Selasa, 26 Januari 2016

Eigengrau

Terkadang, cahaya yang kamu lihat dalam gelap, hanyalah ilusi belaka.


Angin sore di penghubung semesta dengan cakrawala, meniup poni-ku ke kiri lalu kemudian ke kanan. Angin sejuk. Hampir seperti tiupan dengan niatan untuk membekukan hati yang terdiam membisu sejak dua jam yang lalu. Diam seperti tubuhku yang hampir tidak bergerak di tepian jembatan kayu tempatku berpijak sambil menatap matahari terbenam meninggalkan aku dan kesendirian ini. Aku menunggu Bayu. Kebetulan namanya punya arti yang sama dengan angin. Tapi Bayu jauh lebih dingin. Dia bahkan telah membekukan cinta kami dalam prasasti gunung es. Bayu selingkuh dengan sahabat dekat kami, Linda.

Tempat ini akan menjadi tempat bersejarah dalam hidupku. Tempat aku akan menyelesaikan sebagian isi jurnal hidupku. Aku dan Bayu sepakat mengakhiri hubungan kami di sini. Tempat takdir pernah mempertemukan kami dalam jalinan cinta, dan memisahkan kami oleh bilur-bilur cinta. Mungkin memang takdir tak pernah menyatukan dua manusia berkelamin sama dalam satu peraduan yang lama. Mungkin kelamin memang menjadi patokan halal dan haram-nya masalah percintaan. Dulu aku tak percaya. Sekarang tetap tak mau percaya.

Dua jam lebih, entah berapa lama tepatnya, wajah itu menghampiriku dengan ratapan sayu seolah minta kupeluk. Lalu, mungkin keajaiban akan sekali lagi datang menghampiri dan menyeret kami kembali ke waktu itu. Waktu ketika aku dan Bayu baru pertama bertemu. Waktu kami belum menghadapi dilema cinta segitiga dengan Linda.

"Maaf, sudah lama ?" Bayu bertanya dengan suara serak seperti habis menangis semalaman.

"Bukannya dari awal memang aku yang selalu menunggu ?" jawabku ketus.

"Ndre, aku sengaja terlambat hari ini." Bayu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
"Aku nggak yakin dengan keputusan ini, Ndre. Aku gak mau."

"Bay, kamu yakin dengan ucapanmu barusan ? Kemana saja keyakinanmu itu pergi, waktu kamu selingkuh dengan Linda ?" Aku menatapnya dengan marah.

"Ndre... Bisa kita lupakan saja Linda ?" Bayu berkata pelan, hampir berbisik. Setengah memohon.

"Gak bisa Bay. Aku gak bisa." Jawabku dengan mata yang berkaca-kaca entah karena perih oleh angin laut atau memang menahan rasa.

"Please, Ndre... jangan buang aku." Bayu masih berusaha.

"Bay, mulai sekarang, kita gak usah ketemu lagi." Aku menitikkan air mata terakhirku untuk Bayu, lalu melangkah pergi darinya. Meninggalkan Bayu di sana.

Aku berusaha menahan diri untuk tidak membalikkan badan melihat ke arah Bayu. Aku tak mau hati ini memberontak dan menyerah pada pesona laki-laki di belakangku. Aku memaksa kaki ini terus bergerak menuju mobil yang aku parkir di bawah pohon. Segera masuk dan duduk di belakang setir kemudian menangis meraung-raung sepuasnya.

Aku tak ingat berapa lama aku menangis. Ponselku bergetar. Di layar ponselku ada wajah perempuan itu. Perempuan yang menorehkan bilur-bilur menyakitkan dalam percintaanku dengan Bayu. Antara segan, benci, juga penasaran. Aku mengangkat panggilan dari Linda.

"Ndre, sudah ketemu dengan Bayu ? Kalian gak kenapa-kenapa kan Ndre ?" Linda menyambar tanpa permisi.

"Lin, sudah. Aku sudah selesai dengan Bayu." Jawabku setengah menahan isak tangis yang tersisa.

"Baguslah, Ndre. Lalu ?"

"Lalu ? Lalu kenapa, Lin ?" Tanyaku

"Lalu... kita..."


***
Linda adalah sahabatku sejak SMA. Dia selalu merasa bahwa aku adalah belahan jiwanya. Walaupun aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan, Linda tidak mempermasalahkan itu. Mungkin karena keyakinannya juga, aku menjadi penasaran dengan perempuan bernama Linda ini. Sejak kecil aku tidak dekat dengan Ibu-ku yang seorang penjudi dan rajin menelantarkan anak-anaknya ke rumah nenek. Tak jarang, setelah kalah judi, kami menjadi pelampiasan amarahnya. Semua yang kami lakukan menjadi kesalahan fatal di matanya. Tamparan, bahkan rotan menjadi akrab di kulitku. Linda perlahan menyembuhkan rasa benciku pada perempuan. Tapi tak mengubah kenyataan bahwa aku tak pernah sedikit pun membayangkan berhubungan dengan perempuan. Lalu aku bertemu dengan Bayu. Pertemuan tak disengaja di jembatan dekat pantai. Senyumnya seperti jawaban dari semua doa. Begitu sempurna. Begitu mempesona. Aku menceritakan tentang hubunganku dengan Bayu pada Linda. Awalnya Linda marah, walaupun akhirnya kami bertiga menjadi dekat. Kemana-mana selalu bertiga. Linda juga yang menjadi penengah ketika aku dan Bayu bertengkar hebat di awal-awal hubungan kami. Linda adalah satu-satunya perempuan yang bisa melewati dinding yang telah aku bangun untuk menolak kehadiran makhluk bernama perempuan. Bayu dan Linda kemudian lepas kendali. Mereka berhubungan lebih dari sekedar sahabat di belakangku. Lebih tepatnya, Linda telah merencanakan semua itu. Lebih gilanya, rencana ini atas persetujuanku.


***
"Kita kenapa, Lin?" tanyaku

"Kita... sekarang bebas ?" tanya Linda dengan hati-hati.

Aku terdiam tak bisa menjawabnya. Ada rasa bersalah yang mendalam. Aku telah melukai Bayu. Aku yang telah menghancurkan hubungan kami bertiga.

Dua bulan yang lalu, hubunganku dengan Bayu semakin kacau. Aku menceritakan semuanya pada Linda. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Bayu, tapi selalu gagal. Aku butuh satu alasan kuat untuk bisa menolak kehadirannya di dekatku. Mungkin dengan membuatnya melakukan satu kesalahan fatal seperti berselingkuh dengan Linda. Rencana gila ini disambut oleh Linda. Dengan perjanjian, jika aku berhasil berpisah dari Bayu, aku harus menerima Linda. Setidaknya aku harus mencoba jalan dengan Linda lebih tepatnya. Aku dengan bodohnya menyetujui rencana gila itu. 

Tak butuh waktu yang lama, dengan memanfaatkan kedekatan kami, Linda berhasil mengajak Bayu untuk bertemu di sebuah kafe. Alasannya, tentu saja ingin membicarakan tentang hubunganku dengan Bayu. Singkat cerita, Bayu mabuk. Linda membawanya ke apartemen, dan terjadilah sesuai rencana Linda. Bayu mengira semua adalah salahnya. Linda pun berhasil menjalankan rencananya dengan sempurna. 

"Beri aku waktu, Lin." Jawabku, lalu menutup panggilan dari Linda. Aku kembali terisak, menyesali kebodohanku. 

Belum puas aku terisak, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan singkat dari Linda. Ketika aku membuka pesan singkat itu, tiba-tiba pintu mobilku dibuka. Aku terkejut. Bayu menerjang masuk ke dalam mobil, memelukku erat.


***
Beberapa jam kemudian, di apartemen Linda terjadi kehebohan. Seorang pria telah menerjang masuk ke dalam apartemen Linda dan menikamnya berulang kali. Pelakunya terlihat begitu tenang, tanpa ekspresi bersalah. Saat polisi datang dan menanyakan alasannya, dia hanya menunjukkan pesan singkat dalam sebuah ponsel.

"Ndre, kamu masih di sana ? Cepat lari, Bayu sudah tahu semuanya. Dia sangat marah. Cepat kamu pergi dari sana !" pengirimnya adalah Linda.





Nb: Eigengrau : Warna abu-abu yang terlihat pada saat kita tiba-tiba masuk dalam ruangan gelap gulita. 













Tidak ada komentar: