Kamis, 29 April 2010

About Erick

Aku mengenalnya tak lebih dari satu tahun. Tapi jejaknya membekas begitu dalam bersisa. Tak ada satu pun obat di dunia yang mampu menutupnya. Dia yang kukenal, wataknya mirip dengan bongkahan karang beku di laut Antartika sana. Kadang leleh bersama hangat mentari, kemudian beku bersama remang rembulan. Dialah Erick yang kukenal. Pribadi yang menguasai hati dan pikiranku. Terlalu singkat, sebelum aku sadar dari lamunan, ia telah pergi. Dia yang pertama membuatku jatuh dalam peluk asmara. Dia juga yang ajarkan sakitnya putus cinta. Bukan cinta yang biasa, melainkan cinta yang paling pertama ada. Di antara begitu banyak orang, kenapa harus dia. Andai waktu itu aku tahu lebih lagi tentang dia, tak akan kuambil langkah yang membawaku pada jurang pembuangan bangkai cinta. Aku memilih untuk sendiri. Tanpa pernah mengenal cinta.

Semua sudah ada alurnya. Aku ini hanyalah tetesan kecil yang bergerak pasrah mengaliri seutas tali. Tak pernah berpikir beban yang kubawa akan membuatku terjatuh, atau sampai ke mana tali akan berakhir. Aku hanya mengikuti aliran yang membiusku. Seperti layangan kertas yang doyan dimainkan angin kemana suka. Saat peganganku lepas, aku akan sebebas camar di lautan, mengangkasa bersama hembusan angin tanpa rasa takut akan terjatuh. Setidaknya rasa ini bertahan sampai ketika jasadku menyentuh tanah. Benturan keras akan membangunkanku dari lamunan panjang tentang dia. Erick. Orang yang membuatku merasakan cinta.

Selasa, 20 April 2010

Inginmu

Darimu ku dapat cinta
Darimu ku dapat bahagia
Darimu ku dapat dusta
Darimu ku dapat nestapa
Darimu ku dapat semua
Darimu ku dapat akhir dunia

Tak kau ingat berapa lama jarak ruang dan waktu telah tergilas roda kehidupan, tak ada kabar darimu dan tanpa ucap berpisah. Yang pasti, aku tahu saat itu kita telah benar-benar berpisah. Benang merah yang mengikat kita telah ditarik merenggang hingga habis kemampuannya merenggang, dan terputus tanpa daya. Saat itulah cerita kita berakhir dengan titik hitam kecil sebagai tanda akhir cerita. Tapi aku bukan menyesalkan perpisahan itu. Aku menyesal kenapa tidak kurampas semua kontak yang masih kau simpan hingga terjadi jalinan komunikasi tak disengaja siang ini. Email darimu menggoda anganku untuk melirik kembali lembaran lama. Sesuatu yang tak seharusnya kulayani tanpa perlawanan. Percikan api asmara di tumpukan nista itu kembali menyala. Entah mantra apa, padahal kubaca isi email darimu hanya kata-kata biasa. Tak ada cinta di sana. Mungkin aku yang terlalu genit tak mampu membendung gelora lama di saat kita masih bersama. Aku memang orang yang sulit melupakan cinta. Sialnya, kau adalah cinta terhebat yang pernah kupunya. Sama tidak jelasnya dengan perpisahan kita, benang merah di jariku terasa membelit. Mengencang seakan ditarik mengarah pasanganku. Mungkin ini pertanda. Percintaan yang lama telah bangkit dari kuburnya.

Sore itu juga kita berjumpa di kedai kopi. Tempat pertama kita jumpa. Aku masih ingat setelan yang melekat padamu saat itu. Sama persis dengan yang kau pakai sekarang. Mungkinkah ada niat untuk membangkitkan kenangan itu, karena aku juga mengenakan setelan yang sama. Mungkin kita berdua masih menginginkannya. Mungkin juga hanya kebetulan belaka. Aku tak berharap lebih, walau jantungku berdegup kencang seperti dikejar waktu. Aku gugup. Tapi dari gelagatmu yang tenang, nampaknya aku tak perlu berharap terlalu jauh. Wajahmu dingin seperti biasa, dengan bekas cukur yang rapih. Menggelitik tanganku untuk sekedar menyentuh dagu belah itu. Mencium segarnya aroma maskulin dari parfum yang kau pakai, langsung dari tempat jatuhnya semprotan. Aku terlalu binal. Dan ini berbahaya untuk kita berdua.

Perbincangan ringan dimulai sebagai awal yang aman. Kita berdua bermain tarik ulur, sesekali aku melihat lirikan nakal dari sudut matamu. Aku yakin itu rayuan. Tapi kita berdua sama bebal. Bertahan menunggu panggilan, tak mau menjadi tersangka dalam skandal yang tengah berlangsung, yang tanpa kita sadari, telah menenggelamkan kita terlalu jauh. Tapi kita pasrah dalam pelukan gelombang, terus tenggelam menunggu kapan mencapai dasar. Jarum jam bergerak gelisah, menunggu kapan kita beranjak dari ruang kecil ini sementara gelas kopi kita telah berulang kali terisi. Kau yang tak suka kopi pun telah meneguk empat cangkir kopi kental manis. Apa mungkin kau juga tersentuh racun cinta. Aku tetap tak mau berharap terlalu banyak.

Bahasa tubuh kita semakin gundah. Godaan demi godaan ditepis dengan menyisakan sedikit sesal. Berharap dinding besi yang membatasi kita segera roboh seperti tembok Berlin. Dinding yang berdiri atas dasar kebodohan. Sesuatu yang tak seharusnya ada karena memang tak diperlukan adanya. Harga diri juga menjadi alasan kenapa kita tak saling berpeluk saja sambil menyalurkan hasrat menggebu ini lewat ciuman panas. Kebodohan kita yang masih terikat norma. Atau mungkin rasa takut bahwa pertemuan ini akan berakhir seketika kita saling bersentuhan. Aku baru sadar dari awal kita tak saling menyentuh, bahkan seujung jari pun. Seolah kenyataan ini memaksaku yakin. Kau juga takut kehilangan moment ini.

Akhirnya kuberanikan diri mengambil langkah pasti. Menyerangmu dengan pertanyaan yang seharusnya keluar saat kita berpisah. Aku mencari kepastian kenapa. Alasan munculnya jeda di cerita kita.

"Sekian lama, aku penasaran kenapa baru sekarang kamu datang. Apa kabarnya Lisa ? sudah punya anak darinya ?" Jangan kaget dengan pertanyaan ini, karena aku pun setengah sadar saat mengucapnya.

"Jim, aku dan Lisa sudah cerita lama. Hatiku masih tetap sama. Aku mau kau percaya apapun caranya."

Kulihat wajah sedih menggantung di sana. Sebuah penyesalan. Membuatku agak puas dan merasa menang, tapi tak mengobati luka menganga yang kau tinggal di jantung hatiku. Setidaknya aku tahu bahwa cintamu padaku bukan sebuah permainan semu. Cintamu nyata dan bertahan di sana sampai sekarang. Hidup dalam liang lahat yang digali kedua orang tuamu yang telah memaksamu menikahi Lisa, gadis pilihan mereka. Mereka tak memilihku karena kelamin kita sama. Andai misteri cinta terkuak jawabnya, tentu mereka tak sepicik itu menghakimi cinta hanya dari kelamin saja. Cinta mampu menembus era. Meremukkan tulang punggung norma. Hanya bagi mereka yang percaya bahwa cinta sejati itu ada, seperti kita. Maka cinta akan bertahan dalam kondisi apapun juga.

Ingin kudekap erat wajahmu ke dalam dadaku. Sama seperti dulu, saat kita masih muda dan tak tahu malu. Saat kau tanpa ragu mencium bibirku sambil menyentuh wajahku, dan berbisik betapa kau suka wangi shampo-ku. Aku rindu moment-moment yang telah berlalu. Sekarang kita duduk berseberangan tanpa daya untuk melakukan itu. Ingin kulepas ragaku sesaat hingga jiwaku mampu menyatu dengan ragamu. Biarlah kita berbagi raga berdua, asal bisa bersama. Daniel. Nama yang kukejar dalam mimpi-mimpiku.

"Kau belum jawab tentang Lisa, apa Ayah dan Ibumu sudah dapat cucu darinya ?"
Aku berusaha dingin agar tak dianggap lemah, walau sebenarnya tak perlu adanya, sama seperti dinding besi yang menjaga jarak di antara kita.

"Lisa sudah mendapat anak dariku, tapi dengan program bayi tabung. Aku tak pernah menyentuhnya. Kami bercerai setelah Amy lahir. Sekarang mereka tinggal bersama Ayah dan Ibu-ku. Aku tak cukup kuat bertahan sampai muncul penerus keluargaku. Aku menyerah dan lari dari rumah. Aku kembali untukmu, Jim."
Aku yakin mendengar walau sedikit, ada isak tangismu di sana.

"Daniel, kalau kau tak merasa cukup kuat, seharusnya kau bilang dari awal. Saat itu aku pasti menjadi peganganmu. Tapi kau membuangku saat itu, Dan. Apa aku bisa percaya kalau kau tak akan menghilang lagi seperti dulu ?"

Air mata kita mengalir tanpa suara. Hanya ada besi dingin yang terus menghalangi jalan kita. kau di sisi yang berbeda, dan aku di sisi satunya. Meratap tajam pada dinding pemisah itu, seolah tatapan kita mampu meremukkan setiap jengkalnya. Dinding itu begitu tebal menghadang. Tapi aku masih bisa mendengar degup jantungmu yang tak pernah berdusta.

Pertemuan setelah sekian lama, dan kita berpisah lagi. Kali ini dengan janji akan bertemu kembali sabtu nanti. Jam dan tempat yang sama. Aku sangat bahagia. Sungguh, aku sangat bahagia. Inilah saat yang paling kutunggu dalam hidupku. Kalau aku punya uang banyak di rekeningku, pasti sudah kusebar uang-uang itu ke jalanan sekedar melukiskan perasaanku. Tapi perpisahan ini sedikit menakutkan. Dingin yang melebihi bongkahan es tiba-tiba menusuk jantungku. Aku takut kehilanganmu. Aku berbalik mencarimu, dan aku melihat sorot matamu dari kejauhan mencari jawaban yang sama. Diam berdiri di sini menunggumu berlari ke arahku. Ya, kau berlari ke arahku. Aku diam terpaku, berharap ini bukan mimpi yang tak pernah berhenti menggoda.

Kau menarik tanganku, masuk dalam taxi. Kau menyebutkan satu alamat pada supir, dan aku bahkan tak memperhatikan. Aku hanya melihat gerak bibirmu yang menggiurkan. Mendengar detak jantungmu yang menggebu, dan nafasmu yang berkejaran. Lalu mata-mu. Mata kita bertemu sepanjang perjalanan. Tanpa sepatah kata terucap, kita berbicara dalam bahasa yang paling rumit, bahasa cinta.

Tiba di tempat, kau membayar uang lebih dari yang tertera. Kau menarik tanganku menaiki tangga menuju lobby dan terus melesat ke lift. Dalam lift pun kita masih diam. Seolah waktu berjalan begitu pelan hingga akhirnya kita tiba di apartemenmu. Kau menarikku dengan keras seolah-olah kau sedang marah. Tapi dari pancaran matamu, aku tahu kau tak sedang marah. Aku hanya diam pasrah karena aku tak merasa perlu untuk menolak apa yang telah kuharapkan. Seketika kurasakan bibirmu menempel lembut, bermain di atas bibirku. Basah dan lembut. Memaksa kedua mataku terpejam. Nafas kita memburu dan seirama. Begitu lama, seperti sedang menghisap keluar semua kerinduan yang telah lama terbekap dalam angan. Lega sekali rasanya. Tanganmu mulai melucuti satu persatu kain yang terpasang di tubuhku, dan tanganku mengikuti gerakanmu. Hingga kita kembali seperti dulu, tanpa rasa malu. Benang merah yang mengikat kita kini tersambung, membelit kita menjadi satu. Begitu eratnya ikatan itu hingga tak tersisa ruang diantara kita. Bukan lagi dua, kita telah menyatu.

Pagi datang setelah kita menguapkan sisa-sisa rindu. Tubuhku begitu ringan hampir melayang. Aku melihat kau masih terlelap, tenang seperti bayi. Wajah yang tak mungkin aku lupakan. Iseng kuambil ponselku, menangkap satu gambar telanjangmu untuk koleksiku. Sempurna. Tak salah aku memilihmu sebagai cinta pertama dan terakhir dalam duniaku. Secarik kertas berisi pesan cinta kuletakkan di atas meja, hidup memaksaku kembali ke tempat kerja. Tapi aku yakin perpisahan ini tak akan lama. Karena aku tahu kemana harus mencarimu. Kau menuntunku pulang ke dalam hatimu.

Hari ini matahari terlihat bersinar riang. Bunga-bunga di taman kota seolah menertawakanku yang begitu bahagia seperti baru pertama kali jatuh cinta. Keramaian pun terlihat agak ramah hari ini. Cinta memang luar biasa. Tapi di dunia tak ada yang abadi. Itu hukum kekal kalau masih ingin menetap di dunia. Ibu Daniel datang ke kantorku. Ia terlihat kacau. Antara marah, benci, dan sedih. Aku tahu apa yang akan disampaikannya bahkan sebelum bibirnya yang mengkerut itu terbuka.

"Jimmy, kau tahu kenapa aku datang hari ini. Daniel, anakku. Tolong kembalikan dia padaku."
Ucapan yang terdengar lahir dari didikan kelas bangsawan. Angkuh walau meminta. Terdengar mirip perintah.

"Tante, aku tak menculik anakmu. Dia datang dengan kemauannya sendiri. Kalau saja tante tidak memaksanya menikah dengan Lisa..."

"Saya datang untuk menghentikan hubungan kalian. Saya tidak butuh penjelasan apapun."
Penjelasanku dicegat dengan tegas.

"Kalau begitu, tante tak perlu luangkan waktu sia-sia duduk di sini. Karena kali ini saya tak akan mundur lagi. Tante sudah mendapat kesempatan. Tapi terbukti juga, pada akhirnya Daniel memilih saya."

Perbincangan itu selesai begitu cepat. Tapi aku yakin perempuan tua itu tak akan menyerah begitu saja. Begitu pun aku.

Malamnya aku dan Daniel makan malam bersama, di tempat kami dulu kencan hampir setiap minggu dalam satu bulan. Kulihat ia beberapa kali mematikan panggilan di ponselnya dengan ekspresi kesal. Sudah kuduga, itu panggilan dari orang rumah. Waktu yang tepat buatku memastikan akan kemana arah perjalanan kali ini. Aku tak ingin lagi berpisah di ujung jalan. Keberanian yang kupupuk sekian lama sudah saatnya dipanen. Aku memaksa Daniel memilih. Antara aku dan cintaku, atau keluarganya.

"Daniel, malam ini juga, aku mau kamu tentukan. Apakah pulang dari sini, kamu akan ada di sampingku, menunggu pagi seumur hidupmu, atau hanya sampai pagi esok dan kau akan pulang pada mereka."

"Jim, kamu tahu apa jawabnya."
Suaramu menyiratkan keyakinan yang belum pernah kudengar darimu, dan aku lega mendengar nada itu.

Malam itu, kau meninggalkan ponsel di situ. Kejutan buatku, bahkan saat keluar dari tempat makan, aku meyakinkan mataku melihat ke ponsel yang tertinggal di meja kita, dengan kerlip layarnya yang sudah pasti adalah bukti panggilan dari orang rumah. Bahkan kau meyakinkan pelayan bahwa ponsel itu memang sengaja kau buang. Malam yang penuh kejutan. Aku mendapatkanmu kembali. Dan aku yakin, kali ini tak untuk berpisah lagi.

Kamis, 15 April 2010

Pinang dibelah Dua

Rina dan Rani, dua gadis belia cantik. Walau nama mereka serupa, tapi keduanya berbeda dan bukan saudara. Rina gadis feminim dengan rambut panjang lurus terawat. Rani lebih tomboi dengan rambut pendek messy style. Keduanya karib sejak kecil. Sekolah di tempat yang sama, duduk di kelas yang sama dan bangku yang sama. Rumah pun di komplek yang sama. Tak heran Rina dan Rani begitu akrab. Mereka berdua sudah seperti saudara, terlalu banyak yang telah mereka bagi berdua setelah sekian lama. Bahkan pakaian dalam pun pernah mereka bagi berdua. Dasar belia, menikmati waktu yang ada. Keduanya kini duduk di bangku SMA. Hanya satu yang menjadi rahasia di antara mereka. Roni, senior mereka. Hati mereka jatuh ke ladang yang sama. Tapi keduanya tetap ingkar satu sama lain, takut saling melukai. Tapi dalam hati, mereka tetap berharap Roni akan menyirami benih cinta mereka dengan kasih sayangnya. Tentu saja hanya satu dari mereka.

Sore ini adalah jadwal belajar bersama kedua gadis belia yang dimabuk asmara. Jatahnya Rani sebagai tuan rumah. Semua sudah siap sedia, ada meja rapi lengkap dengan camilan dan minuman ringan. Rina datang agak telat, tapi tak jadi masalah. Rani sudah siap dengan buku berisi teori-teori. Rina pun tak mau kalah. Keduanya asik berbagi ilmu sambil bercanda. Seru sekali melihat mereka belajar tanpa beban. Jam enam mereka menyudahinya. Rina berkemas untuk pulang. Rani membereskan sisa camilan dan minuman ringan, lalu mengantar Rina ke pintu keluar.

Paginya mereka puas mendapat nilai maksimal saat ujian. Ibu guru membanggakan kedua gadis itu di depan kelas untuk nilai yang memuaskan. Rani dan Rina hanya bisa tersenyum, karena setengah kelas nampak iri dengan hasil belajar kedua jelita. Berkat kemarin sore nampaknya.

Makan siang pun tiba waktunya. Rina mengajak Rani makan di kantin. Lagi-lagi bakso seperti kemarin. Bukan tanpa alasan, hari Rabu Kak Roni pasti mampir ke sini. Rabu adalah hari bakso untuk Kak Roni, karena hari Rabu adalah jadwal kegiatan olah raga di kelas Kak Roni, tepat sebelum jam makan siang. Dan bakso di kantin adalah favorit Kak Roni. Rina dan Rani telah mempelajari jadwal pujaan hati mereka. Tapi ternyata bukan hanya mereka. Terbukti dengan bangku-bangku di kantin yang hampir penuh terisi oleh perawan-perawan lainnya. Tetap saja mata mereka tak perdulikan lawan, semua bagai elang menatap mangsanya. Kak Roni tetap dingin tampangnya. Sudah terbiasa ditatap oleh perempuan-perempuan buas dari berbagai kelas.

Makan siang terasa sangat cepat. Andai Kak Roni makannya lebih pelan, tentu Rina dan Rani akan punya cukup waktu untuk melukis dan membingkainya dengan indah. Imajinasi murahan setiap perawan yang kasmaran. Tetap saja tak ada tanggapan mesra dari yang dipuja. Kak Roni bergegas kembali ke kelas untuk pelajaran berikutnya, sementara setengah dari penghuni kantin lupa menyantap makan siangnya, termasuk kedua kawan kita. Sesaat mereka sadar, keduanya saling tersipu, ketahuan isi hatinya masing-masing. Usai makan siang, keduanya berpencar saling merasa salah.

Sisa jam sekolah dihabiskan dalam bisu. Sama-sama merasa tak enak karena ketahuan cintanya pada Kak Roni. Rina takut menyakiti perasaan Rani, begitu pun Rani. Malu telah membungkus rapat mulut mereka. Bahkan guru di depan kelas sempat mengira keduanya sakit atau kenapa. Sungguh tak biasanya.

Pulang sekolah, Rina buru-buru pulang dengan alasan ada keperluan. Rani tak membantahnya. Rani pun pulang sendirian. Orang rumah langsung bertanya ada apa. Dengan lancarnya Rani berbohong bahwa Rina sedang tak enak badan. Orang rumah percaya saja, karena Rani memang sungkan berbohong. Rina pun mengalami dilema yang sama. Keduanya memilih berbohong kalau menyangkut perasaan yang satu ini. Hebatnya, tanpa janjian pun mereka melakukan hal yang sama. Mendinginkan kepala di bawah pancuran. Mandi yang sangat lama, sampai-sampai orang rumah mengira mereka pingsan di kamar mandi. Keduanya baik-baik saja, hanya jiwa mereka yang sedikit terlepas dari raganya. Atau otak mereka yang tiba-tiba putus kabelnya.

Esoknya mereka berusaha nampak biasa. Dan setengah berhasil kiranya. Bahkan mereka janjian kumpul di rumah Rina untuk belajar bersama. Dan sore itu ada kue tart masing-masing sepotong ditemani teh hangat. Favorit Rani. Nampaknya disengaja oleh Rina karena merasa tak enak dengan kejadian kemarin. Keduanya kini lebih terbuka membicarakan perasaan masing-masing. Dimulai dari Rina yang memberanikan diri menanyakan perasaan Rani pada Kak Roni. Rani pun nekat mengakui. Begitu pun Rina, walau setengah cemburu tapi senang karena akhirnya mereka saling terbuka. Dua gadis itu tertawa terbahak-bahak bercanda dan terlupa tentang pelajaran sekolah. Sore yang menyenangkan bagi keduanya.

Saat pukul enam tiba, saatnya Rani pulang. Ia pun pamit. Rina mengiyakan. Saat Rani selesai berkemas, Rina mengaku bahwa dua hari yang lalu ia terlambat belajar bersama karena mengantar surat cinta pada Kak Rino. Percikan api yang membuat Rani marah besar karena telah didahului. Rina hanya bisa menangis sedih. Berharap kemarahan Rani akan luluh. Tapi tidak. Pertengkaran itu semakin hebatnya sampai-sampai piring bekas kue tart melayang saling menghantam. Rina yang feminim pun berubah buas. Rani yang memang tomboi tak segan main tangan. Kini keduanya memegang pisau kue dan saling menikam. Wajah Rina yang cantik tergores di kanan, sedang wajah Rani tergores di kiri. Keduanya seperti orang gila yang membunuh dirinya sendiri di cermin. Air mata dan darah menitik ke lantai sampai orang rumah berhasil melerai kedua perawan yang nampak kesurupan. Jeritan histeris mengiringi mobil ambulance dari rumah Rina ke rumah sakit. Bahkan di atas tandu pun keduanya nampak begitu mesra saling menarik rambut tanpa suara. Untung kamar mereka terpisah. Setelah perawat menyerah mencari cara memisahkan tangan dengan rambut keduanya, diputuskanlah bahwa masing-masing mendapat rambut sejumlah yang digenggam tangan masing-masing. Perawat menggunting rambut-rambut malang itu untuk menemani keduanya di kamar masing-masing. Kini mereka nampak seperti orang gila dengan muka penuh luka dan rambut setengah botak. Kedua tangan mereka menggenggam rambut rivalnya.

Satu malam untuk mereka sadar dari emosi mengerikan. Rani dan Rina menangis penuh sesal ketika matahari terbit menyilaukan lewat jendela. Rambut-rambut malang itu akhirnya terbebas dari cengkeraman ganas, jatuh ke lantai. Kedua karib itu saling mencari untuk meminta maaf. Mengharukan orang rumah dari kedua pihak yang semua saling menyalahkan karena tak tahu penyebabnya. Kini Rani dan Rina sama-sama tak mungkin mendapatkan Kak Roni. Dengan wajah cacat dan rambut setengah botak, bahkan monyet pun akan takut melihat mereka. Sempat-sempatnya mereka bercanda ingin merusak wajah Kak Roni agar tak ada lagi perempuan-perempuan cantik di sekolah yang akan menggodanya. Rani dan Rina menjadi gila karena cinta. Hanya persahabatan mereka yang berhasil selamat dalam kecelakann parah ini.

Setelah menjalani perawatan yang cukup panjang, Rani dan Rina sembuh dari luka-luka di wajah. Bekasnya pun sudah hilang berkat perawatan mewah. Kini keduanya tak lagi bersaing memperebutkan Kak Roni, karena sudah ada kakak beradik kaya yang baru saja pindah ke komplek mereka.


Senin, 12 April 2010

Quick Sketches











































































































Berlebihkan jika imajinasi menyeruak ke permukaan merobek batas-batas. Berlebihkah manusia yang berusaha menyampaikan setiap pesan dari dasar hatinya kepada dunia. Berlebihlah bila dirasa semua itu percuma. Tapi tidak denganku. Bagiku suara-suara itu layak diperdengarkan.

Jumat, 09 April 2010

Sesuatu di Seberang Sana


Membayangkan dunia yang begitu luas, seolah tanpa batasan. Tak tahu apa yang ada nun jauh di sana, atau apa yang ada di belakang kita. Begitu mungilnya kita dengan benda-benda raksasa yang ukurannya berjuta-juta kali lipat tubuh manusia. Tapi kita terlahir dengan keangkuhan yang luar biasa. Tak hanya tumbuhan dan hewan yang menjadi korban penindasan. Bumi pun kita hancurkan dengan mesin perusak dunia. Teknologi yang kian tak terkendali dan perlahan menarik kita mendekati kiamat. Sementara kita, pencipta yang lengah dan terseret tanpa sadar akibat buaian manis dari kekayaan duniawi. Kita masuk perangkap. Dengan segala kemewahan ini, tak ada lagi yang perduli dengan alam. Tak ada lagi yang mau tahu.

Sebuah kemunafikan mulai dirajut sedemikian rupa seolah telah tumbuh kesadaran manusia untuk melindungi tempat hidupnya. Tapi semua semata-mata demi satu tujuan. Menciptakan pengikut sebanyak mungkin untuk bersiap menjadi volunteer dalam perang besar-besaran. Golongan yang nantinya akan menjadi kubu pemenang, menjadi pemilik tunggal dunia.

Kebiadaban terselubung itu tak akan diam dalam damai. Semua yang palsu pasti terkuak sejatinya dengan sendirinya. Bahkan tanpa campur tangan manusia manapun, bangkai akan diuraikan belatung. Begitulah kebusukan manusia akan terbongkar dengan sendirinya dan terjadi saling bantai. Hingga akhirnya nanti, hanya sedikit manusia tersisa di muka bumi ini. Menjadi mangsa bangsanya sendiri, juga predator yang telah bermutasi menjadi lebih ganas dan berkuasa di atas tanah, di dalam air, dan di angkasa. Manusia kini kewalahan tanpa daya. Semua senjata telah habis digunakan untuk membantai bangsanya sendiri. Peradaban turun drastis menjadi sedia kala, saat dimana manusia tak berdaya melawan alam dengan tangannya sendiri. Saat manusia terpaksa mengulurkan tangannya memelas pada alam untuk bertahan hidup.

Penyesalan selalu datang terlambat. Tapi penyesalan selalu membuka jalan pada kebaikan. Sesuatu di seberang sana tak menutup mata atas semua yang terjadi di bumi. Manusia mendapat satu kesempatan untuk mengulang. Satu kesempatan yang tak akan datang lagi. Bahkan sengaja tak ada paksaan apapun diberikan pada manusia. Sifat dasar yang tamak dan haus kekuasaan pun dibiarkan apa adanya. Apapun yang terjadi kemudian adalah tanggungnan seluruh umat manusia yang tersisa saat itu. Antara bertahan atau binasa, tak akan ada yang membantu. Sama seperti benih dandelion yang akhirnya menemukan tanah. Manusia harus memulai semua dari awalnya.

Dulu kita menindas tumbuhan dan binatang. Kini sebaliknya, kita adalah mangsa lemah tanpa daya. Alam menjadi jahat karena dulu kita menjahatinya. Karma memang ada. Andai dulu kita tak menyepelekannya. Sekarang, menangis pun percuma.

Ya Tuhan, masih sempat juga aku mengetikkan imajinasi setara sampah ini. Cerpen kemarin saja belum selesai dikarang. Dasar kebanyakan ngayal. Lama-lama nyawaku bisa habis tersedot dalam khayalan. Hahahahahahha

Kamis, 08 April 2010

Malam

Malam menunjukkan diri pada dunia
Serigala melolong tanpa busana tiada malunya
Burung hantu yang bijak pun menampak buasnya
Saat malam tiba
dunia ini berubah
nampak aslinya

Ada pemimpin yang terlihat agung dalam sorotan surya
Tapi menyetubuhi gadis belia saat malam tiba
Malam membuka pintu dosa bagi siapa saja
Tak terkecuali satu pun isi dunia
Bahkan tumbuhan mengeluarkan racunnya di malam hari
Mengganti oksigen dengan gas mematikan
Malam sungguh mengerikan

Makhluk-makhluk seram selalu muncul dalam gelap
Dalam ketidakberdayaan korbannya
Malam membantu setiap aksi jahat di dunia
Saat makhluk pagi terbuai lemas tanpa daya
Makhluk malam memangsanya
Malam memang mengerikan

Gelap akan tetap ada di siang hari
Di setiap celah dunia
Tapi terang tak sekuat malam
Saat lilin habis dan lampu kehabisan daya
Malam pun menang menindas secuil bias sinar
Malam memang mematikan