Sabtu, 01 Desember 2018

Hujan Datang

Hujan datang selalu di saat yang tepat. Ketika aku sedang tak siap menyambut dingin dan sendunya. Sialnya, aku bukan makhluk super yang bisa menghentikan datangnya hujan. Aku hanya manusia biasa yang harus pasrah menyambut datang dan perginya tanpa diberi kesempatan untuk menawar.

Ritual wajib ketika hujan datang selalu diawali dengan secangkir teh hangat dengan pemanis gula aren. Aroma teh bercampur harum manis gula aren cocok untuk membalut celah sendu yang datang bersama hujan. Yang paling menyebalkan adalah bahwa hujan tidak pernah datang sendirian. Ia membawa serta kenangan. 

Tiga tahun lalu, ketika hujan menemani perpisahan kita di bawah jembatan Cinta, lukanya membekas hingga saat ini dan terbuka kembali setiap kembalinya hujan. Aku yang saat itu terluka, tidak kau hiraukan. Tak juga kau berbalik untuk sekedar menyeka air mataku. Seolah masa-masa indah sebelumnya hanyalah cerita pengantar tidur yang kemudian terlupakan saat terbangun keesokan harinya. Kau seperti bunga tidur yang ingin aku lupakan tapi tak bisa. Mimpi buruk yang membekas hingga terbawa ketika aku bangun. Bayanganmu bahkan hilir mudik mengitari kepalaku hingga saat ini. Aku sempat berpikir bahwa aku ini gila. Aku bahkan sempat mencari dokter jiwa untuk menghilangkan bekas-bekasmu. Mereka semua berkata bahwa aku tidak gila, hanya butuh waktu untuk melupakan. Tapi sampai kapan ? sementara hujan terus membawamu kembali dalam ingatan. Dan aku tak mungkin menghapuskan hujan selamanya dari muka bumi hanya untuk menghapus bayanganmu. Aku tak akan mampu.

Titik-titik hujan di kaca jendela, seolah berusaha menerobos pertahananku. Hujan mengincarku. Percikannya membuat kaca jendela menjadi buram dari sekelilingku. Semakin buram aku dari dunia nyata, semakin mudah hujan memangsa  pikiranku. Hujan bekerja diam-diam namun tepat sasaran. Sangat jenius. 

Bukan tanpa upaya aku berusaha melupakanmu. Aku bahkan pindah dari kota asal kita berdua. Aku meninggalkan rumah, keluarga, teman, dan saudara. Aku meninggalkan semuanya bahkan barang-barang kesayanganku dan buku-buku yang menggunung karena tak muat lagi di dalam rak raksasa di kamarku. Tapi dengan segala upaya itu, kenangan akan dirimu tak juga tanggal dari kepalaku. Menancap dan seolah menjadi bagian diriku yang mustahil dipisahkan lagi. Beberapa kota telah aku singgahi, teman-teman baru, suasana baru, bahkan aku mengubah gaya berpakaianku, gaya rambutku, warna kesukaanku, semuanya percuma. Kenangan itu selalu tahu keberadaanku dan menghampiri bersaman setiap hujan datang. Aku berusaha mencari solusi dengan menceritakan kenangan itu bersama teman-teman baruku. Sebagian besar mereka berpendapat yang sama. Mereka menyela di tengah-tengah cerita. Tepat ketika aku menceritakan bagian ketika kau meninggalkan aku di bawah jembatan Cinta. Mereka bilang, kalau aku tak rela kau pergi, kenapa aku tak mengejarmu atau setidaknya berusaha menghentikanmu. Mereka menyela tanpa tahu yang sebenarnya. Mereka menyela karena mereka memang bukan saksi mata seperti hujan yang mendera di antara kita.

Tiga tahun lalu, ketika kau meninggalkan aku di sana, aku tak diam. Aku berjalan di belakangmu menangis dan terus memanggil namamu. Tak kau hiraukan. Kau terus berjalan menjauh menaiki anak tangga menuju parkir mobil. Kau benar-benar membulat dengan keputusanmu. Tak ada alasan yang masuk akal bagiku untuk perpisahan ini. Kau bilang tak ada restu dari kedua orang tuamu. Bukankah saat kita memulai pun kau sudah tahu itu. Kau bilang akan memperjuangkan aku. Itu juga alasan kenapa aku bersedia menjadi pendampingmu. Tapi kau melanggar janji itu. Kau berubah haluan. Tak kau sebut pihak ketiga tapi aku tahu, kau telah menemukan orang lain yang lebih pantas untukmu. Aku tahu itu dari teman-temanmu. Aku memilih diam awalnya, berharap kau pun akan diam dan bersedia membagi cintamu dengan adil. Tapi harapanku tak mewujud nyata. Kau memilih dia. Ketika aku memanggil pun kau tak berbalik untuk mendekapku erat seperti dulu ketika kita bertengkar hebat. Aku yakin kali itu berbeda. Kali itu adalah akhirnya.

Air mataku menitik jatuh. Aku benci kenangan itu. Aku benci setiap kali ia datang bersama hujan. Aku memalingkan wajah dari jendela, menyembunyikan tangisanku dari hujan. Tiga tahun bukan waktu yang singkat terutama ketika kita tidak bisa melupakan. Satu cangkir… dua cangkir… tiga cangkir… teh menemaniku dari hujan gerimis berubah jadi deras lalu mereda. Aku perhatikan sisa-sisa titik hujan di kaca jendela hingga bosan. Setelahnya, aku meraih jaket dan dompet untuk beranjak mencari makanan terdekat. 

Kaki ini melangkah melompati genangan kecil air. Walau aku benci hujan, tapi aku suka dengan udara sehabis hujan. Ada bau tanah basah, bau segar rumput basah, sejuk melegakan. Beberapa belokan dari rumah, aku pun tiba di persimpangan jalan raya. Hari sudah mulai senja, ditambah cuaca sehabis hujan membuat hari ini lebih cepat tua. Di dekat persimpangan ini ada tempat makan kesukaanku. Mereka menjual ayam bakar dengan bumbu pedas asam manis. Rasanya unik di lidah. Ditambah sepiring nasi hangat dan lalapan petai goreng tentu nikmatnya tiada tara apalagi sehabis hujan dan air mata. Perutku berbunyi seketika aku terbayang menu barusan. Tak jauh dari persimpangan, aku melihat ada keramaian. Banyak orang berkumpul di satu sudut jalan. Terdengar mereka panik dan beberapa diantaranya sibuk mengambil gambar dengan ponsel. Tampaknya terjadi kecelakaan. Jalanan di sini memang terkenal berbahaya karena adanya persimpangan ditambah lagi sehabis hujan jalanan biasanya licin. Mungkin pengemudinya sedang terburu-buru dan tidak mengurangi kecepatan. Entahlah. Aku mendekat untuk sekedar melihat dan mungkin membantu bila aku mampu, setidaknya atas nama kemanusiaan aku tidak akan ikut-ikut mengambil gambar untuk masuk di media sosial. Korbannya seorang pria paruh baya, istrinya menangis histeris sambil memeluk jasad suaminya. Pengemudi mobil terlihat berlutut menangis dan memohon ampun, tanpa diindahkan oleh istri korban. Melihat pemandangan itu, kepalaku pening. Tiba-tiba rasanya seperti mau pecah. Aku terduduk di jalanan, seolah tiba-tiba aku teringat sesuatu yang tidak seharusnya aku ingat. Tak lama, aku menjerit histeris dan menangis sekeras-kerasnya. Semua orang tiba-tiba melihat ke arahku. Bahkan mereka yang semenjak tadi sibuk mengambil gambar, sekarang mengarah padaku. Hanya istri korban yang tak beranjak. Lalu, semua menjadi gelap. Aku hilang kesadaran.

Tiga tahun lalu, ketika hujan datang, kau pergi meninggalkan aku di bawah jembatan Cinta. Aku mengikutimu berjalan di belakang sambil terus memanggilmu. Tapi kau tak menghiraukan. Aku tak tahu apakah saat itu kau menangis, atau kau benar-benar tak lagi memiliki rasa. Kau terus berjalan menaiki anak tangga menuju parkir mobil. Aku, saat itu… Aku ketika itu… Aku… Aku tahu saat itu bahwa aku telah kehilanganmu selamanya. Aku berhenti mengikutimu. Langkahku berbalik meninggalkanmu sambil tak henti-hentinya menangis. Aku mendengar kau berteriak dari dalam mobil agar aku pulang segera ke rumah. Tapi aku pun tak lagi ingin mendengarmu. Aku berjalan terus menjauh, kemudian semakin lama semakin ke tengah jalan. Aku tak lagi ingin hidup. Aku melihat dari kejauhan ada truk melaju kencang. Setelah itu, semua menjadi gelap. Aku berpikir bahwa hidupku telah berakhir. Nyatanya, ketika aku membuka mata, aku melihat wajahmu terbaring di sampingku… bersimbah darah.

Tak ada perih melebihi sakitnya kehilangan. Tak ada kehilangan yang lebih menyakitkan dari perpisahan yang tak tuntas. Yang pergi dan yang ditinggalkan, sama-sama merasakan pahitnya kenangan yang menghampiri bersama hujan datang.


Jumat, 17 Agustus 2018

Turbulensi

  Aku datang, menghadapmu. Menyodorkan seonggok hati yang penuh luka. Aku tawarkan padamu apa yang tersisa dariku. Bagian diriku yang kiranya masih manusia. Hati yang walau tak indah tapi setidaknya dia masih manusia. Satu-satunya bagian diriku yang masih hidup walau ribuan kali terluka dan hampir meregang nyawa. Aku tawarkan padamu, berharap kau mau menjaganya.

  Petang menjelang. Aku belum juga selesai menghias wajah ini dengan segala tetek-bengek-penyedap-pandang aneka warna, rupa, dan nama. Bukannya aku sengaja terus menunda, tapi memang aku ingin tampil sempurna. Agar kau tak lagi pernah lupa bahwa orang yang kau tinggal ini adalah makhluk terindah yang pernah tercipta di dunia. Berkali-kali riasan ini menempel lalu kuhapus dan kutempel ulang. Belum juga aku merasa puas. Kalau aku tak puas, maka kau pun tak akan puas. Bukankah begitu, kekasih ? Mantan kekasih. Riasan ini berulang kali hampir sempurna sebelum akhirnya rusak kembali oleh butiran air mata yang kubendung sejak lama. Sadarkah kau bahwa aku terluka, kekasih ? Mantan kekasih. Aku tak mengharapkan dirimu tetap baik ketika kau tak lagi mencintai aku seperti layaknya awal kita bertemu. Aku tak ingin kau hadir dalam hidupku hanya untuk menjadi bayang-bayang pengingat indahnya masa lalu. Air mata ini menitik lagi. Bukankah kau yang dulu berkata akan menjagaku agar tak lagi tersakiti, kekasih ? Mantan kekasih. Ketika cintamu berubah haluan, apakah kau masih mengingat janji itu, kekasih ? Mantan kekasih. Kau meniadakan bagian terakhir diriku yang masih hidup. Aku tak lagi hidup karenamu, kekasih. Mantan kekasih.

  Perjuangan panjang penuh air mata hingga setidaknya aku harus merasa puas karena jarum jam menunjukku dengan geram. Tak ada waktu panjang tersisa bagiku untuk bermutasi menjadi makhluk dalam khayalanku. Aku tetaplah aku. Wujud yang sama yang sempat membuatmu jatuh cinta. Setidaknya sudah kau nikmati hingga kau merasa bosan dan kau tinggal. Geram sekali lagi membuatku terpaku dalam diam, menatap bayangan dalam cermin yang terlihat tanpa ekspresi namun menyimpan dendam. Makhluk yang cantik. Aku puas. Seharusnya kau pun puas saat melihatku nanti. 

  Ponselku berdering, sebuah panggilan dari taksi online yang kupesan untuk mengantarkan mahluk paling indah di dunia ini ke hadapanmu, kekasih. Mantan kekasih. Aku bahkan sempat mengagumi makhluk dalam cermin ini berkali-kali sebelum kuputuskan beranjak sebelum ponselku meledak dihujam dering tiada henti, atau jarum jam di dinding meloncat dan menusukku hingga mati karena kesal terlalu lama kuabaikan. Dan lagi, makhluk terindah di dunia ini harus menghadiri pesta sekali seumur hidupmu, kekasih. Mantan kekasih. Aku pun berbalik untuk keluar dari ruangan bisu ini. Saat aku berbalik, aku merasakan kedua kaki-ku tertinggal di belakang. Mereka enggan beranjak karena tahu aku hanya akan terluka melihatmu bersanding dengan kekasih barumu di pelaminan. Dasar, kaki-kaki sok perhatian. Kemana saja kalian ketika dulu aku meminta kalian membawaku lari dari kenyataan ? Kalian sama saja dengan dia. Sok perhatian tapi nyatanya kalian tak pernah benar-benar ada untukku. Aku pun terpaksa mencubit kedua kaki manja itu agar mereka menurut dan membawaku segera keluar. Aku tahu mereka enggan, tapi mereka tak berdaya. Aku pun tak pusingkan itu. Sama seperti mereka seharusnya tak perlu memusingkan diriku, cukup menjadi alat penopang dan membawaku ke mana aku mau. Bukankah begitu, kekasih ? Mantan kekasih.

  Sepanjang perjalanan, supir taksi online terlihat melirikku dari kaca spion tengah. Matanya melirikku dengan tatapan menjijikkan. Seperti lebah mengincar kembang ranum di hadapannya. Tak tahunya kembang ini berisi racun serangga. Andai ia tahu betapa aku ingin mencungkil mata binalnya, tentu ia tak lagi berani melirikku sebegitunya. Tapi sudahlah, aku sedang berbaik hati malam ini. Aku tak ingin menghabiskan emosiku untuk seonggok sampah di hadapanku. Aku melempar senyuman manis padanya lewat pantulan kaca hingga ia tersipu-sipu malu. Entah malu atau menahan nafsu. Buatku tak terlalu mengganggu. Selama dia aman membawaku sampai kepadamu, kekasih. Mantan kekasih. Aku bersumpah, sepanjang perjalanan ini kami tak saling berbicara sepatah kata pun. Hanya lirikan nakal bersambut senyum mematikan. Jadi, kau tak perlu cemburu, kekasih. Mantan kekasih. Aku tahu dulu kau pun berlaku curang lebih parah daripada ini. Aku tak pernah menyalahkanmu juga. Jadi tolong jangan kau salahkan aku hanya karena permainan kecil ini, kekasih. Mantan kekasih. Setibanya di lokasi, aku pun turun tanpa meninggalkan jejak kemesraan. Hanya senyum manis tanpa makna dan tentunya bintang satu sebagai perpisahan untuknya.

  Kapel tua yang indah. Tempat yang sempurna untuk pernikahanmu. Dindingnya serba putih dengan hiasan bunga lili putih dan krisan kuning. Jujur saja aku iri, kekasih. Mantan kekasih. Aku iri dengan kapel cantik ini. Tapi aku benci bunga lili. Kau tahu aku tak sesuci bunga lili. Aku tentu akan memilih bunga lotus. Lambang kecantikan yang muncul dari dalam kubangan dosa. Sudahlah, toh ini bukan pernikahan kita, kekasih. Mantan kekasih. Tetap saja aku iri dengan kapel putih ini. 

  Aku duduk di barisan paling belakang, kekasih. Mantan kekasih. Agar saat kau masuk, aku lah makhluk paling bersinar yang kau tatap di ruangan ini. Bukan mempelaimu yang kau agung-agungkan di hadapanku tanpa kau jaga perasaanku. Bukan juga lampu kristal mewah nan megah di tengah-tengah kapel yang berkilauan dengan sombongnya walau hanya kristal imitasi belaka. Ingatlah, kekasih. Mantan kekasih. Malam ini aku-lah makhluk terindah yang pernah ada di dunia. Aku hadir untuk membuatmu sadar betapa bodohnya dirimu yang telah meninggalkan aku. 

  Berkali-kali aku melihat jam di lenganku. Berharap waktu tak menyiksaku terlalu lama melihat senyuman manusia-manusia di depan sana yang seolah ikut mencicipi kolam kebahagiaan kalian malam ini. Mereka bukanlah kalian berdua yang tengah dimabuk cinta hingga saling menyerahkan janji sehidup-semati dalam ikatan pernikahan. Aku teringat lagi dengan ucapanmu bahwa tak akan ada pernikahan lain untukmu selain denganku, kekasih. Mantan kekasih. Andai kau masih ingat itu. Aku berharap janji itu menjadi mimpi buruk di sisa hidupmu agar kau tau betapa aku telah kau lukai hingga tak sanggup berkata-kata. Aku mengutukmu untuk merasakan pedih yang aku rasa. Setidaknya agar kau tak mengira aku bahagia dengan semua perhatianmu setelah kita putus. Aku tersiksa karena mengharapkan kau kembali, kekasih. Mantan kekasih. Senyumku di hadapanmu seperti kuburan menganga tempatku mengintipmu dari dalam dinginnya tanah, berusaha menggapaimu tapi tak pernah bisa. Seperti itulah kita selama ini, kekasih. Mantan kekasih.

  Jam berdentang tujuh kali. Lonceng raksasa di atas kapel pun berdenting nyaring, membuatku pusing. Pintu di belakangku terbuka pelan. Kamu ternyata berdiri di sana, kekasih. Mantan kekasih. Dengan senyummu yang menempel sempurna menghiasi setelanmu yang tak kalah sempurna. Kau sempurna, kekasih. Mantan kekasih. Aku terpukau. Perlahan kau melangkah masuk ke dalam kapel. Sempat kau melempar senyum ke arahku. Jantungku berdebar-debar seolah aku lah mempelaimu malam ini. Hanya sekian detik dan kau terus melaju ke depan altar. Menatap lurus ke belakangku. Menunggu pintu jahanam itu terbuka sekali lagi dan memunculkan calon pasangan hidupmu yang kau tunggu-tunggu. Sayangnya bukan aku yang kau tunggu, kekasih. Mantan kekasih. Hingga akhirnya, penghalang itu tak lagi mampu membendung makhluk yang paling aku benci. Ia terlihat cantik. Sungguh, aku iri dengan kepolosan yang terpancar darinya. Seperti patung pualam tanpa cacat. Beda sekali dengan diriku yang seperti ampas siap dibuang. Aku malu dengan kepercayaan-diri-ku yang sempat aku banggakan dari tadi. Wajar kau memilihnya daripada aku. Dia putih polos suci seperti bunga lili. Sedangkan aku, walau cantik tapi aku hanyalah lotus yang muncul dari kubangan dosa. Aku mengerti kenapa kau meninggalkan aku untuknya. Aku menyerah, kekasih. Mantan kekasih. Air mata ini menitik pasrah menuruni lengkungan senyum di bibirku. Semua mengira aku menangis bahagia melihat kalian berpasangan malam ini. Hanya aku sendiri yang mengerti penderitaanku dalam dinginnya tanah kubur tersembunyi di balik senyum, kekasih. Mantan kekasih. Aku tak sanggup tersiksa lebih lama lagi untuk mendengarkan janji pernikahan kalian. Aku beranjak dari tempatku dan sekali ini, kedua kakiku mengantarku dalam diam. Mereka benar-benar mirip denganmu, kekasih. Mantan kekasih.
 
***
 
  Aku terbangun di kamarku. Tenggorokanku kering. Mataku sembab. Kepalaku terasa berat. Aku beranjak dari ranjangku dengan enggan menuju dapur untuk segelas air dingin dari dalam kulkas. Aku melihat jam di dinding. Kali ini tatapannya tak terlalu dingin padaku. Tangan-tangannya menunjukkan pukul sepuluh pagi. Entah jam berapa aku pulang semalam, aku tak terlalu ingat. TV masih menyala, siaran berita. Setengah sadar aku mendengarkan sambil meneguk air dingin yang langsung menghibur kerongkongan gersang ini. 

“Tadi malam... Kebakaran… Kapel… pemadam kebakaran… seluruhnya tewas.” 

  Aku tercekat. Kapel ? semalam ? 

  Selintas gambaran hadir dalam kepalaku. Tawa menggelegar. Api menyala. Kapel terbakar. Pintu terkunci dari luar. Jeritan histeris di dalam. Lampu diskotik. Tawa menggelegar sepanjang malam. Lalu seketika semuanya buyar oleh bunyi lonceng di pintu. Aku bergegas menuju pintu untuk mengintip siapa gerangan. Berdiri di depan pintu, ada petugas berseragam dengan wajah garang. Rasanya sekarang aku mengingat jelas malam terakhir kita, kekasih. Mantan kekasih.


Sabtu, 16 Desember 2017

Puing

Aku berharap tatapan itu pergi dari ingatan
Hanya berharap, karena aku tahu itu tak mungkin
Sementara hati ini terus menangisi kepergianmu
Aku berusaha tegar dan tak terlihat rapuh

Apakah kau tak menyadari betapa aku telah mati
Setelah berulang kali hancur dan bangkit kesekian kali
Berulang lagi dan lagi rasa yang sama membuatku gila
Tak membuatku cukup pintar untuk tak lagi menerima

Lihat bagaimana hati ini terbelah dan berdarah
Agar tak lagi kau mengulangnya
Lihat hati ini tak lagi utuh adanya
Walau telah disembuhkan dengan sihir yang sempurna

Hanya kegelapan abadi yang mampu menenangkan
Hati ini terkubur dalam tidur panjang bersama mimpi
dan setitik harapan


~Onykatze~

Kamis, 14 September 2017

Elegi Hati yang Terbelah




Pergilah, katamu.
Aku terdiam. Senyap di antara kita seolah membekukan waktu sesaat untuk selamanya. Kusangka aku salah dengar, atau lidahmu terpeleset hingga kata itu datang darimu yang selama ini mengikatku kuat takut aku pergi dan tak kembali. Kiranya sebuah akhir dari semua cerita kita telah muncul dari balik tirai tempatnya merajuk memohon dan meniadakan kata pisah yang memang seharusnya sejak lama kita ikrarkan bersama. Lebih mencekat lagi, kata itu kau ucapkan tanpa aura yang hidup. Begitu redup. Begitu mati. Seolah tak ada rasa tersisa dalam dirimu untuk sekedar menahanku dengan hiburan nada sedih yang sendu. Mungkinkah kini kau pun telah jenuh menghadapi usahaku untuk selalu lepas darimu ?

Aku dan kamu bertemu di waktu yang begitu tepat di tempat yang teramat keramat. Tak ada momen yang begitu pas seperti ketika kita bertemu saat itu. Pandanganmu bertemu tatapku. Dua hati seketika menjalin dalam hitungan sepersekian-detik. Kita seperti tahu bahwa kita tercipta memang untuk momen itu. Tanpa perlu kata-kata rayuan untuk sekedar mengesahkan satu hubungan. Jemari kita memilin erat satu sama lain. Lebih erat dari janji-janji manis yang pernah ditulis tangan mana pun. Karena aku tahu, kamu tahu. Kita tercipta untuk bersatu.

Seperti rumput hijau di sepanjang jalan yang kita lewati setiap hari. Tak selamanya hijau itu bertahan. Tak selamanya juga ia kering kecoklatan. Pahit-manis hubungan yang saling merajut bertaut indah membentuk satu kesatuan, dan itu-lah kita. Dua insan yang tengah jatuh cinta. Kita lewati semua itu hingga perlahan semua menjadi begitu biasa. Tak ada lagi tantangan. Tak ada lagi rintangan yang terasa berarti karena kita pernah melewatinya bersama. Semua menjadi begitu datar dan hambar. Salah kah ?

Kadang saat memikirkannya, hatiku menyadari bahwa ia merindukan percikan-percikan seperti yang dulu. Adrenalin dari pertikaian konyol antara kita. Bukankah itu adalah bumbu dalam percintaan ?

Semakin hari, hati ini mulai menjeritkan kebosanan. Ia butuh suntikan nafas kehidupan. Hubungan kita tak layak dikatakan hidup. Ia seperti mesin yang bergerak tanpa diminta. Semua begitu rapi tak bercela. Kemana hilangnya kepingan puzzle yang dulu kucari setengah mati demi memuaskan rasa penasaran dan ternyata kepingan itu ada dalam dirimu. Kini puzzle itu terlihat sempurna dan membosankan karena tak lagi ada celah tersisa untuk kita isi bersama.

Diam-diam aku mulai melangkah. Menjauh perlahan darimu. Berharap kau tak menyadarinya, hingga aku telah melangkah terlalu jauh dan langkahmu tak lagi menjangkau aku. Tapi setiap usaha itu terhenti karena aku tahu bahwa aku masih cinta. Tapi apakah ini benar cinta yang sama yang pernah menyatukan kita, ataukah ini ilusi yang kucipta dari rasa takut bersendirian ?

Walau aku tahu setiap langkahku mencari jawaban itu akan menyakitimu. Menarik putus urat-urat cinta kita perlahan dan menyakitkan. Aku yakin kau diam menelan sakit itu demi melihatku bahagia. Dalam diam itu, aku masih merasakan sentuhan lembut doa-doamu agar aku sanggup bertahan melangkah di atas jejak berdarah demi menemukan apa yang kita berdua sebut dan yakini itu sebagai bahagia. Yakinlah aku pun ingin kau bahagia.

Cinta kita tak hidup dengan media hambar dan tandus seperti kita berdua. Cinta ini sudah mati sejak lama. Kita hanya tak berani mengakuinya.


Sabtu, 04 Maret 2017

Babad Lintang : Meretus

Pagi yang cerah disempurnakan dengan bentangan pelangi indah di angkasa. Perempuan itu menebar selembar kain putih untuk dijemur di halaman rumahnya yang sederhana. Sentuhan jemarinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ibu rumah tangga yang telaten. Sambil bersenandung tembang lawas yang terdengar merdu walau hanya senandung sederhana-ia melengkungkan senyuman hangat walau tak ada siapa pun di dekatnya saat itu. Risa namanya. Erisa. Tanpa nama belakang. Wanita keturunan dengan paras cantik, janda beranak satu. Semua warga sekitar memanggilnya Risa, kadang “Lisa” karena sulit mengucapkan huruf “R”. Risa sehari-harinya bekerja sebagai dukun-kalau tak mau disebut dokter-yang menyembuhkan pasien dengan jamu-jamuan. Warga sekitar sangat menyukai Risa karena sifatnya yang ramah dan murah senyum. Tak jarang warga mengutang biaya berobat hingga berbulan-bulan tanpa pernah ditagih oleh Risa. Perempuan ini bukannya rugi, malah mendapat berbagai macam hadiah berupa hasil sawah dan kebun dari warga yang pernah ditolongnya. Janda cantik ini tak pernah kekurangan makanan. Keramahan warga sekitar membuatnya betah tinggal di kampung terpencil di kaki gunung ini. Nala, anak perempuannya, agak pendiam sejak tragedi mengerikan merenggut ayahnya. Ayahnya adalah pribumi yang tewas saat kampungnya diserang oleh segerombolan perampok. Beruntung ketika itu Risa dan Nala tengah mencari tanaman obat di hutan sehingga mereka selamat dari kekejaman para perampok. Nala adalah gadis berumur sembilan tahun. Gadis periang yang berubah menjadi dingin sejak kematian ayahnya. Nala hanya tersenyum untuk ibunya seorang.


“Nala, boleh bantu ibu ambil air di sumur ?” Risa memanggil anak gadisnya yang sedari tadi memandangi ibunya dari teras rumah.


“Baik, Bu. Berapa ember ?” Nala menyanggupi.


“Dua ember saja, sayang. Terima kasih, ya.” Risa menjawab dengan senyum khas-nya. 


Gadis itu bergegas melangkah ke sumur yang letaknya tak jauh dari halaman rumah. Tatapannya kosong seperti biasanya. Seperti tak ada kehidupan di sana. Karena memang hanya Risa-lah satu-satunya alasan ia hidup. Nala mengambil ember yang terbuat dari kayu tua, dengan tali tambang yang juga tak kalah tua. Sumur itu cukup dalam, tapi airnya terlihat bening berkilauan di dalam sana. Nala segera melempar ember ke dalam sumur dan menarik keluar satu ember penuh berisi air bersih dari perut bumi. Mereka bersyukur memiliki sumur ini, karena kualitas airnya bahkan lebih bersih dari air sungai yang terletak di dekat hutan. Nala menyeret ember itu menuju tempat ibunya berdiri. Tanpa sengaja, sudut matanya menangkap sosok pria tengah berdiri di luar pagar rumah mereka, memandanginya. Gadis itu terkejut, memekik kecil lalu menjatuhkan embernya dan berlari ke balik tubuh ibunya. Risa pun dengan sigap melindungi anak gadisnya, sambil memastikan siapa orang tiba-tiba muncul di depan pagar rumah mereka.



“Kamu…” Risa memicingkan mata.

“Nala, kamu masuk dulu, sayang.” Risa meminta Nala untuk kembali ke dalam rumah. Setelah itu, barulah ia menghampiri sosok misterius yang baru saja datang.



“Risa…” Sosok itu memanggil namanya.


“Ya, sudah waktunya ?” Risa menjawabnya dengan sedikit enggan.


“Ya, di waktu yang tepat. Sesuai perjanjian kita.” Sosok itu menjawab.


Risa terdiam. Tangannya menggenggam erat gaun putihnya, sedikit gemetar.

“Ikut denganku…” Risa mengajaknya menjauh dari halaman rumah. “…Lintang.”



***



Erisa, perempuan keturunan eropa berusia dua puluh dua tahun dengan paras cantik. Pada suatu petang ia datang ke sebuah kampung nan jauh di pedalaman, di kaki gunung yang dikelilingi hutan perawan. Risa datang bersama beberapa ajudan dan kuli panggul. Ia membeli sepetak tanah lengkap dengan bangunan rumah tua yang telah disulap menjadi rumah sederhana. Rumah yang tidak terlalu megah tapi terlihat nyaman untuk ditinggali. Risa datang sebagai tukang obat tradisional. Profesi yang masih asing bagi warga sekitar. Parasnya yang cantik membuat profesinya tidak dipermasalahkan. Apalagi tak lama setelah tinggal di sana, ia telah berhasil mengobati banyak warga sekitar dengan pengetahuannya tentang obat-obatan herbal yang banyak tumbuh di hutan sekitar kampung. Tak butuh waktu lama bagi Risa menarik perhatian pemuda desa untuk meminangnya. Termasuk diantara pemuda-pemuda itu adalah Suliman. Pemuda sederhana tapi rupawan dan sopan. Risa yang sebatang kara kemudian menerima pinangan Suliman dan hidup bahagia di tempat tinggal barunya. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Unala. Warga sekitar memanggilnya Nala. Gadis periang yang mencerahkan sekelilingnya seperti matahari pagi. Tak ada yang lebih sempurna dari keluarga kecil yang walaupun hidup sederhana tapi begitu bahagia. Seperti halnya tak ada kesempurnaan yang lolos dari mata dengki manusia-manusia berhati kotor yang tak suka melihat kebahagiaan orang lain dan selalu dibuat iri dengannya. Salah satunya adalah Ratih, kembang desa yang kini kalah pamor sejak kedatangan Risa. Ratih dulunya pernah dipinang oleh Suliman tapi berkali-kali pula Ratih menolak karena Suliman dianggap kurang mapan. Tapi sekarang, setelah Suliman menikah dengan Risa, entah kenapa Ratih merasa tak rela. Walaupun keluarga kecil itu tak berlebihan harta juga. Bahkan masih banyak pemuda mapan yang meminang Ratih. Tetap saja hatinya tak tenang.



Malam tak berbintang, saat kampung terlelap dalam bisu, Ratih yang hatinya gelap menyewa beberapa penjahat kawan ayahnya untuk menghabisi keluarga Risa. Rumah mereka yang letaknya agak jauh dari rumah warga sekitar membuat teriakan mereka tak terdengar dan hilang ditelan malam. Suliman ditikam dengan golok hingga kepalanya terpenggal. Sementara Risa, jauh lebih tragis. Setelah dipaksa menyaksikan anak kesayangannya digilir hingga mati oleh penjahat yang sama sekali tak ia kenal, Risa ditikam dan dibiarkan mati kehabisan darah. Jasad mereka sekeluarga dibuang ke dasar jurang, hilang tak berbekas. Ratih yang mendapati kabar sukses dari suruhannya, tertawa puas. Walaupun ia tak mendapat apa-apa dari perbuatannya. Tidak, selain dendam dan jeritan balas dendam dari wanita yang telah ia bunuh dengan sadisnya.



Risa telah mati. Tapi Roh-nya tak pernah pergi dengan tenang. Risa kembali sebagai sosok hantu bergaun merah yang menghantui kampung dan menyebar tulah. Ratih dan keluarganya menjadi korban pertama. Ratih dicabik hingga isi perutnya terburai dan wajahnya sulit dikenali. Keluarganya satu per satu mati dengan cara yang sama. Sementara, para penjahat yang disewa oleh Ratih tewas dengan tubuh terpisah-pisah. Celakanya, Risa bukan lagi manusia yang punya nalar. Ia hanya Roh yang dipenuhi amarah. Kemarahannya kini telah menghancurkan setengah isi kampung. Sisa warga yang masih hidup kemudian pindah keluar kampung demi menghindari tulah. Sejak itu, Roh Risa berkeliling kampung mencari anak dan suaminya. Setiap malam terdengar rintihan, tangisan, jeritan pilu dari Risa. Tak ada yang bisa menolongnya. Tak ada yang berani mendekati kampungnya.



***



Risa mengajak Lintang berjalan ke arah hutan, menjauh dari kampung. Keduanya tak saling bicara hingga tiba di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Sinar matahari tak menembus rimbunnya pepohonan di sekitar.


“Risa, tak apa meninggalkan anakmu sendirian di rumah ?” Lintang memulai pembicaraan.


“Tenang saja, 70 tahun cukup untuk aku mempelajari lebih dari sekedar trik murahan. Pagar gaib melindungi anakku dari orang-orang yang berniat jahat.” Risa tersenyum manis.


Keduanya saling menatap dalam diam.


“Jadi, harus hari ini kah ?” Risa memecah keheningan.


“Satu siklus, Risa. Tak kurang dan tak lebih.” Lintang menjawab datar.


“Beri aku waktu. Tiga hari lagi. Boleh ?” Risa menjawab dengan senyum ramah.


“Risa…” Lintang menghela nafas.


“Aku janji. Tiga hari. Tak lebih dan tak kurang.” Risa menegaskan.


“Tiga hari untuk kamu menyiapkan hati, atau tiga hari untuk kamu menyiapkan strategi ?” Lintang menjawab dengan nada tetap datar.


“Kita lihat, tiga hari lagi. Di sini.” Risa memalingkan matanya. Nada suaranya semakin pelan.


Lintang menatapnya sejenak, lalu berbalik meninggalkan Risa di tengah hutan sendirian dalam bimbang.



***



Roh penuh kemarahan tak akan pernah meninggalkan dunianya. Terikat oleh emosi. Mengulang kemarahan itu terus menerus seperti sebuah rekaman yang diputar berulang-ulang tanpa ujung. Risa menjadi bagian dari siklus menyedihkan. Perempuan yang seharusnya hidup bahagia, menjadi korban kebiadaban manusia lainnya tanpa sebab yang pasti hingga harus berakhir tragis. Tak ada yang tahu seperti apa garis hidup tiap-tiap makhluk di dunia. Dari mana garis itu dimulai, kemana garis itu berakhir. Untuk Risa, Garis hidupnya telah berakhir, tapi kisahnya tak berakhir di sana. Ia bertemu dengan Lintang. Bukan sebuah kebetulan. Lintang datang pada Risa dengan satu tujuan. Menitipkan “kepingan” dirinya sebelum pergi.



“Wahai Roh yang dipenuhi amarah, aku Roh Pendahulumu, ingin berbicara.

Aku perintahkan kamu untuk menghadapi aku tanpa emosi.”



“Siapa kau, makhluk lancang yang berani mengaku leluhurku ?” Risa mengamuk dan menerjang ke arah Lintang.



Lintang mengangkat tangan kirinya dan muncul perisai tak kasat mata yang menghalangi Risa. Cakar tajam Risa menyentuh perisai itu dan muncul percikan api ke segala arah. Risa melompat mundur seperti seekor singa. Risa menggeram penuh amarah. Matanya tak henti mencari celah untuk menyerang makhluk di depannya. Tapi ia tahu, makhluk di depannya berbeda dengan manusia lain yang telah ia tebas dengan mudahnya.



“Risa, aku datang untuk membuat perjanjian. Kalau kau menolak, aku akan mencari Roh lainnya. Tak perlu memakai kekerasan.” Lintang mengajak Risa berdialog.


“Siapa kamu, dari mana kau tahu nama ketika aku masih hidup ? ada perlu apa ?” Risa menggeram.


“Risa, aku Roh Pendahulumu. Aku perlu kau untuk menjaga sebagian diriku selagi aku tak di sini. Setidaknya sampai aku kembali nanti.” Lintang menjelaskan dengan singkat.


“Kenapa aku harus membantumu ?” Risa memekik kesal.


“Membantuku, sama saja membantu dirimu, untuk menemukan jalan pulang.” Lintang menjelaskan.


“Pulang ?” Risa mendesis.


“Pulang, lepas dari ikatan emosimu sekarang.” Lintang tersenyum.



Lintang menarik keluar sebuah cahaya kecil dari arah jantungnya. Seperti kunang-kunang. Kecil berkilauan. Ia mengarahkannya pada Risa.



“Jaga ini. Sampai aku datang untuk mengambilnya kembali.” Lintang menyerahkannya pada Risa tanpa meminta persetujuan.



Risa menerima cahaya itu, mendekapnya, ada perasaan aneh merasukinya. Sesuatu yang hangat dan telah lama ia lupakan. Sesuatu yang menarik kembali kenangan terindah tentang kehidupannya yang lalu. Risa mengerti tanpa harus diberi tahu. Ia sadar sesuatu yang telah lama hilang itu telah ia temukan, dan untuk pertama kali setelah kebangkitannya, ia menangis.




***



Malam ini, Risa tak bisa memejamkan mata, memikirkan tiga hari waktunya yang tersisa. Bagaimana mungkin ia akan melepas apa yang diperjuangkannya selama 70 tahun belakangan. Tiba-tiba Nala mendekap ibunya yang tengah duduk di bangku teras. Wajahnya terbenam di punggung ibunya seolah mengerti gundah yang terpendam di sana. 


“Bu, belum tidur ?” Nala bertanya pelan.


“Nala, kok kamu masih bangun ? Ibu sebentar lagi tidur kok. Nala kembali ke kamar sekarang ya.” Risa mengusap lembut rambut anak kesayangannya, kemudian mengecup keningnya. Air mata Risa menitik tanpa suara.


“Ibu… menangis ?” Nala mendekap ibunya makin erat.


“Ibu gak apa-apa Nala, Ibu cuma kangen Ayah.” Risa mendekap anaknya erat.


“Yuk kita tidur, nak.” Keduanya bergegas masuk ke rumah. Meninggalkan gundah di balik pintu rumah bersama dinginnya malam, berharap gundah itu terbawa bersama angin malam.



Setelah menerima titipan dari Lintang, Risa perlahan mendapatkan kembali wujud manusianya. Risa menggunakan kesempatan itu untuk mendalami pengobatan dan sihir kuno ke berbagai daerah. Ia bahkan berhasil mengubah “benda” titipan Lintang itu menjadi wujud anak gadisnya yang ia rindukan. Walaupun tak sempurna. Risa memasukkan kenangan palsu ke dalam tubuh anaknya. Nala tak pernah tumbuh menjadi lebih dewasa, dan beberapa kali telah berpindah tempat tinggal untuk menghindari kecurigaan warga. Sementara itu, cerita bahwa Risa adalah janda korban perampokan menjadi senjata andalan mereka untuk menarik simpati warga kampung yang mereka datangi. Dengan sifat ramah dan kemampuan pengobatannya, Risa dengan mudah diterima di mana pun ia berada. Hanya satu kekhawatirannya, kapan Lintang akan datang mengambil kembali “benda” titipannya. Risa sesungguhnya tak pernah tenang. Tapi ia bahagia, setidaknya bisa hidup sekali lagi bersama Nala.



Tiga hari, ternyata jauh lebih singkat dari yang diharapkan. Risa belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap. Tapi ia harus menghadapi janjinya. Atau mungkin, menghadapi Lintang.



Tepat tiga hari, Risa kembali ke hutan. Tatapannya kosong. Ia mengenakan gaun putih terbaik yang ia punya. Rambutnya disanggul rapi seolah bersiap menghadiri acara penting. Memang sekarang adalah saat-saat terpenting dalam hidupnya. Langkahnya pasti, tak menyisakan ruang untuk keraguan yang sesungguhnya telah melahap hamper seluruh semangat hidupnya tiga hari belakangan. Ia harus menentukan apa yang akan ia lakukan, suka atau tidak suka. Sekarang. Lintang telah menunggu di tengah-tengah tanah lapang seperti yang telah dijanjikan. Pemuda berperawakan tegap kisaran delapan belas tahun itu berdiri dengan wajah datar. Keduanya kini berhadapan dan saling diam.


“Jadi, mana kepinganku ?” Lintang memulai.


“Lintang, kau tahu apa arti kepingan itu untukku sekarang ?” Risa melempar pertanyaan. Berharap untuk dimengerti.


“Kepingan itu… adalah “rasa” milikku. Tanpa itu aku tak hidup, Risa.” Lintang menjawab.


“Maksudmu ?” Risa terkejut.


“Sebelum aku pergi, aku harus menitipkan “rasa” itu agar tidak hilang. Aku butuh itu untuk menyelesaikan misiku sekarang. Ini bukan sekedar tentang milikku, atau untukmu. Ini tentang dunia, Risa. Aku tak bisa melibatkan perasaan karena aku tak memilikinya saat ini. Perasaanku… ada di dalam kepingan itu.” Lintang menjelaskan.


“Jangan bercanda. Bagaimana mungkin kamu menitipkan hal sepenting itu padaku ?” 


“Aku tak sedang bercanda. Seperti yang kukatakan padamu saat itu. Kalau kau menolak, aku akan mencari Roh lain yang kuanggap kuat dan mampu menjaganya.” Lintang menjelaskan.


“Kuat ? kau memanfaatkan aku ?” Risa terlihat marah.


“Aku meminta bantuanmu, dan sekaligus menawarkan bantuan. Kamu bisa menggunakan kepingan itu untuk lepas dari emosi yang mengikatmu. Kalau kamu menggunakannya dengan benar.” Lintang menjawab datar.


“Intinya, tak mungkin kau menyerahkan kepingan ini untukku ?” Risa berbisik.


“Tidak.” Lintang menjawab.


Keduanya terdiam cukup lama tanpa suara. Kemudian, Risa mengarahkan tangannya ke atas kepala, seperti mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menarik keluar benda itu dengan suara mengerikan seperti menarik paku yang menyangkut di tengkoraknya. Benda itu ditarik keluar dengan perlahan. Bersamaan dengan itu, darah segar menetes dari kepala, mata, dan telinga Risa, semakin deras hingga seluruh gaun putihnya berubah menjadi merah. Benda itu lebih panjang dari paku, sebuah tongkat kira-kira sepanjang telapak tangan orang dewasa, berwarna merah mengkilap seperti batu rubi. Lebih tepatnya, seperti darah yang dipadatkan. Risa yang kini berubah wujud menjadi Risa yang mengerikan, dengan wajah marah, pucat, dan tak hidup, mengacungkan tongkatnya kearah Lintang. Ia merapal mantra. Sebuah kilatan berwarna merah menyambar tubuh Lintang hingga terlempar jauh, menabrak pohon besar di belakangnya.



“Tak ada pilihan lain.” Risa memekik.



Lintang bangun dengan bibir berdarah. Tak ada kemarahan dalam tatapannya. Ia benar-benar seperti tubuh tanpa emosi. Yang ia tahu, tubuhnya tak boleh terus menerima serangan. Walaupun tubuh ini akan sembuh dalam waktu singkat, misinya harus segera diselesaikan. Tak ada waktu untuk bermain terlalu lama. Lintang bersiap melancarkan serangan ketika Risa menancapkan tangannya menembus ulu hati Lintang dari belakang.



“Maaf, aku tak bisa kehilangan hidupku untuk kedua kalinya” bisik Risa.



Tangan Lintang menggenggam tangan Risa, menahannya agar tidak kabur.



“Wahai Roh yang terikat emosi dunia, aku Roh Pendahulumu, dengan ini memutus kontrakmu dengan tanah dan elemen dunia. Aku perintahkan, lepaskan !”



Tangan Risa seolah terbakar dan membara. Tangannya yang menembus tubuh Lintang kini perlahan hilang menjadi abu yang hancur terbawa angin. Risa menjerit keras kesakitan.



Risa melompat mundur dan terus menjerit kesakitan, seolah ada api yang tak henti-hentinya perlahan memakan tubuhnya dari tangan yang terpotong hingga ke pergelangan. Ia kesakitan hingga jatuh terguling ke tanah.



Lintang berjalan mendekat hingga beberapa langkah dari tubuh Risa. Tiba-tiba, sebongkah batu melesat hampir mengenai kepalanya. Ia mencari arah sumber lemparan. Dari balik semak-semak dekat pohon besar, terlihat sosok Nala menangis ketakutan dengan tangan yang menggenggam batu. Setelah melempar batu sekali lagi, ia segera berlari kearah Risa, mendekapnya erat.



“Jangan sakiti Ibuku.” Teriak Nala.



Risa terkejut melihat sosok Nala. Seharusnya Nala saat ini sedang berada di rumah mencuci piring seperti yang ia pesan tadi. Ia tak ingin Nala melihat wujudnya sekarang. Ia tak ingin Nala tahu masa lalunya yang menyedihkan.



“Nala, anakku, maafkan Ibu, Nak.” Risa menangis, tapi yang mengalir adalah darah dari kedua matanya.



“Ibu, jangan tinggalkan Nala, Bu.” Nala menangis memeluk ibunya erat.



Lintang berdiri menatap dengan wajah datar. Ia tak memiliki kemampuan untuk merasakan. Tidak selama kepingan itu belum kembali padanya.



“Sudah waktunya.” Lintang berucap.



“Aku memanggil kembali kepingan rasa yang melengkapi Roh-ku.

Kembali ke wujud sejatimu, kembali padaku.”



“Bu, jangan lupakan Nala. Nala sayang Ibu” Nala menitikkan air mata terakhirnya, ketika tubuhnya pecah menjadi jutaan kunang-kunang hingga tersisa satu kepingan kecil yang bercahaya, melayang kembali kearah pemilik sejatinya.



“NALAAA… ANAKKU NALA…….” Risa menjerit keras hingga tersungkur. Tangisannya lebih menyakitkan daripada luka di tangannya.



Lintang mendekatkan kepingan itu kearah jantungnya. Seketika kepingan itu masuk ke dalam jantungnya, luka yang tadi menganga kini bercahaya dan menutup sembuh seperti sedia kala. Yang tersisa adalah rasa sakit luar biasa di bagian dada. Di jantungnya. Rasa sakit yang tak pernah ia sangka akan menjadi hadiah paling pedih dari apa yang ia lakukan 70 tahun yang lalu. Rasa sakit yang sebenarnya tak pernah ia rencanakan. Kembalinya rasa. Kenangan Nala yang dipaksa berpisah dari Ibunya.  Air mata Lintang menitik deras. Kali ini kesedihan miliknya. Seolah dia adalah Nala. Karena sejatinya Nala adalah bagian dari dirinya. Segera, ia berlari mendekap Risa. Tapi terlambat. Sebagian besar tubuh risa telah menjadi abu. Hancur dalam genggamannya. Berulang kali Lintang meminta maaf, tapi ia sadar, kesalahannya terlalu fatal. Begitu mengerikan tindakan yang bisa dilakukan oleh Roh yang kehilangan “rasa”. Lintang menangis sejadi-jadinya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.



Malam menghampiri hutan yang tenang, membekukan kesedihan dengan angin malam. Tak ada lagi isak tangis terdengar. Hanya Lintang yang berlutut di dekat jejak tubuh Risa. Tubuhnya tertunduk lemas, seolah semangat hidupnya terkuras habis bersama air mata yang mengucur seharian. Apakah misi yang penting itu lebih berharga dari “rasa” yang ia renggut dari Risa ? Apakah layak ia menghabiskan waktu untuk mengenang kebahagiaan palsu Nala yang dulu ia titipkan ? Apakah luka oleh “rasa” bisa hilang ?



Malam tak bersuara, angin pun berlalu dengan acuh, meninggalkan penyesalan yang mungkin tak lekang oleh waktu.