Denting gelas beradu manja
Sekian detik kemesraan yang ingin dipertahankan lebih lama
Agar sekiranya peristiwa ini boleh dikenang dalam durasi panjang
Percakapan kita melaju terlalu cepat
Perpisahan, datangnya selalu terlampau awal
Sesak...
Dua bibir yang mengatup rapat
Menolak ucapkan kata pisah
Kita adalah sepasang manusia yang berharap waktu berhenti melangkah
Dua pasang mata yang membendung asa
Dua hati yang ingin tetap bersama
Hingga panggilan itu memaksa pisahkan mereka
Karena kereta tak berhenti lama
Sedikit tumpahan jiwa dalam bentuk kata-kata yang mengungkap sejengkal sejarah hidup dan isi hati penulis selama ajal belum (sempat) menjemput.
Senin, 28 Januari 2019
Sabtu, 01 Desember 2018
Hujan Datang
Hujan
datang selalu di saat yang tepat. Ketika aku sedang tak siap menyambut dingin
dan sendunya. Sialnya, aku bukan makhluk super yang bisa menghentikan datangnya
hujan. Aku hanya manusia biasa yang harus pasrah menyambut datang dan perginya
tanpa diberi kesempatan untuk menawar.
Ritual
wajib ketika hujan datang selalu diawali dengan secangkir teh hangat dengan
pemanis gula aren. Aroma teh bercampur harum manis gula aren cocok untuk
membalut celah sendu yang datang bersama hujan. Yang paling menyebalkan adalah
bahwa hujan tidak pernah datang sendirian. Ia membawa serta kenangan.
Tiga tahun
lalu, ketika hujan menemani perpisahan kita di bawah jembatan Cinta, lukanya
membekas hingga saat ini dan terbuka kembali setiap kembalinya hujan. Aku yang
saat itu terluka, tidak kau hiraukan. Tak juga kau berbalik untuk sekedar
menyeka air mataku. Seolah masa-masa indah sebelumnya hanyalah cerita pengantar
tidur yang kemudian terlupakan saat terbangun keesokan harinya. Kau seperti
bunga tidur yang ingin aku lupakan tapi tak bisa. Mimpi buruk yang membekas
hingga terbawa ketika aku bangun. Bayanganmu bahkan hilir mudik mengitari
kepalaku hingga saat ini. Aku sempat berpikir bahwa aku ini gila. Aku bahkan
sempat mencari dokter jiwa untuk menghilangkan bekas-bekasmu. Mereka semua
berkata bahwa aku tidak gila, hanya butuh waktu untuk melupakan. Tapi sampai
kapan ? sementara hujan terus membawamu kembali dalam ingatan. Dan aku tak
mungkin menghapuskan hujan selamanya dari muka bumi hanya untuk menghapus
bayanganmu. Aku tak akan mampu.
Titik-titik
hujan di kaca jendela, seolah berusaha menerobos pertahananku. Hujan
mengincarku. Percikannya membuat kaca jendela menjadi buram dari sekelilingku.
Semakin buram aku dari dunia nyata, semakin mudah hujan memangsa pikiranku. Hujan bekerja diam-diam namun
tepat sasaran. Sangat jenius.
Bukan tanpa
upaya aku berusaha melupakanmu. Aku bahkan pindah dari kota asal kita berdua.
Aku meninggalkan rumah, keluarga, teman, dan saudara. Aku meninggalkan semuanya
bahkan barang-barang kesayanganku dan buku-buku yang menggunung karena tak muat
lagi di dalam rak raksasa di kamarku. Tapi dengan segala upaya itu, kenangan
akan dirimu tak juga tanggal dari kepalaku. Menancap dan seolah menjadi bagian
diriku yang mustahil dipisahkan lagi. Beberapa kota telah aku singgahi,
teman-teman baru, suasana baru, bahkan aku mengubah gaya berpakaianku, gaya rambutku,
warna kesukaanku, semuanya percuma. Kenangan itu selalu tahu keberadaanku dan
menghampiri bersaman setiap hujan datang. Aku berusaha mencari solusi dengan
menceritakan kenangan itu bersama teman-teman baruku. Sebagian besar mereka
berpendapat yang sama. Mereka menyela di tengah-tengah cerita. Tepat ketika aku
menceritakan bagian ketika kau meninggalkan aku di bawah jembatan Cinta. Mereka
bilang, kalau aku tak rela kau pergi, kenapa aku tak mengejarmu atau setidaknya
berusaha menghentikanmu. Mereka menyela tanpa tahu yang sebenarnya. Mereka
menyela karena mereka memang bukan saksi mata seperti hujan yang mendera di
antara kita.
Tiga tahun
lalu, ketika kau meninggalkan aku di sana, aku tak diam. Aku berjalan di
belakangmu menangis dan terus memanggil namamu. Tak kau hiraukan. Kau terus berjalan
menjauh menaiki anak tangga menuju parkir mobil. Kau benar-benar membulat
dengan keputusanmu. Tak ada alasan yang masuk akal bagiku untuk perpisahan ini.
Kau bilang tak ada restu dari kedua orang tuamu. Bukankah saat kita memulai pun
kau sudah tahu itu. Kau bilang akan memperjuangkan aku. Itu juga alasan kenapa
aku bersedia menjadi pendampingmu. Tapi kau melanggar janji itu. Kau berubah
haluan. Tak kau sebut pihak ketiga tapi aku tahu, kau telah menemukan orang
lain yang lebih pantas untukmu. Aku tahu itu dari teman-temanmu. Aku memilih
diam awalnya, berharap kau pun akan diam dan bersedia membagi cintamu dengan
adil. Tapi harapanku tak mewujud nyata. Kau memilih dia. Ketika aku memanggil
pun kau tak berbalik untuk mendekapku erat seperti dulu ketika kita bertengkar
hebat. Aku yakin kali itu berbeda. Kali itu adalah akhirnya.
Air mataku
menitik jatuh. Aku benci kenangan itu. Aku benci setiap kali ia datang bersama
hujan. Aku memalingkan wajah dari jendela, menyembunyikan tangisanku dari
hujan. Tiga tahun bukan waktu yang singkat terutama ketika kita tidak bisa
melupakan. Satu cangkir… dua cangkir… tiga cangkir… teh menemaniku dari hujan
gerimis berubah jadi deras lalu mereda. Aku perhatikan sisa-sisa titik hujan di
kaca jendela hingga bosan. Setelahnya, aku meraih jaket dan dompet untuk
beranjak mencari makanan terdekat.
Kaki ini
melangkah melompati genangan kecil air. Walau aku benci hujan, tapi aku suka
dengan udara sehabis hujan. Ada bau tanah basah, bau segar rumput basah, sejuk
melegakan. Beberapa belokan dari rumah, aku pun tiba di persimpangan jalan
raya. Hari sudah mulai senja, ditambah cuaca sehabis hujan membuat hari ini
lebih cepat tua. Di dekat persimpangan ini ada tempat makan kesukaanku. Mereka menjual
ayam bakar dengan bumbu pedas asam manis. Rasanya unik di lidah. Ditambah sepiring
nasi hangat dan lalapan petai goreng tentu nikmatnya tiada tara apalagi sehabis
hujan dan air mata. Perutku berbunyi seketika aku terbayang menu barusan. Tak jauh
dari persimpangan, aku melihat ada keramaian. Banyak orang berkumpul di satu
sudut jalan. Terdengar mereka panik dan beberapa diantaranya sibuk mengambil
gambar dengan ponsel. Tampaknya terjadi kecelakaan. Jalanan di sini memang
terkenal berbahaya karena adanya persimpangan ditambah lagi sehabis hujan
jalanan biasanya licin. Mungkin pengemudinya sedang terburu-buru dan tidak
mengurangi kecepatan. Entahlah. Aku mendekat untuk sekedar melihat dan mungkin
membantu bila aku mampu, setidaknya atas nama kemanusiaan aku tidak akan
ikut-ikut mengambil gambar untuk masuk di media sosial. Korbannya seorang pria
paruh baya, istrinya menangis histeris sambil memeluk jasad suaminya. Pengemudi
mobil terlihat berlutut menangis dan memohon ampun, tanpa diindahkan oleh istri
korban. Melihat pemandangan itu, kepalaku pening. Tiba-tiba rasanya seperti mau
pecah. Aku terduduk di jalanan, seolah tiba-tiba aku teringat sesuatu yang
tidak seharusnya aku ingat. Tak lama, aku menjerit histeris dan menangis
sekeras-kerasnya. Semua orang tiba-tiba melihat ke arahku. Bahkan mereka yang
semenjak tadi sibuk mengambil gambar, sekarang mengarah padaku. Hanya istri
korban yang tak beranjak. Lalu, semua menjadi gelap. Aku hilang kesadaran.
Tiga tahun
lalu, ketika hujan datang, kau pergi meninggalkan aku di bawah jembatan Cinta. Aku
mengikutimu berjalan di belakang sambil terus memanggilmu. Tapi kau tak
menghiraukan. Aku tak tahu apakah saat itu kau menangis, atau kau benar-benar
tak lagi memiliki rasa. Kau terus berjalan menaiki anak tangga menuju parkir
mobil. Aku, saat itu… Aku ketika itu… Aku… Aku tahu saat itu bahwa aku telah
kehilanganmu selamanya. Aku berhenti mengikutimu. Langkahku berbalik
meninggalkanmu sambil tak henti-hentinya menangis. Aku mendengar kau berteriak
dari dalam mobil agar aku pulang segera ke rumah. Tapi aku pun tak lagi ingin
mendengarmu. Aku berjalan terus menjauh, kemudian semakin lama semakin ke
tengah jalan. Aku tak lagi ingin hidup. Aku melihat dari kejauhan ada truk
melaju kencang. Setelah itu, semua menjadi gelap. Aku berpikir bahwa hidupku
telah berakhir. Nyatanya, ketika aku membuka mata, aku melihat wajahmu
terbaring di sampingku… bersimbah darah.
Tak ada
perih melebihi sakitnya kehilangan. Tak ada kehilangan yang lebih menyakitkan
dari perpisahan yang tak tuntas. Yang pergi dan yang ditinggalkan, sama-sama
merasakan pahitnya kenangan yang menghampiri bersama hujan datang.
Jumat, 17 Agustus 2018
Turbulensi
Aku datang, menghadapmu. Menyodorkan seonggok
hati yang penuh luka. Aku tawarkan padamu apa yang tersisa dariku. Bagian
diriku yang kiranya masih manusia. Hati yang walau tak indah tapi setidaknya
dia masih manusia. Satu-satunya bagian diriku yang masih hidup walau ribuan
kali terluka dan hampir meregang nyawa. Aku tawarkan padamu, berharap kau mau
menjaganya.
Petang menjelang. Aku belum juga selesai
menghias wajah ini dengan segala tetek-bengek-penyedap-pandang aneka warna,
rupa, dan nama. Bukannya aku sengaja terus menunda, tapi memang aku ingin
tampil sempurna. Agar kau tak lagi pernah lupa bahwa orang yang kau tinggal ini
adalah makhluk terindah yang pernah tercipta di dunia. Berkali-kali riasan ini
menempel lalu kuhapus dan kutempel ulang. Belum juga aku merasa puas. Kalau aku
tak puas, maka kau pun tak akan puas. Bukankah begitu, kekasih ? Mantan
kekasih. Riasan ini berulang kali hampir sempurna sebelum akhirnya rusak
kembali oleh butiran air mata yang kubendung sejak lama. Sadarkah kau bahwa aku
terluka, kekasih ? Mantan kekasih. Aku tak mengharapkan dirimu tetap baik
ketika kau tak lagi mencintai aku seperti layaknya awal kita bertemu. Aku tak
ingin kau hadir dalam hidupku hanya untuk menjadi bayang-bayang pengingat
indahnya masa lalu. Air mata ini menitik lagi. Bukankah kau yang dulu berkata
akan menjagaku agar tak lagi tersakiti, kekasih ? Mantan kekasih. Ketika
cintamu berubah haluan, apakah kau masih mengingat janji itu, kekasih ? Mantan
kekasih. Kau meniadakan bagian terakhir diriku yang masih hidup. Aku tak lagi
hidup karenamu, kekasih. Mantan kekasih.
Perjuangan panjang penuh air mata hingga
setidaknya aku harus merasa puas karena jarum jam menunjukku dengan geram. Tak
ada waktu panjang tersisa bagiku untuk bermutasi menjadi makhluk dalam
khayalanku. Aku tetaplah aku. Wujud yang sama yang sempat membuatmu jatuh
cinta. Setidaknya sudah kau nikmati hingga kau merasa bosan dan kau tinggal. Geram
sekali lagi membuatku terpaku dalam diam, menatap bayangan dalam cermin yang
terlihat tanpa ekspresi namun menyimpan dendam. Makhluk yang cantik. Aku puas.
Seharusnya kau pun puas saat melihatku nanti.
Ponselku berdering, sebuah panggilan dari
taksi online yang kupesan untuk mengantarkan mahluk paling indah di dunia ini
ke hadapanmu, kekasih. Mantan kekasih. Aku bahkan sempat mengagumi makhluk
dalam cermin ini berkali-kali sebelum kuputuskan beranjak sebelum ponselku
meledak dihujam dering tiada henti, atau jarum jam di dinding meloncat dan
menusukku hingga mati karena kesal terlalu lama kuabaikan. Dan lagi, makhluk
terindah di dunia ini harus menghadiri pesta sekali seumur hidupmu, kekasih. Mantan
kekasih. Aku pun berbalik untuk keluar dari ruangan bisu ini. Saat aku
berbalik, aku merasakan kedua kaki-ku tertinggal di belakang. Mereka enggan
beranjak karena tahu aku hanya akan terluka melihatmu bersanding dengan kekasih
barumu di pelaminan. Dasar, kaki-kaki sok perhatian. Kemana saja kalian ketika
dulu aku meminta kalian membawaku lari dari kenyataan ? Kalian sama saja dengan
dia. Sok perhatian tapi nyatanya kalian tak pernah benar-benar ada untukku. Aku
pun terpaksa mencubit kedua kaki manja itu agar mereka menurut dan membawaku
segera keluar. Aku tahu mereka enggan, tapi mereka tak berdaya. Aku pun tak
pusingkan itu. Sama seperti mereka seharusnya tak perlu memusingkan diriku,
cukup menjadi alat penopang dan membawaku ke mana aku mau. Bukankah begitu,
kekasih ? Mantan kekasih.
Sepanjang perjalanan, supir taksi online
terlihat melirikku dari kaca spion tengah. Matanya melirikku dengan tatapan
menjijikkan. Seperti lebah mengincar kembang ranum di hadapannya. Tak tahunya
kembang ini berisi racun serangga. Andai ia tahu betapa aku ingin mencungkil
mata binalnya, tentu ia tak lagi berani melirikku sebegitunya. Tapi sudahlah,
aku sedang berbaik hati malam ini. Aku tak ingin menghabiskan emosiku untuk
seonggok sampah di hadapanku. Aku melempar senyuman manis padanya lewat
pantulan kaca hingga ia tersipu-sipu malu. Entah malu atau menahan nafsu.
Buatku tak terlalu mengganggu. Selama dia aman membawaku sampai kepadamu,
kekasih. Mantan kekasih. Aku bersumpah, sepanjang perjalanan ini kami tak
saling berbicara sepatah kata pun. Hanya lirikan nakal bersambut senyum
mematikan. Jadi, kau tak perlu cemburu, kekasih. Mantan kekasih. Aku tahu dulu
kau pun berlaku curang lebih parah daripada ini. Aku tak pernah menyalahkanmu
juga. Jadi tolong jangan kau salahkan aku hanya karena permainan kecil ini,
kekasih. Mantan kekasih. Setibanya di lokasi, aku pun turun tanpa meninggalkan
jejak kemesraan. Hanya senyum manis tanpa makna dan tentunya bintang satu sebagai
perpisahan untuknya.
Kapel tua yang indah. Tempat yang sempurna
untuk pernikahanmu. Dindingnya serba putih dengan hiasan bunga lili putih dan
krisan kuning. Jujur saja aku iri, kekasih. Mantan kekasih. Aku iri dengan
kapel cantik ini. Tapi aku benci bunga lili. Kau tahu aku tak sesuci bunga
lili. Aku tentu akan memilih bunga lotus. Lambang kecantikan yang muncul dari
dalam kubangan dosa. Sudahlah, toh ini bukan pernikahan kita, kekasih. Mantan
kekasih. Tetap saja aku iri dengan kapel putih ini.
Aku duduk di barisan paling belakang,
kekasih. Mantan kekasih. Agar saat kau masuk, aku lah makhluk paling bersinar
yang kau tatap di ruangan ini. Bukan mempelaimu yang kau agung-agungkan di hadapanku
tanpa kau jaga perasaanku. Bukan juga lampu kristal mewah nan megah di
tengah-tengah kapel yang berkilauan dengan sombongnya walau hanya kristal
imitasi belaka. Ingatlah, kekasih. Mantan kekasih. Malam ini aku-lah makhluk
terindah yang pernah ada di dunia. Aku hadir untuk membuatmu sadar betapa
bodohnya dirimu yang telah meninggalkan aku.
Berkali-kali aku melihat jam di lenganku.
Berharap waktu tak menyiksaku terlalu lama melihat senyuman manusia-manusia di
depan sana yang seolah ikut mencicipi kolam kebahagiaan kalian malam ini.
Mereka bukanlah kalian berdua yang tengah dimabuk cinta hingga saling
menyerahkan janji sehidup-semati dalam ikatan pernikahan. Aku teringat lagi
dengan ucapanmu bahwa tak akan ada pernikahan lain untukmu selain denganku,
kekasih. Mantan kekasih. Andai kau masih ingat itu. Aku berharap janji itu
menjadi mimpi buruk di sisa hidupmu agar kau tau betapa aku telah kau lukai
hingga tak sanggup berkata-kata. Aku mengutukmu untuk merasakan pedih yang aku
rasa. Setidaknya agar kau tak mengira aku bahagia dengan semua perhatianmu
setelah kita putus. Aku tersiksa karena mengharapkan kau kembali, kekasih.
Mantan kekasih. Senyumku di hadapanmu seperti kuburan menganga tempatku
mengintipmu dari dalam dinginnya tanah, berusaha menggapaimu tapi tak pernah bisa.
Seperti itulah kita selama ini, kekasih. Mantan kekasih.
Jam berdentang tujuh kali. Lonceng raksasa di
atas kapel pun berdenting nyaring, membuatku pusing. Pintu di belakangku
terbuka pelan. Kamu ternyata berdiri di sana, kekasih. Mantan kekasih. Dengan
senyummu yang menempel sempurna menghiasi setelanmu yang tak kalah sempurna.
Kau sempurna, kekasih. Mantan kekasih. Aku terpukau. Perlahan kau melangkah
masuk ke dalam kapel. Sempat kau melempar senyum ke arahku. Jantungku
berdebar-debar seolah aku lah mempelaimu malam ini. Hanya sekian detik dan kau
terus melaju ke depan altar. Menatap lurus ke belakangku. Menunggu pintu
jahanam itu terbuka sekali lagi dan memunculkan calon pasangan hidupmu yang kau
tunggu-tunggu. Sayangnya bukan aku yang kau tunggu, kekasih. Mantan kekasih.
Hingga akhirnya, penghalang itu tak lagi mampu membendung makhluk yang paling
aku benci. Ia terlihat cantik. Sungguh, aku iri dengan kepolosan yang terpancar
darinya. Seperti patung pualam tanpa cacat. Beda sekali dengan diriku yang
seperti ampas siap dibuang. Aku malu dengan kepercayaan-diri-ku yang sempat aku
banggakan dari tadi. Wajar kau memilihnya daripada aku. Dia putih polos suci
seperti bunga lili. Sedangkan aku, walau cantik tapi aku hanyalah lotus yang
muncul dari kubangan dosa. Aku mengerti kenapa kau meninggalkan aku untuknya.
Aku menyerah, kekasih. Mantan kekasih. Air mata ini menitik pasrah menuruni
lengkungan senyum di bibirku. Semua mengira aku menangis bahagia melihat kalian
berpasangan malam ini. Hanya aku sendiri yang mengerti penderitaanku dalam
dinginnya tanah kubur tersembunyi di balik senyum, kekasih. Mantan kekasih. Aku
tak sanggup tersiksa lebih lama lagi untuk mendengarkan janji pernikahan
kalian. Aku beranjak dari tempatku dan sekali ini, kedua kakiku mengantarku
dalam diam. Mereka benar-benar mirip denganmu, kekasih. Mantan kekasih.
***
Aku terbangun di kamarku. Tenggorokanku
kering. Mataku sembab. Kepalaku terasa berat. Aku beranjak dari ranjangku
dengan enggan menuju dapur untuk segelas air dingin dari dalam kulkas. Aku
melihat jam di dinding. Kali ini tatapannya tak terlalu dingin padaku.
Tangan-tangannya menunjukkan pukul sepuluh pagi. Entah jam berapa aku pulang
semalam, aku tak terlalu ingat. TV masih menyala, siaran berita. Setengah sadar
aku mendengarkan sambil meneguk air dingin yang langsung menghibur kerongkongan
gersang ini.
“Tadi malam...
Kebakaran… Kapel… pemadam kebakaran… seluruhnya tewas.”
Aku tercekat. Kapel ? semalam ?
Selintas gambaran hadir dalam kepalaku. Tawa
menggelegar. Api menyala. Kapel terbakar. Pintu terkunci dari luar. Jeritan
histeris di dalam. Lampu diskotik. Tawa menggelegar sepanjang malam. Lalu
seketika semuanya buyar oleh bunyi lonceng di pintu. Aku bergegas menuju pintu
untuk mengintip siapa gerangan. Berdiri di depan pintu, ada petugas berseragam
dengan wajah garang. Rasanya sekarang aku mengingat jelas malam terakhir kita,
kekasih. Mantan kekasih.
Sabtu, 16 Desember 2017
Puing
Aku berharap tatapan itu pergi dari ingatan
Hanya berharap, karena aku tahu itu tak mungkin
Sementara hati ini terus menangisi kepergianmu
Aku berusaha tegar dan tak terlihat rapuh
Apakah kau tak menyadari betapa aku telah mati
Setelah berulang kali hancur dan bangkit kesekian kali
Berulang lagi dan lagi rasa yang sama membuatku gila
Tak membuatku cukup pintar untuk tak lagi menerima
Lihat bagaimana hati ini terbelah dan berdarah
Agar tak lagi kau mengulangnya
Lihat hati ini tak lagi utuh adanya
Walau telah disembuhkan dengan sihir yang sempurna
Hanya kegelapan abadi yang mampu menenangkan
Hati ini terkubur dalam tidur panjang bersama mimpi
dan setitik harapan
~Onykatze~
Hanya berharap, karena aku tahu itu tak mungkin
Sementara hati ini terus menangisi kepergianmu
Aku berusaha tegar dan tak terlihat rapuh
Apakah kau tak menyadari betapa aku telah mati
Setelah berulang kali hancur dan bangkit kesekian kali
Berulang lagi dan lagi rasa yang sama membuatku gila
Tak membuatku cukup pintar untuk tak lagi menerima
Lihat bagaimana hati ini terbelah dan berdarah
Agar tak lagi kau mengulangnya
Lihat hati ini tak lagi utuh adanya
Walau telah disembuhkan dengan sihir yang sempurna
Hanya kegelapan abadi yang mampu menenangkan
Hati ini terkubur dalam tidur panjang bersama mimpi
dan setitik harapan
~Onykatze~
Kamis, 14 September 2017
Elegi Hati yang Terbelah
Pergilah, katamu.
Aku terdiam. Senyap di antara kita seolah membekukan waktu sesaat untuk selamanya. Kusangka aku salah dengar, atau lidahmu terpeleset hingga kata itu datang darimu yang selama ini mengikatku kuat takut aku pergi dan tak kembali. Kiranya sebuah akhir dari semua cerita kita telah muncul dari balik tirai tempatnya merajuk memohon dan meniadakan kata pisah yang memang seharusnya sejak lama kita ikrarkan bersama. Lebih mencekat lagi, kata itu kau ucapkan tanpa aura yang hidup. Begitu redup. Begitu mati. Seolah tak ada rasa tersisa dalam dirimu untuk sekedar menahanku dengan hiburan nada sedih yang sendu. Mungkinkah kini kau pun telah jenuh menghadapi usahaku untuk selalu lepas darimu ?
Aku dan kamu bertemu di waktu yang begitu tepat di tempat yang teramat keramat. Tak ada momen yang begitu pas seperti ketika kita bertemu saat itu. Pandanganmu bertemu tatapku. Dua hati seketika menjalin dalam hitungan sepersekian-detik. Kita seperti tahu bahwa kita tercipta memang untuk momen itu. Tanpa perlu kata-kata rayuan untuk sekedar mengesahkan satu hubungan. Jemari kita memilin erat satu sama lain. Lebih erat dari janji-janji manis yang pernah ditulis tangan mana pun. Karena aku tahu, kamu tahu. Kita tercipta untuk bersatu.
Seperti rumput hijau di sepanjang jalan yang kita lewati setiap hari. Tak selamanya hijau itu bertahan. Tak selamanya juga ia kering kecoklatan. Pahit-manis hubungan yang saling merajut bertaut indah membentuk satu kesatuan, dan itu-lah kita. Dua insan yang tengah jatuh cinta. Kita lewati semua itu hingga perlahan semua menjadi begitu biasa. Tak ada lagi tantangan. Tak ada lagi rintangan yang terasa berarti karena kita pernah melewatinya bersama. Semua menjadi begitu datar dan hambar. Salah kah ?
Kadang saat memikirkannya, hatiku menyadari bahwa ia merindukan percikan-percikan seperti yang dulu. Adrenalin dari pertikaian konyol antara kita. Bukankah itu adalah bumbu dalam percintaan ?
Semakin hari, hati ini mulai menjeritkan kebosanan. Ia butuh suntikan nafas kehidupan. Hubungan kita tak layak dikatakan hidup. Ia seperti mesin yang bergerak tanpa diminta. Semua begitu rapi tak bercela. Kemana hilangnya kepingan puzzle yang dulu kucari setengah mati demi memuaskan rasa penasaran dan ternyata kepingan itu ada dalam dirimu. Kini puzzle itu terlihat sempurna dan membosankan karena tak lagi ada celah tersisa untuk kita isi bersama.
Diam-diam aku mulai melangkah. Menjauh perlahan darimu. Berharap kau tak menyadarinya, hingga aku telah melangkah terlalu jauh dan langkahmu tak lagi menjangkau aku. Tapi setiap usaha itu terhenti karena aku tahu bahwa aku masih cinta. Tapi apakah ini benar cinta yang sama yang pernah menyatukan kita, ataukah ini ilusi yang kucipta dari rasa takut bersendirian ?
Walau aku tahu setiap langkahku mencari jawaban itu akan menyakitimu. Menarik putus urat-urat cinta kita perlahan dan menyakitkan. Aku yakin kau diam menelan sakit itu demi melihatku bahagia. Dalam diam itu, aku masih merasakan sentuhan lembut doa-doamu agar aku sanggup bertahan melangkah di atas jejak berdarah demi menemukan apa yang kita berdua sebut dan yakini itu sebagai bahagia. Yakinlah aku pun ingin kau bahagia.
Cinta kita tak hidup dengan media hambar dan tandus seperti kita berdua. Cinta ini sudah mati sejak lama. Kita hanya tak berani mengakuinya.
Sabtu, 04 Maret 2017
Babad Lintang : Meretus
Pagi yang
cerah disempurnakan dengan bentangan pelangi indah di angkasa. Perempuan itu
menebar selembar kain putih untuk dijemur di halaman rumahnya yang sederhana.
Sentuhan jemarinya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ibu rumah tangga yang
telaten. Sambil bersenandung tembang lawas yang terdengar merdu walau hanya
senandung sederhana-ia melengkungkan senyuman hangat walau tak ada siapa pun di
dekatnya saat itu. Risa namanya. Erisa. Tanpa nama belakang. Wanita keturunan
dengan paras cantik, janda beranak satu. Semua warga sekitar memanggilnya Risa,
kadang “Lisa” karena sulit mengucapkan huruf “R”. Risa sehari-harinya bekerja
sebagai dukun-kalau tak mau disebut dokter-yang menyembuhkan pasien dengan
jamu-jamuan. Warga sekitar sangat menyukai Risa karena sifatnya yang ramah dan
murah senyum. Tak jarang warga mengutang biaya berobat hingga berbulan-bulan tanpa
pernah ditagih oleh Risa. Perempuan ini bukannya rugi, malah mendapat berbagai
macam hadiah berupa hasil sawah dan kebun dari warga yang pernah ditolongnya.
Janda cantik ini tak pernah kekurangan makanan. Keramahan warga sekitar membuatnya
betah tinggal di kampung terpencil di kaki gunung ini. Nala, anak perempuannya,
agak pendiam sejak tragedi mengerikan merenggut ayahnya. Ayahnya adalah pribumi
yang tewas saat kampungnya diserang oleh segerombolan perampok. Beruntung
ketika itu Risa dan Nala tengah mencari tanaman obat di hutan sehingga mereka
selamat dari kekejaman para perampok. Nala adalah gadis berumur sembilan tahun.
Gadis periang yang berubah menjadi dingin sejak kematian ayahnya. Nala hanya
tersenyum untuk ibunya seorang.
“Nala, boleh
bantu ibu ambil air di sumur ?” Risa memanggil anak gadisnya yang sedari tadi
memandangi ibunya dari teras rumah.
“Baik, Bu.
Berapa ember ?” Nala menyanggupi.
“Dua ember
saja, sayang. Terima kasih, ya.” Risa menjawab dengan senyum khas-nya.
Gadis itu
bergegas melangkah ke sumur yang letaknya tak jauh dari halaman rumah.
Tatapannya kosong seperti biasanya. Seperti tak ada kehidupan di sana. Karena
memang hanya Risa-lah satu-satunya alasan ia hidup. Nala mengambil ember yang
terbuat dari kayu tua, dengan tali tambang yang juga tak kalah tua. Sumur itu
cukup dalam, tapi airnya terlihat bening berkilauan di dalam sana. Nala segera
melempar ember ke dalam sumur dan menarik keluar satu ember penuh berisi air
bersih dari perut bumi. Mereka bersyukur memiliki sumur ini, karena kualitas
airnya bahkan lebih bersih dari air sungai yang terletak di dekat hutan. Nala
menyeret ember itu menuju tempat ibunya berdiri. Tanpa sengaja, sudut matanya
menangkap sosok pria tengah berdiri di luar pagar rumah mereka, memandanginya.
Gadis itu terkejut, memekik kecil lalu menjatuhkan embernya dan berlari ke
balik tubuh ibunya. Risa pun dengan sigap melindungi anak gadisnya, sambil
memastikan siapa orang tiba-tiba muncul di depan pagar rumah mereka.
“Kamu…”
Risa memicingkan mata.
“Nala, kamu
masuk dulu, sayang.” Risa meminta Nala untuk kembali ke dalam rumah. Setelah
itu, barulah ia menghampiri sosok misterius yang baru saja datang.
“Risa…”
Sosok itu memanggil namanya.
“Ya, sudah
waktunya ?” Risa menjawabnya dengan sedikit enggan.
“Ya, di
waktu yang tepat. Sesuai perjanjian kita.” Sosok itu menjawab.
Risa
terdiam. Tangannya menggenggam erat gaun putihnya, sedikit gemetar.
“Ikut
denganku…” Risa mengajaknya menjauh dari halaman rumah. “…Lintang.”
***
Erisa,
perempuan keturunan eropa berusia dua puluh dua tahun dengan paras cantik. Pada
suatu petang ia datang ke sebuah kampung nan jauh di pedalaman, di kaki gunung
yang dikelilingi hutan perawan. Risa datang bersama beberapa ajudan dan kuli
panggul. Ia membeli sepetak tanah lengkap dengan bangunan rumah tua yang telah
disulap menjadi rumah sederhana. Rumah yang tidak terlalu megah tapi terlihat
nyaman untuk ditinggali. Risa datang sebagai tukang obat tradisional. Profesi
yang masih asing bagi warga sekitar. Parasnya yang cantik membuat profesinya
tidak dipermasalahkan. Apalagi tak lama setelah tinggal di sana, ia telah
berhasil mengobati banyak warga sekitar dengan pengetahuannya tentang
obat-obatan herbal yang banyak tumbuh di hutan sekitar kampung. Tak butuh waktu
lama bagi Risa menarik perhatian pemuda desa untuk meminangnya. Termasuk
diantara pemuda-pemuda itu adalah Suliman. Pemuda sederhana tapi rupawan dan
sopan. Risa yang sebatang kara kemudian menerima pinangan Suliman dan hidup
bahagia di tempat tinggal barunya. Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang
mereka beri nama Unala. Warga sekitar memanggilnya Nala. Gadis periang yang
mencerahkan sekelilingnya seperti matahari pagi. Tak ada yang lebih sempurna
dari keluarga kecil yang walaupun hidup sederhana tapi begitu bahagia. Seperti
halnya tak ada kesempurnaan yang lolos dari mata dengki manusia-manusia berhati
kotor yang tak suka melihat kebahagiaan orang lain dan selalu dibuat iri
dengannya. Salah satunya adalah Ratih, kembang desa yang kini kalah pamor sejak
kedatangan Risa. Ratih dulunya pernah dipinang oleh Suliman tapi berkali-kali
pula Ratih menolak karena Suliman dianggap kurang mapan. Tapi sekarang, setelah
Suliman menikah dengan Risa, entah kenapa Ratih merasa tak rela. Walaupun
keluarga kecil itu tak berlebihan harta juga. Bahkan masih banyak pemuda mapan
yang meminang Ratih. Tetap saja hatinya tak tenang.
Malam tak
berbintang, saat kampung terlelap dalam bisu, Ratih yang hatinya gelap menyewa
beberapa penjahat kawan ayahnya untuk menghabisi keluarga Risa. Rumah mereka
yang letaknya agak jauh dari rumah warga sekitar membuat teriakan mereka tak
terdengar dan hilang ditelan malam. Suliman ditikam dengan golok hingga
kepalanya terpenggal. Sementara Risa, jauh lebih tragis. Setelah dipaksa
menyaksikan anak kesayangannya digilir hingga mati oleh penjahat yang sama
sekali tak ia kenal, Risa ditikam dan dibiarkan mati kehabisan darah. Jasad mereka
sekeluarga dibuang ke dasar jurang, hilang tak berbekas. Ratih yang mendapati
kabar sukses dari suruhannya, tertawa puas. Walaupun ia tak mendapat apa-apa
dari perbuatannya. Tidak, selain dendam dan jeritan balas dendam dari wanita
yang telah ia bunuh dengan sadisnya.
Risa telah
mati. Tapi Roh-nya tak pernah pergi dengan tenang. Risa kembali sebagai sosok
hantu bergaun merah yang menghantui kampung dan menyebar tulah. Ratih dan
keluarganya menjadi korban pertama. Ratih dicabik hingga isi perutnya terburai
dan wajahnya sulit dikenali. Keluarganya satu per satu mati dengan cara yang
sama. Sementara, para penjahat yang disewa oleh Ratih tewas dengan tubuh
terpisah-pisah. Celakanya, Risa bukan lagi manusia yang punya nalar. Ia hanya
Roh yang dipenuhi amarah. Kemarahannya kini telah menghancurkan setengah isi
kampung. Sisa warga yang masih hidup kemudian pindah keluar kampung demi
menghindari tulah. Sejak itu, Roh Risa berkeliling kampung mencari anak dan
suaminya. Setiap malam terdengar rintihan, tangisan, jeritan pilu dari Risa.
Tak ada yang bisa menolongnya. Tak ada yang berani mendekati kampungnya.
***
Risa
mengajak Lintang berjalan ke arah hutan, menjauh dari kampung. Keduanya tak
saling bicara hingga tiba di sebuah tanah lapang di tengah hutan. Sinar
matahari tak menembus rimbunnya pepohonan di sekitar.
“Risa, tak
apa meninggalkan anakmu sendirian di rumah ?” Lintang memulai pembicaraan.
“Tenang
saja, 70 tahun cukup untuk aku mempelajari lebih dari sekedar trik murahan.
Pagar gaib melindungi anakku dari orang-orang yang berniat jahat.” Risa
tersenyum manis.
Keduanya
saling menatap dalam diam.
“Jadi,
harus hari ini kah ?” Risa memecah keheningan.
“Satu
siklus, Risa. Tak kurang dan tak lebih.” Lintang menjawab datar.
“Beri aku
waktu. Tiga hari lagi. Boleh ?” Risa menjawab dengan senyum ramah.
“Risa…”
Lintang menghela nafas.
“Aku janji.
Tiga hari. Tak lebih dan tak kurang.” Risa menegaskan.
“Tiga hari
untuk kamu menyiapkan hati, atau tiga hari untuk kamu menyiapkan strategi ?”
Lintang menjawab dengan nada tetap datar.
“Kita
lihat, tiga hari lagi. Di sini.” Risa memalingkan matanya. Nada suaranya
semakin pelan.
Lintang
menatapnya sejenak, lalu berbalik meninggalkan Risa di tengah hutan sendirian
dalam bimbang.
***
Roh penuh
kemarahan tak akan pernah meninggalkan dunianya. Terikat oleh emosi. Mengulang
kemarahan itu terus menerus seperti sebuah rekaman yang diputar berulang-ulang
tanpa ujung. Risa menjadi bagian dari siklus menyedihkan. Perempuan yang
seharusnya hidup bahagia, menjadi korban kebiadaban manusia lainnya tanpa sebab yang pasti hingga harus
berakhir tragis. Tak ada yang tahu seperti apa garis hidup tiap-tiap makhluk di
dunia. Dari mana garis itu dimulai, kemana garis itu berakhir. Untuk Risa,
Garis hidupnya telah berakhir, tapi kisahnya tak berakhir di sana. Ia bertemu
dengan Lintang. Bukan sebuah kebetulan. Lintang datang pada Risa dengan satu
tujuan. Menitipkan “kepingan” dirinya sebelum pergi.
“Wahai Roh
yang dipenuhi amarah, aku Roh Pendahulumu, ingin berbicara.
Aku
perintahkan kamu untuk menghadapi aku tanpa emosi.”
“Siapa kau,
makhluk lancang yang berani mengaku leluhurku ?” Risa mengamuk dan menerjang ke
arah Lintang.
Lintang
mengangkat tangan kirinya dan muncul perisai tak kasat mata yang menghalangi
Risa. Cakar tajam Risa menyentuh perisai itu dan muncul percikan api ke segala
arah. Risa melompat mundur seperti seekor singa. Risa menggeram penuh amarah.
Matanya tak henti mencari celah untuk menyerang makhluk di depannya. Tapi ia
tahu, makhluk di depannya berbeda dengan manusia lain yang telah ia tebas
dengan mudahnya.
“Risa, aku
datang untuk membuat perjanjian. Kalau kau menolak, aku akan mencari Roh
lainnya. Tak perlu memakai kekerasan.” Lintang mengajak Risa berdialog.
“Siapa
kamu, dari mana kau tahu nama ketika aku masih hidup ? ada perlu apa ?” Risa
menggeram.
“Risa, aku
Roh Pendahulumu. Aku perlu kau untuk menjaga sebagian diriku selagi aku tak di
sini. Setidaknya sampai aku kembali nanti.” Lintang menjelaskan dengan singkat.
“Kenapa aku
harus membantumu ?” Risa memekik kesal.
“Membantuku,
sama saja membantu dirimu, untuk menemukan jalan pulang.” Lintang menjelaskan.
“Pulang ?”
Risa mendesis.
“Pulang,
lepas dari ikatan emosimu sekarang.” Lintang tersenyum.
Lintang
menarik keluar sebuah cahaya kecil dari arah jantungnya. Seperti kunang-kunang.
Kecil berkilauan. Ia mengarahkannya pada Risa.
“Jaga ini.
Sampai aku datang untuk mengambilnya kembali.” Lintang menyerahkannya pada Risa
tanpa meminta persetujuan.
Risa
menerima cahaya itu, mendekapnya, ada
perasaan aneh merasukinya. Sesuatu yang hangat dan telah lama ia lupakan.
Sesuatu yang menarik kembali kenangan terindah tentang kehidupannya yang lalu.
Risa mengerti tanpa harus diberi tahu. Ia sadar sesuatu yang telah lama hilang
itu telah ia temukan, dan untuk pertama kali setelah
kebangkitannya, ia menangis.
***
Malam ini,
Risa tak bisa memejamkan mata, memikirkan tiga hari waktunya yang tersisa.
Bagaimana mungkin ia akan melepas apa yang diperjuangkannya selama 70 tahun
belakangan. Tiba-tiba Nala mendekap ibunya yang tengah duduk di bangku teras. Wajahnya
terbenam di punggung ibunya seolah mengerti gundah yang terpendam di sana.
“Bu, belum
tidur ?” Nala bertanya pelan.
“Nala, kok
kamu masih bangun ? Ibu sebentar lagi tidur kok. Nala kembali ke kamar sekarang
ya.” Risa mengusap lembut rambut anak kesayangannya, kemudian mengecup
keningnya. Air mata Risa menitik tanpa suara.
“Ibu… menangis
?” Nala mendekap ibunya makin erat.
“Ibu gak
apa-apa Nala, Ibu cuma kangen Ayah.” Risa mendekap anaknya erat.
“Yuk kita
tidur, nak.” Keduanya bergegas masuk ke rumah. Meninggalkan gundah di balik
pintu rumah bersama dinginnya malam, berharap gundah itu terbawa bersama angin
malam.
Setelah
menerima titipan dari Lintang, Risa perlahan mendapatkan kembali wujud
manusianya. Risa menggunakan kesempatan itu untuk mendalami pengobatan dan
sihir kuno ke berbagai daerah. Ia bahkan berhasil mengubah “benda” titipan
Lintang itu menjadi wujud anak gadisnya yang ia rindukan. Walaupun tak
sempurna. Risa memasukkan kenangan palsu ke dalam tubuh anaknya. Nala tak
pernah tumbuh menjadi lebih dewasa, dan beberapa kali telah berpindah tempat
tinggal untuk menghindari kecurigaan warga. Sementara itu, cerita bahwa Risa
adalah janda korban perampokan menjadi senjata andalan mereka untuk menarik
simpati warga kampung yang mereka datangi. Dengan sifat ramah dan kemampuan
pengobatannya, Risa dengan mudah diterima di mana pun ia berada. Hanya satu
kekhawatirannya, kapan Lintang akan datang mengambil kembali “benda”
titipannya. Risa sesungguhnya tak pernah tenang. Tapi ia bahagia, setidaknya
bisa hidup sekali lagi bersama Nala.
Tiga hari,
ternyata jauh lebih singkat dari yang diharapkan. Risa belum siap, dan mungkin
tidak akan pernah siap. Tapi ia harus menghadapi janjinya. Atau mungkin, menghadapi
Lintang.
Tepat tiga
hari, Risa kembali ke hutan. Tatapannya kosong. Ia mengenakan gaun putih
terbaik yang ia punya. Rambutnya disanggul rapi seolah bersiap menghadiri acara
penting. Memang sekarang adalah saat-saat terpenting dalam hidupnya. Langkahnya
pasti, tak menyisakan ruang untuk keraguan yang sesungguhnya telah melahap hamper
seluruh semangat hidupnya tiga hari belakangan. Ia harus menentukan apa yang
akan ia lakukan, suka atau tidak suka. Sekarang. Lintang telah menunggu di
tengah-tengah tanah lapang seperti yang telah dijanjikan. Pemuda berperawakan
tegap kisaran delapan belas tahun itu berdiri dengan wajah datar. Keduanya kini
berhadapan dan saling diam.
“Jadi, mana
kepinganku ?” Lintang memulai.
“Lintang,
kau tahu apa arti kepingan itu untukku sekarang ?” Risa melempar pertanyaan.
Berharap untuk dimengerti.
“Kepingan
itu… adalah “rasa” milikku. Tanpa itu aku tak hidup, Risa.” Lintang menjawab.
“Maksudmu ?”
Risa terkejut.
“Sebelum
aku pergi, aku harus menitipkan “rasa” itu agar tidak hilang. Aku butuh itu
untuk menyelesaikan misiku sekarang. Ini bukan sekedar tentang milikku, atau
untukmu. Ini tentang dunia, Risa. Aku tak bisa melibatkan perasaan karena aku
tak memilikinya saat ini. Perasaanku… ada di dalam kepingan itu.” Lintang
menjelaskan.
“Jangan
bercanda. Bagaimana mungkin kamu menitipkan hal sepenting itu padaku ?”
“Aku tak
sedang bercanda. Seperti yang kukatakan padamu saat itu. Kalau kau menolak, aku
akan mencari Roh lain yang kuanggap kuat dan mampu menjaganya.” Lintang
menjelaskan.
“Kuat ? kau
memanfaatkan aku ?” Risa terlihat marah.
“Aku
meminta bantuanmu, dan sekaligus menawarkan bantuan. Kamu bisa menggunakan
kepingan itu untuk lepas dari emosi yang mengikatmu. Kalau kamu menggunakannya
dengan benar.” Lintang menjawab datar.
“Intinya,
tak mungkin kau menyerahkan kepingan ini untukku ?” Risa berbisik.
“Tidak.”
Lintang menjawab.
Keduanya
terdiam cukup lama tanpa suara. Kemudian, Risa mengarahkan tangannya ke atas
kepala, seperti mencari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menarik keluar benda itu
dengan suara mengerikan seperti menarik paku yang menyangkut di tengkoraknya.
Benda itu ditarik keluar dengan perlahan. Bersamaan dengan itu, darah segar
menetes dari kepala, mata, dan telinga Risa, semakin deras hingga seluruh gaun
putihnya berubah menjadi merah. Benda itu lebih panjang dari paku, sebuah
tongkat kira-kira sepanjang telapak tangan orang dewasa, berwarna merah
mengkilap seperti batu rubi. Lebih tepatnya, seperti darah yang dipadatkan.
Risa yang kini berubah wujud menjadi Risa yang mengerikan, dengan wajah marah,
pucat, dan tak hidup, mengacungkan tongkatnya kearah Lintang. Ia merapal
mantra. Sebuah kilatan berwarna merah menyambar tubuh Lintang hingga terlempar
jauh, menabrak pohon besar di belakangnya.
“Tak ada
pilihan lain.” Risa memekik.
Lintang
bangun dengan bibir berdarah. Tak ada kemarahan dalam tatapannya. Ia benar-benar
seperti tubuh tanpa emosi. Yang ia tahu, tubuhnya tak boleh terus menerima
serangan. Walaupun tubuh ini akan sembuh dalam waktu singkat, misinya harus
segera diselesaikan. Tak ada waktu untuk bermain terlalu lama. Lintang bersiap
melancarkan serangan ketika Risa menancapkan tangannya menembus ulu hati
Lintang dari belakang.
“Maaf, aku
tak bisa kehilangan hidupku untuk kedua kalinya” bisik Risa.
Tangan
Lintang menggenggam tangan Risa, menahannya agar tidak kabur.
“Wahai Roh
yang terikat emosi dunia, aku Roh Pendahulumu, dengan ini memutus kontrakmu
dengan tanah dan elemen dunia. Aku perintahkan, lepaskan !”
Tangan Risa
seolah terbakar dan membara. Tangannya yang menembus tubuh Lintang kini
perlahan hilang menjadi abu yang hancur terbawa angin. Risa menjerit keras
kesakitan.
Risa
melompat mundur dan terus menjerit kesakitan, seolah ada api yang tak
henti-hentinya perlahan memakan tubuhnya dari tangan yang terpotong hingga ke
pergelangan. Ia kesakitan hingga jatuh terguling ke tanah.
Lintang
berjalan mendekat hingga beberapa langkah dari tubuh Risa. Tiba-tiba, sebongkah
batu melesat hampir mengenai kepalanya. Ia mencari arah sumber lemparan. Dari
balik semak-semak dekat pohon besar, terlihat sosok Nala menangis ketakutan
dengan tangan yang menggenggam batu. Setelah melempar batu sekali lagi, ia
segera berlari kearah Risa, mendekapnya erat.
“Jangan
sakiti Ibuku.” Teriak Nala.
Risa
terkejut melihat sosok Nala. Seharusnya Nala saat ini sedang berada di rumah
mencuci piring seperti yang ia pesan tadi. Ia tak ingin Nala melihat wujudnya
sekarang. Ia tak ingin Nala tahu masa lalunya yang menyedihkan.
“Nala,
anakku, maafkan Ibu, Nak.” Risa menangis, tapi yang mengalir adalah darah dari
kedua matanya.
“Ibu,
jangan tinggalkan Nala, Bu.” Nala menangis memeluk ibunya erat.
Lintang
berdiri menatap dengan wajah datar. Ia tak memiliki kemampuan untuk merasakan.
Tidak selama kepingan itu belum kembali padanya.
“Sudah
waktunya.” Lintang berucap.
“Aku memanggil
kembali kepingan rasa yang melengkapi Roh-ku.
Kembali ke
wujud sejatimu, kembali padaku.”
“Bu, jangan
lupakan Nala. Nala sayang Ibu” Nala menitikkan air mata terakhirnya, ketika
tubuhnya pecah menjadi jutaan kunang-kunang hingga tersisa satu kepingan kecil
yang bercahaya, melayang kembali kearah pemilik sejatinya.
“NALAAA…
ANAKKU NALA…….” Risa menjerit keras hingga tersungkur. Tangisannya lebih
menyakitkan daripada luka di tangannya.
Lintang
mendekatkan kepingan itu kearah jantungnya. Seketika kepingan itu masuk ke
dalam jantungnya, luka yang tadi menganga kini bercahaya dan menutup sembuh
seperti sedia kala. Yang tersisa adalah rasa sakit luar biasa di bagian dada. Di
jantungnya. Rasa sakit yang tak pernah ia sangka akan menjadi hadiah paling
pedih dari apa yang ia lakukan 70 tahun yang lalu. Rasa sakit yang sebenarnya
tak pernah ia rencanakan. Kembalinya rasa. Kenangan Nala yang dipaksa berpisah
dari Ibunya. Air mata Lintang menitik
deras. Kali ini kesedihan miliknya. Seolah dia adalah Nala. Karena sejatinya
Nala adalah bagian dari dirinya. Segera, ia berlari mendekap Risa. Tapi
terlambat. Sebagian besar tubuh risa telah menjadi abu. Hancur dalam
genggamannya. Berulang kali Lintang meminta maaf, tapi ia sadar, kesalahannya
terlalu fatal. Begitu mengerikan tindakan yang bisa dilakukan oleh Roh yang
kehilangan “rasa”. Lintang menangis sejadi-jadinya. Tapi tak bisa berbuat
apa-apa.
Malam
menghampiri hutan yang tenang, membekukan kesedihan dengan angin malam. Tak ada
lagi isak tangis terdengar. Hanya Lintang yang berlutut di dekat jejak tubuh
Risa. Tubuhnya tertunduk lemas, seolah semangat hidupnya terkuras habis bersama
air mata yang mengucur seharian. Apakah misi yang penting itu lebih berharga
dari “rasa” yang ia renggut dari Risa ? Apakah layak ia menghabiskan waktu
untuk mengenang kebahagiaan palsu Nala yang dulu ia titipkan ? Apakah luka oleh
“rasa” bisa hilang ?
Malam tak
bersuara, angin pun berlalu dengan acuh, meninggalkan penyesalan yang mungkin
tak lekang oleh waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)