berkawan denganku. Anak sekelas yang selalu diam menyendiri. Tapi mia sangat baik. Memuji setiap karyaku. Aku suka sekali menggambar. Dan Mia terus menyalakan semangatku. Tapi aku cukup tahu diri bahwa itu bukan perhatian seorang kekasih. Aku menganggapnya kakak karena Mia jauh lebih dewasa. Bukan usia tapi sikapnya.

Di kelas kami duduk berdua. Tak jarang orang mengira kami pasangan. Tapi orang yang kenal pasti tahu tak mungkin demikian. Mia sebagai anak orang kaya sudah punya pasangan. Aku pernah bertemu pasangannya. Mia beruntung dijodohkan dengan anak laki-laki tampan dari keluarga kaya. Mereka serasi sekali berdua. Aku tak iri padanya, juga pasangannya. Seperti kubilang, aku cukup sadar diri. Dan aku bukan manusia yang suka melihat materi. Mia selalu bersinar untukku, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku anak seorang buruh. Ayahku galak dan suka mabuk. Ibuku penjudi handal di kampung. Lebih gawat lagi, aku anak satu-satunya. Mungkin saja yang diwariskan padaku nanti hanya surat hutang. Ibuku pernah didatangi tukang tagih. Tanpa beban aku pun dijadikan jaminan. Untungnya aku bukan manusia yang tampan. Di jual pun tak laku di pasaran. Akhirnya rumah yang dijadikan jaminan. Aku cukup beruntung masi bisa sekolah berkat uang bulanan dari Paman. Itu pun uangnya langsung dibayar ke sekolah. Paman tahu, uang itu tak akan selamat begitu sampai ke tangan Ibu. Apalagi kalau ada Ayah yang lagi mabuk. Bisa-bisa mereka saling membunuh demi uang tak banyak. Ibuku hebat bisa menyaingi keganasan Ayah. Tak sia-sia dia disebut wanita super. Ibu sangat mengerikan kalau marah. Ditambah bekas luka di pipi bekas kena parang Ayah. Walau jarang tapi kadang mereka mesra. Saat Ibu menang judi dan Ayah tak sedang kumat, mereka duduk di teras makan gorengan dan teh hangat. Kalau beruntung, Ibu akan memijatkan pundak Ayah. Tapi itu sangat jarang.

Hidupku yang kelam membuatku diam di sekolah. Aku tak berani melihat mereka yang hidupnya serba mewah. Kadang aku membayangkan mereka seperti boneka keramik yang akan pecah bila kusentuh, dan aku tak punya uang untuk menggantinya. Lebih baik aku menjauh dari mereka. Tapi Mia beda. Mia bercahaya dan tak seperti mereka. Mia bukan boneka keramik yang mudah pecah. Aku nyaman berada di dekatnya. Mia memang kakak yang kuidamkan selama ini. Untungnya Mia mau menerimaku menjadi adiknya di sekolah.

Pulang sekolah biasanya aku tak langsung ke rumah. Paman meminta Bibi siapkan makan siang untukku. Paman sangat baik padaku. Entah kenapa Ibu tak memiliki sedikitpun sifatnya. Andai paman mau membiarkanku tinggal bersamanya walau aku harus kerja di sana, lebih baik daripada menikmati pukulan Ayah dan makian Ibu. Tapi Paman juga tak berdaya. Ibu tak pernah merelakanku. Mungkin Ibu berpikir suatu hari nanti bila terpaksa, aku bisa dijual ke rumah jagal setelah gagal menjadikanku jaminan. Tak ada yang tahu isi pikiran penjudi yang butuh uang. Aku sebagai anak juga tak pernah tahu. Paman sebagai adik Ibu pun tak pernah tahu jalan pikiran Ibu.

Mia hari ini membawakanku bekal, berarti siang ini aku tak ke rumah Bibi. Atau mungkin aku akan mampir ke sana sekedar menghabiskan waktu daripada di rumah. Mia bercerita, tahun depan dia dan keluarganya akan pindah. Aku agak sedih mendengarnya, tapi nafsu makanku tak kemana-mana. Jarang aku bisa makan makanan mewah milik orang kaya. Pulangnya, aku menangis sejadi-jadinya dalam kamar sampai Ibu menyiramku dengan air comberan. Ibu kira aku kerasukan, berani-beraninya gaduh saat komplotan Ibu asik menghamburkan uang.

Enam tahun kemudian aku sudah dewasa. Sudah lulus kuliah dan kini bekerja. Pamanku memang luar biasa. Biaya kuliah semua ditanggungnya. Sekarang aku bisa jauh dari rumah. Kalau aku pulang kampung, selalu hinggap di rumah Paman. Sejak kuliah aku putus hubungan dengan orang rumah. Alasannya sibuk kuliah, tapi sebenarnya aku senang lepas dari mereka. Sedangkan Mia kini mengandung anak kedua. Aku pernah bertemu keluarganya saat di Jakarta. Mia si bintang senja, sampai sekarang tetap bercahaya. Terang yang pernah kupegang tanpa membakar. Teman sekaligus kakak yang akan kukenang.

Lucu juga mengenang masa kecil yang kelam. Kalau mau bilang kelam, sebenarnya ada bagian senang. Mungkin hidup memang demikian. Ada saatnya malam digantikan terang. Kalau aku masih berpikir dengan caraku sewaktu dulu, tentu aku tak akan sampai di titik sekarang. Hidup ini terus berjalan seperti bintang senja yang kadang temaram. Tapi bintang senja tetap di sana sampai terang meremang. Pada saatnya, cahaya itu akan kembali bersinar di antara malam yang kelam.

Tarik Nafas yang Dalam

"Menunduk diam bukan berarti mati. Selama masih terdengar nafasmu berdesis, kau bisa dibedakan dari zombie. Aku suka berdiri tengah malam menatap langit sambil mengisi rongga dadaku dengan oksigen segar. Tak ada yang lebih hebat selain alam. Oksigen tersedia bebas untuk semua makhluk di dunia. Aku pernah membaca bahwa oksigen di dunia sebenarnya tak kemana-mana. Hanya masuk ke rongga hidung satu makhluk, mengalir bersama darah dan keluar sebagai karbon dioksida. Selanjutnya dihisap pepohonan untuk diolah kembali menjadi oksigen. Jadi, dengan kata lain. Bisa saja oksigen dalam tubuh kita sekarang adalah oksigen yang dulu berada di dalam tubuh dinosaurus. Aku suka dengan kemungkinan itu. Mungkin oksigen adalah satu-satunya cara bagi kita untuk berbagi dengan makhluk hidup di seluruh dunia tanpa perlu bersusah payah. Bisa saja oksigen dalam tubuhku sekarang akan berada di Eropa beberapa bulan ke depan. Mungkin dalam oksigen yang kuhisap sekarang ada bagian dari oksigen yang dulu mengisi rongga dadamu. Dan aku berharap bagian itu sedikit tersisa di dalamku. Aku ingin kamu ada bersamaku."

Pagi bukan saat yang menyenangkan. Aku tak pernah bisa tenang. Ada saja suara datang membuat tidurku buyar. Andai malam bertahan lebih panjang. Saat hampir semua makhluk terlelap, aku bisa duduk tenang di teras bersama pengerat di jalanan. Udara malam memang dingin, tapi ketenangan suasana menjelang fajar adalah saat paling menyenangkan. Untungnya aku bukan orang dengan indera tajam yang bisa melihat hal-hal seram. Bukan berarti aku takut bila harus bertemu makhluk gaib. Suasana tenang seperti malam jauh lebih berharga sampai aku rela menjerit dikagetkan kuntilanak, kabarnya hantu wanita itu beredar dekat taman seberang rumah. Seumur-umur aku belum pernah didatanginya. Semoga saja aku bukan mangsa yang diminati makhluk halus. Pagi kembali harus datang walau terus kutolak. Memang dasar tak punya malu. Mungkin aku yang terlalu bodoh. Mana mungkin manusia sekecil aku bisa mengendalikan alam. Presiden saja tak akan bisa. Yang mungkin kulakukan hanyalah mengubah jam tidurku saja. Saat pagi tiba, kukencangkan musik di kamar untuk menghalau suara berisik kamar sebelah. Pagi dan malam memang bertolak belakang, begitu juga penghuninya. Saat pagi tiba, kami makhluk-makhluk malam harus tahu diri dan menghindar. Saatnya berganti peran. Biarkan mereka manusia-manusia pagi yang mengisi hari.

Kadang aku lupa waktu juga. Saat terbangun ternyata masih tengah hari. Atau terbangun saat malam sudah hampir tergusur. Untungnya pekerjaanku tak menuntut tubuhku harus berada dimana. Yang penting tulisanku terus mengalir ke meja redaksi, uang pun masuk dalam rekening. Pekerjaan yang tak mudah, tapi aku suka. Setidaknya dengan pekerjaan seperti ini aku bisa bangun tiap malam dengan tenang saat manusia-manusia pagi bersiap untuk lelap. Walau artinya aku harus menyiapkan makan sendiri tanpa bisa mencicipi masakan di kantin, kecuali beberapa makanan siap saji yang bisa kupesan lewat panggilan telepon genggam. Masakanku tetap lebih enak dari pastinya. Dan aku boleh berbangga karena ini resep Mama.

Masalah terbesar adalah saat aku harus "lembur" untuk bertemu muka dengan mereka yang menjadi fans setia. Andai mereka juga makhluk malam sepertiku, tentu semua akan jauh lebih muda. Pakaian serba hitam dan kaca mata hitam serta topi hitam. Kostum wajib saat aku harus lembur untuk jumpa fans. Sampai-sampai mereka mengira aku adalah penggila warna hitam dan menghadiahiku boneka setan. Fans memang begitu. Padahal di kamarku banyak warna selain hitam. Aku bahkan punya boneka berwarna merah muda. Tentu saja tak ada yang tahu selain aku. Merah muda bukan warna yang pantas berada di sini. Aku bahkan malu saat menyadari warna bonekaku. Tak apa, ini bukan masalah. Yang penting aku punya kenangan istimewa bersama boneka merah muda. Tak perlu aku cerita lah, ini bukan sesuatu untuk konsumsi massa.

Pernah aku keceplosan menyebutkan si merah muda pada fans-ku saat chatting berdua. Langsung saja ditanya-tanya cerita apa yang tersimpan di dalamnya. Capai juga kalau harus menjawab pertanyaan fans gila yang tak mau selesai bicara. Segera saja kumatikan chatting dengannya. Entah apa nasib fans-ku itu, mungkin langsung marah dan merobek foto-fotoku. Mungkin juga mengutukku dengan boneka voodoo, aku ingat tak lama setelah itu langsung demam satu minggu. Dokter bilang demam biasa jadi aku tak curiga.

Malam ini juga sama dengan kebiasaanku yang sudah terlalu biasa. Keluar kamar, melayang (berjalan dengan ringan seperti terbang) ke dekat jendela teras lantai dua lalu menghisap oksigen dengan rakusnya. Satu tarikan dalam lalu lepas pelan-pelan. Lalu tarikan-tarikan lainnya. Untungnya malam tak menyisakan manusia-manusia bejat yang doyan buang angin sembarangan. Tak ada aroma kentut jadinya. Benar-benar oksigen segar. Kalau oksigen ini kasat mata, pasti seperti air sungai yang sebening kaca. Asal bukan kaca jendela di rumah ini saja.

Puas dengan oksigen, aku menyiapkan makanan dan segera melahapnya selagi hangat. Kadang kesepian juga, makan tanpa ada yang melihat. Sia-sia masakanku enak, tak ada orang untukku pamer. Kalau sedang baik biasanya aku cuci piring kotor dan peralatan masak. Kalau sedang sibuk atau keluar bejat, kubiarkan saja semua berantakan. Kadang sengaja menyisakan sedikit makanan untuk kutebar di meja makan. Sekedar kepuasan dari balas dendam pada manusia pagi yang doyan bikin onar. Dulu kamar tidurku sering diketuk siang-siang. Dikiranya aku mati di dalam karena tak pernah keluar makan. Tapi lama-lama mereka jadi tenang setelah tahu kebiasaanku bangun malam. Dasar manusia pagi, tikus saja tak seberisik dan sesibuk mereka mengurusi orang lain.

Malam ini sepi. Seperti malam kemarin dan kemarinnya lagi. Tapi malam ini sepi. Aku terus mengulang-ulang kata sepi dalam ketikanku. Ya, aku merasa sepi. Kalau saja kau ada di sini. Tapi kau sudah pergi. Gara-gara kamu juga aku menjalani hidup sebagai manusia malam. Aku terlalu marah karena kepergianmu. Kau hidup di pagi hari, jadi aku akan hidup di malam hari. Aku tak mau hidup di waktu yang sama denganmu. Tapi aku sangat-sangat merindukanmu. Andai hatimu tak berubah. Mungkin aku masih tetap manusia pagi yang dulu riang gembira.

"Mungkin mereka benar mengataiku gila. Tapi mereka tak tahu ceritanya. Tak ada yang bertanya kenapa. Jadi aku pun tak perlu memberitahukannya."

Suara hatiku selalu berkata begitu, padahal aku yang bersembunyi dari dunia. Aku yang ingin hidup di dunia malam. Bukankah kamu juga sudah tak di kota yang sama. Kenapa aku harus sembunyi dari hidupku yang lama. Mungkin saja kau juga sudah berubah menjadi manusia malam tanpa pernah aku tahu. Atau mungkin kau tak lagi berada di dunia. Persetan denganmu. Aku tak ingin lagi memikirkanmu. Saat aku berkata begitu, air mataku menitik tak kusuruh. Aku tak bisa. Tak bisa melupakanmu.

Aku yang salah. Aku yang salah. Kalau saja dulu aku lebih dewasa. Cara berpikir kita terlalu beda. Aku yang salah.

Oksigen kini membuatku jengah. Aku merasa kau masih ada. Saat kulepas semua oksigen di dada, berharap kau ikut terlepas bersamanya. Tapi kau masih tetap ada. Dan aku menangis senangis-nangisnya. Aku menangis sampai nafasku tersengal. Aku menangis dan asmaku kambuh. Aku menangis sampai asma membunuhku. Air mata dan asma membunuh manusia yang tak bisa melupakan masa lalu.

Rabu, 24 Maret 2010

Pelangi

Mejikuhibiniu.

Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu.

Merah, Jingga dan Kuning ada dalam satu regu, Merah memberi sebagian dirinya dalam Jingga, dan Jingga memudar menjadi Kuning. Mereka bertiga adalah karakter seorang wanita feminim. Merah lebih kuat. Jingga cukup tegar. Kuning selalu riang. Kuning berusaha menerangi dunia dengan warnanya yang cerah. Tapi Kuning tak selalu bahagia. Jingga berusaha menyerupai Merah tapi tak pernah bisa. Ia sadar dirinya hanya turunan dari Merah. Sekuat apapun ia mencoba, ia selalu berada di urutan kedua. Merah adalah gembala. Saat Merah tiada, semua kehilangan arah.

Biru, Nila, dan Ungu. Warna-warna kelam yang sendu. Ketiganya kesepian dan kehilangan. Biru sosok pria yang dewasa. Pelindung dari orang yang dikasihinya. Sedangkan Nila adalah wanita yang berubah menjadi perkasa karena kehilangan pelindungnya. Naluri alami bagi setiap makhluk untuk melindungi diri dan orang-orang yang dikasihi. Nila menjadi kuat bukan karena suka. Ungu adalah penopang semua warna. Sekali ia lemah, semua akan jatuh ke tanah.

Hijau ada diantara kedua kelompok warna. Ia menjadi pemilah yang bingung harus kemana. Hijau tumbuh menjadi makhluk yang tak jelas kemauannya. Kadang ia hangat seperti Kuning yang kadang lemah. Kadang ia dingin seperti Biru yang kelam. Hijau ada dalam dunianya sendiri. Memilih jauh dari kedua sisi. Ia berada tepat di tengah-tengah untuk menilai. Hijau ada di sana bukan atas kemauannya. Ia lebih memilih lepas dari susunan warna.

Kalau pelangi tak punya warna, mungkin kita tak akan suka. Kalau pelangi tak lengkap warna, mungkin tak seimbang kelihatannya. Merah dan Ungu melahirkan warna-warna dalam keluarganya. Tapi tak tahu untuk apa. Saat Merah menghilang dari barisan warna, Ungu pun melemah. Sisa warna menjadi korban penciptaan tanpa makna. Keluarga warna mulai terpecah belah. Mencari kebahagiaan yang tak tahu letaknya dimana. Semua warna berusaha kembali menjadi barisan indah, tapi tak mungkin bila tak lengkap warnanya. Semua hilang keyakinan bahwa di ujung pelangi ada kebahagiaan. Mereka pun berhenti mencari. Menyerah pada nasib. Tak mau mencoba mencari pengganti. Perlahan warna-warna itu mati.

Pelangi tak pernah berujung ke bumi. Sejauh apapun kita berlari, kita hanya mengejar ilusi. Kotak kebahagiaan di ujung pelangi sesungguhnya hanya kiasan. Bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu begitu dekat dengan kita sekarang. Mungkin dengan melihat lebih dekat, kita bisa menemukan. Andai Jingga tahu ia memiliki Merah dalam dirinya, dan Kuning sadar ia sewarna dengan matahari yang pasti kembali setelah gelapnya malam terlewat. Hijau pun bebas memilih kemana ia suka. Tak ada siapapun memaksanya harus ikut kemana. Biru tak selalu kokoh. Seperti langit yang kadang mendung. Air laut pun bisa surut. Nila yang dijauhi dunia karena sifatnya, andai Nila tahu bahwa dirinya indah dan pantas bahagia. Ungu tak sendirian. Ia tak pernah sendirian kalau saja ia punya rasa memiliki warna-warna yang diberikan Merah padanya.

Pelangi Tuhan memang indah
Siapa pun pasti terpana
Tapi hati yang sedang menatap warnanya
Belum tentu bahagia

Ungu

Ungu warna banci
Tapi banci yang elegan
Ungu berarti penantian
Jasad yang menunggu pasangan
Ungu selalu kesepian

Tempat hiburan malam untuk kaum homoseksual. Aku menghisap milyaran asap rokok dan kelamin di tempat maksiat. Tapi hatiku tenang tanpa beban. Aku adalah Violet yang digandrungi begitu banyak teman. Lahir sebagai pecinta sesama jenis tak membuatku malu. Kedua orang tuaku bahkan tak pernah tahu. Mereka terlalu sibuk mencari uang. Bahkan demi uang mereka rela berpisah. Ibuku minta cerai sewaktu aku masih duduk di bangku SMP. Ayahku tak bersedih sedetikpun atas perpisahan itu. Bahkan aku dipaksa diam setiap menanyakan kemana perginya Ibu. Sementara Ibu asik bercumbu dengan suami baru, Ayah masih menikmati malam dengan pelacur yang berbeda setiap minggunya. Uang Ayah cukup untuk menyewa pelacur itu seumur hidup. Tapi nampaknya hati Ayah sudah hilang sejak lama. Aku bahkan tak merasa dianggap anak selain bocah yang setiap bulan menghabiskan uangnya. Tapi tak jadi masalah buat Ayah. Toh Ibu juga memasukkan uang dalam rekeningku. Setiap bulan ada jatah dari mereka berdua. Dan aku hidup dari uang itu. Aku tumbuh bukan dengan kasih sayang. Aku tumbuh disirami uang.

Violet nama samaran. Aslinya Johan. Perawakanku tampan menawan. Juga tidak memiliki sifat bawaan perempuan. Hanya nama panggilanku saja yang terdengar seperti banci jahanam. Aku benci pria yang bertingkah seperti wanita. Tapi aku sangat menghormati wanita. Walau aku membenci ibu, tapi bagiku wanita adalah makhluk lemah yang patut dijaga. Setelah aku mulai bekerja, aku pindah dari rumah Ayah, ke satu rumah jauh dari rumah lama. Hingga sekarang Ayah dan Ibu masih memasukkan uang ke dalam rekeningku setiap bulannya. Mungkin mereka lupa bahwa anaknya sudah bekerja. Bahkan umurku berapa pun mereka pasti tak ingat. Uang dari mereka tak banyak kupakai selain untuk mabuk dan bersenang-senang di tempat hiburan. Juga untuk membayar tagihan telepon untuk menghubungi gigolo, ditambah sedikit hadiah uang jajan setelah gigolo-gigolo itu menyelesaikan tugasnya. Aku adalah arsitek yang punya nama. Bisikan rekan kerja yang mengetahui seksualitasku sama sekali tak menjadi masalah. Mau melapor ke mana juga percuma. Kedua orang tuaku saja tak perduli, lalu untuk apa aku cemas. Beberapa kali aku pindah tempat kerja karena atasan yang tak guna. Zaman sekarang masih saja mementingkan seksualitas daripada kualitas kerja. kasihan sekali orang macam itu. Tapi itu hak mereka sebagai atasan di tempat kerja. Toh masih ada juga perusahaan seperti tempatku bekerja sekarang yang memberi kebebasan pada karyawannya dengan tidak mencampuri kehidupan pribadi mereka.

Karibku Delima, gadis cantik dengan nasib yang bertolak belakang. Beruntung sekali dia punya dewi penolong seperti Santy, pelacur ternama yang sering dipakai Ayah. Dari Santy juga aku mengenal Delima. Kami bertiga adalah penguasa dance floor setiap datang ke tempat hiburan. Tarian erotis dan menggoda tak jarang kami hadiahkan di sana. Di tempat semacam inilah kami merasa bebas. Merasa senang karena menjadi pusat perhatian. Sayangnya Santy bernasib kurang terang. Kanker rahim berhasil merenggutnya dari kami. Sejak itu juga aku dan Delima menjadi dekat. Kami sepakat menikah sekedar untuk menghapus sekat yang menghalangi pria dan wanita tinggal bersama tanpa status nikah. Tapi aku tak pernah menyentuhnya. Kehidupan kami sama sekali tak berubah. Delima masih mendapat kepuasan dari wanita yang dipilih untuk menjamahnya. Dan aku pun sama. Tiga tahun kami menikah hingga ia punya rencana gila. Ia ingin anak dari sperma pasangan hidupnya. Bayi tabung menjadi media yang kami pilih bersama. Delima ingin tujuh orang anak. Delima kadang seperti anak kecil yang matanya berkaca-kaca saat melihat pelangi. Baginya tak ada yang lebih indah dari warna-warna pelangi. Sayangnya di kota jarang terlihat mahakarya Tuhan itu. Untuk itulah Delima ingin ada tujuh warna pelangi dalam keluarga kami. Sayang, belum genap seluruh warna, Delima telah meninggal dunia. Aku merasa benar-benar kehilangan. Aku takut sendirian. Bahkan anak-anak malang yang ditinggal bersamaku terpaksa merasakan dingin yang mencuat keluar dariku. Aku menjadi jasad yang beku tanpa kehangatan senyum seorang Delima.

Sejak menikahi Delima, aku pindah rumah. Aku selalu mengaku pegawai negeri pada siapa saja. Setidaknya mereka tak perlu mengumbar keramahan palsu hanya karena status pekerjaanku yang dibayar mahal. Status palsu sebagai pegawai negeri membuat mereka malas dekat-dekat denganku. Mungkin orang miskin tak pantas mendapat keramahan tetangga. Anak-anakku juga tak tahu pekerjaan asli Ayahnya. Yang penting ada uang untuk mereka setiap bulannya. Hingga suatu hari aku sadar, aku telah melakukan kesalahan yang sama. Aku menumbuhkan anak-anakku dengan uang. Betapa tololnya diriku. Dan saat aku mulai berubah, anak sulungku diambil dariku. Sungguh sakit sekali. Entah bagaimana Ibu bisa meninggalkanku untuk kebahagiaannya sendiri. Mungkin Ibu bukan manusia.

Setiap sabtu aku membawa anak-anakku mengunjungi Delima. Wanita cantik yang telah melahirkan mereka ke dunia. Hanya Delima yang mengerti arti cinta sesungguhnya. Tak ada wanita lain yang pantas menggantikan dia. Aku ingat saat merawat anak pertama. Matanya bengkak karena kurang tidur, tapi tetap tersenyum setiap saat. Kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah kudapat. Tapi aku beruntung memiliki Delima. Kasih sayangnya menyentuhku dalam porsi yang tepat. Setelah memiliki anak, Delima berhenti dari dunia malam. Aku pun begitu. Munculnya anak adalah awal kehidupan baru dari keluarga ini. Jingga anak bungsuku, terlalu muda saat diambil dariku. Aku sempat menangis seharian di atas makam istriku, meminta maaf karena gagal menjaga wasiat terakhirnya untuk merawat anak-anak ini. Aku telah gagal menjadi seorang Ayah.

Hati yang terlalu kesepian
Perlahan hilang kesadaran
Dalam dirinya
Tak ada lagi ruang
Tak ada lagi harapan
Ia selalu sendirian

Tanpa Istri dan anak Sulung, aku berusaha melanjutkan hidupku bersama sisa anak-anakku. Yang perlahan baru aku tahu betapa mereka membenciku, terutama si bungsu. Aku melihat sebongkah kristal beku dalam dirinya. Sesuatu yang menyakitkan memaksaku menjauh darinya. Aku pernah bisa menyentuh dia. Lalu satu per satu anak-anakku diambil dariku. Aku adalah manusia paling malang di dunia. Tuhan memberi takdir yang keji padaku. Dengan segala materi yang berlebih, aku tak punya siapa-siapa lagi. Sejak anak ketigaku Bie pergi, aku berharap segera mati. Tapi Tuhan punya kehendak lain. Mungkin dosaku terlalu berat hingga mati pun aku tak pantas. Aku harus menerima kenyataan bahwa anak bungsuku Jo akhirnya menuang bensin ke dalam bara apiku yang hampir padam. Aku benar-benar marah dengan kelakuannya yang telah mengumbar rahasia kami sekeluarga. Malam itu aku kalap dan menamparnya hingga lebam. Kurasa bibirnya sobek karena aku melihat darah dari sudut bibirnya. Bibir yang persis dengan milik Delima. Tak lama kemudian sisa anak-anakku diambil dariku. Pelangi titipan istriku kini hilang semua. Tinggal aku sendirian seperti dulu. Setiap malam kuhabiskan di tempat hiburan malam. Yang berbeda adalah sekarang aku sudah tua. Tak lagi tampan seperti dulu. Sekarang aku seperti Ayah, membeli cinta dengan uang. Kurasa aku paham perasaan Ayahku saat itu. Mungkin Ayah sangat kesepian.

Tak ada yang lebih kesepian dariku
Tak ada yang lebih sendiri selain Ungu

Selasa, 23 Maret 2010

Merah

Merah terus mendura
Darah yang berdesir marah
Ia tangguh adikuasa
Tapi lembut bercahaya

Delima anak manis yang dibuang. Sejak lahir sudah tak diinginkan kedua orang tuanya. Panti asuhan pun tak pernah ramah. Delima tumbuh menjadi gadis yang tegar karena keharusan. Semua manja dan tangisan tak pantas disentuhnya. Manja dan tangis hanya milik anak-anak di luar panti asuhan. Anak-anak manja yang bisa mendapat semua keinginan cukup dengan tangisan. Tapi beda dengan Delima dan anak-anak panti asuhan yang hanya boleh menunjukkan bakat akting seperti itu di depan semua calon orang tua yang akan mengadopsinya. Anak panti asuhan yang diadopsi adalah mereka yang berhasil meluluhkan hati calon "pembeli" dengan tatapan memelas. Sayangnya mereka tak berhak memilih siapa calon Ayah dan Ibunya. Semakin cepat diadopsi maka semakin cepat mereka terlepas dari rumah sesak ini. Saat mereka sudah terlalu tua, jarang ada orang yang mau mengambilnya. Yang dicari orang-orang kaya adalah anak kecil yang lucu dan manja. Sama seperti mereka memilih anjing peliharaan di toko binantang. Anak-anak panti tak ada yang tahu bagaimana nasib anak-anak lain yang telah "dibeli" dari rumah ini. Tak ada satu pun yang kembali. Dan tak ada seorang pun yang mengirim kabar. Pemilik panti juga tak terlalu perduli nampaknya. Sama seperti anak-anak lain yang lebih mirip ternak daripada anak manusia. Mereka diam menunggu kapan tiba gilirannya. Delima cukup beruntung juga. Delima diambil oleh pasangan kaya dari luar kota. Kebahagiaan yang diidamkan sekaligus kecemasan apakah benar ada orang sebaik kedua orang tua angkatnya yang mau menerima kehadiran anak asing dalam rumah mereka. Delima boleh berbahagia karena kedua orang tua angkatnya ternyata sangat sayang padanya. Selalu ada permen tersaji di meja. Juga ada dongeng sebelum lelap dalam mimpinya. Lalu ada dekapan hangat dan ciuman di pipi setiap pagi. Tapi itu sebelum lahir anak kandung yang menjadi adik angkat sekaligus duri dalam kebahagiaan Delima.

Awalnya tak ada perbedaan porsi perhatian yang diberikan pada Delima dan adiknya, tapi setelah Ayah angkatnya kehilangan pekerjaan, semua berubah. Semua yang terbaik adalah milik adiknya. Delima yang saat itu berumur sebelas tahun sudah harus membantu ibunya setiap hari pergi jualan di kantin sekolah. Tak menjadi masalah bagi Delima karena pengalamannya di panti asuhan juga sama. Delima memang anak yang mandiri. Sayang sekali pekerjaannya membuat ia tumbuh menjadi anak yang pemalu. Hampir tak ada waktu baginya untuk bermain dengan teman sebaya. Usai membantu Ibu angkatnya di kantin, ia masih harus membantu pekerjaan rumah. Sedangkan adiknya hanya bisa mengeluh minta makan dan uang jajan. Sekolah pun tak disentuh Delima. Hanya SD tak sampai tamat. Adiknya sungguh beruntung. Sedangkan Ayah yang sekarang kerja buruh, makin gila bermabuk-mabukan. kasihan Ibu angkatnya terus membanting tulang. Tapi Delima hanya bisa diam. Bahkan ketika keperawanannya dijual untuk melunasi uang sewa rumah. Delima harus diam.

Sebagai pahlawan
Dia harus tegar
Setiap luka adalah kebanggaan
Karena dia adalah harapan

Setelah beberapa kali dijual oleh Ayah angkatnya, Delima kabur dari rumah. Bukan keinginannya menjadi gelandangan dan beberapa kali dipenjara. Sekali lagi karena terpaksa. Delima kabur dari rumah setelah menikam punggung Ayah angkatnya. Sama sekali tak ada sedikitpun gadis ini berpikir untuk pulang. Tak ada lagi tempat yang bisa disebut rumah. Bahkan sekarang ia merindukan kehidupan di panti asuhan. Setidaknya, masih ada makanan dan sedikit kehangatan kasur walau dipakai bersama anak-anak lain. Hidup menjadi anak jalanan tak lebih mudah daripada tinggal di rumah. Banyak juga preman yang jahil dan semena-mena. Tapi Delima anak yang tegar. Ia berhasil bertahan. Makin lama pergaulannya semakin luas, bahkan sampai ke dunia malam. Di sana lah Delima bertemu kasih sayang. Seorang wanita malam yang jatuh hati padanya. Tak perduli kasih sayang paling sesat sekalipun, yang penting ia merasa nyaman. Toh dunia sudah lama tak memperlihatkan apa yang sangat dibutuhkan si gadis malang. Santy adalah sosok yang telah lama ia cari. Seorang yang masih pantas disebut manusia dibanding Ayah tirinya. Seorang yang walau hina masih punya cinta seputih mutiara. Santy mengajaknya saling mengikat cinta. Delima pun tak menolak perhatiannya. Mereka tinggal bersama di rumah mewah. Kekasihnya adalah pelacur ternama.

Malam adalah saat paling menyakitkan baginya. Karena kegadisannya direnggut saat malam menghitamkan dunia. Sehitam hatinya yang redam telah dikhianati Ayah angkatnya. Andai ia bisa memilih, lebih baik mati. Tapi merah darah yang bergelora dalam nadinya memaksa untuk bertahan. Darah dari orang yang bahkan tak pernah ia tahu siapa. Mungkin saja Ibu kandungnya adalah perempuan hina yang hamil karena terpaksa. Mungkin begitu ceritanya sehingga anak gadisnya bernasib sama. Malam adalah waktu untuk Delima menelan obat tidurnya. Jika dulu ia sempat berusaha memutuskan urat nadinya dengan batuan tajam, sekarang penolongnya adalah obat tidur pemberian Santy. Rasa sakit itu terus kembali setiap malam tiba. Tentu saja tak semua malam itu menyakitkan. Buktinya ada malam dimana kedua pasangan yang dimabuk asmara ini bisa tertawa lepas.

Setiap hari sabtu mereka pergi berpesta. Ke tempat hiburan khusus pecinta sesama. Hanya di sana mereka tak perlu malu bercumbu mesra di depan orang banyak yang punya hobi sama. Di sana juga Delima tahu bahwa pria pun ada yang cinta sesama jenisnya saja. Sebenarnya tak ada yang akan perduli jenis kelamin apa manusia yang ada di samping mereka. Yang penting mereka bisa tertawa, bergoyang dan minum sampai puas. Toh lelaki di sana tak suka wanita, dan wanita di sana tak mungkin punya kelamin pria untuk menyakitinya. Trauma karena pernah dijual Ayahnya membuat Delima anti dengan kelamin pria. Delima tak membenci pria walau bukan berarti ia akan bercinta dengan mereka, terutama satu karibnya. Pria dari keluarga kaya yang kedua orang tuanya bercerai sejak ia SMA. Malam itu Delima tetap primadona dengan goyangan mautnya. Malam yang panjang dan penuh kesenangan. Di sana lah surga untuk mereka yang terbuang. Tempatnya manusia-manusia yang dibilang sesat karena mencintai sesama jenisnya. Tak ada yang perduli alasan apa yang dikeluarkan, tetap saja dari mata agama (yang tak pernah digubris gadis malang ini), kami adalah pendosa. Kaum yang dibenci Tuhan. Sementara Tuhan tak memberi kepastian kemana kami harus mencari kepuasan. Tuhan juga yang menciptakan cinta dianta kami para jahanam. Cinta juga yang membuat kami rela masuk neraka berpasangan. Tapi takdir berkata lain. Shanty bukan jodohnya yang sejati. Dalam kesenangan malam ini, takdir sedang menjalankan rencananya yang tersembunyi. Delima sekali lagi harus diam tanpa meronta ketika kebahagiaannya direnggut secara paksa. Malam ini Tuhan memberinya waktu untuk berpesta. Tapi tak akan lama. Saat asik bergoyang bersama Santy, sahabat karib mereka pamit pulang. Delima melepas kepergian Violet dengan senyum centil dan ciuman di pipi. Delima tak pernah tahu. Pria itu pun tak tahu, takdirnya nanti adalah menjadi penerus tugas pelacur kesayangan Delima untuk merawat dan membahagiakan gadis cantik yang sama sekali tak mau disentuh pria.

Semua insan dunia
Tak bisa menolak takdirnya
Apa yang disembunyikan Tuhan
Akan tetap rahasia


Hijau

Hijau adalah permata
Zamrud milik Ayah
Wasiat lawas Ibunya

Hijau adalah kepingan terakhir dari barisan pelangi milik Ayah. Setelah keempat saudaranya pergi, kini tinggal dia dan Ayah. Tapi Hijau sudah terluka parah. Hatinya tercabik-cabik tanpa suara. Mereka yang disebutnya keluarga, tak ada satu pun yang mendengar pun tak melihat. Hijau hanyalah bayangan yang terus bergerak tanpa seorang pun tahu. Ia hidup dalam dunianya. Bersama seluruh rahasia keluarga.

Hijau adalah aku. Anak Ayah dan Ibu. Adik dari mereka yang memiliki nama sepertiku. Kami adalah kepingan pelangi Ayah. Aku Jo, anak bungsu dalam keluarga ini. Keluarga yang dulu jauh lebih baik dari sekarang. Kakak ku Inga menjadi korban kebiadaban manusia. Kak Ning pun adalah korban, orang yang harus menderita karena kesalahan orang lain. Andai Kak Inga tak mati, tentu Kak Ning tak akan pergi. Lalu ada Kak Bie yang mati tanpa alasan pasti. Orang bilang Kak Bie mati bunuh diri bersama pasangan sejenis. Fitnah memang luar biasa. Fitnah bisa jadi uang dari orang yang menderita. Kak Ella yang setengah dirinya hancur setelah kepergian Kak Bie, memilih tugas di luar negeri. Sekarang tinggal aku sendiri. Pelangi tak akan hidup hanya dengan satu warna.

Dua minggu setelah Kak Ella berangkat, aku sudah tak di rumah. Walaupun tak runtuh, rumah itu menanggung beban pikiran begitu banyak. Aku pun tak pernah menghargai keberadaan penghuninya sejak aku tahu kebenaran yang tersimpan rapat di laci lemari Ayah. Itu juga alasan Ayah marah terakhir kalinya padaku. Aku muak. Seharusnya aku kabur dari rumah sejak awal. Tapi masih ada sebagian kecil dariku yang membutuhkan kehangatan kakak-kakakku. Saat mereka semua pergi, aku pun harus pergi. Sebelum kabur aku sempat mengirimkan e-mail pada Kak Ella. Aku tak menunggu balasan darinya. Toh setelah kabur nanti aku masih bisa membaca balasan itu kapan saja, dimana saja. Andai aku bisa sehebat teknologi internet. Bisa berada di mana saja, kapan saja. Untuk itu aku harus bersaing dengan Tuhan, dan aku tak berani. Berkat didikan Ayah dan Ibu aku hidup dengan iman yang kuat. Tapi tak cukup kuat menahanku menjadi bebas. Selama aku tak menyakiti orang lain, maka aku tak salah. Begitu peganganku selama ini. Karena itu aku lebih sering sendiri, menjauh dari godaan untuk menyakiti orang di sekitarku.

Sejak kabur dari rumah, aku hidup di jalanan. Pekerjaanku sekarang adalah seniman. Aku membuat gambar untuk orang yang lalu lalang. Tak banyak penghasilanku setelah disita biaya kertas dan pensil. Awalnya aku tidur di pinggir jalan. Kadang bermalam di tempat ibadah. Tapi aku tak menetap. Aku berkelana ke luar kota naik kereta. Berharap tak perlu lagi pulang ke rumah. Dan aku berhasil. Sekarang aku tinggal bersama dia, lelaki pertama yang berhasil mendobrak pintu hatiku. Erik, beberapa tahun lebih tua dariku. Penghasilannya lebih dari cukup untuk menghidupi beberapa orang Jo tanpa kekurangan apapun. Tapi Erik memilih satu Jo. Cinta sesama jenis bukan masalah buatku. Ayahku pun begitu. Sesuatu yang tak seorang pun tahu dalam keluargaku, kecuali Ayah dan Ibu. Lebih hebatnya, Ibu juga sama. Mereka pasangan pecinta sesama jenis yang saling suka. Entah bagaimana awal ceritanya, yang jelas mereka berhasil menjalaninya. Karena itu juga kami ada. Malam terakhir aku melihat kemarahan Ayah, itu karena aku pada akhirnya membuka semua rahasia. Aku bertanya siapa sebenarnya pria yang sering menghubungi Ayah. Malam itu aku yang salah. Aku tak siap melepas Kak Ella. Selaput tipis yang mengikat emosiku tiba-tiba merekah. Aku menceritakan semua rahasia yang kutemukan di rumah. Setiap Ayah dan orang rumah sedang tak ada, aku mengacak setiap sudut rumah. Termasuk membuka laci lemari Ayah. Sialnya, disana ada semua rahasia. Ayahku ternyata punya kekasih pria. Ibu juga punya kekasih wanita. Kak Ella juga nampaknya sama. Kak Bie walau diberitakan pecinta sesama jenis, ternyata salah. Kak Bie punya gadis pujaan. Sayang ia mati sebelum menyatakan perasaannya. Aku tak tahu apakah perlu aku menceritakan semuanya. Tapi aku mau. Malam itu aku membeberkan semuanya dimulai dari Kak Inga. Tentang hubungannya dengan Kak Andy. Kak Inga sudah lama memberikan keperawanannya. Anak Ayah yang selama ini nampak polos ternyata menyimpan rahasia. Buku diary memang berbahaya, apalagi kalau tak dijaga. Semua tertulis dengan jelas. Setiap detail kejadian. Kuharap Kak Ning tak pernah membaca buku diary kak Inga. Bisa kubayangkan bagaimana perasaannya ketika membaca bagian dimana Kak Andy melepas satu per satu pakaian Kak Inga, dan bagaimana Kak Inga menuliskan detail bentuk tubuh lelaki pujaannya. Seperti sedang membaca buku novel dewasa. Ayah tak terlalu perduli ternyata. Kebisuannya membuatku makin ingin bercerita. Lalu ada Kak Ning yang kabur karena sedang hamil muda. Tentu saja dengan Kak Andy. Tak heran mereka kawin lari. Saat Kak Ning membahas rencana kaburnya, aku ada di sana mendengar pembicaraan mereka. Tentu saja Ayah tak tahu apa-apa. Kali ini aku berhasil membuat Ayah sedikit tertarik. Ada ekspresi kaget bercampur kecewa. Entah kenapa aku merasa senang. Cerita berlanjut pada Kak Bie yang sering masturbasi sambil melihat foto pujaan hatinya. Hal yang wajar untuk remaja seusianya. Tapi tidak untuk Ayah. Di matanya, Kak Bie adalah kebanggaan. Aku melihat penyesalan di muka Ayah, dan aku semakin senang. Tentang Kak Ella yang diam-diam menyimpan satu buku berisi gambar wanita-wanita telanjang dalam posisi menggoda, lalu tentang rahasia Ayah yang tersimpan rapat di laci lemarinya. Juga buku harian Ibu yang berada di tempat yang sama. Tiba-tiba tamparan itu menghinggap di pipiku. Aku salut dengan kegesitan ayah saat itu. Kecepatannya mungkin setara dengan kereta lewat. Benar-benar tak kusadari. Pipiku lebam keesokan harinya. Tapi aku puas. Sudah lama sekali aku tak melihat kemarahan Ayah. Setidaknya aku bisa tahu bahwa dia masih tetap Ayahku.

Erik bukan pasangan yang banyak menuntut. Aku bisa pergi dan pulang kapan saja. Aku boleh terbang kemana aku suka. Tubuhku boleh kuberi pada siapa saja. Tapi selama aku ada di rumah, aku adalah miliknya. Begitu pun dia. Aku merasa kebebasanku terjawab sudah. Aku bisa memiliki cinta yang kuinginkan selama ini, juga bisa mendapat kebebasanku pada saat yang sama. Kadang aku bercinta dengan wanita juga. Tapi hatiku tetap miliknya. Satu yang tak bisa disangkal di dunia ini adalah hati. Bila kau berhasil mendapatkan hati seseorang, maka kamu telah berhasil memiliki dia seutuhnya.

Yang aku cari di luar rumah adalah jawaban. Aku ingin mengenal manusia dan wataknya yang berbeda-beda. Setiap orang yang kutemui di jalanan dan setiap pelanggan yang datang, juga mereka yang menghabiskan sedikit waktu bersamaku di ranjang. Sebagai seniman, aku tak pernah puas mencari sisi tersembunyi yang tak mungkin kutemukan dengan gampang. Aku harus bermain-main dengan emosi mereka. Menarik keluar sedikit demi sedikit rahasia yang mereka sembunyikan. Sama seperti keluargaku yang terus menyimpan rahasia-rahasia itu sampai akhir. Sejak kabur aku tak pernah menghubungi Ayah. Dengan Kak Ella kadang masih saling berbalas e-mail. Padanya aku bisa bercerita apa saja yang tak pernah bisa kuceritakan waktu masih tinggal bersama. Sekarang aku adalah Hijau yang berbeda. Mungkin semua karena Erik. Aku semestinya berterima kasih padanya. Berkat dia juga, aku berhasil membuka satu galeri tempat semua karya-karyaku dipajang. Tak jarang ada pembeli yang menawar dengan harga tinggi. Yang kutawarkan di sana bukanlah seni biasa. Aku menjual kejujuran. Sekarang ini kejujuran sangatlah mahal harganya. Walau tak yakin mereka yang membeli itu tahu arti kejujuran, yang pasti mereka membeli dengan uang. Bukan uang yang menjadi tujuan utama. Aku ingin karya-karyaku diambil orang. Percaya atau tidak, karya-karya itu berisi beban. Setiap lembarnya adalah bagian dari hasil mengolah emosi yang terpendam. Kak Ella salah satu yang menyadarinya. Tak heran aku semakin sayang padanya sejak tahu ada satu keluargaku yang mengerti arti dari karya-karyaku. Untuk menghargainya, aku membuat satu mahakarya khusus untuknya.

Hijau berakar dalam bumi
Menghisap sari pati kehidupan dengan rakusnya
Mencuatkan diri menembus tanah
Bersaing dengan tingginya gunung
Menyebar menandingin cakrawala
Ia ingin mengukir sejarah
Bahwa dirinya pernah ada

Lima tahun setelah kepergianku dari rumah, tiba-tiba Kak Ella muncul di galeriku. Ayah sudah tiada katanya. Serangan jantung. Berita yang tak penting bagiku. Malam saat aku kabur dari rumah, aku sudah membuang semua tentang Ayah. Lebih tepatnya aku sangat membenci Ayah karena sikapnya setelah kepergian Ibu. Kadang aku meragukan bahwa kami adalah benar anak-anak Ayah. Dengan segan aku ikut diseret Kak Ella ke pemakaman Ayah. Yang membuatku kangen justru makam Ibu dan kedua anaknya. Makam itu masih nampak bagus. Sepertinya Ayah tetap menjalankan kebiasaan membersihkan makam dan menabur bunga setiap hari sabtu. Kalau tak mati, pasti masih dilakukan hingga saat ini. Hari ini sabtu. Saat pasangan muda sedang asik menentukan tempat berkencan, aku dan Kak Ella berdiam di pemakaman. Erik juga datang, tapi aku meminta dia untuk tinggal di rumah. Nampaknya ia mengerti kenapa. Aku tak mau ia melihat emosiku yang satu ini. Untuk pertama kalinya aku menangisi Ayah. Dalam perlukan Kak Ella yang juga tak mampu membendung air matanya. Tapi jelas terlihat Kak Ella lebih tegar. Emosiku mengalir deras bersama tetesan air mata. Tangisan penyesalan, ketidakpuasan kalau semua ini harus diakhiri. Aku bisa hidup dengan penderitaan macam apa. Tapi aku tak bisa terima Ayahku mati terlalu mudah.

Pulang dari pemakaman Ayah, hidupku berlanjut seperti biasa. Agak ringan kiranya. Bebanku terangkat satu bagian, dan kali ini porsinya cukup besar. Seperti rambut gimbal seberat lima kilo yang tiba-tiba dicukur habis. Tanganku bekerja seperti melayang dengan sendirinya. Tapi sekarang, aku kehilangan jiwa dalam karya-karyaku. Saat itu juga aku sadar, sudah saatnya berhenti mengisi ruang galeri.

Hijau itu kokoh saat badai menerjang
Akarnya mampu menahan beban
Yang ia butuhkan hanyalah tempat berpijak
Saat akarnya mati
Daunnya pun meranggas
Hijau akan hilang