Selasa, 07 Januari 2014

Peri Kecilku

Kepada peri kecilku yang mungil dan cantik. Kepadamu yang sedari dulu tersimpan rapat di kotak pandora yang tenggelam ke dasar hatiku bersamaan dengan berlalunya waktu. Kepadamu yang sempat terlupa beberapa waktu bersama lamunan panjang dan jiwaku yang separuh beku. Malam ini aku membuka kembali petimu. Membuka kembali rasa yang seharusnya kusentuh agar hidup dan bernafas baru. Aku harus melihatmu, walau perih dan lebammu akan merasuki aku.

Malam purnama berselimut kabut tipis bernuansa dingin tapi lembut menghanyutkan. Lirih terdengar suara nyanyian makhluk-makhluk malam yang membuat bulu kuduk berdiri bagi orang-orang awam. Tidak buatku yang sesama makhluk malam. Aku manusia malam yang benci terang. Terlalu banyak perih yang kurasa di saat terang, hingga aku kabur dan bersembunyi bersama gelapnya malam, menikmati hidup bersendirian. Sekian lama, kenapa baru sekarang aku sadar betapa aku merasa kesepian. Seperti hidupku selama ini telah dicuri dariku. Tapi oleh siapa, tak lain tak bukan adalah diriku sendiri yang menjadi malingnya. Aku hidup tapi tak sepenuhnya hidup. Seperti sambaran petir di siang yang cerah, aku teringat dengan peri kecil yang telah aku kubur. Butuh perjalanan panjang untuk mencapai dasar hatiku. Tapi aku perlu ke sana untuk menghidupkan kembali jiwaku. Banyak orang yang telah memperingatkan aku bahwa penemuan jati diri akan melalui kenangan-kenangan pahit yang mungkin telah kita coba untuk lupakan, atau bahkan kita tutupi dengan kebahagiaan palsu dan kita buatkan taman bunga agar tak tercium busuknya. Tapi penyembuhan selalu membuka kembali luka lama. Dan malam ini... aku berjalan ke sana.

Awalnya aku menembus tirai pertama. Tirai sutera berwarna perak agak tembus pandang. Begitu lembut, hampir tak tersentuh oleh kulitku. Dibaliknya adalah hutan yang rindang. Hijaunya masih terlihat berkat cahaya bulan. Semakin jauh ke dalam semakin gelap dan hitam pekat. Aku takut, tak tahu apa yang ada di dalam sana. Tapi aku harus melewatinya untuk mencapai dasar hatiku. Aku menutup mata dan berjalan lurus ke depan. Terdengar isak tangis di depanku. Aku abaikan. Terdengar lagi semakin keras dan semakin dekat. Aku masih abaikan. Suara itu kini berada di sampingku, di sisi kanan. Aku tak berani melihat. Tanganku gemetar dan dingin. Kakiku tak mampu bergerak maju. Ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk bertatap muka dengan sesuatu yang berada di sisi kanan tubuhku. Sesuatu yang aku benci tapi harus aku hadapi. Entah apa itu. 

Entah berapa lama berselang tanpa aku berani memicingkan mata melihat apa itu yang ada di kanan. Dan sesuatu itu pun tak berusaha memaksa aku untuk melihat wujudnya. Aku tahu tak mungkin bisa melewati hutan ini tanpa melihat sesuatu itu. Aku memaksakan mata kananku untuk membuka. Hitam... berbulu. Tatapannya tajam mengarah tepat ke mataku. Matanya hijau seperti jamrud. Seekor serigala hitam. Aku menatapnya. Lebih tepatnya kami saling bertatapan. Seolah ia tengah mengirimkan pesan lewat tatapan matanya. Tapi aku tak mengerti isi pesan itu. Aku hanya diam berdiri dan menatapnya. Serigala itu tiba-tiba berbicara. Dengan bahasa manusia tentunya.

"Aku adalah lambang kekuatan. Penjaga rasa takutmu agar tidak keluar dari hutan ini. Aku juga menjaga agar kau tidak mencarinya ke dalam hutan itu. Aku adalah pedang bermata dua yang kau taruh di pintu masuk menuju hatimu. Lewati aku kalau memang kau berani." Serigala itu menyeringai memamerkan giginya yang tajam dan seputih mutiara.

Aku ketakutan dan diam. Sejak kapan aku menaruh makhluk ini untuk menjaga hatiku. Aku bahkan tak mengenalnya sama sekali. Atau mungkin aku pun melupakan bahwa aku telah meletakkan makhluk ini di sini. Aku harus melewati pengawalku sendiri untuk menuju hatiku. Sungguh ironis. 

"Bagaimana caranya agar aku bisa melewati kamu dan melanjutkan perjalanan ini ?" aku bertanya dengan suara gemetar.

"Tidak ada cara. Aku hanya menerima keberanian sebagai harga untuk membiarkanmu lewat tanpa cedera." Serigala itu membalas, lalu melangkah tepat ke depanku.

"Tanpa keberanian, lebih baik kamu berbalik dan pergi." Kali ini nadanya mengancam.

Aku hanya diam, dan bertahan di tempatku berdiri. Sambil memikirkan bagaimana caranya kabur dari makhluk yang terus menatapku di dengan tajam. Aku harus melewati ini untuk bisa masuk ke dalam hatiku. Aku kembali memejamkan mata, mencari keberanianku. Aku mencari sesuatu dalam diriku yang masih mau berjuang, mengumpulkannya. Aku membayangkan sesuatu yang kusebut keberanian itu keluar dari diriku. Aku mewujudkannya dalam bentuk sepasang serigala berbulu merah menyala. Keduanya perlahan mengelilingiku, seolah menunggu perintah dariku.

"Ijinkan aku lewat, setidaknya aku telah menampakkan keberanianku di hadapanmu. Aku tak ingin melukaimu." Aku berusaha mencari ijin dari serigala hitam yang masih terlihat garang.

"Lewati aku... dengan keberanianmu." Serigala hitam itu menerjang maju, menerkam kedua serigala merah yang merupakan perwujudan keberanianku.

Aku terkejut dan terlempar ke belakang, untung kedua serigala merah itu menghadang taring serigala hitam. Tak terbayang kondisiku bila terkoyak taring-taring tajam si serigala hitam. Aku melihat ketiganya bertempur garang. Serigala hitam itu begitu kuat, hingga imbang melawan sepasang keberanianku. Aku berharap-harap cemas dan setiap kali aku merasa dilanda takut, kedua serigala merah makin lemah. Aku pun belajar dari kesalahan itu, dan memberanikan diri. Menguatkan kedua keberanianku yang saat ini bertarung untukku. Aku harus kuat, untuk bisa menguatkan mereka. Dalam keadaan terdesak, keberanian memancar lebih dari yang kita tahu. Itulah rahasia yang membuat induk hewan rela mati untuk melindungi anak-anaknya. Keberanian semacam itu yang kini muncul dan akhirnya memenangkan pertarungan.

Serigala hitam itu terkoyak di lehernya, tersungkur dan bernafas terengah-engah. Aku melihat mata hijaunya yang indah kini berkaca-kaca. Aku bingung, kenapa ia terlihat bahagia. Tiba-tiba angin berhembus dari arah hutan, menerjang tubuhku. Ada sesuatu dalam angin itu. Ada satu ingatan yang merasuki aku bersamaan dengan angin itu. Aku berlari memeluk tubuh serigala hitam yang terbaring kaku dengan nafasnya yang memburu. Arion. ya... Arion namanya. Dialah "Tekad" yang kuletakkan di pintu masuk ini, tekad yang melarangku masuk kembali ke dalam hatiku. Sahabat terbaikku yang selalu ada setiap aku terjatuh. Aku telah menyakiti tekadku sendiri. Tapi tanpa melaluinya aku tak akan bisa masuk ke dalam hatiku. Aku memeluknya begitu erat dan menangis. Arion yang terluka parah malah tersenyum padaku. Ketika air mataku jatuh mengenai wajahnya, seketika itu setitik cahaya putih keluar dari bulu hitam Arion, lalu meluas seperti merontokkan bulu-bulu hitamnya. Luka di lehernya pun tertutup sempurna. Kini Arion berwujud serigala putih bermata hijau jamrud. Kini tekadku telah memihak padaku. Keberanianku berhasil mengubahnya. Aku senang berhasil melewati satu tirai dan menemukan kembali ingatan tentang sahabatku ini, tapi Arion memperingatkan aku bahwa di depan sana masih banyak bahaya yang merintang. Aku harus tetap waspada. Kami pun bersatu dan melanjutkan perjalanan.

Setiap penjaga memegang satu ingatan, dan Arion hanya mengingat bahwa aku tak boleh melewati hutan bila aku tak punya cukup keberanian. Dengan tekad dan keberanian, aku akan melewati ujian berikutnya. Aku menelusuri hutan yang tadi terlihat menakutkan, tapi bersama Arion, aku melangkah dengan pasti. Tirai berikutnya berwarna hitam, lebih kasar, seperti kain usang. Dibaliknya ada batuan karang hitam dengan pendar kristal-kristal tajam yang mencuat tak beraturan. Ada begitu banyak pendaran-pendaran berwarna putih seperti kunang-kunang. Tapi aku tak yakin apa itu. Aku juga mendengar suara seperti sesuatu yang bergesekan dengan tanah. Sesuatu yang berat, dan mengerikan.

"Siapa di sana ?" aku bertanya, hampir gemetar.

Tak ada jawaban, hanya gesekan-gesekan yang membuat bulu kuduk merinding. Gerakan yang terdengar semakin dekat dan terus mendekat. Aku berusaha melihat dalam kegelapan. Seketika, berhembus angin kencang. Seperti disengaja. Atau memang disengaja oleh makhluk di depanku. Arion berusaha menghalau terpaan angin, tapi ia terangkat dan terlempar jauh ke belakang. Begitu juga kedua serigala merah. Mereka seperti diikat di sana, dan aku kini sendirian. Lalu sosok itu menampak padaku. Seorang gadis kecil. Pucat, putih sekali. Bola matanya berwarna biru pudar, hampir serupa mayat. Rambutnya hitam sebahu, tanpa sehelai pun pakaian. Bukan, bukan gadis kecil. makhluk ini tidak memiliki pusar ataupun segala sesuatu yang seharusnya ada di tempatnya. Makhluk ini lebih mirip gadis bertubuh alien. Seperti tubuh yang terbuat dari silikon tanpa celah. Tangannya menggenggam sesuatu, kecil dan berdenyut. Astaga, gadis itu memegang jantung. Dari dalam jantung itu mencuat kristal-kristal tajam yang berpendar keperakan. Ia menatap tajam ke arahku, dengan ekspresi seperti marah, tapi juga sedih. 

"Cukup sampai di sini, jangan berharap untuk lewat." Bibir mungil makhluk itu bergerak, tapi suaranya merupakan paduan dari beberapa suara. Wanita, pria, dewasa dan anak-anak. Gadis itu mengancam dengan raut muka yang sama. Seperti marah, tapi juga sedih.

"Siapa kamu ?" aku melanjutkan bertanya. Walau aku tak yakin akan mendapat jawaban yang kumau.

"Siapa ? Aku ? kamu ?" makhluk itu menjawab dengan cara yang sama.
"Siapa kita ?" lalu ia tersenyum sinis dan melangkah mendekat.

Aku gemetar tapi berusaha tegar. Bukankah makhluk di depanku ini ternyata hanya setengah dari tinggi badanku, tapi kenapa rasanya dia jauh lebih kuat dariku ?

"Kau bertanya siapa aku... akulah rasa takutmu." Dan kemudian ia melangkah mundur dariku. 

"Rasa...takut..ku ?" aku merasa makhluk itu bukan sedang mundur, tapi bersiap menyerang ketika aku lengah.

"Bukankah sebagian besar hidupmu terisi dengan rasa takut ? takut akan dunia di luar sana yang terlalu menyakitkan untuk manusia lemah sepertimu. Takut akan pengalaman pahit yang melukai perasaanmu terlalu dalam. Takut akan mencintai kemudian lagi-lagi dan lagi, disakiti hingga kau memilih untuk membungkam hatimu, menutup mata hatimu, dan mematikan rasa, memadamkan satu-satunya penerang, sumber cahaya di dunia dasar hatimu ini. Tempat kau menyembunyikan... aku." Makhluk itu kini meringis mengerikan.

"Ijinkan aku melewatimu. Aku harus masuk lebih dalam." Aku memelas. Karena aku tak tahu harus bagaimana melewatinya.

"Kalau kau berani menggenggam jantung ini, dan bertahan, kau boleh melewati aku."

"Jantung ? jantung siapa itu ?"

Pertanyaan terakhir dariku tak mendapat jawaban. Ia hanya tersenyum sinis dan mendekat sambil mendorong jantung itu mendekati wajahku.

"Ambil..."

Aku mendekatkan tanganku pada jantung itu. menyentuhnya pelan. Dingin, dan berdenyut. Dengan kristal-kristal tajam yang ternyata jauh lebih hangat dari jantung itu sendiri. Rasanya begitu lembut, seolah akan lebur kalau aku menekannya lebih kuat. Aku hampir menikmatinya ketika kristal-kristal dari dalam jantung itu tiba-tiba berpendar dan seolah tumbuh, menusuk tangan-tanganku. Aku berteriak kesakitan. Sakitnya luar biasa. Rasa sakitnya menjalar dari tangan naik ke lengan, seolah menjalar. Dan lebih parahnya, aku tak bisa lepas darinya. Tunggu, ini bukan rasa sakit karena tertusuk kristal. Rasa sakit ini, kenapa aku mengenalinya lain dari rasa sakit seperti tertusuk jarum atau teriris pisau ? rasa sakit ini sangat kukenal. Rasa sakit ini...

"Cukup," kataku. Dan air mata menitik pelan, karena aku mengerti.

Makhluk itu tersenyum, lebih ramah. Tapi tak bertambah hidup sedikitpun. Lalu dari arah pusarnya (posisi di mana pusar manusia berada) terlihat ada cahaya. Cahaya itu seolah membelahnya dari dalam. Ajaib, yang keluar dari dalam tubuhnya. Seorang gadis kecil, rambutnya begitu putih, kulitnya seputih merpati, bola matanya merah keunguan. Sisanya begitu putih. Albino. 

"Akulah Nina, kelemahan terbesarmu, rasa takutmu, yang sesungguhnya hanya membutuhkan kamu untuk menerima aku. Jangan pernah sembunyi dariku. Jangan sembunyikan aku. Aku adalah kamu." Gadis itu berpendar, pecah menjadi jutaan cahaya serupa kunang-kunang, menyalakan kristal-kristal di ruang ini. 

Kini semua tampak benderang dan jauh dari kelam. Karang hitam berubah menjadi karang penuh warna dengan tanaman-tanaman dan air yang seolah mengalir keluar dari segala arah. Begitu hidup.

Rasa sakit yang tadi kurasakan, adalah rasa takut untuk kalah, rasa takut untuk mencoba, rasa takut untuk hidup menjadi diriku apa adanya. Dari pengalaman-pengalaman buruk, aku semakin takut untuk hidup. Bukankah rasa takut adalah semacam firasat untuk melindungi diri kita dari keterlukaan ? Bukankah rasa takut itu seharusnya ada dalam diri kita ? Tanpa rasa takut kita tak akan tahu batasan mana yang tidak boleh kita langgar. Tapi terlalu banyak rasa takut akan membuat kita terkurung dalam satu ruangan sempit. membuat kita mati juga. Jadi, rasa takut itu aku wujudkan dalam bentuk makhluk berkepribadian ganda. Ketika dibutuhkan, ia akan cukup kuat untuk menghentikan aku. Aku bersyukur menemukan kembali ingatan ini.

Di depan sana, ada satu pintu lagi. Tak terlalu besar, sebuah pintu kayu. Putih, dengan engsel kuningan berukir bunga lili. 

Aku segera mendekat dan menjulurkan tangan menyentuh engsel itu. Hangat. Lalu berubah panas. Kemudian membara. Aku pun menarik tanganku menjauh. Memang tak mungkin mudah karena semakin aku mendekati tujuanku. Aku tahu tantanganku akan semakin berat. Ada angin berhembus menyentuh wajahku, lalu berputar mengitari telinga hingga ke telinga lainnya. Dalam sentuhannya aku mendengar angin berbisik samar. 

"Ini lah hatimu, minta apa pun yang kau mau. Dia akan berikan apa pun itu, selama datangnya dari dirimu." Lalu angin itu melesat pergi.

"Apa pun itu ?"

"Pintu, ijinkan aku masuk !" aku diam dan melihat apa yang terjadi. Tak ada perubahan, tak ada suara, tak terjadi apa-apa. Tentu saja tak akan semudah itu, pikirku.

"Datang dari diriku ?"

"Hatiku... ya, hatiku. Aku ingin masuk."

Hening belasan detik, tapi terasa lama sekali hingga akhirnya terjadi reaksi. Engsel pintu itu seperti tumbuh menjalar, melilit pintu putih dan meremukkannya ke dalam hingga membentuk sebuah lubang besar. Cukup besar untuk aku merangkak ke dalam. Aku pun merangkak tanpa tahu apa yang ada di dalam sana.

Lubang itu ternyata cukup dalam. Aku merangkak hingga lututku perih. Mungkin kulit lututku telah mengelupas atau setidaknya melepuh. Cahaya di ujung sana semakin dekat. Ujung dari lubang pintu ini. Terang, putih menyilaukan. Saat aku tiba di ujung sana, ternyata lubang ini membawaku ke sebuah ruangan serba putih. Di tengah sana terdapat sebuah kotak putih dengan ukiran bunga lili berwarna keemasan. Inikah kotak pandora yang kucari ?

Aku berjalan pelan mendekat ke kotak berukuran tak lebih dari kotak tissue yang ada di rumah. Kusentuh setiap detailnya. Saat kusentuh, seolah ada pendaran dari kotak itu yang menyilaukan mataku. Seolah meminta aku untuk segera membukanya. 

"Klik..." Bunyi ketika aku membuka penutup kotak. Dan aku membukanya sangat perlahan hingga cahaya putih di dalamnya seolah tumpah ke luar.

Seketika aku telah berada di suatu tempat. Semuanya serba putih. Terang, dan tenang. Tidak dingin, juga tidak hangat. Tak ada angin berhembus dan tak ada gravitasi. Aku butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa aku melayang. Tak tahu mana atas, bawah, depan, belakang. Aku tak tahu berada di mana.

Dari kejauhan, ada yang mendekat ke arahku. Bayangan putih. Semula kupikir itu adalah Nina. Ternyata bukan. Sosok ini putih seperti Nina. Tapi tak jelas jenis kelaminnya. Wajahnya sehalus pualam, tapi rambutnya pendek seperti anak laki-laki. Alisnya maskulin, tapi ia tak berkelamin. Matanya biru muda hampir transparan. Mata yang indah, yang menenggelamkan setiap orang yang melihatnya. Ia berhenti tepat di hadapanku. Menyentuh wajahku, dan menatapku dengan tatapan orang yang sangat merindu.

"Apa kabar... bayanganku," ia bersuara, sama persis suaraku.

Aku kaget dan berusaha menjauh, tapi tangan-tangan kecilnya jauh lebih kuat dari yang kukira. 

"Apa maksudmu ? Aku bukan bayanganmu !" aku berusaha meronta.

"Bukan ? Lalu menurutmu aku ini apa ?" ia membalas bertanya.

"Kamu..." Dan aku bingung.

Kami berdua saling bertatapan cukup lama. Tanpa kata-kata. Tapi ia seperti menyuntikkan sebuah ingatan ke dalam otakku. Sesuatu yang aku sembunyikan dalam ruangan ini, bersamanya.

"Kamu... aku... kita... aku..." Aku meracau.



"Sekarang kamu mengerti ?" makhluk itu bertanya.

Air mataku berlinang. Aku mengerti semuanya. Alasan kenapa aku tak pernah bisa membawa makhluk ini keluar dari kotak pandora. 

Dia adalah aku. Aku juga adalah dia. Kami adalah satu yang terbagi menjadi dua. Seperti siang dan malam yang tak mungkin menyatu, tapi kami saling merindu dan melengkapi satu sama lain. Kadang dia ada menggantikan aku, dan kadang aku menggantikannya. Saat dia ada, aku harus menghilang. Tapi aku terlalu lama mencuranginya. Aku mengubur dan menutup jalan pulang karena aku tak ingin digantikan. Tanpa aku sadari, kebodohanku telah merusak keseimbangan yang seharusnya ada. Aku menjadi lepas kontrol, seperti kehilangan sesuatu tapi aku tak ingat lagi apa itu. Sesuatu yang fatal, sesuatu yang sangat vital. Celakanya, aku telah lupa bagaimana mengembalikan keseimbangan itu. Dia adalah hatiku. Peri kecilku. Kebahagiaanku. 

Bagaimana mungkin aku bisa bahagia kalau aku menyembunyikan rasa bahagia itu jauh di dalam hatiku. Mengubur dan melupakan bahwa ia ada di dalam sana, sementara aku sendiri sibuk mencari kebahagiaan di luar. Pada akhirnya, aku harus menyerah. Kebahagiaanku yang sejati terletak jauh di dalam diriku sendiri. Dan hari ini, aku bersyukur telah menemukannya kembali. Aku telah melepaskan diriku dari belenggu yang kuciptakan karena ego-ku. 

Aku memeluk erat makhluk itu, dan ia bersinar, terang sekali. Sekilas aku mendengar ia berbisik...

"Aku... Gray... Akulah kebahagiaanmu." bisiknya. Kemudian aku tertidur, dan Gray menggantikan aku untuk mengendalikan tubuhku.

***

Aku dan Gray bergiliran mengisi waktu sesuai dengan kondisi. Saat butuh menyendiri, aku muncul. Saat bergembira, Gray mengambil alih. Saat ini, tubuhku seimbang dengan seluruh karakter yang aku miliki dan telah aku temukan kembali. Peri kecilku ternyata tidak cantik seperti tinkerbel. Ia tampan walau tak berkelamin, dan aku bahagia bersamanya.

 


Jumat, 30 Agustus 2013

Berbaliklah Walau Sakitnya Menyayat Hati

Aku berharap esok akan datang lebih awal, Aku berharap esok menghampiriku dengan terangnya yang mengikis gelap di sekelilingku. Aku berharap... Aku akan berbalik dari ruang ini dan menerjang cahaya pagi. Walau jasadku harus terbakar habis.


Mereka yang di depan sana, adalah mereka yang terlihat bodohnya. Manusia mana yang lebih bodoh dari mereka ini. Yang ingin ditemukan, tapi terus menerus bersembunyi. Sama seperti hati yang kesepian tapi tak pernah membuka pintu untuk orang lain menghampiri. Begitulah kira-kira gambaran manusia di sekelilingku. Aku pun belajar menjadi serupa mereka. Tak jauh beda. Biar aku tak dianggap gila.

Manusia itu unik adanya. Mereka terlahir untuk meniru lingkungannya. Belajar bagaimana bertahan hidup dengan menyesuaikan diri. Membaur dengan makhluk di sekitarnya. Sebenarnya aku merasa aneh dan tak nyaman, tapi setidaknya aku aman. Itu menurutku. Tapi masalah itu justru dimulai dari dalam. Sesuatu dalam diriku perlahan memberontak dan ingin berkuasa. Sedangkan aku... terkikis dan mati perlahan.

***

Aku tak ingat berapa usiaku, yang jelas aku masih kecil. Itu karena mereka selalu meledekku, mengatai aku anak kecil, anak mami, anak emas dan lain sebagainya. Tentu saja bukan salahku kalau Mbok Min lebih sayang padaku karena (sekali lagi) aku belajar menyesuaikan diri dan menjadi makhluk yang disenangi di lingkungan ini. Aku menurut segala perintah Mbok Min, dan tidak melanggar larangan-larangannya. Begitulah kira-kira yang membuat Mbok Min selalu mendahulukan aku di meja makan, dan memberi perhatian lebih di luar ruang makan. Kurasa aku terlalu muda untuk belajar menyenangkan semua orang. Itulah sebabnya ada saja yang merasa iri dan tidak suka padaku. Aku mulai belajar untuk tidak terlalu pamer dan menjadi lebih diam, agar mereka tak semakin menjadi.

Mereka yang kumaksud adalah anak-anak panti asuhan tempat aku dibesarkan. Rupa kami semua berbeda satu sama lain. Bahkan sifat pun begitu. Padahal aku sempat berpikir mungkin kami semua ini hanyalah robot yang diciptakan oleh pabrik bernama Panti Asuhan Sugihwaras ini. Ternyata imajinasiku salah dan kenyataan berkata lain. Kami semua tercipta berbeda. Lalu imajinasiku berandai lagi, mungkin ini karena onderdil kami diambil dari rongsokan dengan porsi dan bentuk berlainan sehingga otak kami pun ternyata tak sama. Itu imajinasi yang jauh lebih masuk di akal.

Sehari-hari kami bangun, makan, mandi, bermain, belajar, bermain lagi, lalu makan lagi, mandi lagi dan tidur. begitu seterusnya. Benar-benar tidak menarik. Lebih parahnya, wilayah yang boleh kami jelajahi hanyalah sebatas pagar Panti Asuhan ini. Orang-orang di luar sana selalu memasang wajah aneh ketika memandang kami yang ada di dalam pagar. Mbok Min berkata, bahwa mereka tidak mengerti keindahan yang Tuhan turunkan dalam bentuk anak-anak manis seperti kami (Padahal tak jarang Mbok Min meneriakkan makian-makian seperti anak setan, atau nama-nama binatang saat memarahi anak-anak lain). Manusia itu memang luar biasa rumit untuk dipelajari.

Mbok Min tak sadar kalau aku belakangan mulai mengintip ke luar pagar. Bahkan berbincang-bincang dengan anak gadis di seberang rumah beberapa jam sebelum orang tuanya tiba-tiba berteriak dari dalam rumah meminta anak gadisnya menjauh dari pagar dan kembali masuk ke rumah. Dari gadis itu aku tahu kenapa orang-orang di luar sana memandang kami dengan aneh. Mereka menganggap kami ini anak haram yang tidak diinginkan. Kami ini manusia-manusia yang dibuang. Aku kaget mendengar kenyataan itu. Tapi aku tak berani menceritakannya pada anak-anak lain, apalagi pada Mbok Min.

***

Sebelas tahun di dalam kurungan ini, aku menjadi manusia yang begitu suram. Memendam semua hal yang seharusnya kuungkap tapi aku tak merasa perlu lagi karena aku tahu itu hanyalah perih yang menyakiti siapa saja yang mendengarnya. Aku tak lagi menikmati hidup seperti waktu kecilku dulu. Anak-anak Panti yang lain juga beberapa sepertinya mulai sadar makna kami di masyarakat ini. Tak sedikit yang berubah lebih suram dariku. Kami seperti bayangan yang gelap, yang menggeliat di atas tanah tanpa tujuan pasti. Aku tak tahu akan seperti apa esok pagi, apakah akan ada orang asing yang datang menjemputku pergi seperti beberapa anak lainnya, atau mungkin aku akan bernasib seperti penjaga kebun yang ternyata menghabiskan seluruh hidupnya di Panti Asuhan ini (melihat dari umurnya, sangat kecil kemungkinan untuknya pergi dari sini dalam keadaan hidup).

Aku sempat menulis surat kepada Tuhan, melayangkannya dalam genggaman kaki burung merpati. Tapi aku tak pernah mendapat balasan. Aku pernah juga mengikat suratku pada seekor tikus dan tentu saja tidak  pernah ada surat balasan untukku. betapa bodohnya aku. Mungkin Tuhan pun jijik dengan surat yang kutulis di atas kertas lusuh. Tapi hanya itu yang bisa kudapat di Panti Asuhan sangat sederhana ini. Jumlah kami terlalu banyak hingga segala sesuatunya harus dipakai bergiliran atau dibagi hingga hampir tak berbentuk lagi. Miris, tapi tak berdaya untuk mengubahnya. Kami hanyalah anak-anak yang patuh pada aturan agar tidak mendapat hukuman cambuk dari Mbok Min.

***

Tahun ke-tiga-belas, Ada sepasang suami istri datang melihat-lihat Panti dan sepertinya berminat padaku. Aku senang sekali. Sejak pertama kali bertemu, mereka menjadi tamu rutin setiap minggunya, membawakan banyak kue dan mainan untuk kami. Tak ada yang sempurna menurut Mbok Min, tapi bagiku kedua orang ini tentulah calon sempurna untuk menjadi orang tua yang paling sempurna. 

Harapanku sirna pada bulan ketiga ketika suaminya meninggal dalam kecelakaan hebat. Wanita itu terlihat lebih suram dariku. Kue terakhir darinya pun seolah terasa pahit dan tercekat di leherku. Aku menangis sejadi-jadinya seolah kedua orang-tuaku-lah yang telah mati. Pada saat itu aku baru sadar, ini pertama kalinya aku memikirkan kedua orang-tua kandungku.

***

Dua puluh tahun di sini, dan hari itu pun tiba. Kedua orang-tua kandungku datang dan mencariku. Mbok Min yang mulai sedikit pikun mengaku tak salah lagi bahwa mereka lah orang-tua kandungku. Tapi aku merasa tak penting lagi mereka datang sekarang. Aku bukan lagi anak kecil yang berharap dikasihi atau pun dikasihani. Aku kesal kenapa mereka meninggalkan aku selama dua puluh tahun lamanya. Tak ada alasan yang bisa membenarkan perbuatan mereka. Mereka sekarang hidup berkecukupan, tapi tidak bisa memiliki keturunan lagi. Mereka berkisah bahwa dulu kehidupan mereka sangatlah miskin. Keluarga mereka pun menentang pernikahan mereka. Sayangnya masa kelam itu tak sekelam apa yang ada dalam hatiku sekarang. Mereka melahirkan malaikat yang menelurkan iblis dalam dirinya. Akulah anak mereka yang manis menggemaskan tapi menyimpan emosi meledak-ledak tak terlihat oleh mata. 

Dengan segala cara, mereka meminta aku untuk pulang dan kembali menjadi anak mereka. Segala janji manis ditawarkan agar aku luluh. Aku pun setuju, tapi bukan karena janji-janji itu. Aku ingin berbagi kelam ini bersama kedua orang-tua-ku.

***

Satu bulan berlalu sejak aku pulang, dan rumah ini berubah menjadi neraka. Tak ada satu pun pembantu yang suka dengan kehadiranku. Ayah dan Ibu (begitu kira-kira aku memanggilnya sekarang) tahu aku sengaja berulah. Mereka hanya diam. Mungkin karena mereka merasa bersalah, atau mungkin karena memang hanya aku satu-satunya anak kandung yang mereka punya hingga tak ada pilihan lain. Aku tak perduli juga. Aku terus berulah hingga ketika aku menemukan kotak itu. Kotak berisi buku harian Ibu. 


"Diary-ku, aku tak habis pikir mengapa hidup melemparkan aku ke dalam lautan api ketika sejengkal lagi aku akan tiba di padang bunga serupa surga. Aku kehilangan harga diriku oleh orang yang seharusnya menjagaku lebih dari apa pun. Aku malu dan kehilangan harapan hidup. Sungguh aku tak tahu harus ke mana berkisah. Hanya kau dan lembaran-lembaran terakhir ini yang tersisa untuk berbagi tangis dan pedihku. Aku sungguh beruntung kekasihku masih membela aku dan bersedia menikahiku. Tapi tidak dengan anak yang kukandung sekarang ini. Kau tak tahu betapa hancurnya hatiku harus membuang anak ini, walau aku membenci orang yang menitipkannya dalam rahimku. Bagaimana mungkin aku membuang darah dagingku tanpa sesal dan merasa salah. Deritaku sebagai wanita lengkaplah sudah."


Aku membakar diary itu. Membakar rumah itu dan kedua orang-tuaku. Aku membakar semua yang ada di rumah itu bersama kenangan pahit di dalamnya. Lalu aku membakar diriku sendiri hingga menjadi abu.
 

Rabu, 07 Agustus 2013

Kau Pasti Kembali

Aku bisa menunggu,
itu janji yang terucap dariku.
Aku bisa menunggu hingga kapan kau kembali
Bersamaku lagi.

Seribu sepi dan jutaan tangis
Rasa takut karena sendiri
Kulalui semua itu tanpa ragu
Karena ku tahu kau pasti kembali

Jangan pergi dariku
Terlalu lama jauh dariku
Jangan pergi dariku
Jangan lupa kembali padaku

Dan aku masih terus menunggu
Bersama hujan dan badai rindu yang lalu
Kulalui semua itu tanpa ragu
Karena ku tahu kau pasti kembali

Jangan pergi dariku
Terlalu lama jauh dariku
Jangan pergi dariku
Jangan lupa kembali padaku

Jangan pergi dariku
Terlalu lama jauh dariku
Jangan pergi dariku
Cepatlah pulang ke sisiku

Selasa, 16 Juli 2013

Temanku buka usaha tour untuk ke eropa dan berbagai tempat wisata lainnya. Bagi yang sedang butuh tour guide untuk ke sana bisa menghubungi Danny Lim dengan kontak yang ada di atas. :)



Kamis, 27 Juni 2013

Spirit Room

Aku memejamkan mata... Cukup lama hingga aku tak ingat tepatnya berapa lama. Aku merasa nyaman dan tenang. Mungkin lebih tepatnya aku memejamkan mata untuk mencari ketenangan itu sendiri. Lalu aku perlahan membuka kedua mataku. 

Aku duduk dalam sebuah kamar, ukurannya cukup luas untuk belasan orang. Dinding semen kasar berwarna putih dengan ornamen kayu bertema shabby chic dengan jendela besar kesukaanku berada di kiri tempat aku duduk. Jendela selebar dinding berbentuk lengkungan di bagian atas dan siku di bagian bawah, seluruhnya kaca tanpa bingkai tengah. Di bagian bawahnya ada sedikit tempat untuk duduk, lengkap dengan bantal dan beberapa pot-kaca-kecil berisi bunga. Di luar jendela adalah taman. Aku bisa melihat taman itu walaupun samar karena di luar temaram oleh purnama. Aku duduk di kursi kayu dengan dudukan busa empuk. Berwarna putih pucat dan tekstur kayu tua. Begitu juga meja di depanku. Meja putih pucat dari kayu bekas, di atasnya terdapat pot-kaca-kecil berisi air dengan bunga lotus putih mengapung di atasnya. Saat aku memperhatikan lebih dekat, aku melihat ada kristal-kristal kecil di dasar pot itu. Di seberangku ada perapian dari batu bata yang dicat warna putih dan dinding di atasnya sengaja diberi semen kasar. Tak jauh dari perapian ada sofa dan meja yang cukup besar untuk kumpul keluarga. Aku suka sekali dengan ruangan ini. Pintunya terletak di sebelah kanan tempat aku duduk. Pintu itu seperti pintu kapal, bentuknya versi panjang dari jendela. Ada bulatan jendela kaca di pintu itu, setinggi kepala orang dewasa. Aku tidak melihat apa-apa di balik kaca itu, hanya kegelapan yang pekat. Aku tak ingin mencari tahu apa yang ada di balik pintu itu, karena aku merasa nyaman berada dalam ruangan ini.

Aku memejamkan mata sekali lagi. Lalu aku mulai mendengar suara-suara. Agak ramai. Ada suara wanita, pria, dewasa, remaja, dan anak-anak. Aku membuka mata. Ruangan ini menjadi temaram, tapi aku tak lagi sendirian. Ada beberapa orang bersamaku di ruangan ini. Mereka masing-masing memegang satu lilin putih yang menyala. Lilin-lilin inilah yang sekarang menerangi ruangan. Yang paling mencolok adalah wanita dengan pakaian sangat minim, duduk bersila di sofa dengan gayanya yang menggoda. Wanita itu mengenakan rok mini berwarna khaki yang hampir tidak berfungsi menutup tubuhnya. Atasannya hanya berupa kutang sewarna bawahannya. Bibirnya dipoles begitu indah hingga setiap pria yang melihat pasti ingin mengecupnya. Postur tubuhnya seperti model. Aku tak tahu siapa dia, tapi aku merasa tak asing dengannya. Lalu ada seorang pria yang tampak rupawan, rapi dengan jas dan rambutnya tertata licin. Wajahnya rupawan tapi terlihat licik. Berdiri di sudut ruangan, ada seorang anak kecil yang tertunduk sedih. Lalu ada seorang gadis manis, agak tomboi, duduk di jendela memandangi purnama. Aku memandangi lilin di depanku, di atas meja dan aku baru sadar, ada seorang pria lainnya berpakaian abu-abu dan wajahnya agak tersembunyi dalam bayang-bayang tapi jelas dia rupawan, berdiri di seberangku dekat perapian, dia tidak membawa lilin.

"Bisa mulai ?" Pria tanpa lilin itu memecah keheningan dalam ruang. Semua mata tertuju padanya tak lama lalu kembali menatap ke arah lilin masing-masing.

Wanita yang mengundang perhatian itu menghela nafas panjang, lalu menghembus pelan menghabiskan udara yang tadi dihisapnya. Lalu ia memulai apa yang dimaksud pria tadi.

"Aku... pemilik sifat genit, acuh, angkuh, materialistis. Aku ada di sini sejak dua puluh tahun yang lalu. Dunia membentuk aku, dan kemudian membenci kehadiranku. Tapi aku tetap ada karena kalian butuh aku. Aku tidak suka melihat mereka berbisik di belakangku, sementara kehadiranku berasal dari ulah mereka. Manusia memang egois, dan egois itu menular dari satu ke yang lainnya. Selain sifat jelek, aku juga menyimpan sifat positif. Aku pengisi keceriaan, tawa dan banyak orang menyukaiku. Aku selalu berusaha menyenangkan orang lain. Tapi aku benci anak kecil. Mungkin karena aku membenci kepolosan dan sifat manja mereka. Aku lebih suka bermain dengan orang dewasa, membuat mereka terpana, jatuh cinta. Tapi seringnya aku lah yang terlalu mudah jatuh cinta dan pada akhirnya terluka. Hidup memang tak adil buatku, tapi keadilan itu sendiri rancu. Adil buatku mungkin tak adil bagi yang lainnya. Bukankah semua manusia itu egois ? seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Untungnya hatiku ini perlahan mati rasa. Belajar melepas rasa cinta, dan perlahan menjadi budak seks semata. Aku sadar bahwa itu salah, itu dosa. Tapi aku tak sanggup menghentikannya. Mungkin aku tercipta untuk mengemban tugas ini, yang tidak semua orang mau mengerjakannya. Dan aku tidak menyesalinya." Wanita itu tersenyum tipis, lalu memejamkan mata dan meniup mati lilin dalam genggamannya. Bersamaan dengan padamnya lilin, wanita itu memudar mengikuti asap di pucuk lilin. 

Semua diam, aku pun diam. Seolah tak ada apa pun yang terjadi. Tapi dalam dadaku, jantung ini terasa sakit seperti di iris-iris.

"Selanjutnya ?" Pria berpakaian abu-abu kembali bersuara. 

"Aku..." Pria lainnya bersuara. "Aku yang berikutnya." Pria itu melanjutkan.

"Aku... pemillik sifat iri, dengki, tamak, penuh muslihat. Aku juga mengandung cemburu yang buta. Tak jarang aku melahirkan sifat kejam, setara pembunuh berdarah dingin. Psikopat. Bukan berarti semua dalam diriku bersifat negatif. Aku ada karena dunia terlalu kejam padaku. Aku ada sebagai pelindung. Tanpa kelicikanku, aku pasti kalah bersaing dengan manusia-manusia lainnya yang dengan mudah akan mencuri daya hidupku, menguras harta bendaku, tenagaku, dan emosiku. Bukankah manusia paling hebat adalah manusia yang mampu meninggalkan manusia lainnya beberapa langkah di belakang ? Aku harus berjuang meninggalkan mereka dengan cara apa pun. Karena aku ingin terus hidup. Kesombongan bukan bagian dariku. Aku hanyalah alat untuk mencapai posisi itu. Aku melihat penderitaan mereka tapi aku tak tergerak untuk menolongnya. Tanpa mereka, hidupku akan lebih mudah. Bukankah hatiku sudah cukup lelah melihat tangisan darah dan air mata sejak enam belas tahun yang lalu ? Sudah sepantasnya aku berhenti menguras emosi demi mereka yang aku bahkan tak kenal Bapak-Ibu-nya atau siapa anaknya dari siapa. Aku ada untuk bertahan dari penderitaan dunia. Aku-lah ketegaran. Tak terbawa arus kesedihan yang meluap di muka Bumi. Aku berjuang melangkah ke daratan yang paling tinggi." Pria itu memejamkan mata, meniup mati lilin dalam genggamannya, dan memudar seperti wanita tadi.

Sesaat setelah Pria rupawan itu memudar, gadis yang sedari tadi terduduk diam di jendela beranjak berdiri dan mulai berbicara.
 
"Aku... pemilik sifat tomboi, pendiam, santai, tak acuh, menikmati duniaku sendiri. Penuh imajinasi dan tak tersentuh dunia luar. Aku seniman yang terlahir untuk diriku sendiri. Walaupun tomboi, tapi aku menyimpan sifat keibuan. Aku sayang dengan anak kecil, bahkan bisa lebih perhatian daripada suster-suster sewaan yang merajalela sekarang. Tak ada yang memperhatikan kelebihanku karena aku terlalu pendiam. Aku pun tak berusaha membuktikan apa-pun karena aku sudah terbiasa sendirian dalam dunia imajinasiku. Aku bahkan sempat menganggap mereka tak penting untuk ada ataupun tiada. Bukankah aku cukup bahagia walau sendirian dalam duniaku ? Kenapa harus peduli dengan apa yang terjadi di luar sana ? Karena aku tahu mereka pun tak peduli padaku. Goresan tanganku yang lembut meliuk-liuk mewarnai lembaran-lembaran waktu. Kadang aku menekan keras pensilku, membentuk garis-garis pekat dan kaku. Apa pun yang kuciptakan, adalah seni. Luapan emosi. Hanya mereka yang sejiwa denganku yang bisa menerjemahkannya, menikmatinya. Aku adalah seni yang mengalir dalam aliran sungai Bima Sakti. Tak terhenti oleh rintangan." Gadis itu memejamkan mata lalu melakukan hal yang sama seperti dua orang tadi. Maka ia pun memudar dari ruangan yang semakin gelap ini.

Bocah laki-laki di sudut ruangan kini maju mendekat padaku. Ia berhenti beberapa langkah dariku. Wajahnya terangkat, dan baru sekarang aku melihatnya. Putih mulus seperti porselen. Rambutnya hitam pekat dan terlihat lembut terawat seperti disisir seratus kali tiap pagi dan malam. Bocah itu tersenyum kecil dan mulai berbicara.

"Aku... pemilik sifat manja, nakal, dan ingin tahu. Aku tidak sabaran, temperamental. Aku juga kadang berbohong untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku sangat mencintai barang-barang milikku. Tak ada orang lain yang boleh menyentuh barang-barangku, tapi barang-barang mereka harus rela dibagi denganku. Kalau mereka tak rela, maka barang-barang itu akan menjadi milikku dengan cara apapun. Aku adalah jiwa polos yang mudah tersentuh. Aku sensitif dan menawan. Orang dewasa melihatku sebagai makhluk polos yang begitu menggemaskan. Mereka tak sadar dengan peribahasa 'Serigala berbulu domba' dan seringnya mereka tertipu dengan apa yang mereka lihat pada diriku. Aku selalu takut kesepian. Aku ingin menjadi pusat perhatian. Aku berusaha menjadi riang agar disukai banyak orang. Kadang aku bertingkah aneh dan berkorban perasaan. Aku hanya tak ingin sendirian." Bocah itu memejamkan mata, lalu meniup mati lilinnya dan segera memudar.

Setiap kali lilin padam, aku merasa semakin hampa. Sekarang, aku hampir merasa kosong. Tapi inilah aku, yang sebenarnya. Aku hampir tak merasakan apa-apa. Seperti helaian kain putih yang benar-benar lepas dari noda. 

Pria tanpa lilin mulai berbicara.

"Aku... yang datang di awal dan di akhir perjalananmu. Aku mengantar dan menjemput. Tak mengisi juga tak mengurangi apa yang ada dalam hidupmu. Aku hanya mengembalikanmu ke semula. Kamu baru saja menyelesaikan satu kali perjalanan hidup, dan mungkin segera melanjutkan perjalananmu ke hidup yang berikutnya, atau kembali menyatu dengan Roh lainnya di alam kita. Apakah kamu siap untuk kembali pulang bersama denganku ?" Pria itu bertanya.

Dan aku Ingat sekarang. Aku adalah Roh. Bangsa kami adalah pengamat, penjelajah. Kami datang ke dunia dalam keadaan suci dan polos. Selama berada di dunia, kami akan berkembang. Menciptakan "Aku" lainnya sepanjang perjalanan. Seperti keempat "Aku" yang tadi ada dalam ruangan. Tapi pada akhir perjalanan, kami harus disucikan kembali. Semua "Aku" yang lain harus dihilangkan sebelum kami pulang ke alam Roh. Tujuannya ? Untuk melihat berapa banyak dari kami yang berhasil pulang, tidak terjebak oleh "Aku" yang kami ciptakan sendiri. Terlalu banyak dari kami yang pada akhirnya bergentayangan di dunia karena tak sanggup melepas "Aku". Terlalu banyak hingga pada akhirnya kami terus bergiliran datang ke dunia untuk menyadarkan kaum kami agar pada akhirnya tak ada satu pun dari kami yang terdampar dan menderita di dunia. Kali ini perjalananku berakhir, aku harus pulang bersama Pria itu. Aku tak merasa takut atau sedih. Aku tak merasa kehilangan atau bahagia.

Pria itu mengulurkan tangan padaku, dan aku menyentuh tangannya dengan tanganku. Aku memejamkan mata, lalu meniup mati lilin dalam genggamanku, dan aku memudar.

***
Bunyi bip... yang panjang terdengar dari salah satu kamar di ruang gawat darurat rumah sakit (yang katanya terkemuka) di Ibu kota. Seorang pemuda baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Ia tenggelam ketika berusaha menyelamatkan seorang anak kecil yang jatuh ke kolam, sementara dia sendiri tak pandai berenang. Sanak saudaranya tengah duduk cemas di ruang tunggu. Bisa kau tebak kelanjutannya, tangis mereka akan pecah hingga hari ketika jasadnya masuk ke bumi. Tapi kesedihan seperti ini... sudah ada lama sekali di muka bumi. Kita menyebutnya perpisahan, dan kita tidak pernah siap menghadapinya.



Kamis, 27 Desember 2012

Gemintang

Gemintang di langit malam kelap-kelip seolah bermain mata. Terlihat riang menyapa siapa saja yang mau meletakkan pandangannya ke langit malam yang gelap. Aku suka bintang. Lebih suka bintang daripada matahari yang menyengat. Aku juga suka bulan. Tapi bintang memiliki makna tersendiri buatku. Makna khusus yang aku sendiri tak tahu artinya. Yang aku tahu, memandang gemintang di langit malam membuat suasana hatiku tenang dan nyaman.

Aku Ony. Pemuda 26 tahun yang hobi meluangkan waktu untuk meluapkan emosiku dalam bentuk rentetan aksara atau lebih seringnya goresan pensil yang kusebut sketsa. Aku memulai "hidup" sebagai diriku sendiri sejak awal kuliah, ketika Mama tinggal berjauhan denganku. Sebagai anak bungsu aku terlatih untuk menurut segala perintah orang tua. Tidak bermain dengan berandalan kampung, tidak keluyuran dengan teman-teman sekolah yang saat itu paling doyan berhamburan di jalanan kota hingga maghrib tiba. Sejak SMP, jadwalku sepulang sekolah adalah pulang, dan mengurung diri dalam kamar. Jangan heran kalau dinding kamarku saat itu penuh dengan goresan tanganku dan poster-poster kesukaanku karena aku memang menghabiskan terlalu banyak waktu bermesraan dengan kamar itu. Aku mencoba menghapus rasa kesepian itu dengan musik (jadi jangan heran kalau aku hafal sekali lagu-lagu tahun 80-an seperti Nike Ardilla, Nicky Astria, dan Inka Christy, Nugie, Katon Bagaskara, dll. LOL). Aku besar di Pekalongan, sebuah kota kecil dengan langit malam yang sehitam rambut di iklan shampo. Apalagi ketika listrik padam. Berjalan ke depan rumah dan tinggal mengangkat kepala ke atas, dan kita akan merasa seperti terhisap ke luar angkasa. Sekeliling gelap, dengan taburan bintang seperti ketombe di rambut hitam. Dulu, di depan rumahku adalah sawah. Saat malam tiba, jalan ke sawah (tidak semudah mengucapkannya karena jalan di pematang sawah hanya selebar dua tapak kaki dan sebagian berupa tanah licin yang lunak, belum lagi rasa was-was dengan ular sawah atau serangga lainnya) sangat menyenangkan. Aku dulu sering melakukannya. Seolah-olah cukup dengan mengangkat tangan saja aku bisa memeluk langit beserta gemintangnya yang begitu menggoda. 

Demikian sepenggal kecil kisah aku dan kota yang telah membesarkanku. Tapi kisah kali ini tak terlalu menyentuh ranah itu. Kisah ini tentang aku dan Rima. Settingnya ada di masa SMP menjelang SMA. Di pematang sawah sore menjelang malam. Teman sepermainanku tampaknya enggan pulang, sedangkan Mama sudah memanggilku terus. Aku sering ditakut-takuti agar pulang sebelum maghrib karena pada saat-saat tersebut, pintu neraka akan dibuka dan setan bebas berkeliaran mengganggu manusia. Aku tak tega meninggalkan Rima sendirian. Matanya seperti memohon agar aku mau menemaninya sebentar lagi. Rima tidak perlu takut dicari oleh kedua orang-tuanya. Papa dan Mama Rima tak terlalu perhatian, cenderung acuh dan kasar padanya. Tak jarang Rima datang ke sekolah dalam kondisi memar di tangan atau betisnya. Semua guru di sekolahku pasrah karena tak bisa banyak membantu. Bagaimana pun juga, itu sudah masuk masalah pribadi keluarga Rima. Aku sedih melihat temanku bernasib seperti itu. Tapi Rima sendirian tegar menghadapinya. Waktu kecil aku juga sering dipukul, saat-saat aku nakal atau membuat marah Mama. Tapi setiap selesai dipukul, mama akan mengusap-usap bekas pukulan itu. Kalau memar, mama akan segera mengolesi dengan salep. Aku merasakan kasih sayang itu, yang luput dari temanku Rima. Karena itulah aku berani menolak panggilan pulang dari Mama, aku bilang sebentar lagi saja, sampai Rima pulang. Mama tahu kondisi keluarga Rima, makanya kadang aku diberi kelonggaran demi menghibur temanku ini. Tak jarang, Mama mengajak Rima makan di rumah. Siapa yang tak akan kasihan melihat gadis belia kurus kering dengan memar yang silih berganti menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Langit gelap gulita sekarang. Aku berlari pulang mengambil senter dan dalam sekejap sudah kembali ke samping Rima dengan sepiring pisang goreng dan sebungkus teh manis. Aku tahu Rima belum makan seharian. Aku sudah hafal ekspresi matanya ketika kedua orang-tuanya ribut besar, dan Rima terpaksa kabur ke sawah daripada menjadi sasaran kemarahan mereka. Memikirkannya saja membuat hatiku pilu tersayat-sayat. Aku sepatutnya bersyukur memiliki orang-tua yang jauh lebih baik dibanding orang-tua Rima.

"Ny... ingat gak waktu pertama kita kenalan. Kamu pernah bilang suka bintang kan ?" Rima membuka pembicaraan sambil menggigit dengan lahap pisang goreng yang sebenarnya sudah lembek itu. Seolah-olah pisang goreng itu begitu nikmat rasanya. Rima memang selalu berkata bahwa masakan Mama enak karena mengandung rasa cinta seorang Mama.

"iya, aku ingat. Kamu juga suka bintang kan ? kamu bilang begitu." Aku menjawabnya sambil mengingat saat pertama bertemu Rima di tempat ini. Saat itu ia tengah menangis tersedu-sedu habis dihajar dengan gagang sapu oleh Papanya.
"Ngomong-ngomong, kamu tahu gak nama-nama rasi bintang ?" aku melanjutkan.

"Enggak. Kenapa ?" Rima bertanya dengan nada heran.

"Kan kamu bilang suka bintang, pasti kamu banyak mencari tahu tentang bintang kan?"

Rima terdiam sejenak. Matanya sayu. Aku merasa telah mengatakan sesuatu yang telah menyakiti perasaannya. Walaupun aku tak tahu bagian mana yang salah dari pertanyaan sederhana itu.

"Kalau aku suka dengan bintang, bukan berarti aku harus tahu semuanya tentang bintang kan Ny ? Aku sudah cukup senang bisa melihat mereka kelap-kelip di atas sana." Rima menjawab pelan sambil melahap pisang goreng di tangannya, tanpa melihat ke arahku. 
 
"Ny, kalau aku adalah bintang, apa kamu juga akan mencari tahu segala sesuatu tentang aku ? Orang tuaku aja gak pernah mau tahu." 

Setelah itu, kami berdua terdiam hingga satu porsi besar pisang itu habis dimakan sendiri oleh Rima. Tak lama, ia pun pamit dan pulang. Aku sempat bertanya apa dia yakin mau pulang secepat itu, karena biasanya Rima baru akan pulang ketika larut malam tiba, ketika kedua orang-tuanya sudah terlelap karena tenaganya terkuras dalam pertempuran suami istri.  

Keesokan harinya, aku tak melihat Rima di sekolah. Begitu juga besoknya dan besoknya lagi. Aku tak pernah melihat Rima lagi di sekolah, atau pun di sawah. Aku baru tahu satu minggu setelah malam terakhir aku bertemu Rima, malam itu juga Rima bunuh diri dengan memutuskan nadinya di kamar mandi. Aku berpikir apakah mungkin karena pertanyaanku semalam. Apakah Rima bunuh diri gara-gara aku ? Sedikit banyak aku merasa bersalah atas kematian temanku Rima. Andai malam itu aku menahannya lebih lama, mungkin Rima tak akan bunuh diri. Mungkin.

Aku tumbuh besar dengan usaha melupakan gadis bernama Rima yang mati dalam usianya yang begitu muda. Gadis yang seolah terlahir untuk tersika hingga akhir hidupnya. Sekarang aku memandang gemintang ini dengan Ridwan, tetanggaku yang juga teman SMA-ku. Kami bercerita banyak sejak pertama bertemu di kelas baru. Sekarang memandang bintang semakin seru karena Ridwan jago memetik gitar sambil berdendang. Paling menyenangkan adalah masa panen ketika tanah di sawah mengering dan dipenuhi tumpukan jerami kering. Kami bisa berbaring nyaman di atasnya, seperti tidur di atas kasur dengan pemandangan langit malam dan gemintang.

"Ny, kamu kan suka bintang. Pasti kamu tahu dong, nama-nama rasi bintang di atas sana ?" Ridwan bertanya padaku sambil memetik pelan gitar di atas perutnya.

"Memangnya kalau aku suka bintang, terus aku harus mencari tahu semua tentang bintang ?" Aku teringat pertanyaan lama ini.

"Enggak sih, cuma penasaran aja." Ridwan sepertinya kecewa dengan jawaban ketus dariku.

"Wan, dulu temanku pernah bilang. Kalau kita suka dengan bintang, bukan berarti kita harus tahu semuanya tentang bintang kan ? Seharusnya kita sudah cukup senang bisa melihat mereka kelap-kelip di atas sana."

"Wuih, canggih amat bahasamu Ny." Ridwan menyindirku, dan kubalas dengan tatapan ketus (yang entah terlihat atau tidak dalam gelapnya malam).

Dan persahabatan kami berlanjut hingga akhirnya kami terpisah karena kuliah di kota yang berbeda. Awalnya kami berjanji saling menghubungi dan tidak akan putus hubungan. Tapi kenyataan berkata lain. Hanya dalam hitungan bulan, kami sudah kehilangan komunikasi.

Walaupun aku mulai melupakan masa-masa bersama Ridwan, tapi aku masih menyimpan kata-kata Rima dalam benakku, dan tak bisa kuhilangkan. Aku baru menyadari makna yang begitu dalam dari kalimat itu, hari ini. Ketika aku sedang sendiri dan memikirkan pujaan hatiku yang mungkin telah melupakan aku dan menjadi pendamping orang lain. Ketika kita begitu memuja bintang dan ingin mencari tahu, mungkin kita akan bisa menghafalkan nama mereka satu per satu, bahkan menghafal seluruh rasi bintang di atas sana. Tapi apakah dengan begitu, akan merubah indahnya kelap-kelipnya yang menenangkan ? Mungkin kita justru akan lupa dengan rasa kagum itu karena terlalu sibuk menyusun mereka dalam gugusan rasi bintang. Seharusnya aku tak perlu memikirkan pujaan hatiku itu. Biarlah ia bersinar terang walaupun ia jauh dariku seperti kerlipan bintang di atas sana. Andai aku lebih peka dan mengerti apa arti ucapan Rima malam itu. Rima adalah bintang di angkasa, yang terus bersinar terang demi menyenangkan siapa saja yang melihatnya. Sementara pedihnya, ia simpan sendiri hingga akhir hidupnya.


Minggu, 02 Desember 2012

Arang

Seingatku, semalam aku masih berdiri kokoh di atas akar-akarku. Tapi pagi ini, aku tertidur di atas tanah tak jauh dari akar-akarku.
 
Aku masih setengah sadar sambil menerawang langit biru di atasku, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Ada bunyi menggelegar keras. Sepertinya semalam terjadi badai besar. Mungkin aku tersambar petir dan terbelah. Aku ingat rasa panas yang membakar sekujur batangku. Oh, aku ingat sekarang. Semalam wujudku sebatang pohon nangka. Aku menggerakkan mata dan melihat sekelilingku. aku berada di satu petak kosong yang tadinya begitu hijau dan segar dipandang mata. Sekarang, hanya abu dan hitam arang menganga.
 
Entah berapa lamanya aku terisak meraung-raung dan mencakar tanah di bawahku. Seolah menyalahkan tanah di bawahku yang tak melindungi aku dari sambaran petir. Lebih perih lagi mengingat batangku yang perlahan legam terbakar api sambil aku menikmati sakitnya semalaman sampai aku mati rasa menjadi bongkahan hitam besar dan kering kerontang. Aku melihat pohon nangka tetanggaku yang jaraknya tak jauh dari akar-akarku, yang tampaknya pohon itu seolah turut berduka melihat keadaanku sekarang, tapi juga merasa lega karena sekarang semua nutrisi di petak tanah ini bisa dikuasai oleh akar-akarnya. Aku tak menyalahkan sisi bahagianya itu. Sudah nasibku menjadi arang gara-gara sambaran petir semalam. Mungkin aku sedang diuji.
 
Puas menangis, aku telentang dan memandang ke langit. Begitu indah. Selama ini aku sibuk menghisap nutrisi dari tanah dan menghidupi biji-biji yang tumbuh di dahanku. Terlalu sibuk bersaing dengan pohon nangka sainganku sampai aku sering lupa memandang langit di atas sana. Mungkin. Mungkin ini gara-gara aku lupa pada langit. Tapi langit tak memberiku teguran yang lebih halus. Aku masih terus berpikir di mana letak kesalahanku. Lebih tepatnya adalah berpikir kapan kesadaranku akan hilang. Entah berapa lama lagi aku harus telentang dan membusuk perlahan. Aku melihat burung-burung yang dulu bersarang di dahanku sekarang sibuk terbang ke sana kemari mencari makanan dan menyiapkan sarang baru yang lagi-lagi dan ternyata adalah dahan pohon nangka sainganku. Aku melihat tatapan marah dari seekor induk merpati yang terlihat begitu marah ke arahku. Mungkin karena telur-telurnya telah matang bersama dahanku semalam. Tapi itu bukan salahku, seharusnya dia tahu itu. Aku juga korban dalam kasus ini. Begitu dendamnya induk merpati itu hingga dalam kesibukannya dia sempat menjatuhkan kotorannya tepat di atas wajahku. Saat itu aku baru benar-benar menyadari kejamnya hidup di dunia ini.
 
Dalam kesedihanku, aku berharap ada petir yang mau berbaik hati menyambarku hingga berkeping-keping. Kalau perlu hingga tak bersisa. Tapi alam tak sebaik itu juga. Seperti kubilang tadi, bahwa dunia ini kejam. Bahkan untuk melukai pun harus untuk sebuah alasan yang benar-benar menyengsarakan korbannya.  Tengah hari, dan teriknya matahari membuat gerah dedaunan yang masih hijau di luar petak kosong tempat aku dan abu sisa kebakaran semalam. Tapi aku tak terlalu merasakannya. Aku sudah mati rasa. kebas. Tak ada lagi urat-urat yang menghubungkan aku dengan akar-akarku. Aku masih terus melihat ke langit yang sekarang mulai meredup pertanda sore telah menjelang. Saat itulah aku mendengar suara langkah kaki dan nafas yang terengah-engah. Suaranya semakin mendekat, mendekat, dan mendekat hingga akhirnya langkah itu berdiri tepat di sampingku. Seorang penjelajah. Ryan namanya. Pemuda tampan dari jenis manusia. Dia mengangkat aku dari tanah sambil bergumam "Arang yang bagus untuk nanti malam." dan aku tahu pasti apa maksudnya.

"Hei, manusia lancang. Gak tau apa, aku lagi berduka atas keadaanku. Turunkan aku !" aku memarahi pemuda lancang itu.

"Oh, maaf. Aku tak bermaksud mengganggu. Tapi kamu ini bongkahan arang yang cocok untuk menyalakan api unggun di dekat tenda yang aku pasang tak jauh dari sini." Pemuda itu berkata seolah-olah penderitaanku terlalu cepat berakhir sebelum-seharusnya aku ini menjadi abu.

"Lancang kamu manusia bau kencur ! dari tampangmu aja ketahuan kalau umurmu jauh di bawah usia batangku. Aku ini sudah ada sebelum Bapakmu berencana menciptakan anak tolol tak berperikepohonan sepertimu ! turunkan aku ! TURUNKANNNNNNNN AKUUUUUUUUU !!!! TOLOOOOOOOOOONG SIAPA SAJA, TOLONGGGGGGG !!!" aku menjerit sejadi-jadinya. Tapi semuanya diam, bahkan beberapa saat setelah teriakanku, semua seolah terdiam.

Pemuda itu tertawa terbahak-bahak seolah teriakanku tadi adalah sebuah lawakan lucu. Aku semakin geram. Andai kami bangsa pohon nangka bisa bergerak, atau melakukan poltergeist, sudah kulumat bocah bau kencur ini sampai rata dengan tanah. Atau lebih tepatnya mungkin akan kuseret ke dalam tanah untuk menjadi nutrisi tambahan buatku (aku bahkan sempat cekikikan pelan membayangkan hal itu benar-benar terjadi). Tapi di dunia yang kejam ini, aku hanya bisa pasrah dalam genggaman Ryan dan dibawa menjauh dari petak kosong yang sekarang kuanggap lebih baik daripada genggaman tangan manusia satu ini.
 
"Hei, arang. Ngomong dong. Sekarang ini cuma kamu yang mau ngobrol denganku. Pohon-pohon lain begitu sombong dan tak menghiraukan aku." Ryan memulai pembicaraan setelah beberapa saat kami tiba di dekat tendanya. "Aku Ryan. Dan aku sedang menulis tentang alam, makanya aku berkemah di sini." Pemuda itu melembutkan suaranya. 
 
Mataku masih menatapnya dengan sinis dengan aura pembunuh yang tajam, berharap tatapanku akan membuat nafas pemuda ini terputus seketika. Tapi dia terus berbicara tentang kehidupannya yang menurutku sangat membosankan. Tanpa teman dan tanpa keluarga. Kasihan juga mendengarnya. Tapi aku tiba-tiba tersadar akan kebodohanku yang lagi-lagi merasa kasihan untuk orang yang tak pantas dikasihani. Justru dia yang seharusnya kasihan padaku. Sudah tersambar petir, hangus jadi arang, dan sekarang mau "diolah" jadi abu. Menurutku nasibnya bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan aku. Mataku semakin membara saat memikirkannya lebih mendalam.
 
"Hei, arang. Kurasa nasib kita tak jauh beda. Kamu kan juga sendirian di hutan ini. Tak bisa bersentuhan dengan pohon lain disekitarmu." 

Aku tersadar dari lamunan jahatku. Benar juga kata Ryan. Walaupun aku punya tetangga sesama pohon nangka, tapi kami tak pernah saling menyapa. Justru kami bersaing menyaring nutrisi sebanyak-banyaknya dari tanah. Akar kami berebut wilayah dengan sengitnya. Kali ini aku tak bisa melawan pernyataan itu. 

"Heh bocah lancang. Sok tahu banget sih. Biar cuma sebatang pohon nangka tapi aku punya teman kok." Aku membela diri.

"Hah, serius ? coba ceritakan."

"Memangnya kau pikir bagaimana mungkin ada pohon nangka di sini. Kami ini ditanam. Oleh manusia tentunya."

"Oh ya ? memangnya siapa yang mau susah-susah tanam pohon di tengah hutan begini ?" Pemuda itu penasaran.

"Jadi begini ceritanya..." aku melanjutkan pembelaanku.
Sekitar berpuluh-puluh tahun yang lalu, ada pemburu dan anaknya yang datang berkemah kemari. Saat itu mereka datang membawa bekal buah nangka dan beberapa macam buah lainnya. Saat itu wujudku adalah biji dalam buah nangka yang mereka bawa. Dalam diam, aku mendengar semua kisah Bapak dan anak itu sepanjang perjalanan. Anak itu terus mendengarkan kisah pengembaraan Bapaknya sambil terus memakan buah nangka dan membuang bijinya ke sembarang tempat. Hingga akhirnya malam tiba dan mereka berkemah, mendirikan tenda. Malam itu, dalam balutan remang cahaya api unggun, Bapak itu menceritakan tentang alam pada anaknya. Mengajarkan siklus kehidupan. Bahwa bongkahan biji nangka yang sejak tadi dibuangnya, kelak akan tumbuh besar menjadi pohon nangka dan menghasilkan ribuan buah semasa hidupnya. Saat itulah aku melihat mata anaknya berkaca-kaca dan terkagum-kagum. Tiba-tiba pandangan mata anaknya mengarah padaku dan tumpukan saudara-saudaraku (atau lebih tepatnya calon pesaingku di kemudian hari). Anak itu meminta Bapaknya untuk mengajarkan cara menanam yang baik. Malam itu juga kami di tanam dalam jarak yang saling berjauhan tapi cukup dekat untuk saling merasakan. Aku melihat tetanggaku begitu ketakutan saat pertama kali diletakkan dalam lubang tanah. Biji nangka yang aneh. Seharusnya dia bersyukur tak dibuang sembarangan seperti biji-biji yang terlempar sepanjang perjalanan tadi. Begitulah, awalnya aku dan tetanggaku itu. Aku tak tahu bagaimana nasib biji-biji lainnya, tapi aku mendengar percakapan Bapak dan anak itu yang sepertinya akan menanam mereka di tempat lain agar kelak penjelajah lain bisa menikmati hasilnya sepanjang perjalanan. Sejak saat itu, setiap tahun, Bapak dan anak ini mengunjungi kami. Memberi salam dan menyiram kami dengan sedikit pupuk (kalau dalam bahasa manusia disebutnya urine dan feses). Tapi aku tak tahu kenapa, pada tahun keenam dan seterusnya aku tak melihat mereka lagi. 

Pemuda itu terdiam. Terlihat menuliskan sesuatu dalam buku yang dikeluarkan dari ranselnya.  

"Hei arang. Aku tak yakin pasti, tapi sepertinya yang kamu ceritakan itu Bapakku dan almarhum Kakekku."

"Hah... ciyus ? miapa ? aje gile... sekarang kamu mau mengarang cerita biar aku rela menjadi arang buat api unggunmu itu ? NGGAK SUDI !!!" Aku bahkan tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
 
"Kan aku bilang tak yakin pasti. Tapi dulu, Kakekku dan Bapakku sering berkemah di hutan ini. Dan salah satu alasan kenapa aku ke sini adalah karena ini (Ryan mengeluarkan buku lain dari dalam ranselnya). Ini buku harian almarhum Kakekku. Di dalamnya ada tulisan tentang perjalanan mereka ke hutan sambil membawa buah nangka dari kebun mereka sendiri." Ryan berusaha menjelaskan.

Jadi, sebenarnya pada tahun kelima, Kakek dan Bapaknya Ryan mengalami musibah ketika berkemah di hutan. Tenda mereka diserang oleh binatang buas yang saat itu masih banyak berkeliaran di hutan ini. Kejadian itu membuat kaki dari Kakek Ryan harus diamputasi dan meninggalkan kepedihan yang mendalam di hati keduanya. Tapi walau begitu, kenangan indah akan hutan ini sepertinya membekas jauh lebih dalam di hati si Kakek. Bahkan mengisi buku harian yang sekarang dipegang oleh Ryan. Salah satu bagian dari buku itu bercerita tentang pohon nangka kesayangan yang mereka tanam di tengah-tengah hutan. Mereka menyebutnya "Nangka kembar" karena hanya dua biji itu sebenarnya yang ditanam di hutan ini, dan jaraknya berdekatan. Pohon kenangan inilah yang membawa Ryan datang ke hutan ini, untuk sekedar menyapa warisan Kakeknya. Ryan ingin setidaknya melihat secara langsung keberadaan pohon nangka kembar yang dimaksud Kakeknya dalam buku harian. Tapi sayang, salah satu dari pohon itu terlanjur menjadi arang sebelum Ryan sempat melihatnya.

"Jadi, kamu akan membawaku pulang ?" tanyaku dalam harap-harap cemas. Aku melihat Ryan menyeka kedua matanya.

"Tentu saja tidak. Aku datang kemari hanya untuk melihat langsung lokasi tempat almarhum Kakekku dulu datang bersama Bapak. Kurasa satu lembar daun kering dari tetanggamu dan sisa-sisamu sudah lebih dari cukup."

"APAA... Dasar anak tak tahu diri. Kutu-kupret. Setan alas... "

Dan tak lama, aku dilebur menjadi abu dalam kobaran api unggun. Dari pohon nangka kenangan menjadi seonggok arang dan kemudian dilumatkan api hingga tak bernyawa. Tapi sebenarnya aku senang. Bahwa aku tak perlu lagi menunggu terlalu lama hidup di dunia yang kejam. Bahwa sampai akhir hidupku, ternyata aku memiliki makna di hati almarhum Kakek Ryan, dan bisa menghangatkan cucunya di malam terakhir hidupku. Aku berharap bisa bertemu dengan Kakeknya Ryan di alam baka untuk menceritakan kisahku setelah pertemuan terakhir kami berpuluh-puluh tahun yang lalu.